My Affair

My Affair
BAB 124



"Nona muda, maaf kalau kami semua mau bertanya kepada Nona Muda, apa yang nona muda buat untuk menu makan siang kali ini, kami semau mencium bau wangi dari masakan yang Nona muda buat" ujar salah satu maid yang sudah siap dengan sebuah block note dan pena yang sudah berada di tangannya saat ini.


Vian yang dari tadi serius dengan semua bumbu bumbu yang akan diolah oleh dirinya, menatap ke arah tiga orang maid yang sekarang posisi mereka sudah berada di belakang Vian. Mereka semua ternyata sudah siap dengan catatan masing masing di tangan mereka.


"Jadi, kalian semua mau tahu masakan apa yang aku olah sekarang ini untuk dijadikan makan siang?" tanya Vian kepada ketiga maid yang sudah berada di dekat dirinya.


Vian sangat senang kalau harus berbagi dengan para maid yang ada di mansion itu. Mereka semua memang terlihat sangat bersemangat saat melihat Vian mengolah masakan yang tidak pernah mereka lihat saat chef yang terkenal itu memasak di dapur mansion.


"Baiklah, saya akan mengolah ayam ini menjadi ayam bakar bumbu rujak. Bumbu bumbunya nanti akan saya beritahukan kepada kalian ya. Semua bumbu itu di giling halus dengan giling tangan, jangan pake blender, karena kalau saya pribadi sangat suka bumbu yang digiling pake tangan dari pada pake blender" ujar Vian mulai mengajari para maid cara mengolah ayam bumbu rujak.


Vian kemudian melanjutkan langkah langkah memasak berikutnya untuk mengolah ayam bakar bumbu rujak. Setelah semua bumbu rujak itu siap. Vian membawa Ayam dan bumbu rujaknya ke bagian belakang mansion. Kali ini Vian memasak bukan di dapur bersih untuk membuat sarapan yang ada di lantai dua mansion seperti tadi pagi. Vian sekarang menggunakan dapur kotor yang ada di lantai satu mansion untuk mengolah masakannya yang sangat banyak. Vian yang rencananya hanya menggunakan satu ekor ayam, mengubah menjadi dua ekor karena akan ditinggalkan untuk para maid yang ada di mansion.


Maid menolong membawakan ayam yang akan dibakar Vian di bagian belakang mansion. Vian akan membakar Ayam itu di sana. Hal ini semakin membuat para maid menjadi sangat penasaran. Mereka biasa melihat para chef yang ada di mansion itu membakar ayam menggunakan microwave yang ada di dapur, atau bahkan oven. Tidak ada yang membawa ayam yang akan dibakarnya itu ke bagian belakang mansion.


"Pak, apa arangnya sudah siap?" tanya Vian kepada tukang kebun yang tadi sudah diminta oleh Vian untuk mencari tempurung yang akan digunakan oleh Vian sebagai bahan bakar untuk membakar Aym bumbu rujak yang akan diolah oleh Vian sebentar lagi.


"Sudah Nona Vian, tempurung yang Nona minta sudah saya siapkan, tetapi belum saya bakar karena sama sekali belum dapat perintah dari Nona Vian" jawab tukang kebun sambil mengambil dua karung tempurung yang ntah dari mana di dapat oleh tukang kebun tersebut. Satu hal yang jelas, tadi Vian memberikan uang kepada tukang kebun untuk mencari tempurung sebanyak uang yang diberikan oleh Vian kepada tukang kebun.


"Wow banyak banget Pak" ujar Vian kaget saat melihat dua karung tempurung yang berhasil dicari oleh tukang kebun tersebut.


"Nona ini uangnya, kata yang punya tempurung tidak dijual" ujar tukang kebun sambil memberikan uang yang tadi diberikan oleh Vian kepada dirinya untuk membeli tempurung sesuai yang dipesankan oleh Vian kepada kepada dirinya.


