
Vian menatap ke arah pengawal yang sudah pergi meninggalkan tempat dia dan Jero duduk. Vian menatap ke arah Jero dengan tatapan menusuk langsung ke bola mata Jero. Bola mata yang coklat gelap dan sangat tajam. Jero membalas menatap Vian dengan tatapan yang hampir sama tajamnya. Sepasang kekasih ini saling membalas menatap, mereka seperti tidak perduli dengan orang orang yang lewat di depan mereka.
"Sepertinya mereka sedang berperang" ujar salah seorang pengunjung saat melihat bagaimana cara Jero dan Vian saling membalas tatapan.
"Sepertinya ini bukan berperang, tetapi sedang adu kekuatan tatapan" ujar yang lainnya.
Jero dan Vian yang sedang saling membalas tatapan antara satu dengan yang lainnya tidak ambil pusing dengan apa yang dikatakan oleh pengunjung yang menyaksikan apa yang sedang mereka lakukan itu. Mereka tetap saling menatap antara satu dengan yang lainnya.
"Ada apa? Kenapa natap aku seperti itu?" tanya Jero yang heran dengan tatapan yang diberikan oleh Vian kepada dirinya yang sama sekali tidak ada beranjak dan tidak berkedip sedikitpun.
"Emang tatapan aku gimana?" tanya Vian sambil menatap ke arah Jero dengan menumpangkan kepalanya ke dua tangan yang bertumpu kepada siku
"Tatapan kamu seperti seseorang yang mau makan seseorang" jawab Jero sambil tersenyum menggoda kekasihnya itu.
"Oh ya?"
"Ya oh" jawab Jero yang tetap ngeyel mau menggoda Vian.
Vian tersenyum mendengar jawaban yang diberikan oleh Jero. Membawa Jero ke dalam mode seperti ini penuh dengan perjuangan. Jero tidak akan dengan mudahnya bisa diajak ke dalam situasi yang seperti ini.
"Mau nanyak apa?" tanya Jero yang yakin Vian mau menanyakan sesuatu kepada dirinya.
Jero sangat hafal arti tatapan mata Vian. Vian termasuk orang yang sangat sangat transparan. Apa yang sedang dirasakan oleh Vian, Jero akan langsung mengetahuinya. Ibaratnya Vian di depan Jero adalah sebuah buku terbuka yang siap dibaca oleh siapapun.
"Apa yang dikatakan pengawal?" tanya Vian mengungkapkan apa yang dipikirkannya dari tadi, sehingga membuat dirinya menatap ke arah Jero dengan tatapan yang seperti itu.
"Oooooo, masalah itu, aku belum tahu sayang" jawab Jero dengan santainya.
"Kok belum tahu? Apa maksudnya coba. Mana ada Tuan besar tidak tahu apa yang mau dikatakan oleh pengawalnya. Kamu jangan boong sayang"
Vian semakin menatap ke arah Jero dengan tatapan penuh tanda tanya dan penasaran dengan jawaban singkat yang diberikan oleh Jero kepada Vian.
"Iya sayang, pengawal belum mengatakan hal apapun kepada aku. Sumpah aku tidak bohong. Apa aku harus memanggil pengawal itu ke sini supaya kamu bisa percaya ke aku" jawab Jero menjelaskan lebih detail kepada Vian tentang jawaban yang diberikan oleh dirinya tadi.
"Tidak perlu. Tetapi kok kamu bisa nggak tahu sayang?"
Vian masih mengejar jawaban kepastian dari Jero. Vian seperti tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Jero kepada dirinya.
"Iya sayang, kamu kan lihat sendiri tadi, aku tadi cuma mengatakan kepada pengawal nanti saja"
"Nanti ujungnya aku panggil juga tu pengawal, supaya kamu percaya sama aku"
Jero memberitahukan kepada Vian apa jawaban yang diberikan oleh dirinya kepada pengawal tersebut saat pengawal ingin menyampaikan sebuah berita kepada Jero.
"Kok kamu jawab kayak gitu?"
Vian penasaran dengan alasan yang mendasari dan membuat Jero menjawab seperti itu kepada pengawal yang datang untuk menyampaikan berita penting tersebut.
"Mana tau berita yang dibawa oleh pengawal adalah berita yang sangat penting" lanjut Vian memberikan alasan kepada Jero kalau Jero tidak boleh berbuat seperti itu kepada pengawal yang datang membawa berita.
"Sayang, dengar ya. Aku hanya mengatakan ini sekali saja, kalau lewat tindakan aku sudah berkali kali mengatakannya kepada kamu sayang. Tetapi sepertinya kamu butuh sebuah kepastian dari aku kelihatannya" ujar Jero sambil memandang mata cantik nan tajam milik Vian.
