
Jero kemudian membelokkan mobilnya masuk ke dalam perkarangan sebuah rumah makan nasi Padang. Mereka akan makan di sana karena Vian sangat suka makan nasi padang.
"Sayang, ini bener bener enak setiap makanan yang mereka sajikan dan mereka buat. Aku sangat suka sayang" ujar Vian sambil menatap wajah Jero.
"Makanya aku membawa kamu ke situ. Biar kamu tau gimana lezatnya makanan yang disajikan oleh rumah makan ini" ujar Jeri menjawab perkataan Vian.
Setelah mereka makan, Jero dan Vian baru akan pulang ke mansion. Jero sudah memiliki firasat kalau mansion akan dalam keadaan memanas hari ini. Karena semua berita yang ada di televisi.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Pagi harinya Juan Aleksander telah bangun dari tidur yang sangat tidak nyenyak sama sekali, karena permasalahan yang sedang membelit dirinya. Apalagi saat mendengar Papi meminta dia untuk datang ke mansion pagi ini.
"Badan dan otak luar biasa capeknya, ada ada aja masalah yang harus gue hadapi. Ini karena wanita itu, semenjak menikah dengan dia aku selalu saja ditimpa masalah. Mulai dari kapal di tahan, belum sekarang skandal yang pertama dikira udah selesai, ternyata sama sekali belum" ujar Juan Alexaander menggerutu masuk ke dalam kamar mandi yang super luas dan mewah milik dirinya itu.
"Gue akan buat perhitungan dengan wanita itu setelah ini" ujar Juan Aleksander sambil meremas tangannya.
Juan Aleksander kemudian mandi membersihkan badannya. Dia benar benar panik karena permasalahan ini. Permasalahan yang tidak disangka sangka oleh Juan Aleksander akan terjadi saat ini.
"Semoga tidak berdampak ke harga saham perusahaan" ujar Juan Aleksander yang hari ini belum melihat harga saham perusahaannya.
Kalaulah sempat dilihatnya harga saham perusahaan hari ini, maka bisa dipastikan Juan Aleksander akan mati berdiri. Harga saham jatuh total ke dasar jurang, baru kali ini perusahaan Aleksander yang terjun bebas selama perusahaan itu berdiri.
Juan Aleksander menyelesaikan mandinya dengan sangat cepat. Dia tidak mau kalau Papi menghubunginya berkali kali. Juan memasang pakaian kerjanya dengan super cepat.
"Oke, tinggal berangkat" ujar Juan Aleksander yang telah selesai bersiap siap. Juan Aleksander kemudian mengambil tas dan ponsel miliknya.
Juan berjalan keluar dari kamarnya menuju meja makan. Dia melihat Bik Ina telah menyiapkan menu sarapan.
"Mau disiapkan untuk sekarang Tuan?" tanya Bik Ina kepada Juan Aleksander.
"Boleh Bik" jawab Juan sambil melihat ponsel miliknya.
Bik Ina mengambilkan menu sarapan Juan Aleksander. Sepiring nasi goreng lengkap dengan semua lauk nya.
"Silahkan Tuan Muda" ujar Bik Ina yang telah selesai mengambilkan menu sarapan untuk Juan Aleksander.
Juan Aleksander makan nasi goreng itu dengan cepat. Dia tidak perduli gimana tanggapan semua pelayannya. Bagi Juan Aleksander sekarang terpenting adalah dia bisa cepat bertemu dengan Papi membahas semua kejadian ini.
"Itu suami nggak ingat sama istrinya apa. Sama sekali tidak bertanya Nyonya muda dimana. Suami apaan lah tu orang" ujar Bik Ina yang telah berubah haluan selalu membela dan mendukung Vian.
Bik Ina menyadari kalau nyonya mudanya selalu menjadi yang disalahkan oleh tuan muda yang berperangai luar biasa ajaib itu.
"Bik, saya ke mansion utama dulu." ujar Juan Aleksander memberitahukan kepada Bik Ina dia akan langsung menuju rumah Papi.
"Oke tuan muda" jawab Bik Ina.
Juan Aleksander langsung masuk ke dalam mobilnya. Sopir telah menunggu dia berdiri di sana dan telah membukakan pintu mobil dengan lebar. Mobil bergerak meninggalkan mansion Juan Aleksander untuk menuju mansion utama Aleksander.
"Kita ke mansion utama" ujar Juan Aleksander memberitahukan tujuan mereka kepada sopir.
"Siap tuan" ujar sopir.
Sopir menyetir mobil dalam kecepatan biasa saja. Juan Aleksander yang melihat sopir melakukan mobil dalam kecepatan santai menggeriti di bangku belakang.
"Maaf Tuan. Saya kira karena kita mau ke rumah Tuan besar, maka tidak perlu cepat sampai di sana" ujar sopir menjawab perkataan dari Juan Aleksander.
