My Affair

My Affair
Keputusan Tuan Besar Alexsander



"Maaf sebelumnya Tuan besar, saya mau mengatakan sesuatu, apakah saya diizinkan untuk mengatakan hal itu?" ujar Pelayan yang bernama Bik Ima meminta izin kepada Tuan besar Alexsander untuk mengatakan sesuatu yang ingin disampaikannya kepada Tuan besar Alexsander.


Tuan besar Alexsander menatap ke arah pelayan yang bernama Ima yang namanya keluar untuk tinggal di mansion sekaligus membersihkan mansion itu. Tuan besar Aelxsander menatap dengan tatapan yang lumayan tajam dan terlihat menjurus kepada palayan yang bernama Ima tersebut.


Pelayan itu menundukkan kepalanya kembali, dia tidak menyangka kalau Tuan besar Alexsander akan menatap ke arah dirinya dengan tatapan seperti itu. Pelayan merasa sangat menyesal telah dengan berani mengajukan sebuah permintaan kepada Tuan besar Alexsander.


'Gobloknya gue kenapa gue harus mengatakan hal itu tadi, nah kan sekarang Tuan besar menjadi emosi' kata pelayan yang bernama Ima itu dalam kepalanya.


'Penyesalan memang datangnya terlambat' lajutnya masih dalam hatinya saja.


"Maafkan saya Tuan, Sa.. sa.. sa.. saya tidak jadi menanyakan tentang hal itu lagi Tuan besar" jawab Pelayan yang bernama Ima dengan berkata terbata bata dan takut dengan Tuan besarnya itu. Pelayan berkata sambil menundukkan kepalanya dalam dalam, dia sama sekali tidak berani melihat ke arah Tuan besarnya itu.


"Silahkan katakan saja, saya tidak melarang untuk mengatakan apapun kepada saya" kata Tuan besar sambil menatap ke arah pelayan yang bernama Ima.


"Saya tidak marah kepada Anda, karena sudah berani mengajukan pertanyaan kepada saya" lanjut Tuan besar berusaha meyakinkan pelayannya itu kalau dia sama sekali tidak marah kepada pelayannya karena sudah berani bertanya kepada dirinya


Pelayan menatap ke arah Tuan besar. Tuan besar Alexsander menganggukkan kepalanya menandakan kalau dia memperbolehkan Ima untuk mengatakan apa yang dirasakannya saat ini kepada dirinya.


"Saya kalau diizinkan menolak untuk tinggal di mansion ini Tuan besar. Saya lebih memilih untuk bekerja di perkebunan saja atau di pabrik saja" ujar Pelayan yang bernama Ima menyampaikan apa yang diinginkan oleh dirinya kepada Tuan besar Alexsander.


Tuan besar Alexsander tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh pelayan itu. Tuan Alexsander kemudian menatap ke arah semua pelayan. 'Ternyata di antara mereka masih ada yang menolak untuk tinggal di sini, saya kira tadi semuanya bersedia dan sangat ingin tinggal di sini.'


"Baiklah saya setuju dan mengabulkan keinginan kamu untuk tidak tinggal di mansion ini tetapi lebih memilih untuk bekerja di pabrik. Saya menugaskan kamu untuk bekerja di pabrik, tidak di perkebunan. Perkebunan itu untuk para laki laki" ujar Tuan besar Aelxsander menugaskan pelayan itu untuk bekerja di pabrik, sedangkan suami dari pelayan itu akan bekerja di perkebunan.


"Jadi bagaimana, apa kita ulang lagi mengundinya, atau siapa yang mau dan bersedia angkat tangan saja, supaya tidak tejadi lagi yang kayak gini" kata Tuan besar berkata kepada semua orang yang berada di situ.


Akhirnya seorang pelayan mengacungkan tangannya, dia adalah pelayan yang memang sudah bekerja sangat lama dengan keluarga Alexsander. Seorang pelayan kepercayaan Tuan besar yang tadi di pesawat sudah mengatakan kepada Tuan besar Alexsander apa yang terjadi di mansion besar tersebut.


"Oke, kamu tetap bekerja di sini" ujar Tuan besar Alexsander memutuskan kalau pelayan setianya itu tetap bekerja di mansion.


"Bagi pelayan yang lain, saya ucapkan terimakasih selama ini sudah bersedia membantu keluarga saya. Saya mengucapkan banyak banyak maaf kepada kalian semua karena kelakuan anak saya yang tidak jelas tersebut. Kelakuan yang selalu menyusahkan kalian semuanya" ujar Tuan besar Alexsander menngucapkan kata kata perpisahan kepada semua pelayan yang selama ini telah bekerja di mansion Juan Alexsander.


