
"Sayang kenapa Juan mengatakan hal itu sayang? Kok Juan bisa sampai ngomong kayak gitu sayang. Aku jadi malu sayang." ujar Vian yang kaget mendengar kata kata yang diucapkan oleh Juan.
"Kamu tengok benda kecil itu kan sayang?" lanjut Jero bertanya kepada Vian.
"Nah benda kecil itu penyebabnya sayang" lanjut Jero berkata sambil tetap menunjuk ke arah benda kecil itu.
Vian melihat ke arah yang ditunjuk oleh Jero. Vian menatap lama ke benda yang ditunjuk oleh Jero. Vian mengamati benda itu dengan saksama, vian sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari benda tersebut.
"Itu bukannya kamera sayang?" ujar Vian bertanya kepada Jero kesimpulan dari benda yang dilihatnya itu. Benda hitam yang membuat siapa saja menjadi gagal fokus.
"Ya benar" jawab Jero sambil menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang dikatakan oleh Vian kepada dirinya.
Vian terdiam sejenak, dia mencerna apa yang dikatakan oleh Jero. Hingga sampailah pada satu kesimpulan yang paling akurat sehingga membuat Juan memberikan pengumuman itu saat mereka akan mendarat.
"Jangan jangan tu kamera layarnya di ruang cokpit, dan bisa dilihat oleh Juan dan Ivan" ujar Vian menebak apa yang terjadi.
"Sayang malunya aku sayang" teriak Vian yang nggak mau menanggung malu atas apa yang telah dilakukan oleh dirinya.
Jero tersenyum mendengar jawaban yang diberikan oleh Vian kepada dirinya
"Yupi, kamera itu layarnya berada di cokpit. Itu disengaja supaya pilot tau keadaan di dalam pesawat" lanjut Jero membenarkan apa yang dikatakan oleh Vian kalau layar dari kamera tersebut berada di ruang cokpit pesawat.
"Sial. Kenapa nggak ngomong sayang. Aku bener bener malu ini" ujar Vian sambil menatap ke arah Jero yang sekarang sudah tersenyum simpul saja.
"Sayang, kamu nggak memberikan kesempatan kepada aku untuk menjelaskan sayang" jawab Jero yang memang sama sekali tidak diberikan kesempatan oleh Vian untuk menjelaskan apa yang ada di dalam badan pesawat tersebut.
"Kamu terus aja ngomong, ya udah karena sudah terlanjur aku biarkan saja lagi kamu duduk di atas aku." lanjut Jero menjawab kenapa dirinya tidak meminta Vian untuk turun.
Vian kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Jero kepada dirinya. Dia benar benar malu sekarang kepada Juan dan Ivan yang melihat dirinya duduk di atas pangkuan Jero.
"Santai aja sayang, nggak usah takut gitu. Santai aja ekspresinya. Itu tidak akan menjadi masalah. Apa yang kamu takutkan dan cemaskan coba" ujar Jero yang melihat ekspresi Vian lain dari pada biasanya. Ekspresi Vian jelas jelas ekpresi takut karena ketahuan sudah berbuat sesuatu yang sama sekali tidak diizinkan.
"Gimana mau santai sayang. Gimana nggak bakalan malu dan cemas sayang. Keadaannya kayak gini. Aku malu sayang sama Juan dan Ivan. Mereka melihat bagaimana posisi aku di atas kamu. Belum lagi aku sempat menggoda kamu dengan menggoyang goyangkan badan aku." ujar Vian yang langsung menangkupkan ke dua telapak tangannya ke wajah Vian yang memerah itu. Wajah yang sudah memerah karena apa yang didengar oleh Vian dari Juan.
"Udah anggap aja mereka nggak nengok" kata Jero memberikan dukungan kepada Vian.
"Mana bisa sayang" lanjut Vian yang setengah kesal mendengar apa yang dikatakan oleh Jero kepada dirinya.
"Kamu gampang kali ngomongnya sayah. Aku kan malu sendiri jadinya sayang" ujar Vian yang masih tetap dengan pendiriannya mengatakan kalau dia pasti malu dengan apa yang terjadi dan terlihat oleh Juan dan Ivan di layar kamera tersebut.
Pesawat mulai menurunkan roda rodanya dari dalam tubuh pesawat. Vian memegang tangan Jero dengan lumayan kuat. Jero tersenyum ke arah Vian dengan tujuan memberikan semangat kalau dirinya selalu ada di sisi Vian dan jangan cemas akan hal apapun
Setelah pesawat mendarat dengan mulus di landasan pacu. Pesawat kemudian parkir di tempat mereka seharusnya parkir. Juan, Ivan dan keempat pramugari berdiri di depan pintu keluar pesawat. Mereka akan menyapa para penumpang yang akan turun di bandara negara I.
Vian yang melihat Juan dan Ivan berdiri di sana langsung berjalan ke belakang Jero. Vian menggenggam tangan Jero dengan sangat kuat sekali.
"Kenapa dengan kakak ipar ya Bang?" ucap Bram saat melihat tingkah Vian yang aneh dari pada biasanya.
"Tingkahnya juga aneh? Apa ada sesuatu yang terjadi yang kita tidak tahu?" lanjut Bram bertanya kepada Felix abangnya itu tentang kelakuan Vian yang tidak seperti biasanya itu.