"Bisa saya minta tolong lagi Pak?" tanya Vian kepada tukang kebun untuk meminta tolong kembali kepada tukang kebun itu.


"Apa Nona? Silahkan saja. Saya tidak marah kalau Nona muda meminta tolong kepada saya. Malahan saya cukup senang Nona Muda mau meminta tolong kepada saya" jawab Tukang kebun yang sangat senang kalau Nona Mudanya itu meminta tolong kepada dirinya untuk melakukan suatu hal yang berguna bagi Vian dan bagi keluarga Asander yang lainnya. Pertolongan yang diberikan oleh tukang kebun menjadi sebuah pengorbanan atas semua kebaikan yang telah diberikan oleh keluarga Asander kepada keluarga tukang kebun itu.


"Pak, saya minta tolong kamu hidupkan dua tempat untuk membakar ayam ini ya. Terus di atasnya di kasih besi untuk dijadikan penopang membakar ayam tersebut" ujar Vian menerangkan kepada Tukang kebun seperti apa tungku yang diinginkan oleh Vian untuk alat membakar ayam bumbu rujak yang akan dibuat oleh dirinya untuk menu makan siang kali ini.


Tukang kebun kemudian membuat dua buah tungku sesuai dengan yang diminta oleh Vian untuk membakar ayam bumbu rujak yang akan disiapkan oleh Vian. Bram yang telah selesai makan sarapan rencananya akan langsung ke kamarnya yang berada di lantai tiga membatalkan niatnya. Dia melihat keasikan antara Vian dengan para maid. Bram mengambi fhoto tersebut dan mengirim kepada Jero. Setelah itu Bram baru naik ke kamarnya untuk melakukan video call dengan orang kepercayaannya di sana.


"Nona Vian, sudah siap" ujar tukang kebun memperlihatkan tempurung kelapa yang sudah berubah menjadi arang dan siap digunakan untuk membakar ayam milik Vian.


Vian kemudian menaruh ayam yang akan dibakarnya itu ke atas tatakan yang sudah disiapkan oleh tukang kebun. Vian mulai membakar ayam tersebut di atas bara api yang menyala merah. Vian tidak lupa mengoles bumbu rujak ke ayam yang sedang di bakar. Proses itu disaksikan oleh semua maid yang berada di sana termasuk Bik Ima seorang bibik yang diminta menjadi kepala pelayan di mansion utama keluarga Asander yang berada di negara E.


"Itu sampai habis semua bumbunya Nona muda?" tanya seorang maid kepada Vian.


"Bener sampai semua bumbu habis dan ayamnya masak. Kamu tolong ayam yang satu lagi itu ya. Itu ayam untuk kalian semua" ujar Vian yang juga menyiapkan satu ekor ayam untuk dimakan oleh para maid mansion yang dari tadi menyaksikan Vian membuat ayam bumbu rujak menu makan siang keluarga Asander.


"Wow terimakasih Nona muda, kami sangat senang Nona memberikan kepada kami satu ekor ayam bumbu rujak untuk kami makan saat jam makan siang" ujar Bik Ima mewakili semua maid untuk mengucapkan terimakasih kepada Vian karena Vian memberi mereka satu ekor ayam bumbu rujak tersebut.


Vian tersenyum kepada semua maid yang ada di sana. Vian sangat senang melihat para maid yang senang saat diberi ayam bumbu rujak seperti yang akan mereka makan nanti di perusahaan Jero.


"Apinya jangan sampai hidup, nanti ayamnya kebakar. Kita bikin ayam pangggang bukan ayam bakar" ujar Vian kepada maid yang sedang memanggang ayam bakar di sebelah Vian.


