My Affair

My Affair
BAB 47



"Silahkan cari sendiri Tuan. Saya ada kegiatan lain" ujar Pengawal sambil memberikan remot kepada Juan Alexsander. Pengawal sangat kesal dengan gaya Juan Aleksander.


Juan Aleksander mencari chanel televisi yang lain. Tetapi semua chanel sama saja menampilkan kasus yang dibuat oleh Juan Aleksander beberapa hari yang lalu sebelum mereka melakukan perjalanan ke negara H, untuk menyelesaikan permasalahan kapal yang ditahan pihak imigrasi, tetapi sampai sekarang permasalahan itu masih belum selesai juga.


Tuan besar Alexsander langsung berdiri dari kursinya. Dia berjalan menuju mobil. Sopir yang sedang menyuap nasi goreng langsung berdiri dan berjalan lebih dahulu dari pada Tuan Besar. Juan yang melihat Papi sudah jalan, berlari mengejar Tuan Aleksander. Kedua Tuan Aleksander itu masuk ke dalam mobil. Tuan besar Aleksander hanya diam saja sepanjang jalan menuju mansion yang tinggal sedikit lagi.


"Kamu turun, besok temui Papi dan Mami di mansion utama." ujar Tuan besar Aleksander yang sudah sangat murka itu.


"Baik Pi" jawab Juan Aleksander.


Juan Aleksander kemudian turun dari dalam mobil. Dia berjalan menuju pintu gerbang mansion. Satpam yang melihat Tuan mudanya turun dari mobil Tuan besar langsung membukakan pintu pagar mansion lebar lebar.


Juan Aleksander masuk ke dalam mansion dengan wajah cemberut. Dia berharap ada buggy di samping pos satpam. Tapi harapan hanya tinggal harapan jangankan buggy, sepeda aja sudah tidak ada lagi di pos satpam.


"Satpam, apa tidak ada mobil buggy dan sepeda di sini?" tanya Juan Aleksander kepada satpam yang baru saja selesai mengunci pintu gerbang.


"Siap tidak ada Tuan Muda. Semua buggy dan sepeda telah diantarkan langsung ke parkiran mansion." jawab satpam sambil menatap ke arah Tuan mudanya itu.


"Oh baiklah." Jawab Juan Aleksander kepada satpam dengan pasrah.


Juan Aleksander berjalan menuju mansion yang jaraknya dari pintu gerbang ada sekitar seratus meter itu. Juan Aleksander berjalan pelan, dia benar benar kesal dengan semua keadaan kali ini.


"Pasti Tuan Muda panik gara gara berita yang ada di televisi tadi. Makanya, kalau udah kaya jangan banyak gaya, jadi kena batunya sendirikan. Jalan tuh sejauh jauhnya." ujar satpam memaki maki Juan Aleksander


"Woi bro, ngapain maki maki Tuan Muda. Tahu loe bisa di pecat bro" ujar Jero yang berada di dalam pos satpam.


"Gimana lagi bro, dia aneh, nggak bisa di tebak aja pikirannya. Heran gue, manusia kayak gitu bisa menjalankan perusahaan, karena orang orang keren dibelakangnya makanya dia bisa sukses"ujar Satpam menjawab perkataan Jero.


"Saking gobloknya, harusnya dia bisakan ya nyuruh loe ngambil buggy, terus dia nunggu di pos satpam" ujar Jero menambah nambah makian satpam.


"Tapi Alhamdulillah banget dia nggak ingat. Jadi, gue nggak perlu capek capek jalan ke dalam ngambil buggy. Hahahahahaha" ujar satpam tertawa senang saat dia selesai mengucapkan kalimatnya sendiri.


"Udah ah, bisa bisa telat bangun gue kalau terus ngobrol sama loe" ujar Jero.


"Gue masuk dulu. Tapi gue nggak goblok kayak Tuan Muda itu. Gue ada sepeda" ujar Jero.


Jero kemudian berdiri dari kursinya. Dia berjalan ke bagian belakang pos satpam, di bagian belakang itulah Jero menyimpan satu sepeda untuk dipakainya menuju rumah bagian belakang tempat dia tidur.


