
Semua pelayan sudah berdiri di depan teras mansion dengan bawang bawang bawaan mereka. Mereka tinggal menunggu taksi online yang sudah di pesan oleh Tuan besar Alexsander. Mereka akan kembali ke negara E dan bekerja di anak cabang perusahaan milik Tuan besar. Tuan besar sengaja melakukan itu supaya mereka tidak merasa cemas dan takut kepada Juan alexsander dan nyonya besar Alexsander.
"Apa semua sudah siap?" tanya Papi kepada para pelayan yang sudah berada di teras mansion.
"Sudah Tuan besar. Kami sudah siap semuanya" jawab pelayan yang tadi diintrograsi oleh Papi.
"Baiklah kita berangkat. Tetapi maaf saya tidak bisa membawa kalian ke negara E, tetapi kita akan pergi ke suatu negara yang Juan Alexsander tidak mengetahui tempat itu. Kalian bisa di sana hidup dengan tenang." kata Papi mengatakan kepada semua maid kemana mereka akan pergi kali ini.
"Jadi kita tidak akan ke negara E Tuan besar?" ulang seorang pelayan yang memang sangat senang tidak kembali ke negara E. Bagi pelayan itu negara E adalah negara yang penuh duka.
"Tidak, kita tidak ke negara E. Saya akan antarkan kalian ke suatu negara seperti yang saya katakan tadi" jawab Papi yang tidak mengulang kembali apa yang dikatakan oleh dirinya sebelum ini.
Para pelayan tidak lagi bertanya kepada Papi. Cukup sudah pelayan yang bertugas menjadi tukang kebun itu kembali bertanya dan Papi tidak memberikan jawaban yang memuaskan kepada pelayan itu.
Tidak beberapa lama menunggu, akhirnya taksi online yang telah di pesan oleh Papi sudah parkir di depan mereka. Ada tiga buah taksi online berbentuk mini bus parkir di sana. Semua pelayan memasukkan barang barang mereka ke dalam mobil.
"Selamat tinggal mansion, selamat tinggal negara I" ujar pelayan dengan kompak dan melambaikan tangan mereka kepada mansion yang berdiri megah tersebut.
Mansion yang pada dahulunya memiliki kenyamanan, tetapi semakin ke sini sama sekali sudah tidak nyaman yang ada hanyalah kegelisahan dan rasa takut yang menghantui setiap harinya.
Setelah semua barang masuk ke dalam mobil, kemudian para pelayan masuk ke dalam mobil. Mobil bergerak mengikuti mobil yang dikemudikan oleh Papi.
Papi melajukan mobilnya menuju bandara yang dikhususkan untuk pesawat pribadi dan carteran. Para pelayan yang melihat menatap kagum ke arah tempat itu. Mereka baru kali ini akan terbang memakai pesawat carteran atau pesawat pribadi milik Tuan besar mereka itu.
Papi kemudian memarkir mobil yang dikemudikan oleh dirinya di parkiran khusus pemilik pesawat. Ketiga mobil mengikuti apa yang dilakukan oleh Papi. Para pelayan kemudian menurunkan semua barang mereka dari dalam mobil. Setelah itu mereka mengikuti Papi yang sudah berjalan menuju pesawat yang sudah terparkir di landasan. Sebuah pesawat carteran yang dipakai oleh Papi. Padahal pesawat dengan logo A berdiri dengan megahnya di sebelah pesawat carteran itu. Papi sengaja tidak memakai pesawat pribadinya supaya tidak bisa dilacak oleh Juan dan istrinya yang ternyata licik tersebut.
"Ayo semua naik. Pesawat sudah siap untuk lepas landas" ujar Papi meminta semua pelayan untuk naik ke dalam pesawat.
Barang barang milik para pelayan sudah berpindah ke dalam bagase pesawat. Setelah itu semua pelayanan asuk ke dalam pesawat yang besar tersebut. melihat dari body pesawat yang besar semua pelayan menjadi sangat yakin kalau mereka pasti akan terbang jauh. Sejauh apapun tuan besar membawa mereka, mereka akan bahagia karena bisa terbebas dari tuan muda dan nyonya besar yang sifatnya semena mena tersebut.