Maid itu memadamkan api yang hidup dari bara tempurung yang tadi disiapkan oleh tukang kebun untuk digunakan sebagai bahan bakar membuat ayam panggang bumbu rujak. Tepat empat puluh lima menit ayam bumbu rujak milik Vian dan maid sudah masak dan siap dipindahkan ke dalam piring. Satu orang maid memberikan piring untuk tempat Ayam panggang itu kepada Vian dan juga maid yang tadi memasak ayam panggang untuk para maid. Vian dan maid itu memindahkan ayam yang telah selesai di panggang ke dalam masing masing piring yang sudah disediakan oleh seorang maid.


"Selesai" ujar Vian dengan semangat.


Vian menghirup aroma masakannya yang benar benar menggugah selera itu. Hal yang sama juga dilakukan oleh para maid kepada ayam panggang milik mereka. Mereka juga menghidup aroma wangi dari ayam yang mereka panggang itu.


"Memang beda ya Nona muda, ayam yang dibakar pakai oven dengan yang dibakar memakai arang." ujar salah seorang maid yang dulu sering membantu chef untuk membakar ayam di dalam oven.


"Sekarang lanjut masak capcay ya. Saya tahu kalian sudah ahli untuk memasak masakan yang ini. Jadi, kalian bisa lanjutkan pekerjaan yang lain terlebih dahulu. Nanti saat saya akan mengolah sambal mangga, kalian boleh datang lagi ke dapur. Karena saya yakin kalian juga belum pernah mencobanya. Nanti salah satu dari kalian juga membuat untuk kalian ya." ujar Vian yang secara halus mengusir para maid dari dapur untuk melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat tertunda gara gara mau melihat Vian memasak sesuatu yang belum pernah mereka masak sebelumnya.


"Siap nona muda, tetapi nona muda harus memanggil kami, saat nona muda mau memasak sambal mangga ya. Kami sama sekali belum pernah melihat cara mengolah sambal mangga itu" ujar maid yang tadi memasak ayam panggang bersama dengan Vian.


"Oke sip, nanti saat saya akan masak sambal mangga, saya akan panggil kalian untuk ke sini dan ikut membuat sambal mangga itu" ujar Vian meyakinkan kepada semua maidnya kalau dia pasti akan memanggil mereka semua saat akan memasak sambal mangga.


Semua maid kemudian pergi dan melanjutkan pekerjaan mereka masing masing. Sedangkan Vian kembali melanjutkan memasak capcay dan juga acar untuk pelengkap makan ayam panggang bumbu rujak. Vian mengolah masakannya dengan sangat cermat dan teliti. Vian tidak mau rasa masakannya menjadi sangat aneh karena dia tidak fokus untuk memasak.


"Nona muda kita itu sangat baik sekali ya, Nona muda mau memberikan kita satu ekor ayam yang bumbunya sama dengan bumbu untuk dimakan mereka berempat. Gue nggak menyangka kalau nona muda akan mau melakukan itu untuk kita semua" ujar salah seorang maid yang sedang membersihkan ruang tamu.


"Benar, gue kira, Nona muda akan sangat sombong karena berhasil memikat hati Tuan Muda Jero. Ternyata anggapan kita salah. Nona muda sangat luar biasa baik kepada kita semua" balas maid yang menjadi rekan maid yang tadi menemani Vian memasak untuk membersihkan ruang tamu.


Semua maid terlihat sibuk mengobrol dan menjadikan Vian sebagai topik obrolan hangat mereka. Vian sama sekali tidak ambil pusing dengan apa yang dikatakan oleh para maid. Bagi Vian hidupnya adalah hidupnya. Orang lain mau membicarakan dia, baik yang buruk atau yang baik terserah mereka saja. Vian sama sekali tidak akan ambil pusing akan hal itu.


Vian melanjutkan memasak acar timun, wortel dan nenas. Vian sangat senang membuat masakan itu karena rasanya yang asam. Vian sangat suka dengan masakan yang ada rasa asam asamnya walaupun tidak terlalu asam yang penting ada rasa asam dalam masakan yang dimakan oleh Vian.


