My Affair

My Affair
BAB 30



"Ke rumah Juan Pak." Ujar Nyonya besar memberitahukan kemana tujuan mereka kepada sopir yang tidak tau akan mengantarkan kemana Tuan dan Nyonya besar yang terlihat sangat tegang itu.


'Mereka seperti karet gelang mau putus' ujar sopir dalam hatinya.


'Pasti udah lihat tu fhoto' ujar sopir lagi.


"Pak. Jalan." ujar Nyonya mengulang perintahnya kepada sopir yang masih diam itu.


"Baik Nyonya" Jawab sopir kaget karena ternyata dia masih diam saja belum melakukan mobilnya menuju mansion Juan Alexsander.


Mobil melaju menuju rumah Tuan Muda Juan Alexsander. Wajah Tuan Besar Alexsander terlihat mengandung kemarahan yang sama sekali tidak ditutup tutupi nya lagi. Dia terlihat sangat tegang karena emosi melihat kelakuan anak laki lakinya yang akan menjadi penerus kerajaan bisnis Alexsander.


Sopir melajukan mobil dengan kecepatan biasa saja. Sopir ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu sebelum memberikan berita kepada Felix. Makanya sopir dengan sengaja membawa mobil dalam kecepatan biasa saja.


"Kamu bisa tidak menginjak pedal gas? Atau harus saya yang mengemudikan mobil, kamu yang duduk di bangku belakang? " Ujar Tuan besar alexaander marah kepada sopirnya yang membawa mobil dalam kecepatan biasa saja. Tuan Alexsander sangat ingin cepat sampai di rumah Juan Alexsander. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan putranya yang katanya menjadi raja bisnis tersebut.


'Hahahaha. Berita ini akan saya kirim ke Tuan Felix.' ujar sopir dalam hatinya berkata. Sopir sudah memastikan apa yang ingin diperolehnya dengan membawa mobil sangat pelan.


Sopir kemudian melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi sesuai dengan permintaan Tuan Besar Alexsander. Sopir tidak ingin Tuan Besar Alexsander marah marah lagi.


'Tuan tolong hubungi Tuan Jero. Katakan kalau Tuan Alexsander akan datang ke rumah Juan.' bunyi pesan teks yang diketik secara cepat oleh sopir mobil. Sopir tidak ingin Tuan Alexsander melihat Jero berada di sana. Makanya dia langsung menghubungi Felix saat memastikan kalau Tuan Alexsander akan datang ke sana dalam keadaan marah. Sopir sudah tau kebiasaan Tuan besar Alexsander kalau marah akan mengumpulkan semua pelayan yang ada di mansion. Makanya Jero harus cepat pergi dari sana.


Felix yang menerima pesan chat dari sopir tersebut langsung menghubungi Jero. Jero yang sedang tertidur tidak mendengar panggilan Felix. Felix rusuh tidak main menunggu panggilannya diangkat oleh Jero.


"Kemana lagi tu anak. Vian lagi pasti ini." Ujar Felix setengah kesal ke Jero. Panggilan telponnya sama sekali tidak diangkat oleh Jero.


"Kemana lagi dia coba" ujar Felix semakin uring uringan.


Felix kembali menghubungi Jero. Fekix berjalan mondar mandir seperti seterikaan saat panggilannya masih belum diangkag oleh Jero. Kali ini barulah panggilan diangkat oleh Jero.


"Loe ngganggu tidur gue." Teriak Jero saat Felix menghubunginya.


Felix dengan spontan menjaraklan ponsel dari telinganya. Bisa bisa dia langsung budek saat mendapatkan teriakan dari Jero yang sangat luar biasa menggelegar seperti guntur yang siap membelah langit malam.


"Tuan Besar mau ke sana. Sekarang mereka dalam perjalanan" Ujar Felix memberitahukan apa isi pesan chat dari sopir kepada Jero. Felix tidak membahas permasalahan teriakan maut Jero tadi. Dia langsung saja memberitahukan sesuatu yang akan membuat Jero langsung kabur seperti di kejar anjing gila.


"Hah? Cepat kali. Gue harus pergi sekarang" Ujar Jero yang mulai panik dan terburu buru.