"Dasar loe, pantesan tadi gue tengok sepeda yang gue pakai nggak ada, ternyata elo pelakunya" ujar satpam geleng geleng kepala. Ternyata Jero lah yang telah menyimpan sepeda yang dipakai satpam tadi.


Jero telah sampai di kamarnya, dia langsung memilih untuk tidur.


Sedangkan Juan Alexsander, dia terlihat berpikir keras di kamarnya yang besar itu.


"Siapa yang telah dengan sengaja menyebarkan foto itu ya? " ujar Juan Alexdander dengan sangat murka.


"Gue nggak habis pikir, apa maksud tu orang menyebarkan semua fhoto fhoto itu" Lanjut Juan Aleksander lagi.


"Rasanya dalam bisnis gue nggak ada musuhan dengan siapapun, kenapa mereka melakukan hal ini ke gue. Gue nggaj habis pikir jadinya" Juan Aleksander memeras otaknya. Dia berpikir keras siapa yang tega dan berani berbuat seperti itu kepada dirinya.


"Apa Papi punya musuh ya dalam berbisnis?" lanjut Juan Aleksander yang sekarang berpikir kalau Papi nyalah yang punya lawan bisnis.


"Gue bener bener tidak mengerti dengan semua ini." ujar Juan frustasi.


Juan kemudian memilih untuk membaringkan tubuhnya ke atas ranjang besar itu. Juan sudah bisa membayangkan bagaimana marahnya seorang Tuan besar Alexsander besok pagi.


Pagi harinya di mansion utama Tuan Alexsander, dia sudah bangun dan menunggu kedatangan Juan Alexsander.


"Ada apa lagi Pi?" tanya Nyonya Alexsander yang tidak mengetahui berita yang sudah tersebar di televisi itu.


"Apa kamu tidak tahu atau pura pura tidak tahu?" tanya Papi mulai murka dengan Mami.


"Sama sekali tidak tahu. Apa yang terjadi lagi?" tanya Mami kepada Papi.


Mami benar benar penasaran dengan kemarahan Papi yang sudah terlihat dari tadi malam saat dia baru saja pulang mengantarkan Juan Aleksander.


"Fhoto fhoto yang waktu itu dikirimkan ke kita, sudah tersebar di media televisi. Jadi, ya intinya semua kelakuan Juan sudah diketahui oleh orang ramai" ujar Papi mengatakan hal apa yang terjadi kepada Mami.


Mami tidak habis pikir dengan semua tingkah Juan. Padahal Mami merasa sudah mendidik Juan dengan sangat bagus dan memberikan semua pelayanan terbaik yang ada di dunia kepada penerus keluarga Aleksander itu.


"Apa dia akan datang ke mansion Pi?" tanya Mami.


"Ya dia akan datang" jawab Papi.


Papi kemudian mengambil koran pagi yang berada di atas meja, Papi membaca koran dan melihat tidak ada berita tentang Juan Aleksander di sana.


"Apa mereka hanya membeberkan di televisi saja? Saya harus cari tahu semua ini. Bukan untuk menolong Juan, tetapi reputasi perusahaan" ujar Papi berkata pelan.


Mami melihat semuanya, tetapi Mami hanya diam saja. Dia takut Papi akan kembali marah dan menyalahkan Mami, karena salah dalam mendidik Juan Aleksander saat dia masih kecil sampai dewasa.


Papi meraih ponsel miliknya. Dia menghubungi seseorang yang dirasa Papi akan cepat menemukan dalang dibalik semua kejadian ini.


Seseorang yang bernama Jeri yang dihubungi oleh Papi, sedang duduk bersama Felix dan Bram.


"Tuan besar nelpon" ujar Jeri kepada Felix dan Bram.


"Angkat aja. Palingan masalah yang kemaren itu" ujar Bram meminta Jeri untuk mengangkat panggilan Tuan besar Aleksander.


"Hallo Tuan besar, ada yang bisa saya bantu?" ujar Jeri yang telah mengaktifkan loudspeaker ponsel miliknya.


