My Affair

My Affair
BAB 132



"sayang jadi kamu masak apa hari ini?" kata Jero yang baru keluar dari kamarnya dan melihat Vian yang sibuk di dapur menyiapkan olahan menu makan malam untuk mereka sekeluarga.


"Apa perlu aku melebihkan Sayang Mana tahu nanti ada Tama, Jeri dan Greta yang datang ke mansion kita?" kata Vian yang teringat kalau ketiga sahabat Jero itu datang dengan tiba-tiba ke mension mereka.


"Kalau kamu tidak capek lebihkan saja sayang, mereka memang memiliki kebiasaan yang bisa datang tiba-tiba walaupun kita tidak mengundangnya" kata Jero yang menyarankan Vian untuk melebihkan memasak, mana tahu nanti ketiga sahabat Jero itu memang datang secara mendadak.


"Cuma melebihkan tiga orang tidak capek Sayang kalau tiga puluh baru capek akunya" jawab Vian sambil geleng geleng kepala mendengar perkataan Jero yang mengatakan kalau Vian tidak capek maka Vian boleh melebihkan untuk ketika sahabatnya itu.


"Baiklah kalau begitu kamu lebihkan aja ya aku akan tunggu kamu di kursi ini sambil melihat kamu yang sibuk memasak" kata Jero sambil memandang Vian yang sedang hilir mudik di dapurnya itu.


"Boleh tapi nggak boleh ngeganggu ya. Jangan tanya Vian itu apa yang dimasukin? Vian itu kenapa diaduk? Vian itu kenapa dibiarin? Awas aja kalau seperti itu!" ujar Vian sambil mengangkat sutil pengaduk makanan yang sedang diolah oleh Vian.


"Aku akan suruh kamu untuk melanjutkan memasaknya sedangkan aku akan duduk-duduk saja dan memperhatikan kamu dalam mengolah masakan yang kamu buat sendiri" kata Juan sambil melihat ke arah Jero dengan tatapan yang bermakna kalau ribut oleh sendiri.


"hahaha hahaha aku tidak akan berani sayang, aku tidak akan mungkin membantah cara memasak kamu. Karena aku tahu kamu adalah ahlinya dalam bidang tersebut. Tapi kalau dalam bidang bisnis, maka aku akan selalu mengajari kamu bagaimana cara berbisnis yang baik" ujar Jero sambil menata Vian dengan tatapan jahilnya Jero berhasil menggoda Vian sekali lagi dalam hal bisnis dan masak-memasak.


"kamu memang usil sayang. Udahlah jangan ngajak aku berbicara terus kapan aku akan selesai memasak ini!!!!!" kata Vian sambil menatap ke arah Jero dengan tatapan protes meminta Jero untuk berhenti berbicara karena akan mengganggu konsentrasi Vian dalam memasak.


"iyalah aku diam aja lagi. Selamat memasak sayang" kata Jero sambil membuka laptop yang di bawanya dari ruang kerja tadi.


Jero akan melanjutkan mengurus bisnis yang sedang dikerjakannya di negara E. Jero telah mengeksekusi rencana pembangunan rumah sakit baru yang akan diberikannya kepada Vian sebagai kado melanjutkan studi spesialisnya di negara tersebut.


Vian dan Jero terlihat sama-sama sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Hal itu menarik perhatian bagi Felix dan Bram yang baru saja keluar dari dalam kamar mereka. Mereka berdua baru selesai membersihkan diri masing-masing dan baru selesai beristirahat sehabis capek mengerjakan segala bisnis yang dilakukannya di perusahaan mulai dari pagi sampai siang hari.


"Apa yang sedang Abang desain Bang?" tanya Bram yang melihat Jero sedang sibum mendesain sebuah gedung bertingkat dan bisa diartikan kalau itu adalah sebuah rumah sakit dari desain yang sedang dibuat oleh Jero.


Jero memberikan kode kepada Bram dan Felix untuk tidak melanjutkan pertanyaan mereka karena ada Vian yang sedang memasak di depan mereka saat ini.


