
"Yes, kakak ipar berhasil, iyes iyes, kakak ipar berhasil. Selamat kakak ipar, ternyata apa yang kakak ipar inginkan terkabul juga" ujar Bram yang bersorak kegirangan saat Jero menurunkan izin kalau mereka akan pergi menggunakan kereta api ke negara F.
Jero nenatap ke arah Bram dengan tatapan penuh keheranan. Vian yang tau Jero sedang memikirkan sesuatu langsung menggamit tangan Jero dengan sangat manja.
"Antarin ke belakang yuk" ujar Vian menatap lembut ke mata Jero kekasihnya yang selalu menomorsatukan Vian.
Apapun pekerjaan yang sedang dilakukan bahkan yang belum dilakukan, kalau sudah datang telpon dari Vian maka mau tidak mau, suka tidak suka, Jero akan langsung mengabulkan apa yang Vian inginkan.
"Jadi, kita ke tempat Greta sayang?" tanya Vian sambil menatap ke arah Jero yang sekarang sedang berada di sebelahnya dengan mode tidak ingin sesuatu terjadi kepada Vian.
Mereka berdua sedang berjalan ke arah kamar mandi ruangan Jero yang letaknya di bagian belakang. Saat sampai di situ Vian memegang tangan Jero dan menghentikan langkah kaki Jero. Tiba tiba cup. Sebuah kecupan mendarat mulus di bibir Jero. Jero menatap Vian dengan tatapan. Apakah ini benar.
Jero yang terpancing dengan apa yang dilakukan oleh Vian, langsung memegang tengkuk Vian. Jero melumaaaatttt abis bibir Vian dengan rakusnya. Jero seperti tidak cukup dengan itu. Mereka berdua melepaskan itu setelah mereka berdua kehabisan nafas dan akan menghirup nafas sesaat.
"Sayang, kamu rar" ujar Jero memuji Vian.
Mereka selama ini tidak pernah melakukan hal seperti itu. Ntah kenapa tadi Vian tiba tiba ingin melakukan hal itu kepada Jero. Mungkin karena terbawa suasana makanya Vian langsung mengecup bibir Jero dan ternyata Jero terpancing sehingga melakukan sesuatu yang benar benar membuat Vian terpancing juga.
"Sekali sekali sayang" jawab Vian sambil tersenyum ke arah Jero.
Jero memandang Vian sambil balas tersenyum.
"Sana masuk. Dari pada aku menuntut lebih" ujar Jero meminta Vian untuk masuk ke dalam kamar mandi. Jero tidak mau dia menuntut lebih kepada Vian, sehingga membuat Vian kehilangan sesuatu yang dibanggakan nya yang sekarang masih ada sama Vian.
Vian kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Dia akan buang air kecil dulu. Vian sudah dari tadi menahannya karena masih berdebat dengan Jero.
"Perjuangan aku tidak sia sia, akhirnya aku bisa juga pergi ke negara F naik kereta api" ujar Vian sambil tersenyum di depan cermin yang ada di depannya saat ini.
Vian sangat bangga dengan dirinya karena bisa meminta sesuatu yang sangat sulit dikabulkan oleh Jero. Tetapi berkat usahanya, mati matian sambil merajuk dan menggoda Jero, akhirnya semua yang diinginkan oleh Vian di dapat Vian juga. Jero mengizinkan Vian untuk pergi ke negara F dengan memakai kereta api.
Vian yang telah selesai dengan urusan kamar mandinya, kemudian berjalan ke luar. Jero masih setia di sana menunggu Vian.
"Sayang aku udah siap" ujar Vian sambil menggandeng tangan Jero untuk kembali menuju sofa tempat semua orang sedang duduk.
Jero dan Vian kembali duduk di sofa tempat mereka duduk tadi. Felix dan yang lainnya sedang berbincang bincang.
Jero yang teringat kenapa Bram sampai bersorak saat Jero mengizinkan Vian untuk pergi ke negara F naik kereta api, langsung melihat ke arah Bram. Bram yang sibuk berbincang bincang dengan Tama tidak menyadari kalau abang nya itu sedang melihat ke arah dia.
"Bram. Ada yang mau abang tanyakan sama kamu" ujar Jero melihat ke arah Bram yang sedang berbicara dengan Tama membahas tentang mobil sport. Mereka berdua memang terkenal menyukai mobil sport tetapi tidak mengoleksi, karena menurut mereka berdua itu adalah suatu hal yang mubazir saja.
"Apa Bang?" jawab Bram yang sama sekali tidak bisa menebak kemana arah pembicaraan Jero kali ini.
