My Affair

My Affair
Rumah Sakit



"Sayang, kamu nanti pulang jam berapa?" tanya Jero kepada Vian saat mereka dalam perjalanan menuju rumah sakit tempat Vian bekerja mulai hari ini.


Rumah sakit yang sama sewaktu Vian masih menjadi istri dari Juan Alexsander. Rumah sakit yang membuat Vian harus setiap hari bersama dengan Jero menghabiskan hari harinya. Rumah sakit yang menyimpan banyak cerita untuk kehidupan Vian selama ini. Rumah sakit yang dari semula tempat Vian bekerja. Sekarang sudah saatnya Vian kembali ke rumah sakit itu kembali. Vian akan kembali membaktikan dirinya di bawah sumpah jabatan dokter yang sudah diucapkannya sewaktu dia lulus dari fakultas kedokteran dari salah satu universitas ternama di negara I. Universitas yang berhasil mencetak para dokter yang kompetendi bidangnya masing masing.


"Belum tau sayang, sepertinya kali ini akan cepat karena pasien aku yang lama tidak tahu kalau aku sudah kembali bekerja" ujar Vian yang menduga kalau kali ini pasiennya tidak akan serame dulu waktu dia masih aktif menjadi dokter di rumah sakit itu.


"Kalau gitu nanti aku kan pulang kerja jam tiga, aku langsung jemput aja ya ke sini." ujar Jero sambil merapikan anak rambut Vian yang keluar dari jepit rambut kecil milik Vian yang terpasang di kepala Vian.


"Gimana kalau pas aku siap kerja aku akan menghubungi kamu untuk minta kirim Ryan jemput aku dan Josua ke rumah sakit?" ujar Vian memberikan solusi yang lain kepada Jero.


"Ide bagus" jawab Jero


"Josua, nanti kalau Nona sudah siap bekerja, kamu langsung hubungi Ryan untuk pergi menjemput Nona dan kamu ke rumah sakit" ujar Jero memberikan perintah kepada Josua.


"Siap Tuan muda, akan saya lakukan" jawab Josua sambil melihat ke arah Jero dari kaca spion mobil bagian dalam.


Mobil terus bergerak menuju rumah sakit. Ryan mengemudikan mobil dengan sangat fokus. Dia sama sekali tidak berbicara dengan siapapun. SOP mengemudi mobil keluarga Asander adalah seperti itu, sopir bisa berbicara apa bila ada suatu hal yang gawat darurat yang harus dikomunikasikan, kalau tidak maka sopir akan tetap dalam posisi diam dan fokus kepada komudinya dan jalan yang berada di depan.


"Sayang, Jeri hari ini akan ke pengadilan agama mengambil formulir untuk pengajuan perceraian kamu dengan Juan" ujar Jero memberitahukan kepada Vian apa yang akan dilakukan oleh Jeri.


"Oke sayang. Nanti aku akan mengumpulkan semua dokumen yang diperlukan untuk proses perceraian itu" ujar Vian yang sangat bersemangat karena Jeri sudah akan mengurus permohonan perceraiannya dengan Juan, pria yang sangat tidak tahu bagaimana cara memperlakukan istri dengan baik.


"Emang dokumennya ada di rumah sakit?" ujar Jero nyeletuk saat mendengar jawaban yang diberikan oleh Vian kepada dirinya tentang dokumen dokumen pernikahan Vian dan Juan yang akan dikumpulkan oleh Vian.


"Nggaklah sayang, semua dokumen ada di mansion. Kan aku ngomongnya nanti, bukan pas sampe rumah sakit aku kumpulkan" jawab Vian membela dirinya atas jawaban yang diberikan oleh Vian kepada Jero tadi.


"Oh, kirain" jawab Jero yang sudah salah menduga jawaban yang diberikan oleh Vian kepada dirinya sebentar ini.


"Mana ada" balas Vian dengan cepat.