"Sama sama Tuan besar, kami yang seharusnya meminta maaf kepada Tuan besar karena tidak berhasil menahan Nyonya muda untuk tidak pergi dari mansion" ujar salah satu pelayan yang sudah bertekad untuk membuka semua cerita yang sebenarnya terjadi di mansion besar milik Juan Alexsander tersebut.


"Maaf Tuan besar, kalau saya menceritakan semuanya kepada Tuan besar, apa keselamatan kami semua yang di sini akan terjamin dari amukan Nyonya besar dan juga Tuan Muda Alexander?" ujar tukang kebun bertanya kepada Tuan besar tentang keselamatan dirinya dan juga semua rekan rekannya yang lain kalau dirinya menceritakan apa yang terjadi sebenarnya kepada Tuan besar mereka itu.


"Saya akan jamin keselamatan kalian semua. Kalau saya tidak menjamin keselamatan kalian semua, mengapa saya harus membawa kalian semua ke tempat ini, kalau saya tidak memikirkan keselamatan kalian semua, saya akan membiarkan kalian semua untuk tetap terkurung di mansion itu" ujar Tuan besar Alexsander menjawab pertanyaan yang diajukan oleh tukang kebun kepada dirinya.


Tuan Alexsander sudah memberikan keamanan kepada semua pelayannya tanpa mereka minta. Mereka semua mungkin masih belum menyadari akan hal itu, makanya mereka memutuskan untuk bertanya kepada Juan Alexsander tentang keselamatan mereka kalau mereka menceritakan semua kejadian yang terjadi di mansion kepada Tuan besar Alexsander.


"Baiklah Tuan besar, kami semua mengucapkan terimakasih kepada Tuan besar karena sudah melepaskan kami dari tangan orang orang yang sangat kejam seperti mereka berdua itu" kata tukang kebun yang sudah tidak lagi menahan nahan apa yang akan dikatakan oleh dirinya kepada Tuan besar Alexsander lagi.


Tukang kebun itu semenjak mendengar apa yang dikatakan oleh Tuan besarnya sudah memutuskan untuk mengatakan semua yang terjadi tanpa ditutup tutupi satupun, dia pasti akan menceritakan semuanya. Semua permasalahan yang selama ini tidak diketahui oleh Tuan besar Alexsander tersebut.


"Maksud kamu bagaimana? Kenapa kamu mengatakan kalau istri saya dan anak saya itu dua orang yang kejam?" ujar Tuan besar Alexsander yang sangat penasaran dengan cerita yang sebenarnya terjadi di mansion besar itu.


"Bagaimana saya dan rekan rekan yang lainnya tidak mengatakan mereka berdua itu kejam, mereka berdua selalu menyiksa Nyonya muda dengan seenak mereka saja" ujar tukang kebun mulai bercerita.


Beberapa pelayan menegakkan kepalanya saat melihat Tuan besar Alexsander dengan santai mendengar apa yang akan diceritakan oleh tukang kebun tersebut. Tak terlihat sedikitpun kemarahan yang ditunjukkan oleh Tuan besar Alexsander kepada Tukang kebun saat tukang kebun mulai membuka ceritanya.


"Menyiksa bagaimana? Bisa lebih diperinci dan diterangkan?" tanya Tuan besar Alexsander berharap tukang kebun bercerita tidak setengah setengah dan tidak mengambang seperti itu.


"Ya mereka berdua selalu menyiksa Nyonya muda. Untung ada Jero sopir Nyonya muda yang selalu berdiri paling depan untuk membela Nyonya muda. Kalau tidak sudah bisa kami pastikan Nyonya muda hidupnya akan berakhir dengan tragis." kata tukang kebun melanjutkan ceritanya dengan berapi api.


Tukang kebun masih bisa merasakan bagaimana perlakuan yang diterima oleh Nyonya muda mereka selama ini.


"Apa yang dikatakan oleh kamu ada lagi yang menyaksikannya?" tanya Tuan besar Alexsander bertanya tentang saksi yang lain.


Tukang kebun menatap ke arah tuan besae Alexsander.


"Maaf, saya bukan meragukan apa yang kamu katakan, tetapi saya juga ingin mendengar dari mereka yang lainnya. Jadi, tolong jangan salah mengerti dengan apa yang saya katakan sebentar ini"


Tuan besar Alexsander berusaha meluruskan kepada tukang kebun tentang pertanyaan apakah ada saksi yang lain yang melihat kejadian. Tuan besar Alexsander bukan meragukan cerita yang diceritakan oleh tukang kebun itu, tetapi Tuan besar Alexsander ingin pelayan yang lain juga membuka suaranya seputar apa yang telah dilakukan oleh istri dan putranya kepada menantunya yang sangat baik tersebut.