My Affair

My Affair
Lomba Nyanyi Pengawal



"Oke semua sudah siap?" ujar penyanyi dari grub band kafe memanggil semua pengawal untuk bisa menunjuk siapa yang akan mereka kirim untuk tampil dalam lomba menyanyi yang idenya berasal dari Vian.


"Siap" jawab mereka dengan kompak.


"Kami selalu siap." jawab yang lainnya.


"Oke kalau begitu, silahkan kepada salah satu perwakilan dari grub untuk mendaftarkan siapa yang akan mengikuti lomba nyanyi kali ini" ujar penyanyi meminta para pengawal untuk mendaftarkan rekan rekan mereka.


Dalam perlombaan menyanyi ini ada sebanyak tujuh orang yang akan berlomba. Mereka mewakili tujuh kelompok pangawal yang selalu mengawal Jero, Felix, Bram, Vian, Jeri, Greta dan Tama dalam menjalankan kegiatan mereka sehari hari. Sebenarnya Juan juga harus di kawal, tetapi karena Juan orangnya bebas maka dia tidak mau untuk dikawal kemanapun, bagi Juan dengan dikawal kemana mana membuat dirinya tidak bebas untuk menyapa dan balik di sapa oleh orang orang yang dia temui.


"Baiklah karena ketujuh perwakilan sudah mendaftarkan rekan rekannya yang akan tampil dalam lomba kali ini, maka kita akan langsung mengocok siapa yang akan tampil." ujar penyanyi mulai menjelaskan aturan main dalam siapa yang akan duluan tampil menyanyi.


"Nama yang keluar adalah yang akan tampil." lanjut penyanyi menjelaskan kepada semua orang bagaimana aturannya.


"Oke, lakukan saja.  Kami akan ikuti aturan mainnya. Bagi kami yang penting sekarang adalah hadiahnya, bukan aturan mainnya mau seperti apa" ujar salah seorang pengawal yang sudah tidak sabaran lagi untuk melihat rekan rekannya bernyanyi.


"Kami mau dengar sahabat sahabat kami bernyanyi" ujar yang lainnya dengan semangat yang sangat luar biasa.


"Bagi kami masalah aturan main kami serahkan saja kepada ahlinya. Kami mengikut saja" sorak yang lainnya dari arah belakang.


Jero dan yang lain hanya senyam senyum saja saat mendengar apa yang dikatakan oleh para pengawal yang sudah tidak sabaran lagi untuk bisa melihat penampilan dari rekan rekan mereka. Mereka semua sangat jarang melihat rekan rekan mereka menyanyi di depan orang banyak.


Mereka memang sudah biasa bernyanyi, tetapi bernyanyi di kamar mandi, bukan bernyanyi di saksikan oleh orang ramai seperti sekarang ini, apalagi sekarang mereka harus bernyanyi di depan tuan muda dan juga nona muda, sensasi yang sangat aneh akan mereka rasakan.


"Oke kita akan mengocok siapa yang akan menjadi penyanyi pertama untuk tampil" ujar penyanyi band.


Penyanyi wanita itu kemudian mengguncang gelas yang di dalamnya sudah ada tujuh buah pipet yang sudah ada nama nama peserta yang akan tampil. Pipet pertama jatuh, penyanyi meniup sedikit kertas yang ada di dalam pipet, penyanyi berharap pipet itu akan langsung mengeluarkan siapa nama penyanyi yang akan tampil untuk pertama sekali.


"Hayo siapa yang akan tampil?" ujar penyanyi berusaha membuat para pengawal deg degan.


Tetapi hal itu percuma saja, mereka sama sekali tidak deg degan dengan menunggu siapa nama yang akan menjadi peserta pertama yang akan tampil menyanyikan lagu yang sudah berusaha di hafal dari tadi saat nama mereka di pilih oleh rekan rekan.


"Ivan" ujar penyanyi menyebutkan nama siapa yang akan tampil untuk pertama kalinya dalam lomba menyanyi antar pengawal tersebut.


Bram yang mendengar sahabatnya yang akan menyanyi, langsung mengambil posisi balik badan. Dia sangat hafal bagaimana Ivan menyanyi, mereka sangat sering bernyanyi berdua di mansion saat mansion kosong. Tetapi dari pada pengawalnya yang lain Ivan asisten Bram memang suaranya yang paling bagus.


"Kenape loe?" ujar Tama saat melihat Bram balik badan dan mengambil bantal.


"Persiapan" jawab Bram dengan santai menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Tama


"Belum mulai aja Ivan nyanyi loe udah pesimis Bram. Gimana caranya coba" ujar Tama sambil geleng geleng kepala melihat kelakuan Bram.