Felix dan Bram mengerti tanda yang diberikan oleh Jero kepada mereka berdua. Mereka kemudian mengalihkan pembicaraan dari desain yang sedang dikerjakan oleh Jero tersebut. mereka berdua tidak mau apa yang dilakukan oleh Jero diketahui oleh Vian dan mengakibatkan Jero gagal memberikan sebuah kejutan kepada Vian.


"Bang bagaimana kalau semua surat kontrak kerja kita perbaharui saja?" ucap Felix yang memberikan masukan kepada Jero dan Bram untuk melakukan perubahan kepada surat kontrak kerja yang ditandatangani oleh setiap karyawan yang ada di perusahaan JFB grup tersebut.


"Ide bagus juga itu Felix, kita bisa mencobanya untuk setiap perusahaan. Mau itu perusahaan pusat maupun perusahaan cabang. Kita akan meminta para karyawan untuk memperbaharui kontrak kerja mereka" kata Jero yang setuju dengan ide yang diberikan oleh Felix sebentar ini ide yang selama ini tidak terpikirkan oleh mereka bertiga.


"Abang akan minta Jeri untuk membuat konsep surat kontrak kerja tersebut. Mungkin karena kita tidak pernah menyusun sanksi di kontrak kerja tersebut makanya mereka berani berbuat seperti itu." kata Jero menyimpulkan sendiri kenapa para karyawan itu masih berani melakukan kecurangan.


Padahal dari setiap kecurangan yang dilakukan mereka telah mendapatkan contoh nyata bagaimana para karyawan yang berbuat curang itu telah dipecat dan dibuat miskin oleh Jero beserta adik-adiknya.


"Aku nggak habis pikir dengan mereka semua Bang. Padahal udah banyak contoh yang kita berikan kepada mereka, tapi tetap saja mereka masih melakukannya. " kata Bram yang tidak mengerti dengan keadaan para keryawannya yang kali ini benar benar membuat Bram tidak habis pikir.


"Sepertinya mereka ingin mencoba kamu Bram. Kan yang belum ada contoh barang di perusahaan kamu" kata Felix mengingatkan Bram kalau hanya perusahaan yang dipimpin oleh Bram yang belum ada contoh bagi karyawan yang berbuat curang tersebut.


"Yah bisa jadi. Tu mereka udah menerima rasanya gimana." kata Bram sambil tersenyum sinis karena dia telah memberikan sebuah hadiah kepada beberapa orang yang telah berani mengkhianati dirinya.


"Emang loe apain mereka Bram?" tanya Jero yang sangat penasaran bagaimana cara Bram memberikan pelajaran kepada anak buahnya yang melakukan tindakan ceroboh dan merugikan perusahaan mereka.


"Nggak ada Bang. Aku langsung mengirim surat pemecatan dan mengirim semua bukti bukti yang dilakukannya terhadap perusahaan kita ke pada pihak kepolisian." kata Bram menjawab apa yang dilakukan oleh dirinya kepada semua orang yang telah melakukan pengkhianatan kepada Bram dan perusahaan miliknya.


"Kenapa tidak miskinkan mereka Bram?" ujar Jero yang memang tidak mau harta mereka berkurang kalau di maling. apalagi malingnya masih bisa mereka tindak.


"Tenang aja Bang. Saat kita kembali ke negara I. Rumah dan semua isinya tambah dengan mobil dan semua aset tanah milik mereka bisa kita yang kan. Aku mana mau rugi Bang. Enak aja mereka kaya dari uang perusahaan. Emang mereka siapa coba" ujar Bram yang ternyata telah melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh dirinya. menurut pandangan Jero.


"Keren" ujar Bram dan Felix dengan kompak.


"Ini keluarga bener bener lah ya. kalau masalah dikhianati akan mengerikan balasnya" ujar Vian menyambung saat dia sedang memindahkan masakannya ke atas pirinb