Ryan melajukan mobil dalam kecepatan sedang menuju rumah sakit tempat Vian bekerja. Jero dan Vian mengobrol sepanjang jalan membahas beberapa hal yang memang perlu mereka bahas. Setelah berkendara kurang lebih setengah jam dengan memakai patwal di bagian depan, mobil yang dikemudikan oleh Ryan telah masuk ke dalam pintu gerbang utama rumah sakit. Ryan memberhentikan mobilnya tepat di pintu masuk ke lobby rumah sakit.


Cup. Vian mengecup kening dan juga bibir Jero dengan lembut. Setelah mengecup kening dan juga bibir Jero, Vian masih belum beranjak dari kursinya, dia masih duduk dengan cantik di sana. Josua yang sudah bersiap untuk membukakan pintu mobil, kembali menutup pintu tempat dia duduk.


"Kenapa?" ujar Jero menatap Vian yang terlihat enggan dan bisa dikatakan malas untuk turun dari dalam mobil.


"Nggak kenapa kenapa" jawab Vian yang berusaha berbohong kepada Jero


"Jangan pakai bohong, ada apa?" ujar Jero mendesak Vian untuk mengatakan apa yang ada di dalam pikiran Vian pada saat ini.


"Ada apa sayang?" ujar Jero bertanya satu kali lagi kepada Vian.


Vian menatap Jero. Jero mengangguk meyakinkan Vian untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Jero kepada dirinya.


"Aku malas untuk masuk ke rumah sakit sayang" jawab Vian sambil menatap ke arah Jero


"kenapa?" tanya Jero dengan nada herannya.


"Bukannya kemaren kamu semangat sayang. Kamu bisa melakukan beberapa operasi. Sekarang kenapa kamu menjadi malas?" ujar Jero yang kemaren sudah yakin untuk membiarkan Vian kembali bekerja di rumah sakit.


"Kemaren iya sayang, sekarang datang malasnya" ujar Vian


Vian sebenarnya tadi semangat untuk bekerja ke rumah sakit, tetapi karena dia ingat kasus kemaren, hal itu membuat Vian menjadi enggan hari ini untuk bekerja.


Bram berjalan menuju ruangan operasi. Dia akan bergantian dengan Jero di sana nantinya. Beberapa pengawal terlihat berada di sekitaran ruangan operasi dengan menyamar menjadi orang dalam rumah sakit dan keluarga pasien.


Beberapa dari mereka menganggukkan kepalanya kepada Bram. Bram membalas dengan menganggukkan kepalanya juga. Bahasa isyarat yang terlihat sederhana tetapi sangat bermakna bagi mereka semua.


"Apa operasinya sudah dimulai?" tanya Bram kepada salah satu pengawal yang berprofesi sebagai perawat di rumah sakit itu.


"Belum Tuan. Dokter Heru baru saja datang. Jadi, sekarang masih persiapan. Palingan lima belas menit lagi akan dimulai." ujar perawat memberitahukan kepada Bram kalau operasi belum dimulai.


"Terimakasih. Kamu jaga terus Nona muda ya. Jangan sampai dia di ganggu ***** itu lagi" ujar Bram kepada perawat yang masih berdiri di depan pintu ruang operasi.


"Siap Tuan, akan saya laksanakan" ujar Perawat sambil menganggukkan kepalanya menerima perintah dari Bram.


"Saya masuk dulu Tuan" ujar perawat.


Bram mengangguk mengizinkan perawat untuk kembali masuk ke dalam ruangan operasi.


Bram memilih untuk duduk di kursi tunggu keluarga pasien di depan ruangan operasi. Bram mengeluarkan ponsel miliknya, dia membaca dokumen yang dikirimkan oleh sekretarisnya barusan. Dokumen tentang pengajuan kerjasama dari perusahaan lain.


Sedangkan di dalam ruangan operasi dokter Heru terlihat sangat serius, dia tidak lagi berusaha menggoda Vian. Dia benar benar bersikap profesional sekarang, berbeda dengan sebelum dia di panggil ke ruangan direktur rumah sakit.


kenangan percakapan dan kejadian di awal hari pertama Vian bekerja di rumah sakit, kembali lagi ke otak Vian dan membuat Vian menjadi malas untuk bekerja.