My Affair

My Affair
BAB 110



Bik Ima terdiam, dia tidak tahu harus memulai dari mana percakapan yang akan dilakukannya dengan Nyonya besar yang terlihat tegar di luar tapi terluka di dalam. ketegaran nyonya besar hanya karena adanya Tuan Muda Jero yang masih kecil. Bik Ima semakin tidak tahu harus bercerita dari mana karena bik Ima sangat tahu kalau Nyonya besarnya ini adalah seorang istri yang sangat baik. Tetapi kebaikan dari Nyonya besar disalahgunakan oleh Tuan besar dan juga maid yang tidak tahu diri itu. Mereka berdua tega bermain dibelakang Nyonya besar.


"Jadi ada apa Bik Ima?" tanya Nyonya besar yang sudah penasaran ingin mendengar apa yang diketahui oleh Bik Ima tentang kejadian pagi tadi.


"Maaf sebelumnya Nyonya. Apakah Nyonya semalam mengusir Tuan besar dari kamar?" tanya Bik Ima kepada Nyonya besar sambil menundukkan kepalanya tidak sanggup melihat ke wajah Nyonya besar itu.


"Mengusir?" ujar Nyonya besar sambil mengulang perkataan dari Bik Ima tadi.


"Maksud Bik Ima gimana ya? Saya kurang mengerti Bik" ujar Nyonya besar bertanya kembali kepada Bik Ima.


Nyonya besar ingin Bik Ima memperjelas apa maksud dari kata mengusir yang diucapkan oleh Bik Ima tadi.


"Jadi begini Nyonya besar. Tadi saat saya selesai memasak sarapan dan bermaksud untuk menghidangkan di meja makan. Saya melihat Tuan besar tertidur di sofa ruang keluarga" ujar Bik Ima memberitahukan kepada Nyonya besar kalau dia melihat Tuan besar tidur di sofa ruang keluarga.


"Sofa ruang keluarga? Bukannya di ruang kerja ya Bik?" ujar Nyonya besar bertanya kepada Bik Ima.


"Tidak di ruang kerja Nyonya, tetapi di ruang keluarga" Bik Ima memastikan kembali kepada Nyonya besar kalau dia melihat Tuan besar di sofa ruang keluarga tertidur tadi malam.


Nyonya besar terlihat berpikir panjang. Nyonya besar berhitung dengan seksama jam berapa Tuan besar keluar dari ruang kerjanya.


"Apakah menurut Bik Ima saat sedang melihat Tuan besar tertidur itu, baru tidur di situ atau memang sudah dari semalam?" ujar Nyonya besar bertanya kepada Bik Ima.


Bik Ima terdiam sejenak. Bik Ima mengingat kembali posisi dari Tuan besar saat dia melihat Tuan besarnya tidur di ruang keluarga itu.


"Kalau lihat dari nyenyak nya Tuan besar saat tidur tadi, saya sangat yakin kalau Tuan besar sudah tidur dari malam di ruang keluarga Nyonya besar." ujar Bik Ima menjawab pertanyaan dari Nyonya besar.


"Saya saja tiga kali ntah empat kali membangunkan Tuan besar, makanya Tuan besar bisa bangun Nyonya. Kalau tidak bisa jadi Tuan besar akan telat bangun dan telat ke perusahaan" ujar Bik Ima selanjutnya kepada Nyonya besar.


"Jadi dia benaran ketiduran berarti ya Bik?" tabya Nyonya besar kembali.


"Iya Nyonya" jawab Bik Ima.


Nyonya besar kemudian terdiam cukup lama saat mendengar semua cerita yang diceritakan oleh Bik Ima tadi.


Tiba tiba Nyonya besar teringat dengan seseorang yang membuat semuanya menjadi rumit tadi malam.


"Bik Ima. Mana dia calon nyonya besar mansion ini?" tanya Nyonya besar yang malas menyebut nama maid yang sudah berhasil merusak rumah tangganya itu.


"Saya sama sekali belum melihat Rina dari tadi pagi Nyonya, di kamarnya juga tidak ada dia" jawab Bik Ima memberitahukan kalau Bik Ima juga belum melihat Rina dari semalam.


"Ooo mungkin dia masih tidur di ruang kerja calon suaminya" jawab Nyonya besar dengan santai tanpa memperlihatkan rada sakit hatinya kepada maid Rina.


