My Affair

My Affair
BAB 79



Setelah menikmati makan siang mereka di restoran Bandara. Jero dan Vian serta yang lainnya berdiri untuk pergi menuju ruang tunggu penumpang pesawat pribadi. Mereka akan menunggu di sana sampai pesawat siap untuk berangkat kembali.


"Sayang, rasanya pengen tidur lah sayang. Ngantuk lagi" ujar Vian yang sudah menaruh kepalanya di sandaran kursi tunggu.


"Hay, bukannya tadi kamu tidur di pesawat. Kenapa sekarang sudah mengantuk lagi?" tanya Jero yang gagal paham dengan rasa kantuk yang dialami Vian.


"Itulah. Atau kita jalan jalan di bandara yuk sayang. Kan banyak toko toko barang breanded itu, mana tau ada satu barang yang aku pengen" ujar Vian yang menawarkan alternatif penghilang kantuk kepada Jero.


"Okelah sayang, mari kita pergi jalan jalan cari barang barang yang kamu mau" kata Jero yang setuju untuk pergi jalan jalan dengan Vian memutari toko toko yang ada di bandara.


"Ikut Bang" ujar Bram dengan semangat.


Bram juga malas hanya duduk saja di ruang tunggu. Dia lebih seperti Vian yang suka selalu beraktifitas, selalu melakukan kegiatan. Sedangkan Felix dan Jeri seperti biasa, akan memilih untuk duduk dengan tenang sambil membaca berita bisnis atau membaca dokumen dokumen yang ada di dalam ponsel mereka.


"Gimana sayang? Tu bocah kecil pengen ikut sama kita. Bawa atau tinggal aja?" tanya Jero kepada Vian sambil menatap Vian lama.


"Bawa ajalah sayang. Kasihan di tinggal, nanti dia nangis" jawab Vian yang ikut ikutan menggoda Bram.


Keusilan Jero dan Vian akan saling melengkapi saat mereka berdua sudah bersama. Tidak akan ada yang bisa menyainginya.


"Ye ye ye suka hati ajalah mau ngomong apa. Paling penting aku diajak jalan jalan" kata Bram yang memang sudah memahami keusilan Jero dan Vian terhadap dirinya.


Biasanya dia yang selalu mengusili Jero. Kali ini bola berbalik. Jero yang sudah mendapatkan Vian, berbalik mengusili Bram.


Mereka bertiga kemudian pergi menuju deretan toko toko yang menjual barang barang yang dikatakan oleh Vian tadi.


"Kamu masuk toko harus beli satu ya sayang. Nggak boleh untuk tidak membeli. Gimanapun harus ambil satu barang walau hanya bros saja.


" Ini ni yang aku malas. Masak ia masuk harus belanja. Kalau aku nggak ada yang suka gimana? " tanya Vian menatap Jero.


"Gampang itu kakak ipar. Nanti aku tunjukkan caranya supaya kakak ipar mau dengan barang itu" ujar Bram yang memiliki satu niat aneh yang sudah disusunnya sendiri.


"Pasti kamu yang mau kan ya, Bram?" ujar Jero memandang Bram.


"Haha haha haha, memang susah kalau mau bohongin elo Bang. Susah banget" kata Bram sambil tersenyum.


Bram tidak menyangka Jero akan mengetahui apa yang diinginkan oleh dirinya. Bram mengira kalau Jero tidak akan tahu apa yang disusunnya sekarang ini.


"Bram Bram. Apa yang kamu pikirin itu tergambar jelas dari raut wajah kamu Bram. Jadi, kamu nggak akan pernah bisa nipu abang kamu ini" ujar Jero sambil menepuk pundak Bram.


"Kamu boleh belanja, abang yang akan bayar" ujar Jero yang sangat tau kalau Bram ingin dibelanjakan oleh dirinya. Dia sudah lama sekali tidak membelikan Bram sesuatu yang disukai oleh Bram.


"Serius Bang? Akhirnya, makasi banyak ya Bang. Abang memang yang terbaik yang aku punya" ujar Bram sambil menangkupkan kedua tangannya.


Vian hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya melihat kelakuan unik dari seorang Bram Asander, seorang pengusaha muda yang memimpin beberapa anak cabang perusahaan Asander grub.


Mereka masuk ke toko dengan memakai huruf VL salah satu merk yang cukup ternama dan sudah teruji barangnya di kalangan sosialita maupun kalangan jetzet.


