My Affair

My Affair
Mansion



Tuan besar dan Tuan Muda Aleksander berjalan meninggalkan Vian dan yang lainnya. Mereka berdua akan kembali ke mansion utama. Tuan besar Aleksander berbalik sekali lagi untuk melihat Jero. Dia merasakan kalau pria tinggi yang tadi berbicara dengan dirinya tadi merasakan kalau Jero saat dekat dan sangat dia kenal.


'Entahlah, entah dimana saya pernah bertemu dengan dia. Tapi satu yang pasti rasa ini adalah rasa yang sangat dekat sekali' kata Tuan besar Aleksander.


Jero tersenyum misterius ke arah Tuan besar Aleksander. Jero sengaja melakukan hal itu supaya tuan besar Aleksander menyadari keberadaannya di sana.


'Mommy semoga dia penasaran siapa aku sebenarnya' kata Jero berdoa dalam hatinya.


Setelah melihat kepergian tuan besar dan tuan muda Aleksander, Jero kembali melihat ke arah sahabat sekaligus pengacara Vian, siapa lagi kalau bukan Jeri.


"Huft" Jeri menghela nafasnya. Dia sudah tahu apa yang sekarang sedang dipikirkan oleh Jero.


"Jeri jelaskan" ujar Jero kepada Jeri.


"Jangan sampai ada yang tertinggal Jeri. Sampai ada maka kamu akan gue pastikan berakhir di jalanan sekarang juga" lanjut Jero yang murka saat mendengar ancaman dari Juan tadi.


"Sayang kita berbicara di mansion saja" kata Vian.


Vian sudah memutuskan, dia akan tetap tinggal bersama dengan Jero. Vian sudah muak dengan apa yang terjadi di dalam ruang mediasi tadi. Dia akan memutuskan apa yang akan dilakukan oleh dirinya untuk hidupnya sendiri.


Jero mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Vian. Dia tidak mau apa yang terjadi di dalam ruangan antara Vian dan Juan terdengar oleh orang orang yang ada di ruangan tersebut.


Jero, Vian, Felix, Bram dan Jeri berjalan menuju mobil mereka masing masing. Empat mobil mewah berlalu meninggalkan lapangan parkir pengadilan agama. Keempat mobil beriringan menuju mansion utama Asander Grub.


"Jeri, biar aku saja yang cerita ke Jero" kata Vian yang ingin menceritakan apa yang terjadi atas kejadian yang terjadi di pengadilan itu sendiri tidak melalui Jeri.


"Baiklah" jawab Jeri.


Vian menatap ke arah kekasihnya yang sekarang sedang diliputi rasa cemas dan juga marah. Vian mengetahui hal itu, Jero sama sekali tidak bisa membohongi Vian, Vian sangat tahu bagaimana Jero.


"Sayang, kejadian di dalam ruangan mediasi tadi merupakan kejadian yang benar benar membuat aku cemas. Sangat luar biasa cemas."


Vian mulai membuka ceritanya tentang apa yang terjadi di dalam ruang mediasi. Pertemuan pertama antara Vian dengan Juan.


Pertemuan yang membuat Vian menjadi sangat murka. Pertemuan yang membuat Vian mengingat luka lama kembali.


Jero memfokuskan dirinya dengan hal hal yang akan diceritakan oleh Vian.


"Dalam ruangan kecil itu pria itu mengatakan kepada orang yang ada di sana, siapa namanya aku lupa" ujar Vian.


"Aku tidak penting tau mereka siapa. Aku nggak peduli" Jero berkata sambil melihat ke arah Vian.


"Dia mengatakan kalau dia tidak berbuat apa apa kepada aku. Dia mengatakan kalau aku yang meninggalkannya dan lari dengan kamu" ujar Vian dengan suara mantap.


"Saat itu aku sangat kesal sekali. Aku membantah semua yang dikatakan oleh pria itu" kata Vian yang tidak ingin Jero mengira kalau dirinya menerima apa yang dikatakan oleh Juan kepada orang orang yang ada di dalam ruangan mediasi tersebut.


