
"Ingatlah keluarga Alexsander, mata dibayar dengan mata, nyawa dibayar dengan nyawa. Pengkhianatan dibayar oleh penghianatan." ujar Jero sambil menggenggam jari jarinya. Buku buku jari Jero tercetak dengan sangat jelas. Jero benar benar marah saat ini. Dia tidak bisa menyembunyikannya lagi.
Jero benar benar marah kali ini. Tidak ada satupun orang yang bisa menahan amarah Jero yang sudah meletup letup seperti lahar gunung berapi yang siap memuntahkan lahar panasnya itu.
Siapapun kali ini yang melihat wajah Jero, akan langsung lari terbirit birit karena, tatapan yang diberikan oleh Jero bukanlah tatapan seorang sahabat lagi, melainkan tatapan memburu lawannya.
Jero kemudian menuju kamarnya yang terletak di bagian belakang mansion. Suasana kamar para pelayan itu sudah sangat sepi.
"Sepertinya semua orang sudah tidur. Hanya gue saja yang masih bangun" uajr Jero.
Jero kemudian membuka pintu kamarnya. Dia masuk ke dalam kamar. Jero kemudian membaringkan tubuhnya di atas kasur. Emosinya yang sangat luar biasa itu membuat kepalanya menjadi luar biasa terasa sakitnya. Tetapi, Jero tidak ingin merasakan sakit seperti dulu lagi. Sakit dimana dia tidak bisa berbuat apa apa selain hanya bisa menahan rasa sakit yang mendera tubuhnya saat itu. Saat itu dirinya sama sekali tidak memiliki uang untuk membeli obat, jangankan untuk membeli obat, untuk makan saja Jero harus mati matian mencari uang. Kehidupan masa lalunya membuat Jero menjadi seperti sekarang ini. Kehidupan masa lalu yang menempa Jero menjadi sangat luar biasa kuat mengarungi kehidupan.
"Jangan sakit Jero. Sekaranglah saatnya. Kamu harus selalu sehat Jero. Apa gunanya kamu punya uang kalau kamu sakit dan tidak bisa berbuat apa apa." ujar Jero menyemangati dirinya untuk kembali sehat dan tidak mengeluh karena sakit di kepalanya saat ini.
"Ada Vian yang membutuhkan diri kamu Jero. Bangkit Jero jangan menyerah dengan keadaan. Cukup parah kehidupan masa laku kamu Jero. Kamu bisa menghadapinya. Sekarang saatnya kamu memetik buah dari kenangan pahit itu Jero" Lanjut suara hati Jero yang terus dan akan selalu menyemangati Jero agar bangkit dari rasa sakit di kepalanya.
Jero akhirnya tertidur dengan sendirinya setelah bergelut dengan sakit kepala dan teriakan teriakan yang muncul dari dalam dirinya untuk selalu menyemangati Jero. Akhirnya rasa sakit dikepalanya sudah tidak dirasakannya lagi. Jero kemudian masuk ke alam mimpinya. Alam mimpi yang akan selalu membuat Jero mengenang kehidupan kelam di masa masa itu.
"Mommy mommy jangan pergi Mommy. Jangan tinggalkan aku sendiri Mommy" ujar Jero berteriak dalam tidurnya. Jero berteriak dengan sangat keras. Untung saja setiap pelayan mereka sedang tertidur dengan lelap sehingga mereka sama sekali tidak mendengar teriakan dari Jero.
"Mommy mereka orang jahat Mommy, mereka akan menanggung akibat dari perbuatannya kepada kita berdua Mommy. Mereka akan merasakan kepedihan yang kita rasakan berdua Mommy" ujar Jero kembali berteriak dengan suara keras.
"Mommy jangan tinggalin Jero sendirian Mommy, dengan siapa Jero akan hidup kalau Mommy pergi." Jero mulai menangis dalam ridurnya. Jero terlihat sangat rapuh saat ini.
"Bangun Mommy bangun" Jero terus saja berteriak teriak memanggil mommy nya untuk kembali bangun.
