My Affair

My Affair
BAB 128



"Sayangku urusan kita belum selesai ya. Aku masih belum menerima jawaban dari kamu loh" ujar Vian yang kembali mengucapkan hal yang sama kepada Jero setelah menerima pesan chat dari Bram.


Bram meminta supaya Vian mengatakan hal itu kepada Jero sekarang juga saat mereka ramai di ruangan itu. Bram mengatakan kalau Vian sekarang mengutarakan apa yang diinginkannya kepada Jero, maka Vian akan dibantu oleh mereka semua yang berada di dalam ruangan itu.


"Sayang" ujar Vian sekali lagi menyapa Jero dan menatap Jero dengan tatapan memohon untuk bisa dikabulkan apa yang diinginkan oleh Vian sekarang ini.


"Apa sayang, dari tadi hanya sayang kabulkan ya. Sayang mau ya. Sayang urusan belum selesai ya. Itu aja terus, kamu sebenarnya mau ngomong apa? Jadi jelaskan nggak berbelit belit seperti ini" ujar Jero meminta Vian untuk menjelaskan apa yang diinginkan sebenarnya kepada Jero.


Bukan dengan mengatakan hal hal yang sifatnya nanggung dan tidak jelas itu. Jero sama sekali malas main tebak tebakan dengan Vian. Apalagi menebak apa yang ada dalam pikiran Vian. Itu adalah suatu pekerjaan yang sia sia saja menurut analisa Jero.


"Tapi janji dulu mau mengabulkan" ujar Vian sambil menatap ke arah Jero.


"Sayang itu lagi. Katakan dulu apa yang mau kamu minta, nanti kata kabulkan atau tidak kita hitung kemudian saja" ujar Jero yang tetap tidak mau mengatakan dia mengabulkan keinginan Vian apapun itu.


"Aku maunya sekarang kamu ngomong, iya sayang, aku mengabulkan keinginan kamu" ujar Vian memberikan contoh bagaimana cara Jero seharusnya menjawab apa yang ditanyakan oleh Vian kepada dirinya.


"Cuma gitu doang sayang. Masak susah sekali" ujar Vian yang mulai merajuk kepada Jero. Vian memanjangkan mulutnya sepanjang lima senti, ini menandakan kalau Vian sudah marah dan kesal kepada Jero


Vian sudah mengeluarkan jurus andalannya untuk menghadapi Jero yang sedikit kelewatan hari ini, karena tidak mau menjawab apa keinginan dari Vian.


"Bang cuma ngomong iya aku kabulin susah amat. Dari tadi perasaan masalah ini nggak kelar kelar juga. Heran. Begitu ribet banget hidup orang yang pacaran" ujar Bram berkata kepada Jero untuk menyelesaikan masalah antara dirinya dengan Vian secepatnya.


"Gimana mau jawab dikabulin. Aku aja nggak tau dia maunya apa. Nanti salah kabulin eee eee dia minta dibelikan bumi" ujar Jero sambil menatap usil ke arah kekasihnya yang sudah cemberut tersebut.


Plak. Sebuah pukulan mendarat tepat di bahu Jero. Pukulan itu diberikan oleh Vian. Jero menatap ke arah Vian.


"Kok mukul?" tanya Jero dengan wajah tanpa dosanya saja bertanya kepada Vian kenapa Vian memukul dirinya dengan begitu kuat.


"Masih untung aku pukul, kalau aku lempar gimana?" ujar Vian menatap tajam ke arah Jero yang seenaknya saja mengatakan kalau Vian menginginkan membeli bumi.


"Iyalah sayang. Masak kamu mengatakan kalau aku mau membeli Bumi. Emang bumi diperjual belikan. Aneh kamu." ujar Vian yang protes kalau dia tidak akan membeli bumi.


"Kamu yang salah sayang. Aku tanya, kamu mau apa, jawaban kamu ke aku, setuju dulu baru aku katakan. Itu aja terus" ujar Jero yang protes kepada Vian, karena Vian sama sekali tidak mau mengatakan apa yang diinginkan dirinya kepada Jero.


"Sayang, kan udah aku bilang setujui dulu, baru aku katakan apa yang aku mau" lanjut Vian mengulang kembali apa yang diinginkan dirinya dari Jero.


Jero menggeleng mendengar permintaan dari Vian. Vian sangat gigih untuk meminta sesuatu yang harus di setujui oleh Jero. Jero juga meminta kepada Vian untuk mengatakan apa yang diinginkan oleh dirinya.


"Abang, kakak ipar. Kalau seperti ini kapan selesainya permasalahan antara kalian berdua. Kami sudah capek jadi tim pendengar dan tim yang melihat keributan sepasang kekasih yang nggak tau kapan berujung nya" ujar Bram yang langsung menyuarakan isi hati mereka semua yang sudah terlalu bosan mendengar keributan antara Jero dan Vian yang tidak juga selesai selesai.


"Bilang sama kakak ipar kamu ini supaya menyampaikan apa yang ingin dikatakannya kepada aku. Biar semua urusan selesai dengan cepat" ujar Jero kepada Bram.


Jero menatap ke arah Vian. Vian menjulurkan lidahnya ke arah Jero. Jero hanya bisa geleng geleng kepala melihat kelakuan kekasihnya. Jero tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Vian hari ini. Jero benar benar takjub dengan kelakuan Vian sehari ini.


