
Plak. Plak. Plak. Tiga tamparan mendarat di pipi Vian. Bik Ima yang berada di anak tangga, melihat semua kejadian yang terjadi menimpa Vian. Vian mendapatkan tiga tamparan sekaligus sore ini. Vian merasa benar benar sakit di pipinya.
Ingin rasanya Bik Ima memanggil Jero dan meminta Jero untuk membawa jauh Nyonya mudanya yang sangat baik hati dan tidak neko neko serta bergaya apa adanya bukan ada apanya. Bik Ima hanya bisa melihat saja, dia benar benar sedih melihat apa yang menimpa Vian.
Bik Ima terpaksa mengurut dada saja menyaksikan apa yang terjadi menimpa Vian. Seorang istri yang diperlakukan tidak seperti manusia oleh suaminya sendiri. Padahal Vian bukan tipe istri pembangkang. Vian sama sekali tidak pernah melawan kepada Juan. Jangankan melawan berbicara saja mereka sangat jarang.
"Jelas istri baru pulang, main tampar saja. Yang salah siapa yang di tampar siapa. Dasar anak dari maid" ujar Bik Ima tidak sadar telah mengumpat Juan Aleksander dengan begitu marahnya.
"Dia nggak mikir apa, istrinya tidak ada salah apa apa malah ditampar seperti itu. Bener kata orang buah tak jatuh tak jauh dari pohonnya" ujar bik Ima.
Pak Hans melihat Bik Ima sedang berdiri di jenjang menuju lantai dua. Pak Hans yang penasaran dengan tingkah istrinya itu menyusul istrinya.
"Ada apa?" tanya Pak Hans yang melihat istrinya sudah menggigil menahan amarahnya.
"Tuan muda menampar Nyonya muda" ujar bik Ima mengatakan kepada Pak Hans sambil menggigil menahan amarahnya.
"Terjadi lagi. Bibit ternyata memang menentukan bobot seseorang" ujar Pak Hans yang juga terlihat marah.
Sedangkan di dalam kamar Tuan Muda itu. Vian menatap Juan Aleksander dengan begitu tajamnya. Vian sama sekali tidak takut dengan Juan Aleksander, dia malahan menantang Juan Aleksander untuk berbuat lebih kepadanya.
"Silahkan tampar lagi. Tampar sepuas puasnya" ujar Vian dengan berteriak keras membuat apa yang diucapkannya terdengar keluar kamar, karena pintu tidak tertutup rapat.
"Masih bisa kamu melawan saya. Kamu tidak tau siapa saya? Hah?" ujar Juan Aleksander sambil mengguncang guncanh pundak Vian dengan begitu kuatnya.
Vian meringis saat tubuhnya diguncang guncang oleh Juan. Vian berusaha bertahan walaupun dia dalam kondisi yang lelah, dan tidak sanggup untuk berperang dengan manusia yang dikatakan suami tetapi sebenarnya seperti iblis itu.
"Jawab saya, Vian. Kamu tau siapa saya bukan?" Juan berteriak keras di telinga Vian.
Vian tetap dalam posisi diamnya. Dia sama sekali tidak menggubris perkataan Juan Aleksander sedikitpun.
Plak, plak. Dua tamparan kembali diterima oleh Vian karena aksi diamnya yang tidak mau menjawab pertanyaan dari Juan.
Seorang Juan Aleksander tidak pernah menerima penolakan sama sekali dari siapapun. Apalagi sekarang yang menolak menjawab perkataannya adalah seseorang yang dianggapnya sebagai pembawa sial dalam kehidupannya akhir akhir ini. Hal inilah yang membuat Juan Aleksander semakin murka dan marah.
"Kamu berani menanteng saya hah. Biar saya kasih tau kamu. Saya Juan Aleksander pewaris tunggal bisnis keluarga Aleksander, tidak pernah ditentang oleh siapapun. Apalagi oleh manusia yang tidak ada derajatnya di depan mata saya." ujar Juan semakin menampakkan kesombongannya di depan Vian.
Vian masih bersikap yang sama, yaitu diam dan sama sekali tidak berusaha mengelak atau menjelaskan bahkan bertanya apa kesalahannya kepada Juan.
