
"Maaf Tuan ada surat yang datang kemaren dari Pengadilan Agama" ujar pengawal memberikan surat yang diberikan oleh pengadilan kemaren.
Bram menerima surat tersebut.
"Baca Bram" ujar Jero.
"Surat itu pasti berkaitan dengan kedatangan mereka kemaren ke sini" ujar Jero dengan pelan yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.
Jero malas membaca surat yang diantarkan oleh pengadilan agama tersebut. Jero tidak ingin emosinya semakin tinggi saat dirinya membaca sendiri surat dari pengadilan agama itu.
Bram membaca isi surat yang diberikan oleh pengawal. Bram menganalisa isi surat tersebut. Bram tidak ingin terburu buru memutuskan apa isi dari surat pengadilan yang sedang dibacanya itu. Bram tidak ingin Jero dan Vian menyalahkan dirinya atas kesalahan menyampaikan informasi yang tertulis di dalam surat.
Jero dan Vian melihat perubahan ekspresi dari Bram saat membaca surat dari pengadilan. Bram yang semula ceria mendadak menjadi cemberut saat membaca surat yang datang itu. Vian melihat ke arah Jero. Vian tahu kalau informasi buruk yang ada di dalam surat tersebut, Vian bisa tau saat melihat ekspresi dari Bram yang sudah berubah.
"Apa isinya Bram?" tanya Jero yang sudah tidak sabaran lagi mendengar apa isi surat yang dikirimkan oleh pihak pengadilan kepada mereka. Isi surat yang dirasakan oleh Jero kalau berita yang di dalam surat itu bukanlah berita yang baik.
"Bang, ini surat teguran dari pengadilan" ujar Bram menyebutkan isi surat yang dikirim pihak pengadilan ke mereka.
"Isinya" tanya Jero yang sebenarnya sudah mengetahui apa isi dari surat teguran yang diberikan oleh pihak pengadilan ke mereka.
"Kata mereka, Kakak ipar harus keluar dari mansion ini dan kembali tinggal bersama dengan Juan Aleksander" kata Bram menjelaskan isi dari surat yang dikirimkan oleh pengadilan kepada mereka.
"Gila"
"Telpon Jeri"
Jero benar benar emosi mendengar isi surat yang dibacakan oleh Bram. Jero tidak menyangka kalau pengadilan akan mengirimkan surat tersebut. Dalam hayalan Jero tadi, Vian tidak boleh tinggal bersama mereka dan harus tinggal sendiri, ternyata pihak pengadilan meminta Vian untuk kembali ke mansion Juan Aleksander. Suatu hal yang tidak akan mungkin diizinkan oleh Jero.
"Lakukan sesuatu Felix, Bram." teriak Jero begitu kuatnya.
Semua pengawal yang berada di ruangan itu kaget mendengar Jero yang berteriak. Mereka semua baru sekali ini melihat Jero yang sedang dalam keadaan emosi.
Bram langsung menghubungi Jeri. Sedangkan Felix menghubungi beberapa rekannya yang biasa bergerak di pengadilan. Semua orang langsung sibuk seketika, ketika mendengar teriakan dari Jero. Teriakan yang begitu besarnya, sehingga membuat siapapun yang mendengar akan langsung memutuskan untuk melakukan pekerjaan sehingga tidak melihat raut wajah Jero yang sedang dalam keadaan marah.
"Sayang" ujar Vian yang sekarang merasa takut dengan surat yang dikirimkan oleh pihak pengadilan kepada mereka.
Ketakutan Vian bertambah dengan keadaan Jero yang terlihat sedang dalam keadaan benar benar emosi. Vian baru sekali ini melihat kondisi Jero yang seperti ini. Jero memang pernah marah, tetapi tidak seperti sekarang, kemarahan Jeo yang biasanya masih terlihat wajar, tetapi hari ini kemarahan Jero benar benar mengerikan.
"Tenang, jangan panik. Kita akan selesaikan ini dengan cara kita" ujar Jero.
Jero masih berusaha menenangkan Vian, padahal sebenarnya kalau diikuti kata hatinya sekarang ini, dia tidak sanggup menenangkan orang lain, dirinya saja dia masih tidak bisa menenangkannya. Tetapi demi Vian, Jero masih berusaha untuk menenangkan Vian.
Kilatan kekejaman yang sudah lama tidak terlihat di mata Jero sekarang kembali terlihat. Harimau yang sudah lama terdiam itu kembali terbangun, karena sudah diusik oleh mereka mereka. Mereka sekarang harus dalam posisi siap menerima amukan dari Jero Asander, seorang pemuda yang sudah lama terluka dan berusaha mengobati luka hatinya itu.
