My Affair

My Affair
BAB 122



Pagi harinya Vian sudah terbangun dari tidurnya yang benar benar nikmat. Vian semenjak berada di negara U selalu tidur dengan nyenyak. Vian telihat membayar tidur yang selama ini tidak nyaman di negara I.


"Bener bener nikmat tidur gue. Sampai sampai nggak sadar dengan waktu" ujar Vian sambil merentangkan lebar lebar tangannya ke kiri dan kanan.


Vian kemudian berjalan menuju kamar mandi. Dia akan membasuh wajahnya terlebih dahulu. Setelah itu Vian berencana untuk membuat sarapan di dapur mansion. Vian sudah lama ingin makan nasi lemak lengkap dengan semua lauknya.


"Hem kayaknya nggak bisa masak nasi lemak, nggak akan masak tepat jam sarapan sepertinya" ujar Vian saat melihat jam dinding kamar yang sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi.


"Semoga aja dapur nggak ada penghuninya. Kalau sudah ada maka, aku nggak akan mungkin mengusir mereka dari sana" ujar Vian sambil berjalan keluar dari kamarnya untuk menuju dapur yang terletak di lantai dua mansion besar itu.


Bram yang dari semalam tidak bisa tidur karena mengurus masalah perusahaan, hampir bertabrakan dengan Vian yang turun sambil bersenandung senandung kecil sepanjang jalan.


Vian yang kaget langsung melihat ke arah Bram. Bram hanya bisa tersenyum saja kepada Vian.


"Makanya kakak ipar jalan itu pake mata. Ini kakak menekur aja, jadi nggak nampak kan aku yang datang dari bawah" ujar Bram menggoda Vian yang baru saja hampir bertabrakan dengan dirinya di tangga menuju lantai dua mansion.


"Sorry Bram. Kamu dari mana pagi pagi begini?" ujar Vian yang melihat Bram dalam kondisi kusut seperti tidak tidur semalaman.


"Baru dari ruang kerja kakak ipar. Aku semalaman di sana. Ada pekerjaan yang harus aku kerjakan dan selesaikan cepat." jawab Bram yang tidak menjelaskan lebih terperinci lagi kepada Vian apa yang dilakukan oleh Bram di ruang kerjanya itu.


"Oh oke. Apa semua aman aman saja?" tanya Vian kepada Bram.


"Aman kakak ipar, aman sekali. Kakak ipar mau kemana?" tanya Bram sambil menatap ke arah Vian yang sudah rapi dan terlihat ingin melakukan suatu hal di lantai satu mansion.


"Mau masak sarapan, kalau dapur masih kosong dan belum ada yang menguasainya" ujar Vian menjawab pertanyaan dari Bram.


"Baiklah kakak. Nanti kalau aku tidak hadir sarapan, tolong katakan kepada Bang Jero kalau aku baru tidur. Oke kakak ipar" ujar Bram yang sudah menahan rasa kantuk nya dari tadi.


"Sip. Istirahat sana. Nanti biar bibik yang mengantar sarapan ke kamar kamu" ujar Vian kepada Bram.


Bram melanjutkan perjalanannya menuju kamar yang berada di lantai dua tiga mansion. Sedangkan Vian menuju dapur bersih tempat mereka akan sarapan.


Vian melihat dapur yang masih kosong, tidak seorang pun maid ada di sana.


"Tumben masih kosong?" ujar Vian yang melihat dapur dalam keadaan kosong.


"Apa mereka udah siap masak kali ya?" ujar Vian.


Vian kemudian berjalan menuju meja makan. Dia melihat di atas meja makan belum ada sarapan yang terhidang. Vian kembali menuju dapur, Vian membuka almari pendingin. Vian mengeluarkan semua bumbu bumbu masakan yang akan diolahnya menjadi sarapan. Karena waktu yang sudah mepet, Vian berencana untuk memasak nasi goreng lengkap dengan omelet untuk menu sarapan hari ini.


Vian mulai mengolah nasi goreng dan juga omelet yang akan dijadikan sebagai menu sarapan untuk mereka pagi ini. Vian terlihat sangat menikmati apa yang dilakukannya sekarang.


Tepat jam tujuh kurang seperempat semua menu sarapan telah selesai dibuat oleh Vian. Vian menata menu sarapan itu di atas meja makan. Vian juga sudah menyeduh teh untuk semua anggota keluarga.


Vian yang telah selesai memasak dan menata sarapan di atas meja. Kembali menuju kamarnya di lantai tiga mansion. Vian membersihkan badannya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian santai rumahan. Hari ini Vian tidak akan ada rencana untuk kemana mana hari ini.


Jero yang telah selesai bersiap siap di kamar, melangkahkan kakinya menuju kamar Vian yang terletak persis di depan kamarnya.


Tok tok tok tok. Jero mengetuk pintu kamar Vian, Vian yang sedang menyisir rambutnya berjalan menuju pintu kamar. Vian membuka pintu tersebut dan melihat Jero yang berdiri di depan kamar.


"Hay, aku kira kamu belum bangun" ujar Jero yang kaget melihat Vian sudah selesai mandi dan bersiap siap.


"Udah selesai juga buat sarapan" jawab Vian sambil masuk ke dalam kamarnya kembali.


Jero mengikuti Vian masuk ke dalam kamar. Dia duduk di sofa kamar sambil menunggu Vian selesai bersiap siap. Jero melihat Vian yang sibuk dengan rambutnya. Jero senyum senyum sendiri menatap bagaimana sibuknya Vian dengan rambutnya sendiri.


"Sudah kalau dia nggak mau lurus biarin aja kayak gitu. Susah banget" ujar Jero sambil tersenyum kepada Vian melalui cermin yang memantulkan wajah tersenyum Jero.


