My Affair

My Affair
Alexsander



Nyonya besar Alexsander dan Juan Alexsander terlihat sedang sangat panik di mansion milik Juan Alexsander memikirkan Tuan besar Alexsander yang sampai sekarang tidak tahu sedang dimana keberadaannya. Mereka berdua terus saja berpikir kemana mau mencari Tuan besar Alexsander. Tetapi semua usaha yang telah dilakukan oleh Nyonya besar Alexsander dan Tuan muda Alexsander sama sekali belum membuahkan hasil. Tuan besar Alexsander masih belum bisa di temukan oleh siapapun.Mereka berdua semakin cemas saat para detektif bayaran mengatakan kalau mereka sama sekali tidak bisa menemukan petunjuk kemana Tuan besar Alexsander pergi. Bahkan ebebrapa detektif bayaran sudah mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti pencarian tuan besar Alexsander.


*********************************************************


Seorang pria yang sudah berumur lima puluh lima tahun lebih terlihat sedang mengayuh sepeda mengelilingi pulau yang ditumbuhi oleh pohon kelapa itu. Kemanapun mata memandang yang dilihat adalah pohon kelapa. Tidak ada tumbuhan tinggi yang lain di pulau itu selain pohon kelapa. Bagi orang orang yang pernah datang ke pulau tersebut, mereka mengatakan kalau pulau itu adalah pulau kelapa.


Seorang pria yang masih kuat mengayuh sepeda itu adalah Tuan besar Alexsander. Tuan besar Alexsander masih kuat untuk mengayuh sepedanya mengelilingi pulau yang lumayan luas itu. Pulau yang dibeli oleh Tuan besar alexsander atas paksaan dari istri pertamanya yaitu Mommy Jero Alexsander. Tempat yang akan selalu di datangi oleh Tuan besar Alexsander saat dirinya sedang merasa tidak baik baik saja dan butuh penenangan diri. Sehingga setiap rasa itu datang, maka Tuan besar alexsander akan langsung datang ke pulau tersebut dan duduk di kursi dimana itu adalah tempat Mommy meminta Tuan besar Alexsander untuk membeli pulau tersebut dan menanam pohon kelapa sekaligus membuat pabrik pengolahan kelapa langsung di pulau itu.


Pabrik siap beroperasi, Tuan dan Nyonya Alexsander bercerai. Ada sekitar lima tahun Tuan besar Alexsander tidak datang ke pulau kelapa. Semua kebutuhan pulau langsung di sediakan oleh orang kepercayaan Tuan besar Alexsander yang diminta untuk tinggal di pulau itu dan mengurus perkebunan serta pabrik pengolahan kelapa tersebut.


"Aku ingin mengenang sosok istriku yang sekarang ntah tinggal dimana dengan anak pertamaku" ujar Tuan besar Alexsander sambil berhenti untuk duduk di sebuah bangku yang ada di tepi pantai tersebut. Bangku yang sama dengan bangku tempat mereka duduk dahulu. Tuan besar Alexsander benar benar ingin mengenang sosok istri pertamanya itu.


Tuan Alexsander menatap ke arah langit biru yang sekarang sedang bersih bersihnya. Tidak ada sedikitpun awan menutupi langit biru itu. Langit biru yang benar benar biru. Membuat siapapun yang melihat menjadi merasa tentram setentram keadaan di pulau kelapa itu.


"Sayang, maaf kalau aku masih memanggil sayang. Aku sangat tahu kalau aku tidak pantas untuk memanggil kamu dengan sebutan sayang lagi. Setelah pengkhianatan yang telah aku lakukan terhadap kamu dan juga anak kesayangan kita itu." ujar Tuan besar Alexsander mulai membuka ceritanya kepada alam semesta.


"Tapi jujur dalam hati kecil aku, aku masih sayang sama kamu. Aku masih mencintai kamu" lanjut Tuan Alexsander sambil menatap ke langit biru tersebut.


"Kamu tahu sayang, karena keegoisan aku. Tidak hanya aku dan kamu yang merana. Tetapi juga anak kita sayang. Aku telah membuat kesalahan yang sama sekali tidak bisa dimaafkan lagi sayang. Tetapi aku wajib untuk meminta maaf kepada kamu sayang" lanjut Tuan besar Alexsander menumpahkan semua rasa yang ada di dalam hatinya.


