My Affair

My Affair
Pembicaraan Jero dengan Felix



"Makan makan, makan makan" ujar Ryan bersorak ke arah Jero untuk mentraktir mereka semua makan malam di luar.


"Makan makan, makan malam di luar" kali ini Josua melanjutkan nyanyian dari Ryan.


Ryan memberikan jempolnya kepada Josua. Memang hanya mereka berdua yang bisa melakukan hal itu kepada Jero, sedangkan pengawal yang lain harus berpikir seribu kali untuk bisa melakukan hal itu kepada Jero.


"Kalian mau makan malam di kafe?" ujar Jero bertanya kepada semua pendukungnya.


"Ya" jawab mereka dengan sangat kompak sekali.


"Oke kita makan malam di luar." jawab Jero yang setuju mengajak mereka semua untuk makan malam di luar.


"Tuan muda, kami yang tadi tidak mendukung tuan muda, apa boleh ikut dengan tuan muda makan malam di luar?" ujar salah seorang pengawal yang memang dalam kesehariannya menjadi asisten dan pengawal Jeri.


Pengawal yang mengawal Bram dan Felix juga mulai ribut, mereka juga takut tidak diajak oleh Jero untuk pergi makan malam seperti yang mereka harapkan. Mereka semua sangat berharap di ajak oleh Jero untuk ikut acara makan malam di kafe.


"Siapapun boleh ikut. Kita semua akan pergi makan malam bersama. Mau pengawal siapa, yang jelas masih bernaung dalam grub Asander maka boleh ikut" ujar Jero memberitahukan kepada semuanya kalau mereka akan makan malam bersama tanpa pengecualian.


"Yes" ujar semua pengawal bersorak kegiarangan karena mereka semua di ajak oleh Jero.


"Terimakasih Tuan Muda" ujar seluruh pengawal yang merasa sangat senang diajak makan malam bersama di kafe.


"Bram, kamu urus permasalahan makan malam di luar. Kamu booking satu cafe ternama di sini. Katakan kepada mereka jangan terima pengunjung mulai jam tujuh malam sampai jam sebelas malam Kita booking selama itu" ujar Jero memberikan perintah kepada Bram untuk membooking satu cafe penuh untuk mereka menikmati makan malam di cafe itu.


"Siap Bang" ujar Bram


"Dia paling semangat untuk mengurus hal yang seperti itu" ujar Felix saat melihat Bram yang langsung berdiri untuk mengerjakan perintah yang diberikan oleh Jero kepada dirinya.


"Ya mau gimana lagi. Dia memang selalu bersemangat untuk melakukan hal itu" kata Tama memberikan jawaban kepada Felix.


Mereka semua kemudian melanjutkan pembicaraan dan pekerjaan masing masing. Mereka tinggal menunggu kepastian dari Bram akan ke kafe mana pergi syukuran kemenangan tim Jero dan Vian dalam pertandingan tenis tadi siang.


Jero memilih untuk beristirahat sambil melihat lihat laporan keuangan perusahaannya yang berada di negara A. Tiba tiba saat serius membaca laporan keuangan pintu kamar Jero di ketuk dari arah luar.


"Masuk" ujar Jero meminta seseorang yang mengetuk pintu untuk masuk ke dalam kamarnya.


Felix membuka pintu kamar Jero. Di kemudian masuk ke dalam kamar yang luas itu. Kamar terluas yang ada di villa besar tersebut.


"Bang" panggil Felix saat melihat Jero yang masih fokus membaca laporan keuangan yang baru saja di cetaknya itu.


Jero yang mendengar suara yang tidak asing lagi di telinganya itu, mengangkat kepalanya dari tumpukan dokumen yang sedang dibaca oleh Jero.


"Ada apa Felix?" ujar Jero bertanya kepada adiknya itu.


"Silahkan duduk dulu" lanjut Jero mempersilahkan Felix untuk duduk di sofa yang ada di kamar.


Felix duduk di sofa yang ada di kamar itu kemudian di susul oleh Jero.


"Ada apa?" ujar Jero yang melihat Felix sedikit gelisah.


"Begini Bang, sebelumnya Felix mina maaf terlebih dahulu." ujar Felix


"Ada apa Felix? Masalah maaf memaafkan antara abang dan adik itu adalah persoalan terakhir. Sekarang jawab ada apa" ujar Jero menekankan kepada Felix pertanyaan yang sama untuk ke sekian kalinya.


"Sepertinya Felix harus cepat kembali ke negara I." ujar Felix memberitahukan kepada Jero apa yang ingin dikatakan oleh dirinya.


