
"Sayang, biar aku sendiri yang cerita ya. Jangan mereka lagi. Aku aja. Aku mohon sayang. Jangan kamu tambah pukulan kamu kepada mereka berdua. Mereka tidak bersalah Sayang. Semuanya adalah salah aku. Aku yang salah sayang. Aku yang membuka pintu ruangan aku, bukan Hendri maupun Erik. Jadi aku mohon sayang, sudah hentikan memukul Hendri dan Erik" ujar Vian memohon kepada Jero agar dia saja yang bercerita bukan kedua pengawalnya itu.
Apalagi sekarang Jero memukuli kedua pengawal Vian yang telah menemani Vian sepanjang hari. Vian tidak tega melihat Jero terus memukuli kedua pengawalnya itu.
"Sayang jangan pukul mereka lagi. Aku mohon sayang. Aku akan menceritakan semuanya. Aku mohon hentikan sayang, sudah jangan pukuli mereka lagi" ujar Vian memohon kepada Jero untuk tidak memukul kedua pengawalnya itu.
"Aku bertanya sekali lagi, apakah kamu akan menceritakan semua yang terjadi kepada aku?" tanya Jero kepada Vian sekali lagi.
Jero ingin Vian memilih untuk menceritakan karena terpaksa. Tetapi harus karena keinginan dirinya sendiri.
"Aku akan menceritakan semuanya. Jadi tolong lepaskan mereka. Mereka tidak layak mendapatkan perlakuan seperti itu dari kamu" ujar Vian sekali lagi melarang Jero untuk memukuli kedua pengawalnya.
"Oke. Pilihan kamu sudah tepat sayang. Seharusnya dari tadi kamu memilih untuk menceritakan sendiri kepada aku. Bukan setelah aku memanggil mereka dan memberikan mereka beberapa pelajaran baru kamu akan bercerita sayang" ujar Jero sambil menatap ke arah Vian. Tatapan Jero kali ini bukanlah tatapan seperti biasanya. Tatapan yang hanya diberikan oleh Vian hanya beberapa kali saja.
"Mau gimana lagi. Aku kira kamu tidak akan memaksa, e e e e e e e e ternyata kamu memaksa aku untuk mengungkapkan apa yang terjadi. Kamu memang tidak membiarkan aku lolos sekalipun sayang" ujar Vian sambil menatap Jero dengan tatapan kesalnya. Vian sangat tidak suka sigmfat pemaksa Jero kali ini.
"Jadi gimana ceritanya?" tanya Jero kepada Vian. Jero merubah posisi duduknya. Dia menatap Vian dengan tajam. Jero tidak ingin Vian berbohong kepada dirinya tentang semuanya. Jero ingin Vian jujur dan menceritakan semuanya kepada dia.
Jero menatap Vian cukup lama. Dia tidak menyangka kalau Hendri dan Erik akan menerima pukulan yang kuat dari Jero. Padahal. Seorang Erik adalah kaki tangan alias orang kepercayaan dari seorang Danu Wijaya.
"Ceritanya gini. Aku saat kejadian sedang membaca buku di meja kerja aku. Aku sedang semangat semangatnya membaca buku itu. e e e e e e e e ternyata terdengar keributan keributan dari arah luar kafe." ujar Vian mulai bercerita tentang awal mulai kejadian itu.
" Aku pertama bersikap acuh saja. Aku sama sekali tidak ambil peduli dengan keributan keributan yang terjadi itu. Tapi semakin aku diamin semakin menjadi juga keributan itu. Akhirnya aku membuka pintu ruangan kerja" lanjut Vina meneruskan ceritanya.
"Ternyata yang ribut ribut di sana adalah Juan Aleksander dengan Hendri dan Erik." ujar Vian bercerita.
"Apa yang dilakukannya?" tanya Jero kepada Vian.
Jero ingin Vian berkata jujur. Jero menunggu Vian melanjutkan ceritanya.
"Dia ingin masuk ke dalam ruangan aku. Katanya dia ingin bercerita kepada Aku. Tapi aku sama sekali tidak ingin bercerita dengan dia." lanjut Vian yang nggak mau Jero salah sangka dengan dirinya.
