
Mommy masuk ke dalam kamarnya, dia langsung menuju kamar mandi. Mommy sangat ingin berendam dan menghilangkan rasa sakit hatinya, karena pengkhianatan yang nyata nyata sudah dilakukan oleh suaminya.
Seorang suami yang selalu didukungnya dari awal pernikahan mereka. Suami yang ditemani oleh Mommy sewaktu mereka belum sukses seperti sekarang.
"Sayang, aku dan Jero tidak butuh kekayaan seperti ini. Kami berdua hanya butuh kamu saat seperti dulu lagi." ujar Mommy menatap ke langit langit kamarnya.
Mommy terlihat sangat terpukul sekali dengan semua kejadian yang sudah terjadi itu. Mommy tidak menyangka Daddy akan sanggup melakukan hal itu kepada dirinya.
"Kalau memang tidak suka lagi, lebih baik katakan. Jangan seperti ini yang hanya diam tanpa mengatakan apa apa. Aku sakit sangat sakit. Aku bertahan dan pura pura tidak tahu karena ada Jero. Jero butuh Daddy nya untuk berkembang dan belajar." lanjut Mommy sambil mengusap air matanya yang jatuh membasahi pipi.
Mommy merasa kalau dia sudah terlalu lama di dalam kamar mandi. Mommy harus segera keluar dan makan malam. Mommy ingat kalau Jero juga belum makan malam.
Mommy kemudian mandi dengan cepat. Dia tidak perlu lagi memakai parfumnya. Mommy juga tidak berdandan lagi seperti biasanya. Mommy tampil apa adanya. Mommy sudah memutuskan untuk tidak memperdulikan lagi penampilannya mulai saat ini.
Mommy menuju kamar Jero yang terletak di samping kamarnya melalui pintu penghubung, ternyata Jero sedang bermain dengan Bik Ima.
"Mommy" teriak Jero dengan riangnya melihat mommy nya sudah ada di dalam kamar.
"Hay sayang mommy, kita makan malam yuk, Jero lapar nggak?" tanya Mommy sambil memangku Jero.
"Ayuk mommy Jero sudah sangat lapar sekali. Jero ingin makan malam mommy" ujar Jero.
Jero kemudian turun dari pangkuan mommy nya, dia menggandeng tangan mommy menuju ruang makan yang terletak di lantai satu mansion.
"Bik Ima ayuk, panggil Pak Hans sekalian" ujar Mommy mengajak Bik Ima dan Pak Hans untuk makan malam bareng mereka berdua.
Bik Ima berjalan mengikuti Nyonya besar dan Tuan mudanya ke lantai satu. Ternyata Pak Hans sudah menunggu mereka di dekat area dapur bersih.
"Pak Hans ayuk makan sekalian." ujar Mommy mengajak Pak Hans untuk makan bersama dengan mereka.
"Tidak usah Nyonya, kami makan di belakang saja" ujar Pak Hans menolak ajakan dari Mommy untuk makan di meja makan bersama.
"Mommy kita makan di belakang juga lah. Enak makan di belakang" ujar Jero mengajak mommy untuk makan di belakang bersama dengan Bik Ima dan Pak Hans.
"Baik sayang, kita akan makan di belakang bersama dengan Bik Ima dan Pak Hans. Kita ambil makanan kita dulu" ujar Mommy setuju untuk mereka makan malam di belakang bersama dengan Bik Ima dan Pak Hans.
Mommy kemudian mengambil makanan untuk dia dan juga Jero. Mommy kemudian kembali ke arah Jero dengan dua piring makanan yang sudah diambil Mommy. Mereka berempat menuju bagian belakang rumah untuk makan malam bersama.
"Gimana Mommy, enak kan makan di sini?" tanya Jero kepada Mommy.
"Enak. Jero sering makan di sini?" tanya Mommy kepada Jero.
"Sering. Jero makan di sini dengan Bik Ima dan Pak Hans." jawab Jero yang memang sudah sangat sering makan malam di belakang kalau Daddynya tidak pulang, mommy memilih untuk tidak makan malam.
Mommy berjalan ke arah Jero. Mommy memeluk Jero dengan sangat kuat.
"Maafkan mommy sayang. Kemaren kemaren mommy sangat egois sekali, sehingga beberapa kali kamu terpaksa makan malam sendirian. Maafkan mommy, mommy janji tidak akan melakukan hal itu lagi sayang" ujar Mommy memeluk erat Jero dan menangis dalam pelukan Jero.