"Aku sangat luar biasa marah saat dia mengatakan tidak melakukan apa apa terhadap aku" lanjut Vian.


Jero menggenggam tangan Vian yang sudah bergetar karena menahan emosinya. Vian saat ini benar benar marah dengan Juan. Dia tidak menyangka kalau Juan mengatakan hal yang sebaliknya di depan para penasehat pernikahan tersebut.


"Terus apa tanggapan dari orang pengadilan?" tanya Jero yang penasaran dengan tanggapan orang pengadilan atas apa yang telah dikatakan oleh Juan.


Vian terdiam saat Jero menanyakan hal itu. Vian takut kalau dia mengatakan apa yang dikatakan oleh orang pengadilan akan membuat Jero menjadi marah dan emosi kepada dirinya.


"Vian, apa kata orang pengadilan?" ujar Jero mengulang pertanyaan yang sama kepada Vian.


Vian terkejut saat Jero memanggil namanya.


"Maafkan aku" kata Jero


"Aku yang seharusnya minta maaf, bukan kamu" kata Vian


"Jadi apa yang dikatakan oleh orang pengadilan kepada kamu?" lanjut Jero bertanya kepada Vian.


"Mereka mengatakan kalau pernikahan aku dengan Juan harus dilanjutkan" kata Vian sambil menekurkan kepalanya dalam dalam.


Jero menatap Vian.


"Tapi aku nggak mau" lanjut Vian.


Jero kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Vian.


"Kamu menolaknya?" ujar Jero bertanya kepastian dari apa yang dikatakan oleh Vian


Vian mengangkat kepalanya.


"Ya aku menolaknya" kata Vian sambil menatap ke mata Jero.


Jero tersenyum. "Kamu bener bener kekasihku sayang" kata Jero sambil memeluk Vian dengan sangat erat.


"Tapi mereka meminta aku untuk berpisah dengan kamu" ujar Vian di dalam pelukan Jero.


"Tidak ada yang akan bisa memisahkan kita sayang"


"Kamu harus yakin dengan apa yang aku katakan. Kita akan menua bersama"


Jero meyakinkan Vian bahwasanya apapun yang terjadi, apapun yang dilakukan oleh orang orang di luar sana, mereka berdua akan tetap bersama


"Aku percaya sama kamu sayang. aku yakin kita akan selalu bersama" ujar Vian masih di dalam pelukan Jero


"Terus apa masih ada yang dikatakan oleh mereka lagi tentang hubungan kita?" lanjut Jero.


"Ya mereka mengatakan kalau Juan tidak mau berpisah maka perpisahan itu tidak akan bisa terjadi. Kami akan tetap. menjadi sepasang suami istri untuk selamanya" lanjut Vian menceritakan apa saja yang dikatakan oleh orang orang pengadilan di dalam ruang mediasi tersebut.


"Tai aku tidak inginkan itu, sama sekali tidak. aku tidak mau melanjutkan pernikahan aku dengan pria tersebut sayang" kaya Vian.


Sekarang tidak hanya mereka bertiga yang ada di ruangan itu lagi, tetapi sudah ada Bram dan Felix.


"Apa yang terjadi Bang?" tanya Bram saat melihat Vian yang sedang mengusap air matanya.


Jero mengatakan apa yang dikatakan oleh Vian kepada Felix dan Bram.


"Oh mana bisa itu terjadi. Mereka akan melihat siapa kita. Sempat mereka memaksakan kehendak mereka, maka dengan senang hati aku akan melayani permainan mereka" ujar Bram dengan emosi.


"Kakak ipar, tenang saja mereka tidak akan berani melakukannya. sempat mereka goyang sedikit saja, maka boom mereka akan rasakan ledakannya" lanjut Bram yang memang paling suka mengadu adrenalin dengan orang lain.


"Tapi Bram" ujar Jero.


"Bang, aku tau kalau ini adalah peperangan abang, kakak ipar dengan keluarga itu. Tetapi saat mereka sudah mengganggu abang atau kakak ipar, maka mereka sudah mengganggu kita semua" jawab Bram.