
Daddy keluar dengan sangat bergegas menuju lantai dua mansion. Rina melihat kemana arah Daddy berjalan.
"Rasain kalian berdua. Rina di lawan" ujar Rina sambil tersenyum bahagia saat melihat Daddy berjalan ke arah kamar Mommy dan Jero yang berada di lantai dua mansion.
Daddy berjalan dengan sangat bergegas. Raut kemarahan terpancar jelas di wajahnya. Beberapa orang maid yang melihat ke arah Daddy sedikit terkejut saat melihat wajah Daddy yang menggambarkan kemarahan itu.
Tok tok tok tok tok tok. Daddy mengetuk pintu kamar Mommy dengan nada marah dan emosi yang tidak stabil. Daddy benar benar marah kepada Mommy dan Jero yang berada di dalam kamar.
Mommy dan Jero yang mendengar dari dalam bagaimana kuatnya seseorang mengetuk pintu kamar dari luar, langsung saja tanpa ada komando saling berpandang pandangan.
"Siapa itu mommy, kenapa dia mengetuk pintu sampai sebegitunya?" ujar Jero sambil melihat ke arah pintu kamar mansion.
"Mommy juga tidak tahu sayang. Kamu buka sana, lihat siapa yang datang dan kenapa dia memukul pintu sebegitu kerasnya" ujar Mommy meminta Jero untuk melihat siapa yang datang dan marah marah seperti itu saat mengetuk pintu kamar.
Jero berdiri dari duduknya. Dia kemudian berjalan menuju pintu kamar. Jero membuka pintu kamarnya. Dia melihat Daddy dengan raut wajah yang sudah tidak bisa diartikan lagi maknanya.
Daddy tanpa diminta oleh Jero untuk masuk ke dalam kamarnya sudah langsung main masuk saja. Dia menatap marah ke arah Mommy dan Jero. Jero dan Mommy sudah bisa merasakan aura aura tidak baik saat ini.
"Ada apa?" tanya Mommy kepada Daddy, saat mereka berdua saling bertatapan.
"Kamu tanya ada apa? Apa tidak salah kamu bertanya seperti itu kepada saya?" tanya Daddy menjawab pertanyaan mommy dengan pertanyaan pula.
Mommy dan Jero saling bertatapan. Mereka berdua sama sama tidak mengerti apa maksud dari tuan besar ini.
"Maaf Tuan besar, kami benar benar tidak mengerti dengan apa yang tuan besar katakan kepada kami. Bisa tolong lebih di perjelas kepada kami tuan besar?" tanya Jero dengan nada dingin kepada Daddy yang sekarang sudah diubah panggilannya oleh Jero dengan Tuan besar.
"Kamu lebih baik diam. Kamu masih anak kecil. Belum tau apa apa urusan orang tua" ujar Daddy menghardik Jero yang dengan spontan menjawab perkataan dari Tuan besar Aleksander.
Plok plok plok plok. Jero bertepuk tangan mendengar apa yang dikatakan oleh Tuan besar itu. Jero sangat senang saat dikatakan sudah besar dan diminta untuk diam, karena tidak pantas ngomong karena Jero masih anak kecil.
"Tuan, tuan, tuan. Sini saya perjelas kepada Tuan besar ya. Saya memang anak kecil, dari usia. Kalau dari pola pikir saya jauh lebih besar dan dewasa dari pada Tuan besar sendiri. Saya bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Sedangkan Tuan besar, maaf sama sekali tidak bisa" kata Jero dengan menatap tajam ke mata Tuan besar.
Pandangan mata yang diberikan oleh Jero kepada Tuan besar Aleksander adalah pandangan penuh kebencian. Benar benar penuh kebencian dan dendam. Tuan besar Aleksander yang melihat bagaimana cara Jero memandang dirinya menjadi sedikit gemetar. Dia tidak menyangka anak sekecil Jero bisa memberikan tatapan seperti itu.
"Kenapa?" tanya Jero saat melihat Tuan besar Aleksander agak sedikit bergidik dan takut melihat ke arah Jero.
"Bisa Anda mengajarkan sopan santun kepada anak Anda untuk menghormati saya sebagai orang tuanya?" ujar Daddy sekarang beralih berbicara dan menyalahkan Mommy.
Mommy tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Daddy kepada dirinya.
"Harusnya perkataan itu bukan ditujukan kepada saya Tuan besar. Tapi tujukan kepada diri anda sendiri." jawab Mommy sambil tersenyum simpul kepada Daddy.
Daddy terdiam mendengar jawaban yang diberikan oleh Mommy kepada dirinya. Daddy sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu dari Mommy.
"Urusan saya adalah mencari uang. Tidak mengurus anak. Tugas mengurus anak adalah urusan Anda" ujar Daddy menunjuk Mommy dengan sedikit emosi.
Mommy hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Daddy. Daddy tidak ingat kalau dia sudah beberapa bulan ini tidak memberikan uang keperluan mansion kepada Mommy lagi, melainkan kepada Rina.