Vian yang bermaksud ingin mengambil air minum ke bawah ntah kenapa sangat ingin menuju kamar Jero. Vian kemudian menuju kamar para pelayan yang terletak di belakang mansion. Vian kemudian berdiri di depan pintu kamar Jero saat itulah Vian mendengar Jero berteriak teriak dalam tidurnya.
Vian mencoba peruntungannya dengan membuka pintu kamar, ternyata Jero lupa mengunci pintu kamarnya. Vian kemudian masuk ke dalam kamar Jero. Vian mengunci pintu itu dari dalam.
"Jero, Jero" Vian memanggil nama Jero.
Vian berusaha menyadarkan dan membangunkan Jero dari tidurnya. Tapi Jero sama sekali tidak bereaksi atas panggilan Vian.
"Mommy mommy jangan pergi Mommy" ujar Jero menangis dalam tidurnya.
"Mommy aku sayang Mommy kembali bangun Mommy" uang Jero dengan suara yang semakin pelan. Suara seorang anak yang memanggil ibunya untuk kembali bermain dengan dirinya.
"Sayang, masa kelam seperti apa yang sudah kamu lalui sayang. Ada apa ini sayang?" ujar Vian menatap nanar ke arah Jero. Mata Vian juga sudah mulai kabur karena air mata yang telah menggenang di mata indah Vian.
Vian yang sudah sangat kasihan melihat Jero. Langsung memeluk Jero. Vian memeluk Jero dengan sangat kuat. vian ingin mens transfer aura tenang yang ada di dalam dirinya kepada Jero yang sedang sangat bersedih itu. Jero merasakan hawa panas memeluk dirinya. Dia mengetatkan pelukannya kepada orang yang memeluknya itu.
"Mommy, Jero kangen dan sayang mommy" Ujar Jero masih dengan mata tertutup.
Vian mengelus wajah orang yang sangat dicintainya ini. Vian akan bertanya besok hari kepada Jero, apa yang terjadi dalam mimpinya malam ini.
Jero kemudian kembali tertidur dengan tenang. Vian yang melihat Jero sudah kembali tenang melepaskan pelukannya dari Jero. Vian kemudian kembali keluar kamar, dia kembali menuju kamarnya yang terletak di lantai dua mansion.
"Apa yang terjadi dengan Jero ya? Kenapa dia begitu histeris menyebut nama Mommynya?" ujar Vian bertanha tanya sendirian saat sudah sampai di kamar.
Vian mengambil ponsel miliknya. Dia memandang fhoto Jero yang ada di ponsel miliknya. Dia mengelus wajah tampan yang ada darah darah luar negerinya itu.
"Kenapa wajah kanu rasa rasanya familiar diingatan aku ya Jero?" ujar Vian berusaha mengingat ingat dimana dia pernah bertemu dengan Jero.
Tetapi semakin Vian berusaha untuk mengingat dimana dia pernah bertemu dengan Jero, semakin ingatan itu hilang.
"Mungkin hanya perasaan aku saja." Kata Vian.
"Sayang, semoga apa yang ada di dalam pikiran ku tidak terjadi kepada dirimu sayang" ujar Vian yang sudah bisa mengambil kesimpulan dari apa yang di katakan oleh Jero dalam mimpinya.
Vian seorang dokter, apalagi Vian tipe manusia pembelajar. Jad dia bisa melihat apa yang terjadi terhadap Jero.
"Aku pasti akan membantu kamu sayang untuk terlepas dari semua beban ini. Aku janji sayang" ujar Vian yang akan membantu Jero lepas dari mimpi buruk yang selalu menghantuinya selama ini.
Vian kemudian kembali tidur, dia besok ada jadwal operasi. Vian tidak mau terlambat sampai di rumah sakit. Operasi kali ini sangat penting dilakukan oleh Vian.
Sedangkan Jero di kamarnya juga sudah kembali tidur dengan tenang. Dia tidak lagi bermimpi mommynya itu. Jero sudah sama sekali tidak mengigau lagi. Dia sudah bisa tertidur dengan nyenyak.