Vian menggeleng. Dia sama sekali tidak berminat pengen tau apa kesalahannya yang menyebabkan dia sampai ditampar berkali kali oleh Juan Aleksander. Lagian Vian juga tau dan sadar kalau dia memang tidak ada salah apa apa kepada Juan maupun keluarga Aleksander. Vian tidak pernah membuat malu keluarga besar nan ternama itu dengan tingkah polah nya.
"Kamu memang menguji batas kesabaran saya Vian. Kalau tidak karena Mami yang memaksa saya menikah dengan kamu, maka saya tidak akan mau dengan manusia dingin yang tidak bisa apa apa seperti kamu." ujar Juan Aleksander semakin murka dengan keadaan Vian yang masih dalam sikap yang sama dari awal mereka memulai pembicaraan.
Juan Aleksander terdiam, dia serasa berbicara dengan patung baru dengan sikap diam Vian. Sikap yang tidak tau akan dilawan seperti apa oleh Juan. Sikap yang benar benar menguji batas kesabaran seorang Juan Aleksander.
"Baiklah Vian, saya akan jelaskan kepada kamu, kehidupan saya hancur semenjak saya menikah dengan kamu Vian. Semuanya menjadi hancur. Harga saham perusahaan saya turun dengan tajam. Belum lagi kapal perusahaan saya yang ditahan oleh pemerintah negara H, yang harus saya tebus dengan harga yang sangat tinggi." ujar Juan memuntahkan semua yang dipikirkannya kepada Vian.
"Kamu benar benar membuat saya kecewa Vian. Saya menyesal menikah dengan wanita pembawa sial seperti kamu. Saya benar benar menyesal Vian" teriak Juan dengan sangat murka kepada Vian.
Vian terdiam, dia mendengar semua yang dikatakan oleholeh Juan. Vian memasukkan kedalam hatinya semua perkataan dan tuduhan yang diberikan Juan kepada dia. Vian menerima dengan pura pura sabar.
'Saya tidak akan melawan anda Tuan Muda, karena saya masih dalam keadaan waras. Sedangkan anda, maaf sudah jauh dari kata waras." ujar Vian dalam hatinya mengumpat Juan Aleksander.
"Vian, kamu dengar saya tidak. Dari tadi sebanyak itu saya berbicara kamu sama sekali tidak memberikan respon apapun Vian. Saya betul betul heran dengan kamu Vian" ujar Juan semakin murka dengan respon yang diberikan oleh Vian.
"Vian saya berbicara dengan manusia atau patung batu Vian. Jangan pancing amarah saya yang lebih besar Vian" ujar Juan Aleksander semakin murka.
Vian masih sama. Masih diam dan tidak melakukan apa apa.
"Baiklah Vian kalau itu mau kamu. Jangan salahkan saya kalau saya berbuat kasar." ujar Juan yang sudah habis kesabarannya menghadapi Vian.
Juan menarik tangan Vian dengan kasar. Juan menarik terus tangan Vian turun dari anak tangga rumah. Sebenarnya pergelangan tangan Vian merasakan sakit yang teramat sangat. Tetapi Vian berusaha diam saja. Dia tidak membantah sama sekali.
Bik Ima dan Pak Hans yang melihat apa yang dilakukan oleh Tuan Muda Aleksander itu hanya bisa diam saja tanpa bisa berbuat sesuatu. Jero juga melihat semua itu dengan tatapan nanar, dia berusaha menahan emosinya untuk tidak melakukan tindakan kekerasan kepada Juan.
Bik Ima melihat reaksi Jero. Bik Ima menahan tangan Juan. Bik Ima tidak ingin Jero melakukan suatu hal yang tidak diinginkan.
Jero melihat Vian dilempar oleh Juan dari dalam rumah. Jero yang sudah tidak tahan melihat semua itu berlari dari dalam rumah. Dia menghempas Juan Aleksander ke lantai mansion. Jero membantu Vian berdiri.
"Anda benar benar tidak manusia Tuan Muda" ujar Jero dengan emosi.
"Hay, siapa anda. Anda orang luar, jangan ikut campur masalah keluarga Aleksander." ujar Juan dengan emosi melihat kelakuan Jero.
Jero ingin menjawab. Tetapi Vian sudah memegang tangan Jero dan menggeleng ke arah Jero. Jero diam kembali