
Anggi yang memang kadang bersikap aneh itu, memberhentikan mobil yang dikemudikannya di depan penjual nasi goreng. dia ingin melihat bagaimana Juan Aleksander, seorang Tuan Muda yang sombong itu berjalan menuju mansion miliknya. Sebuah mansion yang telah kosong dan tidak ada penghuninya selain Juan Aleksander dan satpam.
Anggi membuka pintu mobil bagian belakang, tempat dimana Juan Aleksander duduk selama perjalanan dari rumah sakit menuju mansion Juan Aleksander yang terkenal besar untuk lingkungan tempat dirinya tinggal sekarang.
"Silahkan turun Tuan Muda Aleksander. Kami hanya sampai sini mengantarkan Tuan. Selanjutnya terserah Tuan ke sana, apakah mau jalan kaki, atau menunggu seseorang datang menumpangi Tuan Juan Aleksander dan mengantarkannya ke mansion Tuan?" ujar Anggi kepada Juan Aleksander, seorang CEO muda yang sekarang terlibat dalam skandal.
Juan Aleksander kemudian turun dari dalam mobil milik Aggi. Dia harus berjalan cukup jauh untuk menuju mansion. Juan Aleksander benar benar sial untuk hari ini. Hal pertama tadi saat sampai di perusahaan Tuan Wijaya, dia sama sekali tidak bisa berkata apa apa karena diborong oleh Tuan Aleksander. Kesialan kedua adalah saat dia datang ke rumah sakit menemui Vian. Bukan sujud sujud Vian yang didapatkannya, melainkan Vian yang menahan amarah dan memancing para pengunjung rumah sakit untuk marah kepada Juan. Kesialan ketiga yang terjadi sekarang, dia harus berjalan kaki menuju mansion mewahnya itu.
"Hay pengawal, kalian berdua mau tidak Saya bayar tiga kali lipat dari gaji kalian sekarang, tapi kalian harus membantu saya ke depannya" ujar Juan Aleksander memberikan penawaran kepada Angga dan Anggi. Juan berusaha membuat Angga dan Anggi emmbelot dari Jero.
Angga dan Anggi yang mengerti maksud dan tujuan dari perkataan Juan tadi hanya menatap sinis Juan Aleksander yang masih belum juga turun dari dalam mobil.
"Tuan Tuan, walaupun Tuan bayar seribu kali lipat, kami tidak akan pernah berkhianat dengan siapapun. Kenapa kami lakukan hal itu, karena bagaimanapun juga, kalau tidak karena dia, belum tentu kami akan seperti ini" ujar Anggi sambil menatap remeh ke arah Juan Aleksander.
"Jadi Tuan silahkan Anda turun dan simpan uang Anda sebelum Anda kembali ke jalanan" lanjut Anggi dengan sangat murka dan bisa dikatakan sudah mengeluarkan kata kata yang tidak semestinya lagi.
"Saya naikkan lima belas kali lipat dari gaji kalian saat ini. Tempat tinggal saya sediakan, mobil saya sediakan. Semuanya akan saya sediakan" ujar Juan Aleksander masih dengan metode ingin merayu agar anak itu tidak pindah maupun keluar sendiri saja.
"Tuan, saya harap Anda mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Saudara Saya." ujar Angga yang terkenal sangat kejam kepada siapapun.
"Kalian berdua pikir pikirlah dulu sebelum mengambil keputusan. Jangan nanti kalian menyesal." Juan Aleksander masih terus berusaha untuk membuat Angga dan Anggi lengah dan pada akhirnya mengiyakan apa yang dikatakan oleh seorang Juan Aleksander.
Angga dan Anggi diam, mereka tidak tahu lagi bagaimana cara mengusir Juan Aleksander itu agar turun dari dalam mobil yang dikemudikan oleh Angga.
"Tuan, sekali lagi saya katakan kepada Tuan, untuk turun dari dalam mobil saya." ujar Angga mengulang kembali perintahnya kepada Juan.
Juan Aleksander masih diam saja, dia sama sekali tidak bergeming untuk turun dari dalam mobil. Angga sudah tidak bisa lagi menahan emosi dan amarahnya. Dia turun dari dalam mobil. Angga membuka pintu dekat Juan Aleksander duduk.
