
'Tuan benar benar mencintai Nona Vian. Hanya masalah makan saja Tuan bisa semarah ini kepada Nona Vian. Apa lagi kalau Nona Vian sempat terluka, ntah apa yang akan terjadi lagi. Bisa dipastikan dunia akan gempar oleh Tuan Muda' ujar Hendri dalam hatinya.
'Nona Vian layak berbahagia, karena mendapatkan Tuan Muda yang luar biasa perhatian. sangat jarang seorang CEO pemilik perusahaan begitu bucinnya sama kekasihnya sendiri. Terlebih dengan latar belakang Nona Vian seperti sekarang ini' kata pengawal Vian dalam hati dan pikirannya
Mobil yang kemudikan oleh Hendri telah berbelok masuk ke dalam perkarangan sebuah restoran bintang lima. Tempat makan siang favorit Jero dan Vian serta kedua adik Jero.
"Tuan, kita sudah sampai" kata Hendri.
Pengawal Vian membukakan pintu untuk Jero dan Vian keluar dari dalam mobil. Jero membantu Vian keluar dari dalam mobil. Jero memperlakukan Vian seperti seseorang yang sedang sakit.
"Sayang, aku baik baik saja. Tidak dalam kondisi sakit. Jadi tolong jangan perlakukan aku seperti orang yang sedang sakit" ujar Vian saat melihat Jero yang bertingkah aneh seperti itu.
"Jangan banyak komentar. Siapa suruh tidak makan siang" jawab Jero dengan nada final dan tidak bisa diganggu gugat lagi.
"Huft. Masih karena hal yang sama juga baru" ujar Vian dalam hatinya dengan nada sedikit kesal.
Jero menatap ke arah Vian yang mengeluh tersebut. Vian melongos dari tatapan Jero.
"Hendri kenapa tidak ruang VVIP?" ujar Jero saat melihat meja reservasinya berada di luar, tidak pada tempat biasanya.
"Maaf Tuan, kita terlambat memesan. Semua ruangan VVIP sudah penuh" jawab Hendri dengan menundukkan kepalanya.
Hendri sudah bisa membayangkan hal ini pasti akan terjadi. Jero paling tidak suka makan di meja luar. Dia selalu memilih makan di ruangan VVIP karena Jero sangat butuh privasi.
"Apa kamu katakan!!!!!!!!!!" ujar Jero dengan emosi saat mendengar alasan yang diberikan oleh Hendri kepada dirinya.
"Maafkan saya Tuan" jawab Hendri.
Nada takut mendominasi suara Hendri. Ketakutan yang membuat suara Hendri menjadi bergetar hebat.
"Sayang sudahlah, jangan diperpanjang lagi. Dimanapun kita makan tidak jadi masalah. Terpenting adalah aku makan" kata Vian.
"Kamu selamat kali ini Hendri" ujar Jero.
Para pelayan datang menghidangkan menu menu yang sudah dipesan oleh Hendri. Semua menu yang dipesan adalah menu menu nomor satu di restoran tersebut.
Saat itulah sebelum Vian sempat menyuap nasi yang sudah ada di dalam sendoknya, seorang wanita sosialita lengkap dengan sahabat sahabatnya keluar dari salah satu ruangan VVIP. Dia melihat Vian yang duduk di sana dengan seorang laki laki yang memakai jas lengkap seperti seorang CEO.
"Wah Jeng Yanti, bukannya ini menantu kamu yang kabur dengan pria lain itu?" ujar salah seorang nyonya dengan gaya khas mereka.
"Bener itu Jeng. Kan wanita ini sudah tinggal satu atap dengan pria tersebut" sambut nyonya sosialita yang lainnya.
"Wah wah wah, Jeng Jeng. Sepertinya anak kamu Juan itu sudah layak menendang dirinya. Mereka memang tidak pas untuk menjadi sepasang suami istri" lanjut nyonya sosialita yang berbicara pertama tadi.
Jero menatap tidak suka kepada tiga orang nyonya nyonya yang mengatakan diri mereka dari kalangan sosialita itu.
Hendri hendak maju.
"Saya saja" ujar Jero.
Jero berdiri dari kursinya. Vian meremas tangan kekasihnya itu. Vian tidak ingin terjadi kehebohan antara Jero dengan tiga nyonya tersebut.