Jero diam saja, dia mendengar semua yang dikatakan oleh Vian. Jero sama sekali tidak membantah sedikitpun yang dikatakan oleh Vian.
"Terus aku mengusir dia untuk pergi dari ruangan aku. Aku tidak mau dia menganggu aku lagi. Tapi dia tidak mau pergi." ujar Vian melanjutkan ceritanya.
"Dia kembali ribut dengan Hendri dan Erik. Sampai sampai dia mengatakan kalau aku bukan wanita baik baik. Kalau aku wanita yang hobby selingkuh" ujar Vian mulai menangis. Jero mulai tidak bisa menahan emosinya saat Vian sudah mulai menangis. Dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak pergi ke mansion Juan Aleksander itu.
Air mata Vian membasahi pipinya. Vian tanpa sadar mengusap wajahnya dengan sapu tangan yang diberikan oleh Jero.
Jero melihat dengan seksama wajah cantik natural Vian yang kembali terlihat. Wajah yang sangat disukai Jero karena natural itu. Bukan wajah yang dipoles make up tebal swperti yang terlihat sebelum Vian menyeka wajahnya.
Saat Vian menyeka pipi bagian sebelah kanannya. Jero melihat sesuatu yang ditutupi make-up tebal itu. Jero kaget melihat bekas itu. Bekas yang berupa jari jari yang melekat kuat di pipi Vian.
Jero mendekatkan dirinya ke arah Vian. Vian tersadar kesalahan apa yang telah dilakukan olehnya. Vian sekarang hanya bisa pasrah saja. Dia tidak mungkin lagi mengatakan sesuatu yang tidak masuk diakal kepada Jero
"Ada yang bisa kamu jelaskan kepada aku Vian?" tanya Jero kepada Vian. Jero menatap Vian dengan sangat lekat. Jero seperti tidak membiarkan Vian untuk tidak mengatakan swmuanya dengan jujur.
Jero meraba lembut pipi Vian yang menampilkan bekas tamparan yang sudah memudar itu. Jero bisa melihat lima jari milik Juan Aleksander berbekas di pipi cantik Vian.
"Kenapa?" tanya Jero penasaran dengan bekas tamparan itu.
"Tidak kenapa kenapa" jawab Vian masih berusaha untuk menipu Jero.
"Vian, aku sedih melihat bekas ini sayang. Aku tidak mau kamu merasakan sakit karena seseorang yang tidak tau diri itu menampar kamu. Aku benar benar sedih Vian" Ujar Jero yang langsung membawa Vian ke dalam pelukannya.
"Juan Aleksander menampar aku satu kali. Aku tidak tau salah apa. Dia menampar aku dengan kuat." uajr Vian memberitahukan kepada Jero berapa kali dia mendapatkan tamparan dari seorang Juan Aleksander.
"Dia menampar kamu? Aku pastikan dia akan mendapatkan balasannya. Jangan sebut aku Jero Asander kalau aku tidak akan membalaskan dendam ini. Tamparan akan dibalas dengan tamparan" ujar Jero sambil meremas tangannya. Jero benar benar sudah sangat marah Apa yang dilakukan oleh Juan Aleksander sudah melewati batasan.
" Sayang aku malu sayang. Aku malu kalau masih harus kerja di rumah sakit ini lagi. Aku sudah menjadi bahan perbincangan orang orang di sini" ujar Vian menangis memeluk Jero dengan sangat kuat.
"Apa kamu bilang?" tanya Jero kepada Vian. Jero tidak mengerti dengan yang dikatakan oleh Vian.
"Tolong jelaskan sebaik baiknya Vian. Apa yang terjadi dengan semua karyawan rumah sakit" Jero ingin Vian menjelaskan kepada dirinya, apa yang telah terjadi di rumah sakit milik dirinya itu.