"Kenapa? Apa ada sesuatu yang gawat sedang terjadi di negara I?" ujar Jero menanggapi apa yang dikatakan oleh Felix kepada dirinya.


"Ada sedikit keraguan dalam laporan keuangan" ujar Felix mengatakan kepada Jero apa yang melatar belakangi dirinya harus berangkat ke negara I secepatnya.


"Keraguan dalam laporan keuangan?"


"Apa mereka mulai bermain dengan kita?" ujar Jero kembali melanjutkan pertanyaannya kepada Felix.


"Itulah Bang. Felix juga tidak tahu. Sepertinya memang harus cepat pulang ke negara I" ujar Felix mengatakan kepada Jero.


"Hebat sekali mereka sudah berani bermain melawan keluarga Asander, apa mereka sudah bosan untuk bekerja?" ujar Jero menanggapi apa yang dikatakan oleh Felix kepada dirinya.


"Sejak kapan kamu tahu?" tanya Jero selanjutnya


"Baru membaca laporan sebentar ini Bang." kata Felix menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Jero kepada dirnya.


"Bisa dijelaskan?" lanjut Jero.


"Jadi, Felix kemaren meminta laporan keuangan kepada manager bagian keuangan. Ternyata dokumen yang dikirimkan adalah dokumen yang penuh dengan keganjilan." kata Felix menceritakan awal mula bisanya dia menaruh curiga kepada dokumen keuangan yang dikirimkan oleh manager keuangan salah satu perusahaan mereka yang berada di negara I dan berada dalam pengawasan Felix.


"Akhirnya Felix mencari tahu, dan sedikit mendapat bocoran kalau memang ada sesuatu yang aneh dan ganjil sedang terjadi di perusahaan kita yang berada di negara I" lanjut Felix memberitahukan kepada Jero tentang apa yang terjadi di negara I.


"Jadi kamu mau terbang besok ke negara I?" ujar Jero bertanya kepada Felix tentang keinginan Felix untuk kembali ke negara I besok pagi.


"Iya Bang. Felix harus menyelesaikan masalah ini secepatnya. Takutnya nanti kalau dibiarkan akan membuat semua menjadi rumit" kata Felix menjelaskan kepada Jero apa yang membuat dirinya harus cepat cepat menyelesaikan permasalahan yang sedang terjadi sekarang di negara I.


"Oh baiklah kalau memang itu keinginan kamu, besok kamu terbang dari sini ke negara I. Minta pilot untuk datang membawa pesawat perusahaan. Kamu akan langsung terbang besok" ujar Jero memberitahukan kepada Felix.


"Baik Bang. Felix akan langsung menghubungi pilot untuk meminta mereka terbang ke sini sekarang juga" ujar Felix.


"Oke" jawab Jero.


Jero tiba tiba menguap dengan lebar. Felix yang ada di sebelahnya hanya bisa geleng geleng kepala saja.


"Kalau begitu Felix balik ke kamar dulu Bang" ujar Felix yang sadar kalau Jero sudah dalam keadaan mengantuk, Felix tahu kalau Jero semalam tidur larut malam.


"Oke. Kamu telpon pilot, suruh terbang sekarang kemari, sekalian bawa mereka untuk acara nanti malam" ujar Jero meminta Felix untuk menghubungi pilot dan membawa pilot dalam kegiatan perayaan kemenangan Jero dan Vian dalam permainan tenis tadi pagi menjelang siang.


"Oke Bang. Akan Felix hubungi nanti saat sudah di kamar" ujar Felix.


Felix kemudian meninggalkan kamar Jero. Setelah kepergiaan Felix meninggalkan kamarnya, Jero naik ke atas kasur. Dia akan beristirahat sejenak. Dia benar benar lelah karena semalam kurang tidur karena menyelesaikan salah satu permasalahan yang ada di perusahaan cabang. Apalagi dengan berita yang baru di dengarnya tadi pagi dari Ryan, mau tidak mau semua itu tetap ada dalam pikiran Jero. Walaupun Jero mengingkari tapi hati seorang anak tidak akan bisa mendengar sesuatu terjadi kepada ayahnya.


Felix sampai di kamar langsung menghubungi pilot untuk terbang ke negara F. Felix juga mengabari kalau mereka besok akan terbang ke negara I saat pagi hari. Pilot yang mendapatkan perintah yang diberikan oleh Felix, langsung bersiap siap untuk terbang ke negara F menjemput Tuan muda Felix Asander yang akan terbang keesokan harinya ke negara I.