"Mommy nggak salah, yang salah dia. Dia akan menerima ganjarannya mommy" kata Jero dengan nada yang sangat dingin.
Anak seusia Jero sudah bisa memakai nada kebencian seperti itu. Suatu dendam yang tidak akan berakhir cepat dari dalam dirinya.
"Jero nggak marah Mommy, beneran Jero nggak marah" jawab Jero.
Ucapan Jero tidak sampai ke matanya sama sekali. Jero masih menyimpan dendam itu.
Mereka berempat melanjutkan obrolan ringan mereka. Jarak antara pemilik rumah dengan maid sudah tidak ada lagi. Mommy menganggap bik Ima adalah sahabatnya.
Saat mereka mengobrol itulah datang Rina yang baru saja dari luar.
"Eh ada Nyonya besar" jawab Rina dengan wajah yang kaget saat melihat ada Mommy duduk di belakang mansion.
"Dari mana Rina?" tanya Mommy kepada Rina yang terlihat sangat salah tingkah itu.
"Dari rumah saudara saya yang jadi maid di mansion depan nyonya besar" jawab Rina yang sudah mulai takut melihat wajah Mommy yang tanpa senyuman itu.
"Ooo. Terus kenapa leher kamu bisa ada merahnya itu?" ujar Mommy sambil menunjuk ke arah leher Rina yang ada bekas ciuman yang berjejak di sana.
Rina terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Mommy, Rina tadi memang tidak sempat memperhatikan lehernya sehabis dia melakukan kegiatan membakar kalori bersama Tuan Besar Aleksander. Tadi Rina langsung saja pulang saat sudah melakukan kegiatan itu. Dia sama sekali tidak sempat memeriksa keadaan dirinya.
"Digigit nyamuk Nyonya. Tadi di luar sangat luar biasa banyak nyamuknya Nyonya, saya sepertinya digigit" ujar Rina menjawab perkataan dari Nyonya besar Aleksander.
"Digigit nyamuk?" tanya Mommy kepada Rina dengan pandangan tidak percaya sama sekali.
"Boleh saya lihat?" tanya Mommy.
Rina terdiam, dia berada dalam posisi sangat sulit hari ini. Antara memperbolehkan mommy melihat atau tidak hasil gigitan nyamuk yang dikatakan oleh Rina.
"Jangan Nyonya. Hanya digigit nyamuk biasa" ujar Rina yang tidak ingin Mommy melihat bekas hasil karya lukisan Tuan besar Aleksander di sana.
"Bik Ima tolong ambilkan minyak angin ya ke dalam. Pak Hans tolong bawa Jero ke kamar hari sudah malam, biar Jero bisa beristirahat lagi. Kasihan dia tidur kemalaman" ujar mommy memberikan instruksi kepada Bik Ima dan Pak Hans untuk melakukan pekerjaan mereka.
"Kamu tunggu di sini. Saya mau berbicara terlebih dahulu dengan anak saya" ujar Mommy berkata dengan sangat tegas kepada Rina.
Rina terdiam, dia hanya bisa mengangguk tanpa mengeluarkan kata kata. Rina menatap tajam ke arah Mommy. Mommy membalas tatapan dari Rina.
Mommy kemudian berjalan ke arah Jero yang sedang duduk sendirian dan berusaha di bujuk oleh Pak Hans untuk mau masuk ke dalam kamar dan beristirahat. Tetapi Jero sama sekali tidak mau mengikuti keinginan dari Pak Hans.
"Sayang, kamu dengan Pak Hans masuk ke kamar dulu ya. Nanti mommy akan tidur di kamar kamu" ujar Mommy berusaha membujuk Jero dengan kata kata halusnya.
"Tapi Mommy jangan kalah sama dia ya" ujar Jero menatap Rina dengan tatapan tajamnya.
"Tidak sayang, Mommy tidak akan kalah melawan dia" jawab Mommy
"Mommy janji?" jawab mommy.
"Oke"
Jero setuju dengan perjanjian yang dibuatnya dengan Mommy. Jero kemudian menuju kamarnya diantar oleh Pak Hans.
Mommy kemudian menatap kearah Rina. Mommy kembali menuju Rina yang masih berdiri di sana.