"Saat aku berdua dengan kamu, saat aku menghabiskan hari hari aku dengan kamu, maka tidak ada yang lebih penting dari pada kamu. Semuanya tidak penting, yang paling penting hanya kamu saja, yang lain tidak sama sekali"
Jero mengatakan kepada Vian betapa pentingnya Vian dalam hidup Jero. Seorang wanita yang berada dan bersemayam dalam hati dan pikiran seorang Jero Asander. Seorang pria yang kalau telah mencintai seorang wanita maka dia akan selalu dan sangat mencintai wanita itu dengan sepenuh jiwa dan raganya.
"oh romantisnya kamu sayang" ujar Vian dengan setengah mengejek alasan yang diberikan oleh Jero kepada dirinya.
"Kamu mengejek aku sayang?"
"Kamu tidak yakin kalau aku bisa romantis sayang?"
Jero mempertanyakan kepada Vian, apakah Vian meragukan dirinya pada saat ini. Jero sangat yakin kalau Vian meragukan romantisnya dirinya, karena selama ini Jero terlihat sangat jarang menjadi seorang pria romantis.
"Ya sayang. Mana bisa seorang Jero Asander bersikap romantis Mana pernah sayang."
"Dua bulan muncul, masih akan belum seorang Jero Asander bersikap romantis."
"Tetapi aku tetap cinta kok sama Jero Asander yang sama sekali tidak romantis itu"
Vian mengucapkan semua yang ada di dalam pikirannya kepada Jero. Vian sengaja melakukan itu untuk memancing keberanian seorang Jero Asander untuk menampakkan bagaimana romantisnya dirinya di depan semua orang.
"Kamu meragukan aku sayang?" ulang Jero menanyakan hal yang sama kepada Vian.
"Tepatnya bukan meragukan sayang, tetapi kurang lebih butuh diyakinkan" ujar Vian.
Vian sama seklai tidak menyadari kalau kata katanya akan membuat Jero tertantang untuk melakukannya. Vian juga tidak sadar kalau dia sebenarnya sudah masuk ke dalam perangkap Jero. Jero sengaja melakukan hal itu supaya Vian mengatakan apa yang dirasakannya. Selama ini Jero hanya bisa membaca apa yang diinginkan oleh Vian dari mimik wajah Vian saja. Vian jarnag mengatakan apa yang diinginkannya dari Jero secara langsung (di luar ingin jalan jalan dan makan).
"Kamu butuh diyakinkan bagaimana sayang?"
Jero berkata sambil memandang ke arah Vian dengan cara memiringkan kepalanya. Sebuah rencana sudah ada di kepala Jero sekarang ini. Jero hanya tinggal mengeksekusinya saja lagi. Sempat Vian mengatakan kata kuncinya, maka Jero akan langsung eksekusi.
"Ya butuh diyakinkan sayang. Masak kamu tidak mengerti dan paham apa yang aku maksud sayang. Kamu jangan pura pura tidak mengerti sayang" ujar Vian yang sudah separo kesal dengan gaya Jero yang pura pura tidak paham dan mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Vian.
"Bener sayang. Kekasih kamu yang tidak romantis ini tidak paham dengan apa yang kamu inginkan sayang. Tolong bantu dia untuk bisa menjadi mengerti sayang" ujar Jero mulai membuat ulah dengan Vian.
Jero sengaja melakukan hal itu supaya Vian menjadi sedikit terbuka dan bisa mengatakan apa yang dimau oleh dirinya. Serta apa yang diinginkan oleh Vian dari seorang Jero.
Vian semakin kesal dengan jawaban yang diberikan oleh Jero. Jero ntah pura pura tidak tahu dengan apa maksud Vian, atau memang beneran tidak tahu dengan apa yang diinginkan oleh Vian.
"Serius sayang, apa yang harus aku lakukan kepada kamu sayang" ujar Jero kembali mengulang pertanyaan yang sama kepada Vian.
"Kamu pura pura sayang" jawab Vian yang kesal dengan kepura puraan yang diberikan oleh Jero kepada dirinya.
"Nggak ada aku pura pura sayang. Aku beneran nggak tahu" jawab Jero yang tetap dengan gayanya mengatakan kalau dirinya benar benar tidak tahu dengan apa yang diinginkan oleh Vian kepada dirinya.
"Aku ingin kamu terlihat romantis di depan orang ramai" ujar Vian dengan berbisik.
Vian berharap Jero tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Vian, mekanya Vian mengatakan dengan berbisik. Nanti saat Jero bertanya kepada dirinya, dia bisa mengatakan kalau dia tidak ada mengatakan apa apa.
Jero tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Vian. Ternyata apa yang dipikirkan oleh Jero sesuai denga apa yang dikatakan oleh Vian. Apalagi Vian sudah mengeluarkan kata kuncinya, maka Jero tinggal mengeksekusi saja apa yang diinginkan oleh Vian tersebut.