My Affair

My Affair
Masalah Belum Kelar



"Huft Tuan Muda bener bener sangat Tuan Muda, ntah apa yang dikerjarnya. Kalau udah bucin memang sangat susah" kata Hendri yang sudah lelah berjalan cepat untuk mengejar Jero yang sudah lumayan jauh di depannya.


"Yes kesempatan untuk mengejar Tuan Muda. Terimakasih dokter Anda telah menyelamatkan saya." ujar Hendri saat melihat Jero berbincang dengan seorang dokter.


"Semoga percakapan mereka terjadi lama, jadi gue bisa mengejar Tuan Muda" lanjut Hendri berharap kalau dokter dan Jero melakukan percakapan yang lama. Sehingga dia bisa mengejar Jero.


Hendri setengah berlari untuk menggunakan kesempatan itu agar dia bisa mengejar Jero. Akhirnya usaha keras yang dilakukan oleh Hendri membuahkan hasil, Jero berhasil di dapatkannya kembali. Hendri sekarang sudah berdiri dengan nyaman di belakang Jero.


Hendri membungkukkan badannya sedikit tanpa mengucapkan terimakasih kepada dokter yang tadi telah mengobrol dengan Jero. Kalau tidak ada dokter itu sudah bisa dipastikan kalau Hendri akan terlambat dan tidak bisa mendampingi Jero sampai diruangan Vian.


Dokter membalas apa yang dilakukan oleh Hendri tersebut. Dokter yang tidak tahu apa maksud dari Hendri hanya mencoba untuk membalas sebagai sikap basa basi terhadap tindakan Hendri yang membunggukkan sedikit badannya tadi.


Jero melanjutkan perjalanannya menuju ruangan Vian. Dia melangkah dengan sangat cepat. Hendri hanya bisa mengikuti dalam diam apa yang dilakukan oleh Jero.


'Nanti sampai mansion gue harus mintak tolong salah satu dari pengawal untuk memijit kaki gue. Bener bener capek gue' ujar Hendri dalam hatinya.


'Ini seperti berlari di treadmill saja. Tuan muda berjalan sangat cepat sekali. Cinta bener bener membuat Tuan Muda menjadi bringas' lanjut Hendri yang masih mampu mengimbangi jalan cepat Jero.


Saat sampai di depan pintu ruang kerja Vian, Jero sama sekali tidak melihat pengawal Vian yang berdiri di depan pintu ruang kerja Vian.


"Kemana dia?" ujar Jero yang mulai cemas saat tidak melihat pengawal yang diperintah oleh dirinya untuk menjaga Vian selama Vian bekerja di rumah sakit.


"Vian kemana coba" ujar Jero yang mulai kesal tidak melihat Vian berada di dalam ruang kerjanya.


"Hendri telpon pengawal Nona muda, tanya Nona muda di mana" ujar Jero dengan berteriak keras.


Orang orang yang sedang duduk menunggu antrian pemeriksaan dari dokter menatap tidak percaya ke arah Jero yang berteriak dari dalam ruang kerja Vian. Pria tampan tersebut terlihat sangat panik saat menutup pintu ruangan dokter yang di depan pintu sudah tertulus tutup.


"Ini bener bener bikin kesal. Kenapa dia pergi tidak mengirimkan kabar. Apa memang harus aku yang menelponnya terlebih dahulu." ujar Jero yang marah melihat Vian tidak ada di ruangan dan juga tidak memberikan kabar kepada dirinya.


"Hanya karena telpon tadi, gue di hukum seperti ini. Vian benar benar keterlaluan" ujar Jero yang tidak menyangka kalau Juan akan memberikan dirinya hukuman seganas ini. Jero hanya mengira kalau Vian hanya merajuk saja. Ternyata Vian memilih untuk pergi dari rumah sakit.


Jero memilih untuk duduk di kursi tunggu depan ruang kerja Vian. Suatu hal yang sebenarnya tak ingin dilakukan oleh Jero, tetapi karena tadi saat Vian menghubunginya terjadi kesalahpahaman maka membuat Jero harus menunggu Vian seperti sekarang ini.


"Maaf Tuan Muda sebenarnya Tuan bisa langsung masuk saja ke dalam, tidak perlu menunggu di luar seperti ini" ujar salah seorang dokter yang sekaligus tim managemen rumah sakit mempersilahkan Jero untuk masuk ke dalam ruang kerja Vian.


"Tidak usah. Saya akan tunggu di sini saja" jawab Jero.


"Gimana Hendri? kemana Nona muda?" tanya Jero yang melihat Hendri sudah selesai menghubungi pengawal Vian.


"Nona muda sedang melakukan operasi Tuan di ruangan operasi" jawab Hendri memberitahukan kepada Jero dimana keberadaan Vian hari ini.


"Apa masih lama?" lanjut Jero bertanya.


