My Affair

My Affair
BAB 113



Pagi harinya Mommy dan Jero memilih untuk tidak ikut sarapan. Mereka tadi dihubungi oleh Pak Hans kalau Rani akan ikut sarapan di meja makan dengan Keluarga besar. Mommy berusaha untuk menghindari hal itu. Sehingga mommy lebih memilih untuk pura pura tidur.


"Sayang, kita sarapan nanti saja ya. Wanita itu juga akan ikut makan degan Daddy di meja makan." ujar Mommy yang melihat Jero sudah bangun dari tidurnya.


"Tapi kalau kamu memang ingin ikut makan di sana, Mari kita makan di sana juga" lanjut Mommy berkata kepada Jero.


"Nggak mommy, kita makan nanti saja Mommy, biar mereka makan duluan, kita siap mereka saja. Aku sangat tidak nyaman kalau harus makan bersama dengan mereka. Aku tidak tahan melihat kemesraan mereka yang seakan akan menganggap kita tidak ada" ujar Jero menjawab perkataan dari Mommynya.


Mommy mengangguk paham serta tersenyum dengan apa yang dikatakan oleh Jero kepada dirinya. Mommy sungguh tidak menyangka Jero akan bisa melakukan hal seperti itu. Hal yang diluar prediksi mommy.


"Oh ya mommy nanti saat aku sekolah Mommy main di mana?" ujar Jero yang sangat yakin kalau mommy nya tidak akan turun ke lantai satu mansion.


Mommy sangat menghindari untuk bertemu dengan wanita itu. Wanita yang dalam sekejap bisa meruntuhkan rumah tangga yang dijaga oleh mommy selama ini.


"Mommy di greed house saja sayang. Mommy akan duduk di sana saja" ujar mommy sambil menatap ke arah Jero.


"Oke mommy, Jero mandi dulu ya" ujar Jero kepada Mommy.


Mommy bangun dari atas ranjang milik Jero.


"Untung saja ranjangnya sudah di ganti dengan yang besar, kalau yang masih kecil, mana muat aku tidur di sini" ujar Mommy sambil melihat ke arah ranjang milik Jero.


Mommy mengambilkan pakaian sekolah Jero. Mommy juga memasukkan buku buku sesuai dengan daftar pelajaran Jero hari ini.


"Ya Allah, semoga anak hamba bertahan dalam menghadapi cobaan berat ini. Belum lagi kalau anak wanita itu lahir sembilan bulan lagi. Sudah bisa dipastikan kasih sayang Daddy akan penuh ke bayi tersebut" ujar Mommy sambil mencium pakaian sekolah milik Jero.


Jero mendengar semua yang dikatakan oleh Mommy tentang kekhawatiran mommy terhadap dirinya.


'Mommy tenang saja. Aku anak yang kuat mommy, aku berjanji akan melindungi mommy" lanjut Jero berkata dalam hatinya sambil menatap ke arah mommy yang masih berada di tempat yang sama.


"Mommy aku sudah siap mandi" ujar Jero sengaja berteriak supaya mommy bisa menghapus air mata kesedihannya yang mengingat keadaan Jero ke depan.


Mommy menghapus air mata yang sempat menetes itu. Mommy tidak mau Jero melihat dirinya bersedih.


"Sini, mommy pakaikan pakaian kamu sayang" ujar Mommy sambil melihat ke arah Jero.


"Tapi aku pakai ****** ***** dulu ya Mommy" ujar Jero yang memilih untuk memakai pakaian dalamnya tidak di dekat Mommy.


Mommy mengangguk dia sudah tahu anaknya sudah merasa jadi anak yang pintar, sehingga mommy harus pintar pintar bersikap kepada Jero.


"Oke mommy sudah siap. Tolong pakaikan pakaian Jero ya" ujar mommy sambil menatap ke arah Mommy nya yang sangat sangat disayangi oleh Jero.


Mommy kemudian memakaikan pakaian sekolah Jero. Mommy menyisir rambut Jero dengan gaya khas seorang Jero.


"Sudah selesai. Mari kita turun. Mommy rasa mereka sudah tidak di meja makan lagi" ujar Mommy sambil menatap ke arah Jero yang sudah selesai merapikan penampilannya.


Tiba - tiba saat mereka akan ke luar dari dalam kamar. Terdengar bunyi ketukan pintu kamar Jero. Jero melihat siapa yang mengetuk pintu kamar.


"Pria penguasa itu Mommy" ujar Jero sambil menatap ke arah Mommy.