Bram mulai mencari barang barang yang diinginkannya, begitu juga dengan Vian. Setelah berkeliling agak lama. Vian dan Bram kembali ke dekat Jero dengan tangan kosong saja. Mereka berdua sama sekali tidak membawa apa apa.


"Nggak ada yang kami suka Bang" ujar Bram mewakili Vian menjawab pertanyaan dari Jero.


"Kamu memang nggak ada yang kamu suka atau gimana sayang?" tanya Jero kepada Vian yang terlihat diam saja.


"Beneran nggak ada sayang. Lagian aku paksa bener beli satu, takutnya nanti nggak kepake. Jadi buang buang duit aja sayang" kata Vian yang memang menolak untuk belanja di toko itu.


"Jadi, lebih baik tidak sama sekali sayang" ujar Vian yang memang sedang tidak minat untuk berbelanja.


"Ya udah, mari kita jalan ke tempat lain. Kita akan mencari toko lainnya. Mana tau di toko lain ada barang yang kamu dan Bram inginkan" ujar Jero sambil menatap ke arah Vian dan Bram.


Mereka bertiga kemudian melanjutkan untuk melihat ke toko yang lainnya. Bram dan Vian masuk ke dalam sebuah toko yang berlogo H tersebut. Bram dan Vian melihat lihat barang barang yang dijual di toko tersebut.


Vian terlihat tertarik pada sweater berwarna cream yang terlihat sangat bagus dan memikat hati Vian. Vian mengambil sweater tersebut.


Sedangkan Bram mengambil satu sweater warna hitam untuk dirinya, warna putih untuk Felix dan dongker untuk Jeri.


Vian yang melihat Bram mengambilkan pakaian untuk Felix dan Jeri, dia memilih satu sweater untuk di pakai oleh Jero. Vian mengambilkan sweater warna cream untuk Jero. Jadi mereka berdua akan terlihat serasi saat jalan berdua nantinya.


"Sayang, aku memilihkan satu sweater untuk kamu sayang. Warnanya sama dengan warna untuk aku" ujar Vian sambil memperlihatkan sweater yang dipilihkannya untuk Jero.


"Makasi sayang. Aku sangat suka dengan sweater pilihan kamu sayang" ujar Jero memuji sweater pilihan dari Vian.


Mereka kemudian berjalan menuju kasir. Bram menaruh tiga helai sweater yang diambil oleh dirinya.


"Lah? Loe kok tiga buah?" tanya Jero melihat Bram mengambil tiga helai sweater.


"Untuk gue, Bang Felix dan juga Bang Jeri" ujar Bram menjawab pertanyaan dari Jero.


"Oh" ujar Jero menganga melihat tiga sweater yang diambil oleh Bram.


Jero kemudian melakukan pembayaran terhadap sweater yang diambil oleh Bram dan dua sweater yang diambil oleh Vian.


Vian melihat jam tangan miliknya. Mereka sudah harus kembali menuju ruang tunggu pesawat.


"Sayang, kita balik ke ruang tunggu aja yuk. Bentar lagi pesawat mau terbang" ujar Vian mengajak Jero untuk balik ke ruang tunggu.


Mereka semua kemudian balik ke ruang tunggu pesawat. Mereka akan kembali menunggu di sana sampai jadwal terbang pesawat datang. Jero dan Vian kembali duduk di ruang tunggu dengan keluarga mereka yang lainnya. Tidak lama menunggu pramugari datang ke ruangan itu.


"Kepada Tuan dan Nona, silahkan bersiap siap, pesawat sudah siap untuk kembali terbang" ujar pramugari menyampaikan kepada mereka yang menunggu di ruang tunggu.


Jero dan keluarga yang lainnya bersiap siap untuk menuju pesawat. Mereka akan kembali terbang menuju negara U. Penerbangan yang akan memakan waktu selama empat jam perjalanan.


Semua penumpang sudah berada di dalam perut pesawat. Mereka sudah duduk dengan tenang. Pesawat mulai bergerak meninggalkan landasan pacu bandara. Vian memegang erat tangan Jero. Vian sangat cemas kalau nanti Jero menjadi sangat takut saat pesawat akan lepas landas.


Pesawat terbang dengan tenang. Penerbangan akan dilakukan lagi selama empat jam penerbangan. Jero, Vian dan penumpang yang lainnya kemudian memilih untuk beristirahat.