My Affair

My Affair
BAB 49



"Siap sayang. Aku akan hubungi mereka dulu" ujar Jero.


"Aku ke luar dulu ya. Kamu lanjutkan aja perkejaan kamu terlebih dahulu. Aku akan pastikan kepada mereka, apakah mereka bisa bertemu hari ini atau tidak" Ujar Jero sambil memakan sebuah anggur yang sudah di cuci bersih oleh Vian.


"Sip sayang. Pokoknya kalau mereka bisa, kita ketemunya di jam makan siang aja" jawab Vian yang meminta untuk bertemu saat jam makan siang. Vian tidak ingin kalau saat jam kerja, akan membuat kedua adik Jero meminta izin kepada bos mereka untuk bertemu dengan Jero dan Vian.


Jero kemudian kembali ke tempat dia biasa berdiri yaitu di depan pintu ruangan Vian. Jero akan menghubungi Felix dan Bram, meminta mereka untuk bertemu dengan Vian dan dia nanti siang di sebuah restoran milik Asander Grub.


Jero mengeluarkan ponsel miliknya, dia menghubungi Felix untuk pertama kali, karena kalau menghubungi Bram, sudah dapat dipastikan Bram tidak akan mengangkat panggilannya. Jero sudah hafal apa yang sedang dilakukan oleh Bram sekarang bersama dengan Jeri. Seseorang yang sudah dianggap sebagai suhu oleh Bram. Padahal untuk kehebatan dunia komputer Jero lebih keren dari pada Jeri. Tetapi Jero sama sekali tidak bisa menjadi guru, dia tipe pemarah kalau seseorang tidak bisa dalam satu kali dia mengajarkan caranya. Telah berkali kali Jero menghubungi Felix tetapi sama sekali tidak diangkat oleh Jero. Akhirnya Jero pasrah saja untuk menghubungi Felix lagi.


"Nanti aja saat udah mau jam istirahat" ujar Jero yang beralih menghubungi nomor ponsel Bram.


Felix yang baru selesai meeting dengan para manager melihat notifikasi yang ada di ponselnya. Ternyata Jero sudah menelpon sebanyak lima kali, saat dia meeting tadi. Felix memang tidak membawa ponselnya ke dalam ruangan meeting.


Felix kemudian melakukan panggilan ulang kepada Jero. Felix menunggu sampai Jero mengangkat panggilannya.


"Hallo Bang, maaf tadi gue sedang meeting. Ada apa?" tanya Felix sambil melihat ternyata sudah masuk jam makan siang. Dia harus bergegas makan siang, karena meeting akan dilanjutkan setelah jam makan siang.


"Loe gue tunggu di restoran Asander sekarang juga. Lima belas menit dari sekarang. Nggak lebih Felix. Salah sendiri kenapa baru lihat ponsel" ujar Jero langsung mengatakan Felix harus kemana dan tidak boleh telat sampai ke restoran yang dituju


"Tapi Bang" ujar Felix yang sebenarnya masih ada meeting lagi selepas jam makan siang dengan manager. Tadi meeting terpaksa di jeda oleh Felix karena jam makn siang yang akan masuk.


"Nggak ada tapi tapi Felix. Sekarang berangkat. Gue tunggu di restoran Asander" ujar Jero dengan nada final.


"Baik Bang" jawab Felix mengalah.


Felix dan Bram sama sekali tidak bisa membantah Jero kalau Jero sudah memakai nada final yang tidak bisa lagi di nego siapapun. Ntah kalau Vian.


Jero memutuskan panggilannya dengan Felix. Baru saja Felix memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, giliran Bram yang menghubungi Felix.


"Apa lagi coba" ujar Felix menatap nama Bram di ponsel miliknya.


"Nggak Abang, nggak adik sama aja" ujar Felix memaki maki sendiri ponselnya itu. Ponsel yang tidak akan pahami kalau pemiliknya sedang sangat luar biasa kesal.


Felix mengangkat panggilan telpon dari Bram.


"Hallo Bram ada apa?" ujar Felix sambil bergegas keluar dari ruangannya.


"Meeting batalkan saya harus pergi" ujar Felix kepada sekretarisnya dengan nada tinggi. Felix langsung masuk ke dalam lift. Dia menuju berteman tempat mobilnya diparkir kan.


