
Jero, Felix, Bram, Jeri dan Tama kembali melanjutkan obrolan yang lainnya lagi, sedangkan Vian dan Greta hanya duduk mendampingi Jero dan Jeri. Para pengawal yang lain sudah meminta pemain musik yang ada di kafe untuk memainkan musik jedag jedug nya. Walaupun mereka tidak meminta minuman beralkohol, tetapi para pengawal meminum jus dan soft drink, mereka bergoyang dengan bertingkah seperti orang yang sedang mabuk. Mereka bergoyang sambil sekali sekali menyanyikan sebuah lagu. Mereka melagu dengan nada yang suka suka mereka. Mereka tidak memikirkan apakah orang orang telinganya nyaman mendengar saat mereka melagu atau tidak, mereka sama sekali tidak memperdulikan hal itu. Bagi mereka mereka melagu, maka semuanya senang dan harus mendengarkan.
Para tuan muda yang melihat bagaimana tingkah para pengawal hanya bisa geleng geleng kepala saja. Mereka semua menyaksikan kebahagiaan para pengawal itu denga tersenyum.
"Membahagiakan orang lain tidak perlu dengan yang mahal mahal, cukup dengan memberikan mereka sesuatu yang belum mereka lakukan selama ini" ujar Tama menyaksikan bagaimana bahagianya para pengawal saat mereka menyanyi dan bergoyang seperti sekarang ini.
"Setuju Tam" ujar Vian yang setuju dengan perkataan Tama sebentar ini.
"Sepertinya mereka memang butuh hiburan seperti ini setiap sebulan sekali minimal sayang" ujar Vian memberikan komentarnya dan sarannya kepada Jero
"Bener sayang. Bisa diagendakan" jawab Jero sambil tersenyum kepada Vian.
Jero sangat senang Vian bisa mengerti dan memahami apa yang dilakukan para pengawal di depan mereka saat ini. Vian bisa menyimpulkan apa yang dijadikan landasan kesenangan dan kebahagiaan oleh pengawal saat mereka diberikan kebebasan seperti sekarang.
Tiba tiba Vian berdiri dari posisi duduknya. Dia bertepuk tangan pertanda kalau ada yang mau diumumkan oleh dirinya. Pemain musik yang melihat kode yang diberikan oleh Vian, langsung saja menghentikan permainan musiknya. Para pengawal kemudian melihat ke arah Vian.
"Maaf kepada semuanya kalau saya sudah mengganggu acara goyangan Anda semua." ujar Vian membuka suaranya.
Suara merdu milik kekasih Jero Asander itu bergema dengan lantang diruangan terbuka tersebut. Walaupun Vian tidak memakai pengeras suara tetapi suaranya terdengar jelas di area terbuka kafe tersebut.
Semua orang menatap ke arah Vian. Mereka semua penasaran dengan pengumuman apa yang akan diberikan oleh Vian sebentar lagi. Jero termasuk salah satu orang yang penasaran saat mendengar Vian bisa mendiamkan semua orang yang sedang berjoget itu, terlepas dari posisi Vian siapa di sana. Tetapi dengan suara bulatnya Vian bisa menghipnotis orang orang untuk mendengarkan dirinya.
"Saya mohon perhatiannya sebentar untuk mendengarkan apa yang akan saya katakan" ujar Vian dan membuat semua orang menjadi penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Vian.
"Berhubung tadi siang yang bertanding adalah kami kami yang ada di sini. Sekarang saya minta semua pengawal yang sudah dibagi untuk menjadi pengawal siapa saja melakukan pertandingan menyanyi." ujar Vian.
Semua pengawal menatao ke arah Vian. Mereka kurang memahami apa yang dikatakan oleh Vian.
"Maksud saya begini. Contoh Anda semuakan sudah ada mengawal siapa saja. Ada kelompok mengawal Jero, Jeri, Tama, Felix dan Bram serta Saya dan Greta. Nah masing masing kelompok mengirimkan satu penyanyi terbaik untuk bertanding." kata Vian menjelaskan apa yang dikatakan oleh dirinya tadi.
Vian melihat semua pengawal sedikit tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Vian. Sehingga mau tidak mau Vian harus menjelaskan kepada pengawal apa maksud dari perkataannya itu.
"Oh begitu. Kami setuju Nona muda. Tapi hadiahnya apa?" ujar salah seorang pengawal yang Vian tidak pernah melihatnya di mansion utama.