"Maaf Tuan kalau untuk lamanya pengawal Nona muda tidak bisa memberitahukan kepada saya. Tetapi kalau sudah berapa lama, maka jawabannya sudah setengah jam Tuan" lanjut Hendri menjelaskan kepada Jero sudah berapa lama Vian melakukan proses operasi.


"Oh baiklah. Kita akan menunggu Nona muda di sini saja" ujar Jero.


Jero kemudian duduk kembali di kursi tunggu yang ada di depan ruangan Vian.


'Biarkan saja mereka melihat gue hari ini.' kata Jero yang sudah menerima konsekuensi dia akan ditatap oleh semua pengunjung rumah sakit.


Felix dan Bram yang datang bersamaan melihat Jero yang duduk dengan santai di depan ruang kerja Vian. Sedangkan Hendri berdiri di sebelahnya.


"Tengok tu abang loe, santai banget dia duduk. Tumben nggak risih dengan pengunjung yang melihat ke arah dirinya dari tadi" ujar Bram kepada Felix kakak nomor duanya.


"Loh kenapa nggak masuk ke dalam Bang?" tanya Bram saat mereka sampai di depan Jero.


"Mana bisa masuk, orangnya nggak ada" jawab Jero dengan santai.


Felix menatap ke arah Hendri. Orang yang ditatap oleh Felix mengangguk dengan pasti.


"Nona muda sedang melakukan operasi Tuan. Tadi saya sudah menghubungi pengawal Nona muda." jawab Hendri yang tahu arti dari tatapan mata Felix ke arah dirinya.


"Oh pantesan."


"berapa lama?" tanya Felix.


"untuk berapa lamanya dia tidak bisa menjawab. Tetapi Nona sudah di dalam selama empat puluh lima menit" kata Hendri menjelaskan kepada Felix sudah berapa lama Vian di dalam ruang operasi.


"Apa kita tidak masuk saja Bang? Ini kita udah jadi perhatian orang banyak, Bang" ujar Felix yang memang paling anti menjadi pusat perhatian dari semua orang yang ada di sana.


Felix tidak sama dengan Bram. kalau Bram sangat menikmati kalau dia diperhatikan oleh semua orang.


"Jangan. Kamu mau Vian ngamuk ngamuk karena kita masuk ruangannya nggak ngomong?" ujar Jero yang tidak ingin mengambil resiko kalau Vian mengamuk hanya gara gara mereka berada di dalam ruangan Vian saat Vian tidak ada di sana.


"Oh tidak Bang. Aku sudah bisa membayangkan bagaimana murkanya kak Vian kalau kita masuk ruangannya tanpa ada dia di sana." ujar Bram yang paling takut melihat Vian mengeluarkan kata kata indah dari dalam mulut mungilnya itu.


"nah itu makanya. Gue lebih memilih untuk duduk di sini menjadi santapan penglihatan semua orang" jawab Jero.


"aku juga nggak mau masuk ke dalam Bang. Nggak sanggup dimarahi sama kakak Ipar" kali ini Felix yang menjawab dan setuju dengan apa yang dikatakan oleh Jero. Felix juga lebih memilih untuk menunggu di luar dari pada di dalam ruangan Vian.


"Benerkan Vian menakutkan kalau udah ceramah" ujar Jero dengan santainya.


"Apa sayang? Bisa diulang? Aku kurang mendengarnya. Aku minta diulangi sayang. Kalimat terakhir itu saja tolong diulang" ujar Vian sambil berdiri tegak pinggang di depan Jero.


Jero sangat kaget mendengar suara Vian yang tiba tiba sudah ada. Apalagi sekarang Vian berdiri di depannya dengan wajah yang sudah tidak bersahabat lagi.


'mampus gue' ujar Jero dalam hatinya.


'habis gue kali ini' lanjut Jero


"Oh nggak sayang. Kamu tidak seperti itu. Kamu salah denger kali. Yang aku bilang Bram tadi tu" ujar Jero dengan terbata bata karena ketahuan telah mengatakan hal yang tidak tidak tentang Vian.


"Oh ya. Jadi aku sebegitu menakutkannya kalau ceramah?" Ujar Vian.


"Nggak sayang. Kamu salah denger" ujar Jero yang tidak mau Vian salah sangka dengan dirinya.


"Sayang, aku denger semuanya. Se mu a nya" ujar Vian menekankan kata semuanya dengan penekanan setiap suku katanya.


"Maafkan aku sayang" ujar Jero dengan nada pelan.


Vian tersenyum karena Jero dengan berani meminta maaf kepada dirinya. Bagi Vian kalau Jero sudah memahami kesalahannya maka Jero juga tidak akan mempermasalahkan masalah itu.


'Huft malapetaka' ujar Bram saat melihat apa yang terjadi antara Jero dengan Vian.


'Alamat nggak akan jadi membahas bisnis ini' kata Felix yang dalam otaknya hanya ada bisnis dan bisnis, kontrak dan kontrak