"Menurut kamu, kenapa kakak ipar kamu ini menjadi ingin ke negara F dengan naik kereta api?" ujar Jero bertanya tentang masalah itu kepada Bram. Jero yakin Vian ada yang menceritakan bagaimana asiknya naik kereta api ke negara F. Kalau tidak, maka Vian tidak akan tahu bagaimana asiknya naik kereta api ke negara F.
"Terus?" ujar Jero yang sudah yakin kalau tukang kompor kali ini adalah Bram.
Bram memang paling suka naik kereta api ke negara F. Kemarin-kemarin Bram sudah lama meminta kepada Jero untuk pergi naik kereta api menuju negara F. Tetapi waktu mereka untuk pergi sampai sekarang belum cocok juga.
"Terus Bram bilang aja ke kakak ipar kalau naik kereta api ke negara F lebih indah pemandangannya" ujar Bram sambil melihat ke Vian.
Vian memberikan dua jempolnya kepada Bram. Vian mendukung dan mengiyakan apa yang dikatakan Bram kepada Jero.
"Apa memang begitu sayang?" tanya Jero kepada Vian
"Apa kamu meragukan sendiri adik kamu sayang?" balas Vian bertanya kepada Jero.
Vian tidak mau Jero meragukan apa yang diceritakan oleh adiknya kepada dia. Jero selama ini selalu percaya kepada kedua adiknya itu. Mengapa sekarang tiba tiba Jero tidak percaya.
"Aku percaya dengan Bram. Tapi sekarang yang aku tanyakan ke kamu, apakah benar kamu ingin naik kereta api ke negara F?" ujar Jero yang akan mengabulkan keinginan Vian untuk pergi ke negara F naik kereta api.
"Benarkah kalau nggak ngapain aku berjuang mati matian untuk pergi ke sana" jawab Vian sambil tersenyum manis ke arah Jero.
"Kalian semua kosongkan jadwal lusa. Kita akan pergi ke negara F naik kereta api" ujar Jero yang langsung memutuskan untuk berangkat lusa ke negara F.
"Kamu juga ajak Greta, Jeri. Kita akan pergi ramai ramai." lanjut Jero yang akan mengajak semua orang untuk pergi ke negara F.
Jero melihat lagi ke arah Bram. Bram sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh dirinya.
"Bram, berhubung ini semua adalah ide kamu dengan memanfaatkan hobby kakak ipar kamu melihat pemandangan yang bagus bagus. Kamu abang tugaskan untuk pergi merental kereta api itu untuk dipakai keluarga kita selama seminggu. Kita akan langsung ke negara G dari negara F" ujar Jero yang tidak mau nanggung nanggung membawa Vian pergi naik kereta api.
Jero akan membawa kekasihnya itu berkeliling dia negara dalam satu minggu. Kalau menurut Jero itu masih kurang, maka Jero akan menambah hari. Hal itu akan dipikirkan nanti saja setelah mereka berada di negara F.
"Seminggu sayang?" ujar Vian yang mendengar mereka akan pergi selama seminggu itu menjadi kaget.
"Kok kaget sayang? kurang?" tanya Jero kepada Vian dengan wajah santai.
"Greta dan Tama kan kerja di rumah sakit sayang. masak mereka izin selama seminggu. Bisa dipecat mereka sayang" ujar Vian dengan wajah kasihan kepada Tama dan Greta.
Vian tidak mau hanya gara gara keinginannya untuk naik kereta api ke negara F membuat Greta dan Tama kehilangan pekerjaannya. Vian tidak mungkin bisa melakukan hal itu. Vian tau bagaimana susahnya mencari pekerjaan bagi seorang dokter. Apalagi di negara maju seperti ini. Dokter dokter akan bersaing untuk mendapatkan rumah sakit yang bagus. Sekarang Greta dan Tama sudah bekerja di rumah sakit ternama, Vian tidak mau gara gara dia mereka berdua kehilangan pekerjaan.
"haha haha haha. Vian Vian. Tidak akan ada yang bisa memecat kami Vian. Kami bekerja dengan orang yang membawa kami pergi" ujar Tama yang tahu maksud kecemasan dari Vian.
"Oh baiklah kalau begitu Tama. Aku yang tidak tahu kalau tiga pria kakak beradik ini adalah manusia yang memiliki uang tanpa seri" ujar Vian sambil memandang ketiga kakak beradik yang terlihat biasa saja ternyata memiliki kekayaan yang tidak bisa diperkirakan oleh Vian banyaknya.
Mereka semua melanjutkan berbincang bincang tentang perusahaan dan rumah sakit. Jero berencana untuk membuat satu rumah sakit baru lagi saat Vian sudah resmi kuliah di negara itu