Mommy dan Jero memakai uang milik Mommy untuk menyambung hidup selama beberapa bulan ini.
"Jadi, apa tujuan Tuan Besar Aleksander untuk masuk ke dalam kamar kami? dan langsung memaki maki kami seperti ini?" tanya mommy kepada Tuan besar.
"Saya mau bertanya kepada kalian berdua. Saya mendapatkan informasi sebentar ini dari seseorang, kalau kalian berdua hanya mengincar harta dan kedudukan saya saja. Sehingga apapun yang akan saya lakukan kalian berdua tidak akan menggubris nya" ujar Tuan besar Aleksander yang sudah tidak bisa lagi menata setiap kata kata yang dipakainya dengan baik.
Semua ini terjadi karena satu sisi hati Tuan besar Aleksander masih tidak mempercayai istri dan anaknya yang selama ini mendampingi hidupnya bisa berbuat seperti itu.
"Haha haha haha. Kami suah tau siapa yang memberikan informasi itu kepada Anda Tuan besar. Jadi, kami tidak akan membela diri karena bagi Anda dialah yang selalu benar. Sedangkan kami akan selalu berada di posisi yang salah. Jadi, lebih baik kami diam dari pada kami menjawab, karena semakin kami menjawab akan semakin susah nantinya." ujar Jero yang menjawab perkataan dari Tuan besar Aleksander.
Tuan besar Aleksander menatap ke arah Mommy.
"Ya benar, kami tidak akan membela diri, karena kami sudah tau apa hasilnya. Jadi, percuma saja kalau kami akan membela diri" kata Tuan besar Aleksander.
Tuan besar Aleksander terdiam mendengar perkataan dari Mommy dan Jero. Dia tidak menyangka kalau keluarganya mengetahui siapa yang menceritakan informasi itu kepada dirinya.
"Baiklah berarti informasi itu adalah benar, makanya kalian berdua tidak membela diri" ujar Tuan besar Aleksander kepada Jero dan Mommy.
"Terserah tanggapan Anda saja Tuan besar. Kami tidak peduli" ujar Jero yang selalu menjawab perkataan yang diberikan oleh Tuan besar kepada dirinya.
Plak. Sebuah tamparan mendarat di pipi Jero. Jero terdiam dan memegang pipinya. Dia tidak menyangka kalau Tuan besar akan memberikan tamparan sekeras itu kepada dia.
Jero memegang pipinya yang perih akibat tamparan itu. Sedangkan Mommy langsung memeluk Jero dengan sangat kuat.
Plak. Mommy membalas tamparan yang diberikan oleh Tuan besar Aleksander kepada Jero..
"Kamu" ujar Tuan Aleksander yang tidak menyangka akan mendapatkan tamparan yang diberikan oleh Mommy kepada dirinya.
"Cukup penghinaan dan rasa sakit kamu berikan kepada saya. Tetapi jangan pernah kepada anak saya." ujar Mommy kepada Tuan besar Aleksander dengan emosi yang sudah tidak bisa dia tahan lagi.
Mommy benar benar marah karena apa yang dilakukan oleh Tuan besar Aleksander.
"Kamu berani menampar saya?" tanya Tuan besar Aleksander kepada Mommy.
"Penghinaan silahkan berikan kepada Saya. Tapi jangan pernah ke anak saya" ujar Mommy dengan nada marah dan kesalnya.
"Kami berdua akan pergi dari mansion ini" ujar mommy dengan nada marah dan kecewa kepada Tuan besar Aleksander.
Mommy kemudian melepaskan pelukannya dari Jero. Mommy menatap wajah Jero.
"Sayang, kamu kemasi barang barang kamu ya. Kita akan pergi dari sini. Cukup yang kamu bawa hanya yang mommy belikan empat bulan kebelakang. Karena itu mommy beli dengan uang mommy sendiri. Selebihnya tinggalkan" ujar Mommy memberikan pesan kepada Jero untuk mengambil yang memang barang barang yang dibelikan oleh Mommy saja.
"Baik mommy" ujar Jero yang mengerti dengan pesan yang diberikan oleh Mommy nya itu.
Tuan besar Aleksander menatap tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh istri dan anaknya. Mereka berdua langsung mengemasi barang barang mereka.
"Sayang" ujar Tuan besar Aleksander kepada Mommy yang juga sedang mengemasi pakaiannya ke dalam dua tas besar.
Mommy hanya diam saja. Hati mommy sudah membatu semenjak Tuan besar Aleksander menampar keras pipi Jero.
Mommy bersedia menerima dan menanggung semua penderitaan yang diberikan oleh Tuan besar itu. Tetapi jangan diberikan hal itu kepada Jero. Mommy tidak sanggup melihatnya.
Tuan besar Aleksander terlihat mondar mandir di kamar Jero. Mommy dan Jero fokus untuk mengemasi barang barang mereka. Mereka sudah tidak lagi bersedia untuk tinggal di mansion yang benar benar menaruh luka di hati mereka berdua.