My Affair

My Affair
BAB 137



Bram sudah terlihat ingin ketawa saat Jero mengatakan kalau kakinya sakit diinjak oleh Vian. Bram teringat dengan semua yang di dengar oleh Bram tentang apa yang dikatakan oleh Vian tadi. Vian sama sekali tidak ingin adanya keributan saat mereka makan malam sehingga Bram memutuskan untuk diam saja dan tidak jadi mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya dan juga tidak jadi tertawa saat melihat bagaimana lugonya Jero mengatakan kalau kakinya diinjak oleh Vian di bawah meja.


" udahlah Abang, Bram. Kapan makannya ini aku udah lapar. kalau masih mau ribut nanti saja kita lanjutkan saat kita telah selesai makan malam. Aku benar benar udah nggak sanggup lagi menahan rasa lapar" ujar Felix yang langsung saja mengambil nasi tanpa mendahulukan Jero untuk mengambil nasi tersebut terlebih dahulu.


" beneran apa yang dikatakan oleh Felixmakana. Gue juga udah sangat lapar. Kalian lanjutkan saja pertengkarannya nanti, saat kita udah selesai makan malam. Perut gue udah meronta ronta untuk minta diisi" kata Tama mendukung apa yang dikatakan oleh Felix sebentar ini.


Dia sebenarnya sudah sangat lapar sekali apalagi saat mencium bau makanan yang dibuat oleh Vian semakin membuat cacing cacing dalam perutnya meronta ronta minta diberikan makanan, sehingga mereka bisa kembali tenang berada di dalam perut Vian.


" Hai Bang, siapa yang nyuruh loe kemari? kami nggak ada mengundang lu untuk makan malam di sini" kata Bram yang tidak mau disalahkan oleh Tama hanya karena dia ribut dengan Jero membuat tama menjadi kelaparan karena terlambat makan malam.


" yang mau datang ke sini kan hanya lu sendiri Bang. kami nggak ada ngundang. Jadi terserah kami dong mau makan jam berapa" lanjut Bram yang kembali mengejek Tama


Bram sangat suka mengejek Tama karena Bram tidak ada yang mau diambilnya dari Tama. Bram sama sekali tidak suka menjadi seorang pengintai, makanya dia tidak begitu akrab dengan Tama.


Berbeda halnya dengan Felix. Felix sangat suka untuk menjadi seorang pengintai sehingga dia menjadi sangat sopan kepada Tama. Felix sudah menganggap Tama sebagai gurunya. Sedangkan Bram menganggap Jerry sebagai gurunya. Tetapi setiap ditanya kepada mereka berdua, siapa guru terhebat, maka mereka tanpa dikomando akan menjawab kalau Jero lah guru terhebat mereka berdua.


Menurut mereka berdua, hanya Jero yang bisa mengajari mereka, sehingga bisa membuat mereka seperti sekarang ini.


" Sudah sudah. Kita makan malam lagi.Bram jangan pernah ganggu Tama kalau sedang lapar. bisa bisa di mengaum nanti" kata Jero yang setuju untuk memulai makan malam mereka.


Tetapi sebelum makan. Jero tetap menyempatkan diri untuk memberikan sedikit joke kepada Tama.


"Kakak adik sama aja" jawab Tama yang langsung mengisi piringnya dengan makanan yang sudah disediakan dalil di atas meja makan.


Tama sama sekali tidak menunggu Zero selesai mengambil makanannya terlebih dahulu. tetapi Tama menjadi orang pertama yang mengambil makanan yang telah terhidang di meja makan tersebut.


Mereka semua memang sudah sangat lapar karena seharian beraktivitas dan hanya menikmati makan siang saja tadi di perusahaan Jero tepat pada pukul setengah satu siang. Sekarang memang sudah selayaknya mereka untuk makan malam. Makanya Felix sudah tidak sabar lagi untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh Vian di atas meja makan.


Mereka semua kemudian makan dengan lahap. Dalam sekejap semua makanan yang dibuat oleh Vian untuk makan malam mereka, sudah berpindah ke dalam perut mereka masing-masing. Tidak satupun makanan yang di atas meja makan itu tersisa di atas piring, semuanya ludes.