"Bisa jadi tapi nanti sajalah cari tahu. Sekarang turun dulu. Abang udah capek sangat pengen langsung mengukur kasur" ujar Felix menjawab pertanyaan dari Bram.
Bram mana bisa di cegah saat keingintahuan nya sudah sampai di puncak ubun ubun. Bram pasti akan mencari tahu semuanya. Bram bukan tipe orang yang akan pasrah saja saat melihat sesuatu yang aneh sedang terjadi.
'Kenapa juga mereka harus berdiri di situ. Nggak usah pake berdiri juga nggak apa apa' ujar Vian mengomel di dalam hatinya saat menyaksikan Juan dan Ivan berdiri di tangga keluar sambil tersenyum.
'Mana mereka senyam senyum lagi.' kata Vian yang masih tetap mengomrl dalam hatinya.
'Vian, Vian. Kamu kok bisa goblok banget coba Vian' lanjut Vian yang kesal sendiri dengan kecerobohan yang dibuat oleh dirinya tadi selama penerbangan.
Jero melirik ke arah Vian. Dia kemudian berhenti. Jero tahu kalau sekarang Vian sedang memaki maki kedua tekan kerjanya itu. Apalagi Juan adalah sahabatnya sedangkan Ivan asisten dan sahabat Bram.
Jero menggenggam erat tangan Vian.
"Kalau kamu kesal sama mereka. Tonjok aja nggak apa apa. Mereka nggak akan marah" ujar Jero berusaha menenangkan Vian kembali.
"Tapi" ujar Vian yang nggak mau melakukan apa yang diperintahkan oleh Jero.
"Haha haha haha. Makanya kalau nggak mau ya udah santai aja sayang. Jangan dipikirkan" lanjut Jero meminta Vian untuk bersikap santai dalam menghadapi Juan dan Ivan yang sebentar lagi akan mereka berdua lalui.
Jero kembali jalan diikuti dengan yang lainnya. Setelah drama berhenti mendadak yang dilakukan oleh Jero tadi, sehingga membuat jalanan menjadi macet seketika. Bahkan Tama hampir saja menubruk Jeri yang berada di depannya saat itu.
"Terimakasih atas perjalanannya bro" ujar Jero mengucapkan terimakasih kepada Juan dan Ivan.
"Sama sama bro" ucap Juan yang sangat senang Jero mengucapkan terimakasih kepada dirinya.
Jero kemudian menjabat tangan Juan dan Ivan tanda mengucapkan terimakasih kepada mereka berdua karena sudah mengantarkan mereka dengan selamat kembali ke negara I. Sebuah perlakuan sederhana tetapi sangat berarti bagi orang orang seperti Juan dan Ivan.
Vian yang berjalan di belakang Jero hanya mengangguk saja kepada Juan dan Ivan. Juan dan Ivan membalas anggukan dari Vian dengan berusaha menahan senyumannya.
Felix dan Bram melihat hal itu. Mereka yakin kakak ipar mereka berubah sikap pasti ada hubungan dengan Juan dan Ivan.
Bram menatap Ivan. Ivan mengangguk ke arah Felix.
"Loe harus cerita nanti" ujar Bram berbisik di telinga Ivan saat dirinya memberikan selamat kepada sahabatnya yang sudah dengan sukses mengantarkan mereka kembali ke negara I.
Ivan mengangguk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Bram kepada dirinya. Bram tidak akan membiarkan dia lolos nantinya.
"Sabar Van" ujar Juan yang melihat raut wajah tertekan dari seorang Ivan. Wajah yang tadi sebenarnya juga sudah tertekan semakin tertekan oleh Bram.
"Loe boleh cerita" ujar Juan memberikan izin kepada Ivan sekaligus membebaskan Ivan dari rasa tertekan nya itu.
"Makasi Bang. Gue bener bener nggak tahu harus ngapain dengan kelakuan bos gue yang satu itu Bang" kata Ivan yang bersyukur diselamatkan oleh Juan dari ketidaktahuan dirinya tentang apa yang akan dijawab oleh Ivan saat ditanya ditanya Bran nanti saat mereka sampai di mansion
"Oke sekarang bersih bersih" ujar Juan memerintahkan semua kru pesawat untuk bersih bersih setelah itu baru pulang ke mess yang terletak di komplek yang sama dengan mansion utama keluarga Asander.
Setelah semua penumpang turun dari dalam pesawat, barulah semua kru ikut turun. Tetapi mereka mereka merapikan isi dalam pesawat terlebih dahulu. Mereka harus menjaga kebersihan pesawat, supaya saat dibutuhkan pesawat akan langsung ready digunakan.
Jero dan Vian serta semua keluarga dan sahabat mereka dan tak ketinggalan pula semua pengawal menuju terminal bandara kedatangan luar negeri untuk melakukan chek semua prosedur yang ada. Mereka melakukan secara bergiliran. Mereka sangat tertib dalam melakukan hal itu.
Tiba tiba saat Jero berbalik karena telah selesai melakukan chek di bagian kedatangan. Seorang pria tua menubruk Jero. Jero menatap ke arah pria yang tinggi itu. Felix dan Bram yang melihat hal itu berlari menuju Jero yang di tubruk oleh seorang pria.
Jero, Felix dan Bram kaget saat melihat siapa sosok pria yang telah menubruk Jero. Mereka tidak menyangka akan ada kejadian seperti itu.