Sekretaris kaget mendengar nada suara Felix. Felix selama ini terkenal sangat baik dan jarang memakai nada tinggi saat berbicara dengan bawahannya, hal berbeda yang sering dilakukan oleh Bram di JFB Grub. Bram akan selalu marah marah kalau dia tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh bawahannya.


"Bukannya tadi meeting berjalan aman aman saja ya. Tidak satupun ada kesalahan yang dilakukan oleh devisi devisi yang ada, kenapa CEO bernada seperti orang kesal" ujar sekretaris bertanya tanya dalam hatinya sendiri. Sekretaris ikut dalam meeting itu, sehingga dia tau bagaimana suasana hati Felix saat meeting sedang berlangsung.


"Hallo Bram" ujar Felix menyapa kembali Bram.


"Kenapa marah marah Bang, ada apa?" tanya Bram heran dengan nada bicara Felix saat berbicara kepada seseorang di sana. Bram sangat tahu kalau Felix tidak pernah bernada tinggi kepada bawahannya.


"Gimana nggak kesal Bram. Gue ada meeting lanjutan dengan manager devisi, eeeee Jero seenaknya ajak ngajak gue bertemu dengan dia di restoran Asander. Loe nggak di ajak?" tanya Felix kepada Bram. Felix berharap Bram juga diajak dalam pertemuan siang ini.


Felix sudah berada di dalam mobilnya. Dia kemudian melajukan mobil itu menuju restoran Asander. Sedangkan ponsel diletakkan di tempatnya dan langsung terhubung ke speakers mobil.


"Sama bang, gue juga di telpon, tapi nggak mendadak, dari pagi malahan" ujar Bram yang memang dari pagi di telpon Jero, karena Bram saat dihubungi Jero langsung mengangkat panggilannya.


"Gue juga dari pagi di telpon, tapi ponsel gue tinggal di ruangan, makanya nggak tau Bram." ujar Felix yang akhirnya mengakui kepada Bram kalau dia juga dihubungi dari pagi.


"Nah berarti yang salah bukan Bang Jero dong ya Bang. Tapi, abang yang telat angkat telpon dari Bang Jero" ujar Bram sambil tetap melajukan mobilnya menuju restoran Asander yang terletak tidak jauh dari perusahaan JFB Grub yang dikelolanya.


Bram tadinya menyangka kalau Felix memang baru saja dihubungi oleh Jero. Bukan seperti dirinya yang telah dihubungi Jero dari pagi.


"Loe tau kenapa kita di minta ke restoran mendadak gini?" tanya Felix yang memang tidak sempat bertanya kepada Jero, ada masalah apa sampai mereka dikumpulkan di restoran Asander.


"Gue juga nggak tau Bang. Gue nelpon elo mau nanyak itu malahan" ujar Bram yang memang menghubungi Felix karena mau bertanya ada apa Jero mendadak menghubungi mereka. Tapi ternyata Felix tidak mengetahui apa pasalnya Jero mengumpulkan mereka bertiga.


"Loe udah sampe mana Bram?" tanya Felix yang ingin mencari teman untuk terlambat datang. Felix terjebak sedikit macet karena ada kecelakaan kecil di depannya tadi.


"Ini udah parkir Bang. Loe dimana masih jauh?" tanya Bram yang baru memarkirkan mobilnya di parkiran khusus untuk Bram.


"Gue baru lepas macet. Sekitar sepuluh menit dari restoran. Loe udah lihat mobil Bang Jero di parkiran?" tanya Felix yang sangat berharap kalau Jero belum datang.


Felix berharap Jero datangnya di belakang dia, atau minimal sama dengan Felix datang Jero ke restoran Asander itu.


"Belum Bang, sama sekali belum ada mobil Bang Jero. Tadi dia nelpon bunyinya dimana?" tanya Bram kepada Felix.


"Dalam mobil" ujar Felix yang sudah mulai pasrah.


"Gas aja Bang. Kayaknya bentar lagi Bang Jero datang. Jangan sampe loe sampai sini lewat dari waktu yang ditentukan Bang Jero, Bang. Bisa mampus loe Bang" ujar Bram mulai membuat Felix ketar ketir dan sedikit menekan pedal gas lebih dalam.


"Loe emang adik kutu kupret Bram. Gue udah panik malah loe takut takutin lagi. Gue juga tau Bram, Jero akan murka kalau Gue datang terlambat dari waktu yang ditetapkan" ujar Felix dengan nada pasrah.


"Berjuang Bang. Gue masuk dulu" ujar Bram.


