
"keluarga ini benar-benar lah ya. kalau dikhianati oleh seseorang maka pembalasannya tidak akan tanggung-tanggung" ujar Vian sambil menaruh makanan yang telah diolahnya tadi ke dalam piring yang sudah diambilkan oleh para pelayan sesaat sebelum Vian mulai memasak di dapurnya itu.
"iyalah kakak ipar. Kita dirugikan diam aja, ya nggak mau lah. Capek loh cari duit itu kakak ipar. Kakak ipar kan merasakan sendiri bagaimana capeknya cari duit." ujar Bram membela sikap dan keputusan yang diambil oleh mereka bertiga terhadap orang-orang yang melakukan tindakan kecurangan dan merugikan perusahaan dan diri mereka bertiga.
"Siapa bilang cari duit nggak capek Bram. Kakak kan cuma bilang kalau Kalian bertiga itu akan menindak seseorang yang telah merugikan perusahaan dan Kalian bertiga dengan cara yang tidak terpikirkan oleh orang lain" ujar Vian sambil berjalan kembali ke arah dapur, karena masih ada menu makan malam yang masih harus disiapkan oleh Vian.
Jero yang melihat bagaimana Vian dan kedua adiknya bercanda sangat bahagia sekali. Jero tidak menyangka Vian bisa langsung dekat dengan kedua adiknya secepat itu.
"Kalian berdua kalau bertemu nggak ribut gimana coba?" ujar Jero bertanya kepada Vian dan Bram.
"Setiap bertemu ribut aja terus. Kayak kucing dan guguk saja" ujar Jero sambil melihat ke arah Vian dan Bram sambil geleng geleng kepala.
"Eh jangan salah sayang, tadi saat perjalanan menuju perusahaan mengantarkan menu makan siang, kami berdua sangat akur" ujar Vian sambil memberikan kode kepada Bram untuk mengatakan mereka berdua memang sangat akur tadi saat perjalanan menuju perusahaan yang dipimpin oleh Jero.
"Hah, serius? Kami nggak bercanda sayang? Kamu bisa akur dengan Bram?" ujar Jero yang penasaran mendengar apa yang dikatakan oleh Vian sebentar ini.
"Serius sayang. Malahan kami sangat kompak tadi." kata Vian sambil berjalan mendekat ke arah Jero dan mengecup sekilas pipi Jero dengan sayang.
"Yah main sosor bae" ujar Bram yang langsung mengatakan apa yang diingat oleh dirinya.
"Haha haha haha. Seperti nggak ada remnya aja. Main nyosor bae" kata Felix yang akhirnya menertawakan kelakuan Vian dan Bram yang terlihat main nyosor aja saat ada waktu memungkinkan.
"Sayang" ujar Jero sambil melihat ke arah Vian yang langsung berjalan tanpa ada rasa bersalah dan tak berdosanya menuju dapur.
Vian akan melanjutkan mengolah satu masakan yang sangat simpel yaitu cah kangkung.
"Jadi, kakak ipar. Apa yang membuat kakak ipar dan Bram bisa kompak tadi pagi?" tanya Felix yang sangat yakin kekompakan Vian dan Bram pasti ada kaitannya dengan perjalanan mereka menuju negara F dan G dengan naik kereta api.
"Wow, dilarang kepo. Satu yang pasti kami juga bisa kompak apapun yang terjadi" ujar Vian sambil melihat ke arah Jero dan Felix.
"Benerkan Bram? Kekompakan kita berdua membuat orang bahagia kan ya Bram" ujar Vian sambil melihat sekilas ke arah Bram yang sedang terlihat sibuk mengetik sesuatu di ponsel miliknya.
Bram hanya diam saja. Bram sama sekali tidak merespon apa yang dikatakan oleh Vian kepada dirinya.
"Bram. Kakak ipar manggil elo" ujar Felix sambil menyikut lengan Bram dengan sikunya.
Bram yang kaget karena kena siku Felix langsung saja melihat ke arah kakaknya itu.
"Kata kakak ipar, kami akan untung kalau loe dengan kakak ipar dalam satu frekuensi" ujar Felix melihat kearah Bram.
"Bener kakak ipar. Mereka akan untung kalau kita berdua dalam satu frekuensi yang sama" ujar Bram yang tadi sempat fokus dengan ponselnya dan tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Vian kepada dia.
"Ih dia baru Fokus. Dari tadi ntah ke mana aja fokus dirinya itu." ujar Vian menjawab sambil tetap melihat ke wajan yang sekarang sedang berisi kangkung itu.
"sepertinya udah mulai punya kekasih baru ini anak" kata Vian sambil menggoda Bram supaya Bram dikerjai oleh kedua Kakaknya itu.
"Jadi kamu beneran udah punya kekasih baru Bram?" ujar Tama yang langsung menyambar percakapan semua orang yang ada di sana.
Jero, Felix, Bram dan Vian langsung menatap ke arah Tama. Mereka semua menjadi sangat kaget saat melihat ada Tama berdiri di antara mereka. Mereka sama sekali tidak menyadari kehadiran Tama di sana. Padahal kali ini mereka semua berada di dapur yang seharusnya mendengar seseorang masuk dari pintu depan mansion.
"kapan loe datang?" ujar Jero yang kaget dengan kehadiran Tama yang datang secara tiba tiba itu.
"Iya Bang. Kapan abang bisa datang? kok kami berempat nggak ada yang tau abang masuk ke dalam mansion" ujar Bram yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Jero.
Mereka semua memang tidak mengetahui kapan Tama masuk. Mereka sama sama sadar kalau pintu depan itu tidak pernah terbuka dari tadi. Selembut lembutnya orang membuka pintu, mereka pasti akan tahu karena ada sensor di pintu tersebut dan tersambung dengan jam Jero, Felix dan Bram. Setiap ada yang menyentuh pintu, maka alarm di jam mereka akan memberikan tanda.
"kalian aja yang nggak sadar. Gue kan masuk ke rumah bersama dengan kalian" ujar Tama yang memang datang setelah Jero dan Vian serta kedua adik Jero masuk ke dalam mansion.
"Masak iya" ujar Bram yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Tama kepada mereka berempat.
"serius. malahan gue tau, kalau loe ngelempar kamar Felix dengan mangga berkali kali. Terus Felix memindahkan letak tangga yang kamu pake. Terus kamu setres sendiri" lanjut Tama menceritakan apa yang menimpa Bram saat dia memanjat batang mangga untuk mengambil buahnya yang akan dibuatkan sambal mangga oleh Vian.
"Jadi kapan loe masuk ke mansion?" ujar Jero yang masih tidak paham kenapa bisa Tama masuk ke dalam area mansion tetapi mereka semua bisa tidak mengetahuinya.
Tama menatap ke arah Jero. Jero balas menatap ke arah tama.
"Gue nggak meragukan kelihaian elo untuk menyusup. Tetapi kenapa harus loe cobain pula ke mansion gue" ujar Jero sambil menatap tidak percaya kepada sahabatnya yang memang sangat lihai dalam hal nyusup menyusup tersebut.
"Nah untung gue cobain kan ke mansion loe. Ternyata gue bisa lolos dengan gampang" ujar Tama dengan percaya dirinya ngomong kepada Jero dan kedua adiknya itu.
"Ya jelas lolos lah Bang. Kan pengawal kenal elo sebagai sahabat Bang Jero. Ngadi ngadi loe" ujar Bram menjawab apa yang dikatakan oleh Tama sebentar ini. Bram heran dengan apa yang dikatakan oleh Tama. Tentulah iya Tama bisa lolos karena dia adalah sahabat Jero