"Mereka menggosip kan aku. Mereka secara terang terangan mengatakan aku berkhianat kepada Juan. Mereka mengatakan kepada aku kalau aku adalah wanita murahan" ujar Vian sekali lagi kepada Jero masih dengan terisak, air. mata Vian telah membasahi kemeja Jero. Jero membiarkan saja. Dia meresapi setiap tangisan Vian. Tangisan Vian yang menjadi kayu api amarah Jero
"Sayang siapa yang mengatakan hal itu?" tanya Jero kepada Vian.
"Dokter Heru dan beberapa dokter lainnya yang ada di IGD sekarang ini. Mereka yang telah menggosipkan aku, mereka dengan semangat menceritakan aku. Mereka tidak tau apa yang aku alami sayang." ujar Vian yang menumpahkan semua yang di dengarnya tadi di ruang IGD.
Vian dari tadi berusaha untuk sabar. Tetapi saat melihat Jero begitu terluka karena bekas tamparan di pipinya, membuat Vian menumpahkan segala keluh kesahnya kepada Jero.
Jero melepaskan pelukannya dari Vian. Dia kemudian menatap Vian lama.
"Kamu tunggu di sini sebentar ya. Aku akan pergi. Jangan kemana mana. Hendri akan menemani kamu." ujar Jero berkata sambil menatap wajah sembab Vian yang menangis sejadi jadinya tadi.
Jero benar benar tidak tega melihat Vian menangis seperti itu. Jero sudah bertekad sejak lama untuk tidak pernah membiarkan Vian meneteskan air matanya. Tapi kali ini tidak setetes air mata yang ditumpahkan oleh Vian, melainkan sangat banyak sampai sampai wajah Vian menjadi sembab.
"Sayang mau kemana?" tanya Vian kepada Jero. Vian takut Jero melakukan sesuatu yang akan membuat dirinya semakin sulit berada di rumah sakit. Vian tidak mau menjadi bahan gunjingan lagi.
Vian memegang ujung jas Jero. Vian menggeleng meminta Jero membatalkan niatnya itu. Vian tidak mau Jero melakukan semua itu.
Jero menatap Vian lama. Vian paham dengan maksud tatapan Jero.
"Sayang lepaskan. Aku janji tidak akan membuat keributan" ujar Jero memohon kepada Vian untuk melepaskan pegangannya kepada jas Jero.
Vian akhirnya melepaskan pegangannya dari pakaian Jero.
Cup. Sebuah kecupan mendarat di puncak kepala Vian. Vian menatap Jero, Vian kemudian memberikan senyumannya kepada Jero. Senyuman yang selalu ingin dilihat Jero dari wajah cantik Vian.
"Jangan nangis lagi. Aku akan menyelesaikan semuanya" ujar Juan berjanji akan menyelesaikan semua permasalahan yang sedang terjadi itu.
Vian mengangguk. Dia percaya Jero akan menyelesaikan permasalahan Vian kali ini. Jero kemudian berjalan keluar dari ruangan Vian.
"Hendri, tolong jaga dengan baik Vian. Sempat terjadi lagi hal seperti tadi Hendri, kalian semua tidak akan saya maafkan" ujar Jero kepada Hendri dan Erik serta Angga dan Anggi yang berada di depan ruangan Vian.
"Siap Tuan. Kami pastikan tidak akan terjadi lagi hal seperti tadi" ujar Hendri menjawab perkataan Jero mewakili ketiga teman pengawalnya yang lain.
Jero kemudian melangkahkan kakinya menuju ruangan direktur rumah sakit. Kali ini dia akan memperlihatkan siapa dia sebenarnya kepada semua dokter, perawat, suster maupun staff bagian lain di rumah sakit ini.
"Kalian sudah terlalu berani menghina calon istri saya. Maka kalian semua akan menerima efeknya. Mata di bayar mata. Penghinaan dibayar penghinaan" ujar Jero berkata dengan nada tajam dan dingin.
Jero terus melangkahkan kakinya menuju ruangan direktur rumah sakit. Dia akan membuat perhitungan dengan mereka yang telah membuat Vian menangis dan bersedih.
...****************...
Apa yang akan dilakukan oleh Jero terhadap seluruh karyawan di rumah sakit yang telah dengan berani menghina Vian.