Bram memutuskan panggilannya dengan Felix. Bram dan Jeri masuk ke dalam restoran. Seorang pelayanan yang kenal dengan Bram menyapa Bram.


"Tuan mau bertemu dengan Tuan Jero?" tanya pelayan.


"Yup" jawab Bram.


"Mari ikuti saya Tuan Bram" ujar Pelayan.


Bram dan Jeri mengikuti kemana pelayan itu pergi. Pelayan mengarahkan Bram dan Jeri menuju ruangan VVIP yang sudah di pesan oleh Jero kepada manager restoran.


Pelayan membukakan pintu ruangan. Bram dan Jeri melihat ke dalam belum ada satupun makhluk di dalam ruangan. Termasuk Jero yang mengundang mereka.


Bram dan Jeri kemudian masuk ke dalam ruangan. Mereka duduk di kursi yang ada di situ.


"Kemana Jero nya Bram?" tanya Jeri yang sama sekali tidak melihat Jero di dalam.


"Palingan bentar lagi Bang" ujar Bram yang langsung memutar film di televisi yang ada di dalam ruangan itu.


Bram dan Jeri asik menonton film yang diputar oleh Bram. Mereka sekali sekali mengobrol ringan membahas hal hal penting dari pelajaran aplikasi yang diberikan oleh Jeri.


"Mana Bang Jero?" tanya Felix yang tidak ada melihat Jero berada di ruangan itu.


Felix duduk tepat di sebelah Bram di sofa yang ada di ruangan.


"Belum datang Bang. Loe ngebut Bang? Cepet banget sampe sini." ujar Bram yang sangat yakin Felix pasti ngebut sehingga dia bisa cepat sampai di restoran.


"Gimana lagi, gue nggak mau Bang Jero marah. Panik gue kalau dia marah" ujar Felix sambil membuka botol air mineral yang diambilnya dari dalam almari pendingin yang ada di bawah meja televisi


"Gue kira beneran harus sampe dalam lima belas menit, eee kiranya" ujar Felix yang bener bener ngebut selepas mengalami macet.


"Tadi tu kalau ada polisi gue pastikan kena tilang. Gue bener bener ngegeber mobil gue. Sekali itu gue bawa mobil kayak gitu. Kalau ada penumpang, gue bisa pastikan akan teriak setiap gue nginjak rem" ujar Felix.


"Kalau gue disuruh lagi bawa mobil kayak tadi. Gue pastikan gue nggak akan sanggup lagi" ujar Felix yang memang kalau di suruh lagi bawa mobil seperti tadi akan langsung angkat tangan mengatakan gue nggak sanggup dan nyerah.


Mereka bertiga kemudian mengobrol ringan. Mereka masih setia menunggu Jero yang diprediksi akan ngaret itu.


"Sebenarnya kita janjian jam berapa?" tanya Felix yang merasa sudah lama menunggu Jero.


"Jam setengah satu Bang. Hari masih setengah satu kurang enam" ujar Bram saat melihat jam yang ada di ponselnya.


"Ooooo masih ada enam menit lagi. Gue yakin Bang Jero pasti akan datang pas pas di jam setengah satu" ujar Felix.


"Nyesel gue ngegeber mobil, kenapa gue nggak nengok jam aja tadi saat bawa mobil, jadi gue nggak perlu ngebut ngebut" lanjut Felix yang menyesal banget sudah mengebut saat bawa mobil menuju restoran.


Saat mereka mengobrol, pintu ruangan VVIP terbuka, terlihat Jero dan seorang wanita berjalan masuk ke dalam ruangan VVIP.


Tepat di belakang Jero, masuk tiga orang pelayan yang membawa menu makan siang mereka berlima. Tiga orang pelayan menata makanan di atas meja panjang, setelah itu mereka keluar, masuk dua orang lagi menata makanan yang mereka bawa.


Vian melihat semua itu dengan kening berkerut. Vian sangat penasaran dengan pekerjaan dua adik Jero itu. Kenapa mereka memesan makanan yang terlihat sangat mahal mahal itu.


'Kalau lihat dari makanannya, mereka terlihat sangat sukses dalam pekerjaan mereka masing masing' ujar Vian.


'Pakaian mereka juga keren keren' lanjut Vian saat melihat Felix dan Bram yang duduk bersebelahan.


Vian sibuk dengan pemikiran dirinya sendiri. Dia sibuk menerka nerka, apa pekerjaan Felix dan Bram selama ini.