"Maksud Nyonya besar?" tanya Bim Ima yang tidak paham dengan maksud perkataan dari Nyonya besarnya itu.


"Ya, dia semalam menemani Tuan besar bekerja di ruang kerja." jawab Nyonya besar sambil berdiri dari tempat duduknya.


"Bik Ima pesan saya, tolong jangan musuhi dia ya, karena saat kami sudah tidak di sini lagi, Bik Ima nggak akan mungkin ikut dengan kami. Kami nggak punya uang untuk menggaji Bik Ima" ujar Nyonya besar meminta kepada Bik Ima untuk tidak memusuhi maid Rina.


"Iya Nyonya" jawab Bik Ima yang tidak bisa berbuat apa apa karena anaknya Jeri masih membutuhkan biaya yang cukup banyak untuk mencapai apa yang cita citakan.


Nyonya besar kemudian menuju taman samping mansion yang menjadi tempat favoritnya selama ini. Nyonya besar di sana bisa menumpahkan semua keluh kesahnya kepada tanaman tanaman yang dengan setia mendengarkan apa yang diceritakan oleh Nyonya besar kepada mereka semua.


Nyonya besar berada di taman itu sampai lupa waktu. Jero yang baru pulang dari sekolah sudah mengetahui kebiasaan mommynya langsung saja menuju ke tama samping tempat Mommynya berada.


"Mommy, mommy" ujar Jero memanggil mommynya yang berada di dalam green House milik mommynya itu.


Mommy yang berada di dalam kamar mendengar panggilan dari Jero. Mommy berjalan menuju pintu masuk green House itu.


"Hay sayang, udah pulang sekolah? Maaf mommy keasikan di sini, sehingga nggak sadar kalau jam kamu untuk pulang sekolah sudah datang. Maafkan Mommy mu ini ya sayang" ujar Mommy sambil menatap anak kesayangannya itu.


"Tidak masalah Mommy. Oh ya mommy ini kue pesanan mommy" ujar Jero kepada Mommynya.


Mommy mengambil kue yang dibawa oleh Jero kepada dirinya. Mommy kemudian mengambil sepotong kue dan memakannya. Jero menatap ke arah mommynya itu. Tatapan Jero mengandung berbagai arti yang tidak bisa dijelaskan oleh siapapun.


"Kamu nggak mau sayang?" tanya Mommy kepada Jero.


"Mau tapi untuk mommy aja dulu. Oh ya mommy, Jero ke kamar dulu ya, mau ganti pakaian sekolah dulu" ujar Jero yang langsung berjalan tanpa menunggu jawaban yang diberikan oleh mommynya itu.


Mommy yang melihat Jero pergi dari tempatnya, langsung menutup kembali kotak kue tersebut. Mommy kembali menyelesaikan pekerjaannya yang belum siap itu.


Tepat jam tiga sore saat Mommy dan Jero sedang bermain di ruang keluarga, mereka melihat Daddy yang berjalan tergesa gesa ke ruang kerjanya.


Daddy membuka pintu ruang kerja itu dengan sangat keras. Hal itu membuat Mommy dan Jero menjadi sangat luar biasa kagetnya. Mereka ingin melihat apa yang terjadi, tetapi Mommy dan Jero tidak ingin memiliki masalah dengan Daddy.


Mereka berdua lebih menunggu Daddy keluar dari sana. Mereka duduk terdiam di sofa ruang keluarga.


Mereka akhirnya melihat sesuatu yang membuat hati mereka berdua hancur berkeping-keping. Mommy dan Jero melihat Daddy menggendong maid Rina dari dalam ruang kerja.


Daddy sempat berhenti di depan Mommy dan Jero.


"Kalian berdua tunggu saya di sini" ujar Daddy sambil menatap kearah Mommy dan Jero.


Mommy mengira Jero akan takut melihat kemurkaan di wajah daddy nya itu. Tetapi sayangnya Jero sama sekali tidak takut.


"Baik Tuan Aleksander, kami akan menunggu anda di sini" jawab Jero menantang ke arah Daddy nya yang dengan bangganya menggendong seorang wanita dalam gendongannya.


"Anda tidak menghargai kami, maka jangan pernah berharap kami akan menghargai Anda" lanjut Jero.


Jero kemudian menarik tangan mommynya untuk kembali duduk di sofa ruang keluarga. Mereka berdua siap dengan semua keputusan yang akan dikatakan oleh pemilik mansion itu.