
"Baiklah Tuan Bram. Silahkan sampaikan, apa yang akan Tuan Bram beritahukan kepada Saya. Saya harap ini merupakan persetujuan atas kerjasama yang kita bicarakan tempo hari, bersama Tuan Felix. " ujar Tuan Wijaya yang sudah dapat menarik suatu kesimpulan dari kedatangan Bram ke perusahaannya hari ini.
Tuan Wijaya berharap berita itu benar. Dia sangat berharap untuk bisa menjalin kerjasama dengan perusahaan Felix, perusahaan yang berbasis di Negara E yang sampai sekarang masih belum diketahui siapa pemilik sebenarnya. Setiap pengusaha yang akan menjalin kerjasama dengan perusahaan itu hanya akan bertemu dengan Felix atau Bram saja. Sedangkan pemilik utama sampai sekarang masih belum pernah menampakkan dirinya.
"Hahahahahaha. Santai Tuan Wijaya. Kalau permasalahan yang itu, bukan saya yang akan datang tetapi Abang saya Felix namanya, dialah yang akan memutuskan apakah akan menyetujui kerjasama dengan perusahaan Tuan." ujar Bram memberikan sedikit bayangan kepada Tuan Wijaya kalau permasalahan yang dikatakannya tadi bukanlah Bram yang akan datang, melainkan Felix Kakaknya.
"Oh begitu Tuan Bram, saya kira tadi Tuan Bram datang untuk menyampaikan berita baik itu. Jadi, ada tujuan apa Tuan Bram datang repot repot kemari" tanya Tuan Wijaya kepada Bram.
Tuan Wijaya mulai nampak ragu dengan kedatangan Bram ke perusahaannya dengan cara mendadak seperti ini. Tuan Wijaya mulai menerka nerka permasalahan apa yang akan disampaikan oleh Bram kepada mereka.
"Jadi begini Tuan Wijaya" ujar Bram memulai pembicaraan serius antara dirinya dengan Tuan Wijaya.
Bram memasang wajahnya yang paling serius. Dia tidak ingin Tuan Wijaya berada di atas angin. Dia ingin Tuan Wijaya setelah ini berpikir ulang untuk melakukan tindakan kejahatan terhadap Vian, calon kakak ipar Bram.
Tuan Wijaya yang melihat ekspresi Bram, menjadi semakin berpikiran jelek atas kedatangan Bram yang mendadak itu. Suasana hati Tuan Wijaya yang semula tenang tenang saja mendadak menjadi gundah gulana semenjak kedatangan Bram, ditambah dengan melihat ekspresi Bram. Ekspresi yang sungguh berbeda dari saat Bram datang.
"Tuan Wijaya, langsung saja ke inti permasalahan kenapa saya repot repot datang kemari tanpa mebuat perjanjian terlebih dahulu dengan Tuan Wijaya, kanapa saya main langsung saja, karena saya bukan tipe orang yang bisa berbasa basi seperti kakak Saya, Felix" ujar Bram.
Tuan Wijaya mengangguk setuju. Dia sudah mengetahui beda antara Bram dan Felix. Dari beberapa kejadian yang sudah ada dan dari beberapa informasi yang diperoleh, Felix dan Bram memang sungguh berbeda dari segi apapun.
"Jadi begini Tuan Wijaya, saya sebagai CEO dari perusahaan JFB Grub memutuskan untuk menarik saham kami yang empat puluh persen dari perusahaan Wijaya, terhitunh mulai hari ini" ujar Bram dengan nada serius. Bram tidak main main dengan ucapannya.
Tuan Wijaya menjadi kaget mendengar ucapan Bram. Dia benar benar terkejut. Tuan Wijaya sama sekali tidak berpikir sampai kesana permasalahan yang di bawa oleh Bram. Ini benar benar kejutan oleh Tuan Wijaya. Kejutan di sore hari yang membuat dia akan langsung berpikir. Empat puluh persen bukan jumlah uang yang sedikit, luar biasa banyaknya.
"Ke ke kenapa harus begini Tuan Bram. Kita kan tidak memiliki permasalahan. Saya rasa semua kerjasama kita selama ini berjalan dengan sangat baik, antara kita tidak ada yang dirugikan oleh siapapun" ujar Tuan Wijaya yang sudah mulai gugup berbicara kepada Bram.
