My Affair

My Affair
Pertama Kerja, Bram datang



Bram berjalan menuju ruangan operasi. Dia akan bergantian dengan Jero di sana nantinya. Beberapa pengawal terlihat berada di sekitaran ruangan operasi dengan menyamar menjadi orang dalam rumah sakit dan keluarga pasien.


Beberapa dari mereka menganggukkan kepalanya kepada Bram. Bram membalas dengan menganggukkan kepalanya juga. Bahasa isyarat yang terlihat sederhana tetapi sangat bermakna bagi mereka semua.


"Apa operasinya sudah dimulai?" tanya Bram kepada salah satu pengawal yang berprofesi sebagai perawat di rumah sakit itu.


"Belum Tuan. Dokter Heru baru saja datang. Jadi, sekarang masih persiapan. Palingan lima belas menit lagi akan dimulai." ujar perawat memberitahukan kepada Bram kalau operasi belum dimulai.


"Terimakasih. Kamu jaga terus Nona muda ya. Jangan sampai dia di ganggu ***** itu lagi" ujar Bram kepada perawat yang masih berdiri di depan pintu ruang operasi.


"Siap Tuan, akan saya laksanakan" ujar Perawat sambil menganggukkan kepalanya menerima perintah dari Bram.


"Saya masuk dulu Tuan" ujar perawat.


Bram mengangguk mengizinkan perawat untuk kembali masuk ke dalam ruangan operasi.


Bram memilih untuk duduk di kursi tunggu keluarga pasien di depan ruangan operasi. Bram mengeluarkan ponsel miliknya, dia membaca dokumen yang dikirimkan oleh sekretarisnya barusan. Dokumen tentang pengajuan kerjasama dari perusahaan lain.


Sedangkan di dalam ruangan operasi dokter Heru terlihat sangat serius, dia tidak lagi berusaha menggoda Vian. Dia benar benar bersikap profesional sekarang, berbeda dengan sebelum dia di panggil ke ruangan direktur rumah sakit.


'Apa yang dikatakan oleh Bram ya kepada dokter Heru, hingga membuat dokter Heru menjadi bersikap profesional seperti ini' ujar Vian dalam hatinya.


Vian penasaran dengan apa yang terjadi di ruangan direktur, antara Bram dan dokter Heru.


'Tapi bagus juga. Jadi, aku tidak risih harus bekerja sama dengan dia. Kalau tidak, hem malas rasanya untuk melakukan operasi bareng dia. Dia pasti akan memperlihatkan keahliannya kepada gue nanti' ujar Vian yang sudah bisa membaca apa yang akan dilakukan oleh dokter Heru nanti di ruangan operasi kalau belum dipanggil oleh Bram.


Operasi akhirnya di mulai. dokter Heru bisa menjaga sikapnya terhadap Vian. Dokter Heru bersikap sangat profesional. Dia tidak berusaha lagi mengganggu Vian saat bekerja. Vian akhirnya bisa merasa nyaman dalam melakukan operasi kali ini.


Jero yang baru sampai di rumah sakit, memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus dokter. Setelah itu dia berjalan menuju ruangan operasi. Jero akan menggantikan Bram yang menunggui Vian dia sana. Beberapa orang yang mengenal Jero menganggukkan kepalanya menyapa pria tampan itu.


"Bram" ujar Jero menepuk pundak Bram yang terlihat serius membaca laporan yang diberikan oleh sekretarisnya itu.


"Eh udah datang Bang. Gue pamit ke perusahaan dulu. Ada yang harus gue urus" ujar Bram pamit kepada Jero.


"Bisa? Kalau tidak minta bantu Jeri, selagi dia masih di sini." ujar Jero kepada Bram untuk meminta bantuan kepada Jeri kalau dia susah untuk menyelesaikan permasalahan itu.


"Nggak usah Bang. Aku bisa. Lagian Bang Jeri, aku minta ke sini untuk mengajarkan tentang aplikasi aplikasi itu, bukan untuk mengurus perusahaan" ujar Bram menolak untuk meminta bantuan kepada Jeri.


"Kalau masalah perusahaan aku yakin masih bisa Bang" lanjut Bram yang tidak ingin keahliannya dalam bidang bisnis diragukan oleh Jero.


"Abang tidak meragukan kamu. Tapi kalau kamu membutuhkan bantuan. Itu maksud abang tadi" ujar Jero yang tau kalau Bram sedikit tersinggung karena dilakukan.


"Santai Bang, gue nggak tersinggung kok" ujar Bram yang mengetahui kalau Jero merasa dia tersinggung oleh ucapannya tadi.


"Oke sip. Sana pergi. Biar Abang yang nungguin Vian. Makasi udah nyelesaiin masalah tadi." ujar Jero yang memang selalu mengucapkan terimakasih apa bila adik, sahabat atau temannya sudah melakukan sesuatu untuknya baik besar maupun kecil.


"No Abang. Sesama saudara tidak ada terimakasih terimakasihan. Kita ini saudara, sudah selayaknya saling membantu" ujar Bram kepada Jero.


Jero mengangguk setuju dengan ucapan Bram, walaupun sering dia langgar. Bram kemudian mencium tangan Jero. Dia melangkahkan kakinya meninggalkan rumah sakit itu.


"Main angguk aja terus. Palingan besok minta terimakasih lagi" ujar Bram yang sengaja tidak memerankan suaranya agar terdengar oleh Jero.


"Hahahahahahaha. Ngomel dia. Bram, abang masih dengar" ujar Jero berkata kepada Bram.


"Gue sengaja Bang, biar kedengeran" jawab Bram sambil mengangkat tangannya dan melambaikan kepada Jero.