Setelah selesai membuat sayur capcay dan acar. Vian akan membuat sambal mangga. Vian melihat salah seorang maid yang tadi menemani dia memasak berjalan menuju arah dapur.


"Panggil semua maid yang mau melihat membuat sambal mangga ya. Saya akan memasak sambal mangga lagi. Itu adalah masakan terakhir untuk menu makan siang kali ini" ujar Vian meminta naid tersebut untuk mengumpulkan semua maid yang tadi penasaran dengan cara Vian mengolah mangga menjadi sambal mangga.


Maid yang diminta oleh Vian untuk memanggil semua rekan rekannya sudah berlalu dari hadapan Vian. Dia pergi memanggil semua rekan rekannya untuk berkumpul dan menyaksikan bagaimana cara Vian mengolah mangga menjadi sambal mangga yang akan terasa sangat lewat saat dimakan dengan ayam bumbu rujak tadi.


Semua maid telah berkumpul kembali di dapur tempat Vian mengolah masakannya. Vian melihat keoada semua maid dengan tersenyum bahagia, karena para maid sangat antusias untuk belajar memasak dari dirinya. Padahal Vian pintar memasak hanya dengan cara otodidak bukan dengan kursus atau belajar serius.


"Pertama sekali ya siapkan semua bahan bahannya. Nah bahan bahannya nanti akan saya kirimkan langsung ke WaG kita ya. Sekarang kita lanjut saja bagaimana cara mengolahnya" ujar Vian yang memang malas menyebutkan nama nama bumbu dapur yang akan digunakan oleh dirinya untuk membuat sambal mangga itu.


"Kamu tolong buka mangga ya emoat buah aja. Setelah itu langsung dicuci ya sampai bersih" ujar Vian meminta salah seorang maid yang ada di sana untuk mengupas mangga dan langsung mencuci mangga itu.


"Siap Nona muda" ujar Maid yang langsung mengeksekusi membuka mangga sebanyak yang diminta oleh Vian tadi.


Vian kemudian mengambil satu batu gilingan cabe. Satu lagi diambil oleh maid yang telah ditugaskan oleh Vian untuk menggiling cabe yang akan digunakan sebagai bahan untuk membuat sambal mangga.


"ini mangganya nona muda" ujar maid yang tadi diminta Vian untuk membuka mangga dan mencuci mangga tersebut.


Vian kemudian manaruh semua bumbu yang akan digiling untuk membuat sambal mangga ke dalam batu gilingan untuk digiling vian sendiri dan juga diatas batu gilingan yang akan digiling oleh maid.


"kita lomba siapa yang halus terlebih dahulu ya. Tapi kamu tidak boleh mengalah" ujar Viab yang langsung mengatakan kepada maid itu untuk tidak mengalah kepada Vian supaya Vian bisa juara dan memenangkan lomba menggiling bumbu untuk sambal mangga.


"siap Nona muda. Saya tidak akan mengalah kepada Nona muda" ujar maid sambil tersenyum kepada Vian.


Vian tidak sadar kalau maid yang ditunjuknya itu sama sekali tidak ahli dalam menggiling sambal. Maid itu akan memakan waktu yang lama saat menggiling bumbu bumbu tersebut.


Vian dan maid berlomba menggiling bumbu bumbu untuk dijadikan sebagai sambal mangga. Akhirnya yang keluar menjadi juara adalah Vian. Vian yang sudah ahli dalam menggiling bumbu tempat santai saja saat menggiling bumbu sambal itu.


"Jadi kamu tidak bisa menggiling?" tanya Vian kepada maid yang sekarang sudah digantikan oleh maid yang lain.


"tidak nona muda. saya sama sekali tidak bisa menggiling bumbu memakai batu gilingan" jawab maid sambil tersenyum kepada Vian.


Mereka kemudian mengolah sambal mangga itu. Dalam tiga puluh menit telah selesai. Para maid juga sudah membawa sambal mangga mereka ke bagian belakang mansion untuk mereka nikmati nanti.