Vian menebak kalau pengawal itu bukanlah pengawal Jero dan kedua adiknya. Vian menatap ke arah pengawal tersebut.
"Hadiahnya perjalanan wisata ke Negara Arab selama tujuh hari. Biaya perjalanan, biaya hotel di tambah dengan uang saku akan saya tanggung" ujar Vian yang memang sudah meniatkan itu untuk dijadikan hadiah.
"Serius tuh?" ujar Tama saat mendengar apa yang dijadikan hadiah oleh Vian.
Vian berani mengatakan hal itu karena dia yakin kalau Jero tidak akan menolak keinginan dirinya.
Jero memberikan jempolnya kepada Vian. Dia menyetujui rencana yang ada di dalam otak Vian. Rencana yang memang sudah disusun oleh Vian.
"Kalau Bang Jero apapun itu dia pasti akan langsung setuju kalau udah Vian yang buka cerita" kata Bram
"jadi nggak perlu kaget..... Tenang saja" lanjut Bram sambil melihat ke arah Abang tertuanya yang memang sangat terlihat jelas buta cinta kepada Vian.
"Nah bagaimana apa setuju dan mau mengikuti pertandingan dengan hadiah yang begitu menggiyurkan?" ujar Vian mengajukan pertanyaan kepada semua pengawal yang hadir dan ada di sana.
"Setuju Nona muda. Kami akan mengambil umpan yang Nona muda lemparkan kepada kami. Kami akan sangat senang dan serius dalam menghadapi perlombaan ini Nona muda" ujar pengawal yang tadi bertanya tentang hadiah kepada Vian.
"Oke sip. Sekarang silahkan kalian rembuk kan dulu siapa yang akan kalian pilih untuk mewakili kelompok masing masing. " ujar Vian memberikan perintah selanjutnya.
"Tapi Nona muda, siapa yang akan menjadi jurinya?" ujar pengawal yang berbeda.
"jurinya langsung pemain band. Mereka langsung akan memberikan penilaian kepada kita semua" ujar Vian yang memberikan perintah untuk menilai kepada pemain band.
Pemain band yang mendengar apa yang dikatakan oleh Vian terlihat langsung berembuk. Vian melihat kegelisahan pemain band.
"Pemain band tenang saja, tidak akan ada dari kami yang mengintervensi pemain band. Kita di sini murni hanya melakukan pertandingan. Siapa yang menang itu memang atas kemampuan dia" ujar Vian yang sangat mengerti dengan kegelisahan dari pemain band tersebut.
Walaupun Vian sudah mengatakan hal itu, pemain band tetap dengan wajah cemas mereka. Vian masih bisa melihat hal itu dengan sangat jelas.
Vian tersenyum melihat para pemain band itu. Vian kemudian berdiri dan berbisik ke telinga Jero. Hanya Jero yang bisa menenangkan para pemain band itu sekarang. Apapun yang dikatakan oleh Vian tidak akan membuat pemain band itu percaya. Mereka akan tetap dengan segala pemikiran di kepala mereka sendiri saja.
Jero kemudian berdiri setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Vian kepada dirinya. Mereka yang duduk merasa heran melihat Jero yang mendadak berdiri tersebut.
"Para pemain band. Saya Jero Asander menyatakan kalau apapun hasil pilihan oemenang dari pemain band asalkan itu adalah sebuah kejujuran, maka kami akan menerimanya. Kita tidak usah memandang apakah penyanyi yang tampil itu adalah tim saya atau tim siapapun." ujar Jero berusaha meyakinkan para pemain band tersebut.
"lagian saat mereka tampil kami tidak akan menyebutkan dia tim dari mana. Jadi pemain band terhindar dari intervensi siapapun" ujar Jero sambil melihat ke arah pemain band.
"terimakasih tuan muda. kami sudah aman" ujar pemain band.
Semua pengawal kemudian berembuk siapa yang akan mewakili grub mereka untuk tampil mewakili dalam pertandingan menyanyi tersebut. Mereka berembuk dengan bersemangat. Hadiah itu sangat menggiurkan bagi mereka. Walaupun yang pergi satu orang tapi semangatnya untuk bersama sama.
Jiwa kekeluargaan sudah terbentuk dalam diri semua pengawal Jero. Mereka sangat menjunjung tinggi jiwa kekeluargaan tersebut.