"Sekarang bukan hanya anak kita tetapi juga menantu pilihan kamu sayang. Dia juga menjadi teraniaya karena aku memaksakan dia untuk menikah dengan Juan. Aku tidak menyangka kalau Juan dan istri kedua aku akan berbuat seperti itu kepada Vian"


"Sekali lagi maafkan aku sayang. Aku benar benar tidak bisa berbuat apa apa lagi sayang"


"Hanya permintaan maaf yang bisa aku berikan kepada kamu sayang. Permintaan maaf yang pastinya tidak layak untuk diberi maaf" kata Tuan besar Alexsander.


Tuan besar Alexsander mencurahkan semua isi hati dan perasaannya kepada langit biru tersebut. Dia benar benar hanya bisa membagi cerita dengan alam. Alam membuat Tuan Alexsander mengingat istri pertamanya. Istri yang telah membawa dirinya menuju kejayaan dan kesuksesan seperti sekarang ini. Tetapi karena hanya tergiur oleh seorang pelayan membuat semuanya menjadi hancur.


Setelah puas dengan membagi cerita kepada alam. Tuan Alexsander kembali menaiki sepedanya. Tuan Alexsander mengayuh sepeda itu menuju pabrik kelapa. Dia akan melihat bagaimana proses pembuatan semua produk produk yang dihasilkan oleh pabrik pengolahan kelapanya itu. Berbagai hasil olahan kelapa dihasilkan oleh pabrik yang terletak di pulau yang tidak luas itu. Pulau yang terletak di teluk, sehingga membuat keadaan di pulau itu sangat tenang.


Jero membersihkan tubuhnya, setelah itu dia memakai pakaian santai dan berjalan menuju taman belakang. Keadaan taman belakang villa sudah kembali seperti semula, sudah tidak ada lagi tanda tanda adanya pesta semalam di tempat itu.


"Tolong panggilan Josua dan Ryan kemari" ujar Jero memerintahkan salah seorang pengawal untuk memanggil Josua dan Ryan untuk menemui dirinya yang sekarang sedang menunggu di taman belakang villa.


"Siap Tuan muda" jawab pengawal itu.


Pengawal tersebut kemudian berjalan pergi menuju tempat Josua dan Ryan tadi dilihatnya. Josua dan Ryan tadi di lihat sedang berada di meja makan khusus para pengawal. Mereka berdua tadi sedang menikmati sarapan yang dihidangkan oleh pelayan yan ada di villa.


"Josua, Ryan, kalian berdua di minta menemui tuan muda di taman belakang" ujar pengawal tersebut menyampaikan pesan yang diberikan oleh Jero kepada dirinya.


"Oh baiklah, terimakasih. Kami akan segera ke sana" ujar Josua


Josua dan Ryan kemudian berdiri dari posisi duduk mereka. Mereka berdua kemudian berjalan menuju taman belakang villa untuk bertemu dengan Tuan muda Jero yang sudah menunggu mereka di sana.


"Pasti tuan muda mau menanyakan kepada kita berdua informasi apa yang rencananya akan kita sampaikan kemaren" ujar Ryan yang sudah bisa menebak apa yang akan ditanyakan oleh tuan muda Jero Asander kepada mereka berdua.


"Gue rasa memang itu juga. Nggak mungkin yang lain" jawan Josua yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ryan kepada dirinya.


Mereka berdua berjalan lebih cepat menuju taman belakang villa. Dimana Jero Asander sudah menunggu mereka di sana. Dari arah mereka berdua berjalan, Josua dan Ryan sudah bisa melihat Jero Asander sedang duduk di sebuah kursi taman sambil memainkan jari jari tangannya.


Josua dan Ryan kemudian berdiri di depan Jero.


"Selamat pagi Tuan muda" ujar Josua menyapa Jero dengan sangat sopan.


"Pagi Josua, Ryan. Silahkan duduk" ujar Jero meminta mereka berdua untuk duduk di kursi yang ada di dekat Jero duduk.