"kakak ipar, udah sampaikan aja apa yang kakak mau kepada Abang. Capek kami kakak kalau harus menunggu kakak ipar dan Abang berdamai dulu. Bisa mampus kami menunggunya kakak ipar" ujar Bram sambil menatap ke arah Vian.


Vian masih setia mengganggu Jero dengan segala tingkah konyolnya itu. Vian tidak berhenti berhenti mengganggu Jero.


"Ayolah sayang, mau ya" ujar Vian sekali lagi membujuk Jero untuk mau mengiyakan apa yang dijadikan syarat oleh Vian.


"Aku ada syarat" ujar Jero yang akhirnya ikut ikutan mengajukan syarat kepada Vian.


"Syaratnya gampang. Kamu harus membuatkan aku sambal mangga selama seminggu dan tak putus putus." ujar Jero menyebutkan apa syarat yang harus di penuhi oleh Vian.


"Oh gampang." ujar Vian yang langsung setuju dengan syarat yang diajukan oleh Vian kepada dirinya.


"Kalau putus ulang lagi hitungannya dari nol" kata Jero sekali lagi kepada Vian.


"Jangankan dari nol. Abang Jero itung dari nol koma lima aja aku mau" ujar Vian sambil mengedip ngedip kan kelopak matanya kepada Jero.


"Haha haha haha. Sepertinya kakak ipar nantangin Bang Jero ini untuk juga langsung mengiyakan apa yang diinginkan oleh Kakak ipar" ujar Bram yang mulai memanas manasi Vian dan Jero.


"Seharusnya memang gitu Bram. Kita harus selalu siap menerima tantangan yang diberikan oleh siapapun. Masak iya kita akan menerima tantangan dan syarat pakai harus tau dulu. Itu namanya lemas bray" kata Vian yang mendapatkan angin segar dari Bram dan juga dari permintaan yang diajukan oleh Jero kepada dirinya tadi.


Vian saat mengatakan lemas bray membuat gerakan seperti orang sedang mengipas ngipaskan tangannya di depan wajahnya sendiri.


Felix, Jeri dan Tama berusaha menahan tawa mereka. Jangan sampai tawa itu lolos dari bibir mereka kalau mereka tidak mau Jero ngamuk ngamuk tidak jelas.


"Jadi gimana sayang? apakah kamu mau mengiyakan syarat yang aku ajukan atau tidak. Aku udah capek nunggu ini. Semua tinggal sama kamu doang lagi" ujar Vian kepada Jero sambil menatap tajam ke wajah Jero yang sekarang merasa sudah kalah melawan Vian.


'Kenapa juga tadi gue pake ngajuin syarat ke Vian. Kalau nggak kan gue masih bisa bertahan. Kali ini terpaksa gue jawab. Masak gue kalah dari Vian. Gue ini laki laki' ujar Jero dalam hatinya.


Jero kemudian menatap Vian sekali lagi. Vian membalas tatapan Jero. Vian mengedip ngedip kan matanya ke arah Jero. Jero tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Vian itu.


"Kamu memang wow sayang" ujar Jero sambil menatap ke arah Vian dan tersenyum simpul. Jero sekarang akan menyerah dengan apa yang dikehendaki oleh Vian. Jero tidak mau hanya karena dia egois, sehingga Vian menjadi marah kepada dirinya.


"Baiklah sayang, aku setuju akan mengabulka syarat dari kamu." kata Jero sambil menatap wajah cantik istrinya itu.


"Apa yang kamu mau?" tanya Jero kepada Vian dengan tidak melepaskan pandangan matanya kepada Vian.


"Aku mau kita ke negara F memakai kereta api. Kata orang pemandangannya indah. Pemandangannya sangat sejuk dan membuat mata kita menjadi nyaman dan tidak lelah sama sekali.


"ke negara F naik kereta api?" ujar Jero mengulang kembali apa yang diminta Vian dari dirinya.


"Ya naik kereta api. Kamu udah janji mau mengabulka sayang. Jadi, nggak boleh dibatalin" ujar Vian sambil melirik ke arah Jero.


Vian tahu kalau Jero sangat kaget mendengar apa yang diinginkan oleh Vian. Tetapi Vian tetap pada keinginannya.


"Nggak bisa naik pesawat?" ujar Jero memberikan penawaran kepada Vian untuk pergi ke negara F memakai pesawat saja, tidak memakai kereta api.


"nggak mau. Maunya naik kereta api" ujar Vian kembali mengatakan apa yang diinginkan oleh dirinya.


"ya udah naik kereta api ajalah kalau begitu. Tetapi kamu nggak boleh lupa membuatkan aku sambal mangga" ujar Jero membahas kembali sambal mangga yang diinginkan oleh dirinya itu.


"aman itu sayang. Sambal Mangga selagi mangganya masih ada. Kamu pasti akan mendapatkan sambal mangga terhidang di meja makan" lanjut Vian yang meyakinkan Jero kalau masalah sambal mangga adalah masalah sepele yang tidak harus dipermasalahkan sama sekali.


"oke sip" ujar Jero yang akhirnya setuju dengan permintaan Vian...


Bram besorak sorai mendengar apa yang dikatakan oleh Jero. Dia sangat senang akhirnya mereka akan pergi naik kereta api ke negara F.


Jero menatap ke arah Bram. Jero tidak mengerti kenapa Bram bersorak se gembira itu