"Ngapain dia?" tanya Mommy.


"Nggak tau. Palingan nyuruh sarapan bersama" jawab Jero sambil menatap ke arah Mommy.


"Buka atau nggak Mommy?" tanya Jero sambil menatap ke arah Mommy nya itu.


"Nggak usah aja buka. Biarkan saja." ujar Mommy yang malas bermasalah dengan pria itu.


Mereka berdua membiarkan saja bunyi ketukan itu. Seseorang yang berada di balik pintu yang sudah lelah mengetuk pintu kamar langsung berjalan kembali menuju lantai satu.


"Sepertinya mereka masih tidur sayang. Kita makan berdua saja" ujar Daddy berkata kepada Rina.


"Tapi anak ini pengen makan dengan Mommy dan kakak nya Jero" ujar Rina dengan nada manja.


Rina sudah memikirkan apa yang akan dilakukannya untuk membuat Nyonya besar itu marah. Makanya dia tidak mau rencananya itu menjadi gagal.


"Biarkan saja sayang. Kita makan saja" ujar Daddy yang menolak untuk memanggil kembali Mommy dan Jero ke kamar mereka.


"Yah, nanti ngeces anak kita, kamu yang salah ya" ujar Rina menatap sedih ke arah Daddy.


"Sayang mohon mengertilah" ujar Daddy yang lelah pagi ini sudah menuruti semua keinginan Rina.


Waktu Mommy hamil Jero, mommy melakukan semuanya sendiri. Tidak pernah merepotkan Daddy seperti sekarang ini.


Rina akhirnya ikut makan sarapan yang sudah di hidangkan oleh Bik Ima. Dia makan sambil cemberut karena rencananya gagal lagi. Setelah sarapan, daddy kemudian pergi menuju perusahaan.


Saat itulah Mommy dan Jero berjalan turun dari kamarnya. Rina melihat hal itu.


"Mommy boleh aku minta tolong? Aku pengen buah mangga yang dikupas mommy" ujar Rina dengan manja kepada Mommy di hadapan Jero.


Jero dengan tegas melepas tangan Rina dari tangan mommy. Jero menatap murka ke wajah Rina.


"Jangan pernah menyuruh nyuruh Mommy. Sekali lagi saya dengar. Saya tidak akan segan segan memberi perhitungan kepada Anda" ujar Jero menatap geram ke arah Rina.


"Silahkan bermanja manja dengan pria itu, jangan pernah menyuruh dan meminta sesuatu dari mommy" lanjut Jero semakin murka dengan Rina.


"Mommy sudah memberikan yang paling penting dalam hidupnya kepada Anda" lanjut Jero menatap tajam ke arah Rina.


Rina bergidik ngeri menatap ke arah Jero.


"Mommy, mommy ikut dengan aku ke sekolah. Aku ingin di antar Mommy" ujar Jero kepada Mommy nya.


Jero tidak ingin mommy dijadikan bulan bulanan oleh wanita ular itu di mansion. Makanya jero mengajak mommy untuk ikut menemani jero ke sekolah.


"Iya sayang" jawab Mommy yang tahu tujuan jero membawa dirinya ke sekolah.


Mommy dan Jero kemudian masuk ke dalam mobil yang disopiri oleh Pak Hans. Pak Hans mengemudikan mobil dalam kecepatan agak tinggi menuju sekolah Jero.


"Pak Hans kenapa ngebut sekali?" tanya Mommy sambil menatap ke arah Pak Hans.


"Tuan muda masuk lima menit lagi Nyonya besar. Saya takutnya Tuan Muda terlambat Nyonya besar" kata Pak Hans kepada Nyonya besar mengatakan alasan dia terlambat.


"Oh baiklah" ujar Mommy terdiam.


Mobil kemudian masuk ke dalam gerbang sekolah Jero. Mobil berhenti pas bertepatan dengan bunyi bel sekolah yang berbunyi nyaring.


"Mommy tunggu dimana?" tanya Jero kepada Mommy.


"Tunggu di mobil aja" jawab Mommy.


"Baiklah. Pak Hans, tolong temani Mommy" ujar Jero menitip Mommy kepada Pak Hans.


"baik Tuan muda" ujar Pak Hans.


Jero kemudian masuk ke dalam kelasnya. Mommy berada di dalam mobil sambil membuka ponsel miliknya. Mommy mencoba mengusir jenuh dengan melihat lihat sosial media miliknya yang sangat jarang dibuka oleh Mommy