"Woi gesrek. Gue juga baru tau. Sopir baru ngasih tau sebentar ini. Langsung gue nelpon loe. Loe tidur ******" ujar Felix balas memaki Jero. Felix tidak Terima disalahkan karena terlambat memberitahukan kepada Jero tentang Tuan Besar Alexsander yang akan datang dan malahan sudah di jalan menuju mansion Juan Alexsander.


"Kalau loe nelpon terus. Kapan loe mau jalannya Jero" ujar Felix menghardik Jero.


Jero kaget mendengar Hardi kan Felix. Jero langsung memutuskan sambungan telpon dengan Felix.


Jero kemudian berkemas kemas. Dia menyambar kunci mobil. Jero langsung keluar kamar dan menuju garasi. Jero menatap ke arah kamar Vian. Dia menatap agak lama ke sana. Tetapi, Dia harus pergi meninggalkan mansion Juan.


"Sayang, mereka tidak akan mengganggu kamu. Aku pergi sebentar. Nanti aku kembali lagi. " ujar Jero berkata sendirian dengan pelan.


Jero masuk ke dalam mobil yang biasa dipakainya untuk mengantarkan Vian. Jero melajukan mobil dengan kecepatan tinggi saat dia meninggalkan mansion besar itu. Jero menghilang ditikungan mansion. Jero masuk ke dalam gang yang hanya bisa dilewati satu mobil saja. Tempat yang sengaja disamarkan. Hanya orang orang Jero lah yang mengetahui jalan kecil itu. Selalu di depan mulut gang ada penjual gerobakan yang merupakan orang orang Jero yang sengaja berada di sana.


Sopir yang membawa mobil Tuan Besar Alexsander bisa melihat mobil yang dikendarai oleh Jero berbelok masuk ke dalam sebuah tikungan di samping mansion besar itu. Tikungan berupa gang yang hanya muat untuk satu mobil saja. Sopir bisa memastikan itu Jero karena gerobak yang menutupi gang beranjak dari posisinya.


'Tuan Jero sudah meninggalkan mansion' pesan chat berikutnya yang dikirim oleh sopir kepada Felix yang memang menunggu kabar dari sopir.


Felix menghembuskan nafas berat yang dari tadi ditahannya. Bram yang melihat hanya bisa tertawa saja.


"Felix Felix, Jero tidak akan segoblok itu." ujar Bram yang heran melihat kelakuan Felix.


Felix diam saja. Dia tidak membalas Bram. Bagi Felix, Jero sudah keluar dari mansion dia sudah aman dan tenang. Yang lain urusan belakangan.


Sopir kemudian membelokkan mobilnya masuk ke dalam perkarangan mansion besar milik Juan Alexsander. Sopir memberhentikan mobil tepat di depan pintu masuk mansion. Sopir membukakan pintu mobil. Tuan dan Nyonya besar Alexsander turun dari dalam mobil, mereka berjalan masuk ke dalam mansion.


Bik Ina yang melihat siapa yang datang, langsung tergolong gopoh menemui Tuan dan Nyonya Besarnya itu. Bik Ina cukup kaget karena tidak seorangpun asisten di mansion utama memberitahukan akan kedatangan Tuan dan Nyonya Besar ke mansion Juan Alexsander.


"Silahkan masuk Tuan, Nyonya Besar. Maaf karena tidak memberi penyambutan yang baik. Kami di sini tidak mendapatkan informasi kalau Tuan dan Nyonya akan datang." Ujar Bik Ina dengan nada cemas.


"Tidak apa apa Bik. Apa Tuan Muda sudah pulang? " Tanya Nyonya besar.


"Belum Nyonya. Tetapi Nona muda sudah pulang dari rumah sakit. Sekarang sedang beristirahat. Apa perlu saya panggilkan Nyonya? " Tanya Bik Ina yang menyampaikan kalau Vian sudah ada di rumah.


"Nggak usah Bik. Biarkan Vian beristirahat sekarang. Nanti saja panggilkan saat Tuan Muda sudah pulang. " Kali ini Tuan Besar Alexsander yang menjawab pertanyaan Bik Ina.


Nyonya besar yang tadinya akan menjawab iya panggilkan terpaksa memilih membungkam mulutnya. Nyonya besar sangat tau posisi. Kalau dia membantah, maka dia tidak akan selamat dari Hardi kan Tuan Besar Alexsander.