"Anda yang meminta saya berbuat kasar Tuan Juan Aleksander. Jadi, jangan salahkan saya kalau anda akan malu pada akhirnya." ujar Angga dengan penuh emosi. Angga sudah tidak bisa lagi menahan rasa marahnya.
Angga akhirnya menyentak dengan kuat Juan dari dalam mobil. Juan yang kaget dan tidak ada persiapan langsung terjatuh dari dalam mobil. Juan Aleksander berdiri dari posisi dia terjatuh. Dia menatap Angga dan Anggi bergantian.
"Kalian berdua akan merasakan akibat telah melawan ke saya. Saya adalah orang yang sangat berpengaruh di negara ini." ujar Juan Aleksander masih dengan sikap pongah dan arogannya.
"Terserah Anda, Tuan Juan Aleksander. Kami berdua serta Hendri dan Erik menunggu kedatangan Anda ke tempat kami. Kami akan sambut Anda dengan kemewahan" ujar Anggi yang sebenarnya juga sudah bosan mendengar suara dari Juan Aleksander yang sangat terlihat penakut nya itu.
"Siapa yang datang Pak?" tanya Juan Aleksander saat melihat ada satu mobil yang dia tidak tau itu milik siapa.
"Tuan dan Nyonya besar Tuan." jawab Satpam mengatakan siapa yang telah datang ke mansion kosong itu.
"Oh makasi. Apa ada mobil Buggy di sini?" tanya Juan Aleksander kepada satpam.
"Siap tidak ada Tuan." jawab satpam memberitahukan kepada Juan Aleksander kalau tidak ada sama sekali mobil Buggy di dekat pos satpam.
Juan kemudian memilih untuk melanjutkan jalan kakinya menuju mansion yang terletak lumayan jauh dari pos satpam.
Setelah Juan terlihat sudah menjauh dan tidak berada dalam jangkauan penglihatan, satpam mengeluarkan mobil Buggy itu dari belakang pos satpam.
Juan akhirnya sampai juga di depan pintu ruangan utama dari mansion besar itu. Betapa kagetnya Juan Aleksander saat melihat kedua orang tuanya sudah berada di dalam mansion miliknya itu
"Kapan datang Papi dan Mami?" tanya Juan sambil bersalaman dengan kedua orang tuanya itu
"Kenapa keringat kamu sampai sebegininya nak?" tanya Mami saat melihat keringat Juan Aleksander yang mengalir seperti aliran sungai.
"Oh aku jalan dari pos satpam Mi. Mobil yang aku bawa ke mansion utama tadi mendadak tergores sedikit oleh anak anak." kata Juan Aleksander memberikan alasan yang lebih masuk diakal lagi.
"Sehingga mobilnya aku antarkan ke bengkel" ujar Juan Aleksander masih meneruskan menipunya. itu.
"Papi dan Mami ada keperluan apa ya, sampai harus datang sendiri ke mansion Juan. Kalau Papi dan Mami ada perlu kan tinggal telpon Juan. Nanti Juan akan datang ke mansion utama kita." ujar Juan Aleksander yang sudah mulai tidak berpikiran sehat itu. Begitu banyak pekerjaan tertumpu kepada dirinya saat ini.
"Istri kamu kemana Juan Aleksander?" tanya Papi dengan dinginnya. Papi ingin mengetahui keberadaan Menantunya dimana sekarang ini.
"Di rumah sakit Papi" jawab Juan Aleksander dengan jujur. Juan memang tidak berbohong Vian sekarang memang berada di rumah sakit.
"Oke. Vian di rumah sakit. Pak Hans dan Bik Ima kemana?" tanya Papi menanyakan sepasang suami istri yang memang sudah lama ikut dengan mereka itu
"Pak Hans dan Bik Ima, dia pulang kampung Papi." ujar Juan Aleksander masih menilu kedua orang tuanya.
"Juan Aleksander sekali lagi saya bertanya. Kemana menantu saya!!!!!!!" teriak Papi mulai murka dengan jawaban Juan Aleksander yang seperti tidak mengetahui apa apa.