Tuan Wijaya benar benar tidak menyangka hal itu yang akan disampaikan oleh Bram kepada dirinya. Tuan Wijaya sudah kehilangan rasa percaya dirinya.
"Ya, kami tidak ingin menjadi tumbal atas permasalahan yang Anda buat dengan Tuan Aleksander. Jadi, kami memutuskan untuk memberhentikan kerjasama kita. Kami perusahaan kecil Tuan Wijaya. Kalau kami harus terlindas karena permasalahan pribadi antara perusahaan Wijaya dengan perusahaan Aleksander, kami benar benar tidak sanggup" ujar Bram.
"Tapi Tuan, kami tidak akan menyangkut pautkan permasalahan yang ada antara Wijaya dengan Aleksander kepada JFB Grub." ujar Tuan Wijaya meyakinkan Bram.
"Tuan Tuan, dimana letaknya kami tidak akan terkena dampaknya. Kami menanamkan saham di perusahaan Tuan sebesar empat puluh persen. Empat puluh persen itu uang yang banyak Tuan, jadi, daripada kami harus pusing dengan uang sebanyak itu yang harus hilang, lebih baik kami menarik diri Tuan dari kerjasama kita" ujar Bram memberikan Tuan Wijaya syok terapi setelah apa yang dilakukannya kepada Vian.
"Apakah tidak ada jalan lain Tuan Bram?" tanya Tuan Wijaya yang berharap masih ada jalan lain bagi dirinya untuk menyelamatkan saham empat puluh persen supaya tidak ditarik oleh Bram.
"Maaf Tuan Wijaya, keputusan saya sudah bulat. Saya tetap akan menarik kembali saham yang saya tanam di perusahaan Tuan. Besok pengacara saya akan datang untuk mengurus surat suratnya." ujar Bram dengan nada final.
"Tapi Tuan Bram" ujar Tuan Wijaya dengan wajah yang sudah memelas meminta tolong kepada Bram.
"Maaf Tuan, sekali lagi, keputusan kami sudah bulat. Kami akan tetap menarik saham kami dari perusahaan ini." ujar Bram meyakinkan Tuan Wijaya kalau keputusan yang diambilnya adalah keputusan final dan tidak bisa diubah ubah lagi.
Tuan Wijaya hanya bisa tertunduk lesu. Dia yang telah mengobarkan bendera perang dengan perusahaan Aleksander, ternyata yang bergerak duluan adalah perusahaan JFB Grub. Perusahaan yang memegang empat puluh persen saham di Wijaya Grub. Sebuah tamparan cukup keras yang diterima oleh Wijaya Grub.
"Saya permisi dulu Tuan Wijaya. Maaf kami terpaksa melakukan hal ini, karena perusahaan kami hanyalah perusahaan kecil. Perusahaan yang baru mulai berdiri" ujar Bram sambik menatap Tuan Wijaya dengan tatapan mematikan.
Tuan Wijaya hanya diam saja. Dia sama sekali tidak bisa berkata apa apa lagi. Dia benar benar kaget dengan apa yang dikatakan oleh Bram.
Bram keluar dari ruangan Tuan Wijaya, dia berhitung dalam hatinya. Dia sudah bisa memprediksi sebentar lagi pengusaha yang telah salah mencari lawan itu akan langsung berteriak dengan histeris.
"Arg tidak" terdengar teriakan frustasi dari Tuan Wijaya sesaat sebelum Bram menutup pintu ruangan.
"Ayuk pulang. Urusan telah selesai" ujar Bram kepada kedua pengawalnya.
Mereka bertiga kemudian turun ke lobby perusahaan. Bram dan kedua anak buahnya masuk ke dalam mobil.
"Saya saja yang bawa" ujar Bram dengan bersemangat.
Pengawal memberikan kunci mobil kepada Bram. Bram kemudian melajukan mobil menuju mansion utama. Dia sudah tidak sabar untuk menyampaikan kabar gembira itu kepada Jero dan Felix.
Bram membawa mobil dalam kecepatan tinggi. Dia benar benar ingin cepat sampai di mansion utama. Bram benar benar tidak sabaran lagi untuk menyampaikan hal itu.