Jeri yang baru saja akan sarapan membatalkan niatnya saat melihat layar ponselnya menyala.
"Bram?" ujar Jeri saat melihat siapa yang menghubunginya sepagi ini.
"Ada apa Bram? Sepertinya sesuatu yang penting"
"Oke Bram, gue langsung ke sana sekarang juga" ujar jeri.
Jeri langsung berlari keluar dari mansionnya. Dia berlari menuju mobil. Hal itu membuat pelayannya menjadi keheranan melihat tingkah Jeri. Tuan muda yang biasanya bersikap santai dan berwibawa sekarang mendadak menjadi berjalan super cepat seperti seseorang yang sedang di kejar kejar oleh depcolektor.
"Gila ini. Mereka bener bener telah membangunkan harimau itu. Sepertinya peperangan akan di mulai" ujar Jeri mengomel sendirian saat mengemudikan mobil menuju mansion Jero yang hanya berjarak lima menit mengemudikan mobil dari mansion nya.
"Semoga saja di sana masih ada sarapan yang bisa aku nikmati. Perut bener bener lapar, mana semalam tidak sempat makan lagi" ujar Jeri masih melanjutkan omelannya sendiri di atas mobil sambil mengemudikan mobilnya.
Jeri memarkir mobilnya di sembarangan tempat. Dia langsung turun dan setengah berlari masuk ke dalam mansion. Dia benar benar tahu kalau Jero sudah emosi maka dia pasti akan melakukan segala cara menghadapi orang yang telah membangkitkan emosinya itu.
"Sorry gue telat" ujar Jeri yang ngosngosan karena telpon yang dilakukan oleh Bram sepagi itu.
"Santai saja, nggak ada yang telat" jawab Felix masih berusaha terlihat santai padahal sekarang emosi juga sedang mendera dirinya karena surat dari pengadilan yang dibaca oleh Bram.
"Duduk dulu, mari sarapan. Aku sangat yakin kalau Bang Jeri belum sarapan" lanjut Felix yang sangat yakin kalau Jeri pasti belum sarapan.
"Kok tau?" tanya Jeri.
"Taulah Bang. Nampak kali dari gaya loe sekarang ini. Loe main lari larian masuk ke dalam mansion" jawab Felix.
Jeri melihat di ruang makan tidak ada wajah Jero maupun Vian. Felix dan Bram melihat ke arah Jeri.
"Bang Jero dan kakak ipar sedang di ruang kerja. Mereka baru masuk ke sana sebentar ini" kata Bram memberitahukan keberadaan dua orang yang sedang dicari oleh Jeri.
"Apa dia aman?" tanya Jeri sambil menaruh telur ceplok ke atas piring makannya.
"Sama sekali tidak Bang. Tidak ada yang aman" jawab Bram sambil duduk menjulurkan kakinya di bawah meja makan.
Bram sudah melonggarkan dasi kerjanya, jas kerja juga sudah dibukanya kembali. Mereka berdua memutuskan untuk tidak berangkat ke perusahaan sekarang. Mereka akan berada di mansion saja sehari ini, mereka akan menjaga dan memperhatikan Jero dan Vian.
"Apa Jero sudah memberikan petunjuk kepada kita semua untuk melakukan sesuatu?" lanjut Jeri bertanya.
"Sama sekali belum Bang. Bang Jero sedang dalam keadaan emosi yang luar biasa tidak stabil, sehingga kami sama sekali tidak bisa bertanya atau melakukan apapun lagi sekarang" lanjut Bram.
"Apa sudah dari tadi dia di ruangannya?" pertanyaan dari Jeri masih berlanjut kepada Bram dan Felix
"Baru Bang, pas aku siap menghubungi kamu, barulah Bang Jero dan Kak Vian masuk ke dalam ruangannya" kali ini Felix yang menjelaskan kepada Jeri.
"Semoga dia tidak memutuskan sesuatu dengan mengedepankan emosinya saja"
"Gue sangat tau bagaimana kalau dia sudah emosi."
"Kita hanya sama sama berharap dia tidak emosi Bang. Bagaimanapun kalau dia sedang emosi, akan membuat semuanya menjadi luar biasa kejam. Kami juga takut sekali kalau dia emosi" kata Felix.
"Kita berharap saja kepada Kak Vian, semoga dia bisa menenangkan Bang Jero"