"Kamu tenang saja" kata Jero menenangkan Vian.
Vian mengangguk, dia sangat yakin kalau Jero pasti bisa mengendalikan dirinya. Vian percaya dengan Jero.
"Nyonya"" kata Jero sambil menunjuk Nyonya yang pertama sekali mengata ngatai Vian.
Jero mengangguk.
"Anda istri dari Tuan Atmajaya?" ujar Jero menyebutkan nama suami dari nyonya tersebut.
"Oh ya itu suami saya. Pengusaha sukses yang swalayan nya berada di mana mana, seperti jamur yang tumbuh di hari hujan" kata Nyonya sosialita itu dengan nada bangga.
"Hendri, telpon Tuan Atmajaya" ujar Jero dengan nada dingin.
Hendri menghubungi Tuan Atmajaya.
"Haha haha, tidak akan diangkat telpon anda oleh sumi saya. Anda bukan siapa siapa" ujar Nyonya sosialita itu masih dengan pongahnya.
Jero menatap ke arah Hendri.
"Tuan ini, panggilan sudah tersambung dengan Tuan Atmajaya" ujar Hendri.
Hendri memberikan ponsel miliknya kepada Jero.
'Kamu akan menerima akibatnya Nyonya. Anda tidak tahu berapa persen saham di setiap swalayan Anda yang dimiliki Tuan Jero' ujar Hendri dengan tatapan tajam kepada Nyonya sosialita yang berdiri di hadapannya saat ini.
"Tuan Atmajaya, anda pasti kenal dengan wanita yang di depan saya ini" ujar Jero sambil memperlihatkan wajah istrinya yang tadi mengata ngatai Vian.
"Kenal Tuan, sangat kenal sekali" jawab Tuan Atmajaya.
Nyonya besar itu menatap tidak percaya ke arah Jero, suaminya yang bisa dikatakan pengusaha sukses itu memanggil Jero dengan sapaan Tuan.
Hal yang sama juga terjadi dengan Nyonya Aleksander, dia ikut ikutan menatap tidak percaya ke arah Jero.
"Wanita ini sudah dengan ringannya mencaci maki calon istri saya" kata Jero mengatakan kepada Tuan Atmajaya apa yang sudah dilakukannya kepada Vian.
"Karena dia sudah luar biasa mencaci calon istri saya. Maka dengan berat hati, nanti pengacara saya akan datang ke tempat Anda untuk mencabut saham perusahaan saya semuanya di perusahaan Anda" kata Jero melempar bom ke wajah Tuan dan Nyonya Atmajaya.
"Tapi Tuan besar. Tolong jangan lakukan itu Tuan besar. Saya mohon maafkan kesalahan yang telah dilakukan oleh istri saya Tuan" kata Jero dengan nada terbata bata.
"Tuan mohon maafkan kelakuan istri saya Tuan" kata Tuan Atmajaya masih mencoba peruntungannya.
"Anda sudah tahu tipe saya Tuan."
"Saya paling tidak suka, kalau keluarga saya diusik" ujar Jero.
Jero tanpa basa basi mematikan ponselnya. Panggilan dengan Tuan Atmajaya sudah langsung terputus.
Nyonya Atmajaya menatap tidak percaya ke arah Jero. Hanya karena dia melecehkan Vian, mereka harus mengalami musibah besar.
"Anda berani menepuk saya satu kali. Maka saya akan menampar Anda langsung" ujar Jero dengan nada dinginnya.
"Tuan, tolong maafkan saya" ujar Nyonya Atmajaya sembari maju menuju Jero.
"Maaf Nyonya, tolong berdiri di tempat Anda. Jangan maju selangkahpun." kata Hendri melarang Nyonya Atmajaya untuk mendekati Jero.
Nyonya Atmajaya berdiri di tempatnya kembali. Sedangkan Jero sudah melanjutkan makan siangnya dengan Vian. Vian berusaha menempatkan dirinya untuk menjadi tidak tahu akan kejadian yang sedang terjadi itu.
Mami, Nyonya Atmajaya dan satu lagi teman sosialita Mami berjalan pergi meninggalkan tempat Vian dan Jero sedang menikmati makan siang mereka.