"Kalian sudah lama datang?" tanya Jero sambil duduk di depan kedua adiknya dan juga satu sahabat baiknya itu.


"Lumayan lama Bang. Kami datang sebelum setengah satu, palingan menunggu lima belas menit kali Aku. Sedangkan yang ono baru datang lima menit yang lalu dengan mempertaruhkan nyawanya Bang" kata Bram menjawab pertanyaan Jero.


"Maksud loe mempertaruhkan nyawa apaan?" tanya Jero yang penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Bram tadi.


"Dia takut abang duluan sampe makanya dia ngebut" ujar Bram mengadukan perbuatan Felix yang mengebut di jalan raya saat akan menuju restoran.


"Kok bisa loe ngebut?" tanya Jero menatap Felix dengan tatapan tajam.


Felix menatap ke arah Bram yang asal mengadukan dirinya saja kepada Jero. Jelas Jero paling males mendengar ada diantara mereka yang mengebut di jalan saat suatu acara dianggap tidak penting.


"Takut telat aja Bang. Lagian aku kan sampai masih dalam keadaan hidup. Bram aja yang lebay" ujar Felix kembali memberikan tatapan tajamnya kepada Bram.


"Ini terakhir Felix. Aku lebih memilih kalian berdua selamat sampai ke tempat yang aku minta, dari pada kalian sampai tapi sudah tidak bisa diajak bicara" ujar Jero menekankan kepada kedua adiknya itu.


"Kalian paham atau harus aku ulangi lagi?" tanya Jero menekankan pertanyaannya.


"Paham Bang" jawab Felix dan Bram kompak.


"Oke" ujar Jero.


"Jero, gimana kalau kita makan siang dulu, setelah itu baru kita lanjutkan pembicaraannya" ujar Vian yang memang sudah merasakan cacing cacing dalam perutnya sudah demo minta dikasih makan.


"Kamu udah laper sayang?" ujar Jero dengan percaya dirinya memanggil Vian dengan sebutan sayang di depan kedua adiknya dan juga sahabatnya itu.


"Cie sayang. Sayang kepala loe peyang Bang" ujar Bram sambil geleng geleng kepala.


"Udah Bang jangan pake acara mesra mesraan di depan kamilah. Tenggang juga dong perasaan kami yang jomblo ini" ujar Felix melanjutkan perkataan Bram.


Vian sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan Jero. Dia mau menjawab tetapi sudah keburu di sela Bram dan Felix. Sedangkan Jeri melongo tidak percaya ke arah Jero.


"Akhirnya gue mendengar loe memanggil seorang wanita dengan sebutan sayang Jer. Gue kira gue nggak akan pernah mendengarnya" ujar Jeri sambil menatap kagum ke arah Vian.


Bug. Sebuah pukulan mendarat di kepala Jeri.


"Elo natap dia biasa aja. Mau loe gue berentiin napas saat ini juga" ujar Jero menatap Jeri.


"Hahahahaha.Elo lagi Bang. Elo nggak tau gimana posesif nya dia Bang. Udah jangan ditatap kayak gitu. Loe mau pulang masih pake katakan ke negara E?" ujar Bram yang memang sangat usil jadi orang.


"Iyalah, mana mau gue buta. Gila aja kali" jawab Jeri yang mengalihkan pandangannya dari wajah Vian.


"Udah, mari makan. Nanti kita lanjutkan lagi obrolan sekaligus perkenalannya" ujar Jero yang memang juga sudah kelaperan.


Mereka menyantap semua hidangan yang disajikan. Tak satupun hidangan yang tersisa, semua menu utama habis dilahap mereka berlima. Jero, Felix, Bram dan Jeri semenjak mereka merasakan susahnya mencari uang saat kecil, tidak pernah mereka satu kalipun menyisakan makanan milik mereka. Mereka akan menghabiskan semuanya. Mereka sudah tau kapasitas perut mereka sampai dimana. Vian menatap kagum ke arah empat pria itu.


"Jadi, wanita ini siapa Bang?" tanya Bram sambil melihat ke arah Vian.


Walaupun tadi Bram mendengar perkataan Jero, tetapi Bram ingin Jero memperkenalkan Vian kepada mereka bertiga dengan formal.


...----------------...


Nantikan episode berikutnya kakak.


singgah juga di novel aku yang lainnya kakak


Suamiku Bukan Milikku


It's My Dream


Kepahitan Sebuah Cinta


Kesetiaan Seorang Istri**