Jero dan para pengawal hanya bisa geleng geleng kepala saja melihat tingkah Bram. Bram memang terlahir untuk cepat menjadi dewasa karena keadaan. Makanya kadang sifat kekanak kanakannya masih ada dalam diri Bram.


Jero kemudian memilih untuk duduk di kursi tunggu. Jero mengeluarkan ponsel miliknya. Dia memantau berita bisnis dari sana. Ternyata ada satu artikel yang membuat Jero tertarik untuk membacanya.


"Ternyata memang benar yang dikatakan oleh Jeri, perusahaan itu sedang mengalami penurunan saham, akibat ulah anak yang selama ini diagung agungkannya." ujar Jero.


Jero membaca berita yang sedang hangat itu. Dia membaca setiap kata kata yang tertulis dengan sangat cermat.


"Hahahaha. Kalau seperti ini bunyi beritanya, bisa dijamin tu orang tua akan langsung marah marah tidak jelas kepada anak dan istrinya." ujar Jero yang terlihat senyumnya begitu lebar sesaat setelah membaca berita yang hangat itu.


"Keluarga Bapak Wijayanto" panggil Vian.


Jero yang mendengar suara Vian, memalingkan kepalanya ke sumber suara. Vian kemudian tersenyum lebar kepada Jero.


"Aku mencintai mu" ujar Jero dengan gerakan bibirnya.


"Kami keluarga pasien dokter" ujar seorang pemuda kepada Vian.


"Operasi sudah selesai dilaksanakan. Alhamdulillah berjalan dengan baik dan lancar. Salah satu keluarga bisa menemukan pasien di ruangan steril, sedangkan yang lain boleh kembali ke ruangan rawat pasien" ujar Vian yang sekali sekali matanya masih melihat ke arah Jero.


Keluarga pasien kemudian berjalan meninggalkan area ruangan operasi. Vian melihat ke arah Jero.


"Ada ada aja ngomong. Kalau mereka tahu bagaimana?" ujar Vian sambil mencubit mesra pinggang Jero.


"Biarin aja. Nggak ngaruh juga" ujar Jero sengaja menggoda Vian.


"Dasar. Jangan cari ribut sayang ku, cinta ku" ujar Vian balas menggoda Jero.


"Aku bersih bersih bentar ya. Setelah ini kita pergi makan, aku laper lagi" ujar Vian yang memang akan selalu laper setelah selesai melakukan operasi.


"Hahahahaha. Kebiasaan" ujar Jero menggoda Vian.


Vian tersenyum. "Aku masuk dulu ya"


Jero mengangguk menjawab perkataan Vian tadi. Jero kembali duduk di kursinya tadi. Dia akan kembali menunggu Vian di sana.


"dokter Heru, saya permisi pulang dulu. Keluarga pasien sudah menunggu Anda di ruangan steril" ujar Vian yang telah selesai bersih bersih.


"Oke dokter Vian, terimakasih atas kerjasamanya" ujar dokter Heru dengan ramah kepada Vian.


"Sama sama dokter Heru. Senang bekerja sama dengan Anda" jawab Vian dengan wajah biasa saja.


Vian kemudian mengambil jas kebanggaannya itu. Setelah itu Vian melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan operasi. Jero yang mendengar pintu ruangan terbuka, langsung berdiri dan menyapa Vian.


"Siap untuk pulang?" tanya Jero kepada Vian.


"Ambil tas kerja dulu ke ruangan. Baru siap itu kita pulang" ujar Vian kepada Jero.


Vian terlihat lelah setelah melakukan operasi. Jero dapat melihat hal itu.


"Kamu terlihat sangat capek. Apa nggak sebaiknya kita makan di mansion aja Vian?" tanya Jero yang sudah kembali berbicara secara normal kepada Vian, karena banyak orang di dekat mereka.


"Kamu tau sendirikan Jer. Aku nggak bisa makan di mansion itu" ujar Vian dengan nada lemah.


"Kalau gitu kita pesan online aja. Tunggu di rumah sakit aja. Nanti kita makan di sini, gimana?" Jero menawarkan alternatif yang lain kepada Vian.


"Makan di luar ajalah. Aku nggak apa apa, letih habis operasi itu biasa. Nggak ada yang perlu di cemaskan" ujar Vian masih memaksakan peruntungannya kepada Jero.


"Okelah kalau begitu, kita akan makan di luar" jawab Jero yang mengalah kepada keinginan Vian.


Vian akan terus memperjuangkan keinginannya kepada Jero sampai terkabul. Dia tidak akan semudah itu untuk menyerah. Lagian Vian juga sudah tau bagaimana sikap Jero kepada dirinya, yang akan luluh saat Vian terus berusaha.


Mereka berdua kemudian keluar meninggalkan rumah sakit, saat Vian telah mengambil tas kerjanya. Mereka berdua akan menuju rumah makan sederhana yang menjual nasi Padang kesukaan Vian.


"Sayang, Bram itu kenal dekat dengan direktur rumah sakit ya?" tanya Vian kepada Jero.


"Kok ngomong gitu sayang?" tanya Jero penasaran kpada Vian.


"Iyalah sayang, gimana aku nggak akan tanya. Tadi sebelum dokter Heru dipanggil ke ruangan direktur, dia masih sempat nada bicaranya ya gitulah, eee setelah balik dari sana, bener bener berubah minta ampun" ujar Vian menceritakan bagaimana sikap dokter Heru yang langsung berubah kepada Jero.


"Aku nggak tau juga sayang. Nantilah kalau kamu penasaran aku tolong tanya ke Bram" ujar Jero kepada Vian sambil menggenggam tangan Vian yang letih habis operasi.


Jero kemudian membelokkan mobilnya masuk ke dalam perkarangan sebuah rumah makan nasi Padang. Mereka akan makan di sana karena Vian sangat suka makan nasi padang