"Yey pakai senyam senyum segala" ujar Vian dan melempar Jero dengan sisir yang dipakai oleh dirinua tadi.


"Haha haha haha. Yang salah kamu juga sayang, rambut nggak mau lurus dipaksa untuk lurus. Tentu nggak mau dia" ujar Jero sambil tersenyum ke arah Vian.


"Iya juga ya sayang. Jadi, biarin ajalah lagi" ujar Vian yang akhirnya membiarkan rambut susah diatur nya itu berada di posisi yang dikehendaki si rambut.


"Tetapi dari sini" lanjut Jero menunjuk dada Vian.


"Hem jari bro. Halalin dulu" ujar Vian mulai menggoda Jero dengan ucapan ucapan tersubungnya.


"Bener mau dihalalin? Cerai dulu" Jero membalas semua ucapan Vian.


"Yuk ke negara I, urus surat cerai" Vian memancing Jero dengan ajakan ke negara I untuk mengurus surat cerai dirinya dengan Juan.


"Terapi dulu ya, baru kita pulang. Aku nggak mau nanti saat kamu lihat rumah sakit kamu seperti yang sudah sudah" ujar Jero meminta kepada Vian untuk terapi terlebih dahulu baru mereka akan pulang ke negara I.


"Sip. Kita terapi dulu setelah itu baru pulang ke negara I" jawab Vian yang setuju untuk terapi sebelum mereka kembali ke negara I dan mengurus perceraian antara Vian dengan Juan.


"Ayuk turun sayang. Aku udah lapar" ujar Jero yang merasakan perutnya sudah mulai berbunyi. Jero tadi malam memang tidak sempat makan malam saat mereka sampai di mansion.


"Ayuk. Aku udah masak nasi goreng, mie goreng sama omelet kesukaan kamu" jawab Vian sambil menatap ke Jero.


"Wow nggak sabar aku sayang untuk menikmatinya" ujar Jero sambil menggandeng tangan Vian untuk menuju meja makan.


Saat Jero dan Vian berjalan menuju meja makan, pas bertepatan dengan Felix yang baru keluar dari kamarnya.


"Bram mana Felix?" tanya Jero uang tidak melihat keberadaan Bram di dekat Felix.


"Sayang, Bram tadi katanya tidak ikut sarapan. Dia baru tidur sekitar jam setengah tujuh lah" ujar Vian menyampaikan pesan dari Bram kepada Jero dan Felix.


Jero menatap Felix. Jero meminta penjelasan dari Felix. Jero yakin Felix mengetahui sesuatu tentang apa yang sedang di hadapi oleh Bram.


"Perusahaan sedang bermasalah kemaren Bang. Mungkin Bram menyelesaikan masalah perusahaan sampai pagi" ujat Felix menjawab pertanyaan dari Jero.


"Ooo. Nantilah dia bangun baru kita tanya ada apa sebenarnya" ujar Jero.


Mereka bertiga turun ke lantai dua mansion. Mereka makan sarapan di meja makan sebelum berangkat ke perusahaan.


Vian mengambilkan Jero dan Felix nasi goreng dan omelet. Setelah itu baru Vian mengambil untuk dirinya sendiri. Mereka bertiga kemudian makan dengan sangat tenang. Vian sudah menyisihkan nasi goreng dan lauknya untuk Bram. Jadi, saat Bram bangun dia tinggal menyantap nasi goreng tersebut.


"Sayang ini beneran enak" ujar Jero yang tidak bosan bosan nya memuji masakan yang dibuat oleh Vian.


"Makasi sayang. Kamu selalu memuji masakan yang aku buat. Aku sangat bahagia dibuatnya" ujar Vian mengucapkan terimakasih kepada Jero karena selalu menghargai masakan yang dibuat oleh Vian.


"Kamu hari ini ke perusahaan sayang?" tanya Bian memastikan Jero akan kerja atau tidak hari ini.


"Iya. Ada beberapa urusan yang harus aku kerjakan. Tapi nanti kita akan bertemu greta di jam empat sore. Kamu akan aku jemput ke mansion sekitar jam empat ya" kata Jero kepada Vian.


"aku ajalah ke perusahaan sambil membawakan bekal makan siang untuk kamu dan Felix" ujar Vian yang sudah bisa membayangkan akan memasak menu apa untuk makan siang mereka nanti.


"Oke. Sayang. Aku akan tunggu kamu di perusahaan" ujar Jero yang sangat senang Vian mau datang ke perusahaan dan membawakan bekal makan siang untuk dirinya.


Jero, dan Felix memasang jas mereka. Mereka akan berangkat ke perusahaan dalam satu mobil. Vian mengantarkan Jero dan Felix sampai ke pintu utama mansion.


Dua mobil mulai bergerak meninggalkan mansion. Tinggallah Vian sendirian di sana.


"Hendri. Kamu sudah sarapan?" tanya Vian kepada Hendri sang asisten sekaligus pengawal Vian.


"Siap belum Nona Muda" jawab Hendri yang memang belum sempat sarapan dari tadi.


"Kamu naik aja ke lantai dua mansion. Di sana masih ada sarapan. Kamu ajak Erik sekaligus untuk sarapan di sana" kata Vian memberikan perintah kepada Hendri untuk makan di lantai dua mansion serta membawa Erik untuk ikut sarapan.


"siap Nona" jawab Hendri.


Vian kemudian kembali ke dalam kamarnya. Dia akan melakukan beberapa buku sebagai modal awal dia kuliah nanti.


Sedangkan Hendri memanggil Erik untuk ikut sarapan dengan dirinya di lantai dua mansion tersebut.