Bram sudah mulai merekam semua pembicaraan antara Tuan besar Aleksander dengan Jeri. Dia akan mengirimkan hasil rekaman itu kepada Jero nanti.


"Jeri, kamu dimana? Bisa bantu saya nanti?" tanya Tuan Aleksander. Tuan Aleksander sangat berharap bantuan Jeri.


"Saya masih di negara E, Tuan. Apa yang bisa saya bantu?" ujar Jeri yang berbohong kepada Tuan Besar Aleksander.


Selama ini Jeri memang berada di negara E, tetapi sekarang Felix menghubunginya untuk datang ke negara I membantu dirinya dan Bram selama seminggu.


"Jeri, kemaren malam semua siaran televisi di negara ini menampilkan fhoto fhoto perbuatan Juan yang menyimpang, apakah kamu bisa menolong saya, mencari tahu siapa dalang di balik semua ini?" tanya Tuan besar Aleksander yang sudah mulai frustasi itu.


"Baik Tuan akan saya kerjakan. Tuan tinggal tunggu infonya beberapa jam ke depan" ujar Jeri meyakinkan Tuan besar Aleksander.


Tuan besar Aleksander terdiam. Dia ingin bertanya sesuatu hal kepada Jeri, tetapi mulut dan lidahnya seakan kelu untuk bertanya hal itu.


"Ada yang masih bisa saya bantu Tuan?" tanya Jeri lagi.


Jeri sangat yakin Tuan besar Aleksander masih memiliki pertanyaan yang masih mengganjal di perasaan dan pikirannya.


"Oh tidak ada Jeri. Terimakasih atas bantuan kamu, saya akan kirimkan ke akun kamu" ujar Tuan besar Aleksander.


"Tidak perlu Tuan Besar, Tuan besar tau siapa saya kan. Saya sama sekali tidak bisa menerima uang sepeserpun dari keluarga asli Aleksander. Nyawa akan saya berikan kepada keluarga ini. Jadi, tolong jangan bayar bantuan saya." ujar Jeri dengan sengaja menyindir Tuan Besar Aleksander.


Telepon pun di putus. Bram langsung mengirimkan rekaman itu kepada Jero. Jero belum tahu kalau salah satu sahabat terbaiknya sudah datang ke negara ini. Jeri baru mendarat subuh tadi.


"Loe kirim ke Jero, Bram?" tanya Felix kepada adiknya itu


"Iya Bang. Biar Bang Jero merasa kemari susah, antara harus menjaga calon kakak ipar dengan menemui sahabat terbaiknya yang ada di mansion" ujar Bram sengaja mengerjai Jero.


"Pola pikir loe emang nggak bisa gue tebak sampe sekarang Bram" jawab Jeri yang memang ahli dalam hal itu.


"Hahahaha. Gue juga gagal paham Jer. Apalagi kalau udah berdua aja. Waduh kadang gue mikir. Ne anak dari satu bisa langsung jadi delapan." ujar Felix menyetujui ucapan Jeri.


"Sekarang loe kerjain apa yang diminta Tuan besar. Dia tidak akan percaya kalau hanya nama loe kasih, tanpa ada bukti fisiknya." ujar Felix.


"Gue hafal siapa Tuan Besar itu Felix. Karena sepuluh tahun gue mengenal dia." ujar Jeri menjawab perkataan dari Felix.


"Kami tinggal ya Jer. Gue harus ke perusahaan Asander sedangkan Bram harus ke JFB Grub. Loe nggak apa apakan gue tinggal sendirian di mansion?" tanya Felix yang melihat jam sudah menunjukkan kalau dia harus berangkat ke perusahaan.


"Kalau gue ikut loe boleh Bram?" tanya Jeri yang memang lebih dekat ke Bram. Mereka berdua hampir memiliki sikap dan sifat yang sama.


"Wah boleh Bang. Abang kerjain tugas itu dari laptop gue aja" ujar Bram yang sangat bahagia Jeri memilih ikut dengan dirinya ke perusahaan.