" Wah kalau setiap aku masak semua makanannya habis seperti ini. Membuat aku menjadi sangat bersemangat untuk membuat menu makanan yang lain" ucap Vian yang sangat bahagia saat melihat tidak ada sisa dari makanan yang dibuatnya tadi.


" kita pindah ke ruang keluarga aja ya. ada yang mau gue bahas kepada kalian semua" katanya jero mengajak kedua adiknya dan juga sahabatnya untuk pindah ke ruang keluarga.


Vian yang sedang menaruh piring kotor yang habis mereka pakai untuk makan malam itu tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Jero tadi kepada Felix Bram dan Tama.


Felix. Bram dan Tama yang mendengar apa yang dikatakan oleh Jero kemudian beranjak menuju ruang keluarga. Sedangkan Jero menunggu Vian di meja makan untuk membawa Vian menuju ruang keluarga tempat mereka akan mengobrol tentang apa yang akan mereka lakukan saat melakukan karya wisata dengan menggunakan kereta api.


"Loh mana yang lain sayang?" ujar Vian saat melihat hanya tinggal Jero sendiri yang berada di dalam ruangan tersebut.


"Udah pindah ke ruang keluarga sayang. Ayo kamu ikut dengan aku menuju ruangan keluarga" kata Jero sambil mengajak Vian menuju ruang keluarga dimana semua anggota keluarga yang lain sudah duduk di sana.


" kamu duluan aja Sayang aku nanti akan menyusul" kata Vian yang ingin membuat minuman dan makanan untuk teman mereka mengobrol di ruang keluarga


" lah kamu mau ngapain sayang?" Jangan Jero yang tidak mengerti kenapa Vian meminta jero untuk masuk terlebih dahulu ke ruang keluarga.


" Aku mau membuat teh hijau dulu Sayang serta mengambil buah potong atau puding untuk kita makan di sana, saat kita mengobrol nanti" ujar Vian mengatakan kenapa dirinya tidak akan masuk bersama dengan Jero ke dalam ruangan keluarga tersebut.


" Oh baiklah kalau begitu aku jalan duluan ya. nanti kamu nyusul ke dalam ruangan" jawab Jero yang paham dengan apa maksud yang dikatakan oleh Vian kepada dirinya sebentar ini.


Vian kemudian kembali ke dapur. Dia mengambil sebuah poci dan membuat English tea untuk teman mengobro mereka. Setelah itu ia juga memotong puding mangga yang tadi pagi sempat dibuatnya. Vian juga menaruh fla di atas puding mangga yang sangat lezat itu.


Setelah memastikan semuanya terhidang dan memiliki rasa yang lezat. Vian kemudian membawa potongan puding dan juga English tea yang telah dibuat. Vian membawa semua minuman dan potongan puding itu ke dalam ruang keluarga di mana Jero dan yang lainnya telah menunggu Vian di sana untuk melanjutkan obrolan tentang perjalanan dengan kereta api.


" kakak ipar kamu bawa makanan apalagi itu? bisa-bisa aku menjadi sangat gendut nantinya. Hilang deh sixpack yang sudah aku buat beberapa tahun ke belakang ini." kata Bram saat melihat Vian membawa troli dorong untuk membawa piring-piring yang sudah berisi potongan puding dan fla di atasnya. Serta tak. Lupa pula minuman English tea yang telah selesai dibuat oleh Vian tadi di dapur saat mendapatkan perintah dari Jero kalau mereka akan mengobrol.


" ala Bram gerakan gendut juga lu nya cuma makan sepotong puding dan segelas English tea nggak akan menambah berat tubuh kamu" kata Vian menjawab perkataan dari Bram sebentar ini


" kalau kamu nggak suka nggak apa-apa juga. biar abang saja yang menghabiskan puding buah dan juga English tea milik kamu." kata Felix yang benar-benar menyukai puding mangga yang dibuat oleh Vian


Felix yang pernah mencoba puding mangga buatan Vian saat jero membawa puding buah mangga itu dari mension milik Tuan Alexander. Saat itu Jero memang masih menyamar sebagai seorang supir dari tuan Juan Alexander.