"Saya tidak Terima alasan apapun" ujar Juan Aleksander dengan nada marah kepada sopirnya.
Sopir kemudian menginjak pedal gasnya agak dalam. Dia tidak mau Tuan Muda Aleksander itu mengamuk nantinya.
Setelah lebih kurang lima puluh menit berkendara, mobil Juan Aleksander memasuki gerbang utama mansion Aleksander.
Sopir memberhentikan mobil tepat di depan teras mansion utama tersebut. Juan Aleksander melihat dari dalam mobil Papi dan Mami sudah duduk di teras rumah.
"Sepertinya Papi serius menyambut kedatangan gue" ujar Juan Aleksander yang menyaksikan Papi dan Mami telah menunggu dirinya di kursi teras mansion.
Juan kemudian keluar dari dalam mobil. Dia berjalan menuju Papi dan Mami yang sedang duduk di teras mansion.
"Pagi Pi, Mi" ujar Juan menyapa kedua orang tuanya dengan nada ramah.
Juan Aleksander menyalami kedua orang tuanya itu. Papi dan Mami terlihat biasa saja. Tetapi sebenarnya mereka berdua marah dan sangat emosi dengan Juan Aleksander.
Plak. Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Juan. Juan memegang pipinya yang memerah karena tamparan keras dari Tuan Besar Aleksander.
"Papi, di ruangan kerja saja Papi. Malu dengan semua pelayan yang ada di mansion. Kita selesaikan dengan baik baik di ruangan kerja, tidak di teras mansion seperti ini." ujar Mami mengajak Papi untuk menyelesaikan permasalahan mereka di dalam ruangan kerja Papi.
"Mami, malu dengan para pelayan? Kenapa Mami tidak malu dengan semua masyarakat yang mengetahui berita ini Mami. Se negara kita bahkan negara luar mengetahui apa yang terjadi di keluarga kita Mami" ujar Papi murka mendengar apa yang dikatakan oleh Mami.
Mami terdiam mendengar apa yang diucapkan oleh Papi. Mami sadar kalau dia memang salah, tidak seharusnya Mami mengatakan hal itu.
Papi, akhirnya mengalah kepada kehendak Mami. Papi berjalan masuk ke dalam mansion. Mami dan Juan mengikuti Papi dari belakang, mereka bertiga masuk ke dalam ruang kerja Papi yang berada di lantai dua mansion.
"Duduk" ujar Papi dengan nada yang luar biasa tinggi kepada Juan.
Mami hanya bisa mengurut dadanya saja dengan semua kelakuan dari Papi. Papi benar benar marah, Mami sudah tidak bisa lagi membela Juan untuk sekarang ini.
"Juan, sekarang saya tanya sama kamu, apa yang akan kamu lakukan dengan semua keadaan seperti sekarang ini?" ujar Papi kepada Juan.
Juan hanya diam saja. Dia sama sekali tidak bisa berbicara apapun lagi kepada Papi. Juan tidak menjawab perkataan Papi. Juan tau, dia yang menyebabkan semua ini terjadi. Makanya, Juan memilih untuk diam saja, dia tidak kuat untuk melawan pagi.
"Tuan Juan Aleksander, apa anda tau, bagaimana kondisi saham perusahaan sekarang?" tanya Papi kepada Juan dengan nada tinggi.
Juan menggeleng, dia belum sempat melihat harga saham perusahaan mereka sekarang. Ntah apa yang terjadi terhadap harga saham mereka sekarang.
"Anda tidak tahu bukan. Saya heran, kenapa Anda bisa menerima award sebagai pengusaha muda terbaik di negara ini. Saya yakin Anda pasti menyuap para jurinya" ujar Papi menghina anak kandungnya sendiri. Pewaris tunggal perusahaan Aleksander Grub.
"Maaf Tuan besar, saya tidak pernah menyuap siapapun. Saya juga tidak ingin menerima gelar itu. Karena saya tahu saya tidak layak. Tapi karena mengingat nama besar yang saya sandang makanya saya mau menerima penghargaan itu" ujar Juan yang pada akhirnya menjawab apa yang dikatakan oleh Papi.
Plak, sebuah tamparan kembali mendarat di pipi Juan.
"Masih berani kamu menjawab perkataan saya? luar biasa kamu jadi manusia. Kamu masih bisa menjawab, kamu terbuat dari apa?" ujar Papi murka kepada Juan yang sudah berani menjawab perkataannya tadi. Papi menunjuj Juan dengan tangan kirinya.
"Kamu jangan pernah menguji saya Juan. Saya tidak suka diuji uji oleh siapapun." ujar Papi semakin murka kepada Juan.
Juan dan Mami terdiam karena kemarahan Papi. Papi benar benar murka mendengar apa yang dikatakan oleh Juan. Juan masih berani menjawab perkataan dari Papi.