"Ini namanya lebih baik mencegah dari pada menyerah" ujar Bram


Ivan dengan percaya dirinya maju ke depan. Dia benar benar menyesal sudah menyarankan untuk hompimpa dengan rekan rekannya yang berjumlah empat orang itu. Ternyata mereka bertiga masang putih, Ivan sendirian yang hitam, pada akhirnya Ivanlah yang harus mewakili grub mereka untuk tampil bernyanyi di atas panggung.


Ivan mengambil mic yang diberikan oleh penyanyi wanita itu kepada dirinya. Pemain band mulai memainkan musik sesuai dengan lagu yang disebutkan oleh Ivan apa yang akan dinyanyikan oleh dirinya saat ini. Ivan mulai mengeluarkan suaranya.


Setelah selesai menyanyikan satu buah lagu, Ivan kemudian kembali ke tempat duduknya. Dia masih dengan percaya dirinya memberikan ciuman kepada semua pengawal yang ada di sana.


"Akhirnya. Bang besok besok kalau mau nyanyi sekeren ini bilang bilang ya, jadi kami bisa menyiapkan handset terlebih dahulu" ujar salah seorang pengawal yang duduk di bagian ujung


"Aman itu" jawab Ivan.


"Pantesan tu anak cari bantal" ujar Felix berkomentar saat melihat Bram mengambil bantal sandaran kursi


Penyanyi kafe kembali mengguncang gelas tersebut. Secara bergatian nama nama peserta sudah keluar, mereka sudah menampilkan tampilan terbaik mereka. Mulai dari suara yang lebih bagus dia bicara biasa saja, sampai ada yang bisa dikatakan penyanyi kamar karaoke.


"Baiklah untuk penampilan terkahir. Ini adalah penampilan ke tujuh, siapakah dia? ada yang tahu?" ujar penyanyi kafe kepada semua pengawal.


Kelompok Jero yang berempat saling memandang antara satu dengan yang lainnya. Mereka tadi memilih siapa yang menang sedikit saat hompipah dialah yang menuliskan nama rekan yang akan ikut lomba menyanyi itu, jadi sampai sekarang mereka berempat tidak tahu siapa yang akan tampil mengikuti lomba menyanyi tersebut.


"Nggak" jawab mereka kompak.


Semua orang yang mendengar kelompok Jero juga menjawab nggak langsung heran. Kok bisa mereka juga tidak tahu.


"Baiklah karena nggak tahu, maka saya akan langsung membuka gulungan kertas ini" ujar penyanyi kafe.


Penyanyi kafe membuka gulungan kertas itu dengan gaya slowmotion. Gaya penyanyi itu membuat para pengawal penasaran dengan siapa yang akan menyanyi mewakili grub tuan muda Jero Asander.


"Josua" ujar penyanyi sambil menyebut nama Josua dengan sangat lantangnya.


"Haha haha haha" Jero tertawa ngakak saat mendengar siapa yang dipilih oleh para pengawal dan asistennya itu. Mereka memilih Josua untuk tampil.


"Tuan muda, jangan menyepelekan saya Tuan muda. Sempat suara saya bagus maka Tuan muda harus mengabulkan apa yang saya minta" ujar Josua menantang Jero.


"Oke. Kalau jelek maka loe akan menyesal sendiri dengan apa yang loe katakan sebentar ini" ujar Jero menanggapi apa yang dikatakan oleh Josua tadi kepada dirinya.


"Oke Tuan muda. Jangan menyesal" ujar Josua sambil tersenyum tipis kepada Jero Asander.


"Hay Josua, Jero Asander tidak pernah menyesal" ujar Jero menjawab perkataan dari asistennya itu


Josua terlihat hendak menjawab kembali apa yang dikatakan oleh Jero


"Josua masih ngomong lagi, aku anggap gugur mau?" ujar Vian memberikan ancaman kepada asisten kekasihnya itu.


"Oh tidak Nona muda, jangan. Saya akan tampil sekarang" ujar Josua dengan semangat empat lima untuk tampil di depan membawakan lagu yang sudah ada di dalam otaknya saat ini.


Ryan yang tahu bagaimana Josua dalam menyanyi hanya bisa geleng geleng kepala saja. Dia sudah bisa memprediksi apa yang akan terjadi nanti setelah Josua mengeluarkan suaranya itu.


Josua kemudian berjalan ke atas panggung dengan percaya dirinya. Josua sangat yakin dengan kemampuan yang dimilikinya.


"Oke semua Are you ready?" ujar Josua berteriak seperti seorang penyanyi profesional.