Semua pelayan sudah duduk di kursi mereka masing masing. Begitu juga dengan Papi. Papi sudah duduk di kursi faforitnya yaitu dekat jendela. Sehingga Papi bisa memandang jauh keluar melalui kaca jendela yang jernih tersebut.
"Yah mereka semua sudah tidur" ujar Papi saat melihat kalau semua pelayannya sudah tertidur dengan nyanyak di kursi masing masing.
"Mereka sepertinya sangat bahagia terlepas dari mansion itu" lanjut papi saat melihat wajah wajah yang sudah tidak wajah wajah tertekan lagi.
Perbedaan yang sangat jauh saat tadi di mansion. Saat di mansion wajah wajah pelayan adalah wajah wajah yang tertekan akan kehidupan yang mereka jalani. Sedangkan sekarang wajah tertekan itu sudah berganti dengan wajah damai dan semangat dalam menatap kehidupan ke depan mereka.
"Semoga keputan aku membawa mereka keluar dari mansion besar itu adalah sebuah keputusan yang paling tepat" ujar Papi sambil menatap satu persatu wajah wajah pelayan yang sangat setia kepada dirinya dan keluarganya itu.
"Sepertinya masalah ini tidak akan habis di sini saja."
"Dosa apa yang telah aku perbuat di masa lalu sehingga kepedihan ini silih berganti datang megnhantui keluarga besarku" lanjut Papi berkata sambil mengusap wajah tuanya.
Papi benar benar tidak habis pikir kenapa keluarganya tidak pernah damai dan tentram dari dahulunya.
"Keluarga Alexsander seperti api dalam sekam yang sewaktu waktu bisa meledak. Aku benar benar tidak mengerti dengan ini semua" lanjut Papi yang sudah habis pikir dengan keadaan keluarganya pada saat ini.
keluarga Alexsander yang dikatakan oleh orang orang diluaran sana adalah keluarga bahagia. Tetapi kenyataannya adalah kebalikan. Memang tidak diragukan oleh Papi mereka memang bahagia, tetapi kebahagiaan itu tidak pernah bertahan lama karena ada ada saja yang bisa merusak kebahagiaan tersebut, kadang kadang bisa datang dari luar bahkan seperti sekarang yang datang langsung dari dalam keluarga Alexsander.
"Ini benar benar cobaan terberat dalam hidup saya." kata Papi.
Papi kemudian kembali menatap ke arah luar jendela. Papi berharap dengan dirinya menatap ke luar jendela pesawat, Papi akan bisa melupakan masalah yang sedang mendera keluarganya saat ini. Masalah yang kalau tidak diselesaikan secepatnya akan berdampak kepada bisnis yang sedang dijalankan oleh Papi. Tetapi sayangnya papi sama sekali tidak bisa melupakan masalah tersebut. Papi masih terus memikirkan tentang permasalahan keluarganya. Permasalahan yang cukup rumit tersebut.
"Aku kira menjadi mereka lebih senang, tetapi kenyataannya tidak sama sekali. menjadi mereka ternyata memiliki tantanganya sendiri. Mereka memiliki masalah sendiri" lanjut Papi saat melihat ke arah para pelayannya itu.
"Benar kata orang roda itu kadang di bawah kadang di atas. Tetapi kenapa roda saya tidak pernah di atas lagi." lanjut Papi bertanya tanya akan hal itu.
"Kesalahan apa yang harus saya tebus?" lanjut Papi yang memang berpikir apa kesalahan masa lalu yang telah diperbuat oleh dirinya sehingga membuat dirinya mendapatkan cobaan seperti saat sekarang ini. Cobaan yang datang silih berganti seperti tanpa ujungnya
Papi yang lelah berpikir tentang keadaan keluarga besarnya akhirnya tertidur. Papi mengikuti apa yang dilakukan oleh semua pelayannya itu, mereka semua sudah tertidur. Padahal pesawat baru mengudara kurang dari tiga puluh menit saja.