
Jero memikirkan apa yang dikatakan oleh Felix. Semua yang dipikirkan oleh Felix ada benarnya juga. Status hubungan antara Jero dan Vian adalah hubungan yang ilegal. Hubungan yang bisa dengan mudahnya dirusak oleh orang lain.
"Jadi, abang harus gimana Felix?" tanya Jero kepada adiknya yang selalu berpikir sistematis dan jauh ke depan itu.
"Ada baiknya, Abang bawa pergi kakak ipar ke negara E. Bagaimanapun juga kalau di sini, mereka bisa memanggil pihak keamanan untuk memaksa Vian kembali ke mansion. Bagaimanapun juga Abang nggak bisa melarang karena Vian berstatua istri sah dari Juan Aleksander" kata Felix memberikan pandangan dan analisanya.
Jero terlihat berpikir, dia memikirkan apa yang dikatakan oleh Felix. Tetapi Jero tidak bisa mengambil keputusan sendiri saat ini, karena hal ini bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga ada Vian di dalamnya
"Abang konsultasikan ke Vian dulu Felix. Lagian Vian juga mau kuliah ke negara E. Semoga saja dia mau ke sana secepatnya." ujar Jero memberikan jawaban kepada Felix
"Menurut loe gimana?" Jero balik bertanya kepada adiknya itu.
"Setuju Bang. Memang lebih baik, abang minta pendapat Vian dulu. Karena bagaimanapun Vian terlibat di dalamnya. Lagian juga abang belum punya hak untuk memutuskan apa yang terbaik buat Vian dan apa yang tidak" ujar Felix mendukung keputusan yang diberikan oleh Jero tadi.
Mereka berdua kembali melihat konferensi pers itu. Disana terlihat Tuan Aleksander yang sedang berbicara membersihkan nama baik keluarga.
"Saya Tuan Aleksander meminta maaf kepada semua masyarakat di negara ini atas berita negatif yang tersebar." ujar Tuan Aleksander membuka kalimat perkataannya
"Saya juga menyampaikan bahwa pada saat kejadian anak saya melakukan hal yang ada di fhoto itu, disebabkan karena istrinya dokter Vian Bramantya tidak mau memberikan nafkah bathin kepada anak saya." lanjut Tuan Aleksander berbicara dengan gampangnya. Tuan Aleksander tidak memikirkan bagaimana perasaan Vian saat mendengar berita itu.
"Sebagai wujud pemberontakan Juan Aleksander melakukan hal itu. Padahal sebenarnya mereka tidak melakukan apa apa di dalam kamar itu" ujar Tuan Aleksander yang saat ini menyalahkan Vian atas semua kasus yang terjadi menimpa Juan Aleksander.
Jero dan Felix yang mendengar apa yang dikatakan oleh Tuan Aleksander mendadak langsung berdiri bersamaan.
"Kita harus ke rumah sakit Bang. Aku takut nanti ada berita seperti ini di rumah sakit. Kita nggak tau bagaimana sikap yang akan diambil oleh orang orang yang berada di sana" ujar Felix sambil menyambar kunci mobil yang ada di depannya.
Bram dan juga Jeri yang mendengar konfrensi pers yang dibuat oleh Tuan Aleksander juga langsung bergerak menuju rumah sakit. Mereka takut sesuatu akan terjadi kepada Vian. Apalagi tadi katanya Jero akan ada rapat dengan Felix.
Felix dan Bram mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Mereka sama sama khawatir dengan keadaan Vian sekarang.
Jero mengambil ponsel miliknya. Dia berusaha menghubungi Vian. Tetapi Vian sama sekali tidak mengangkat panggilan dari Jero.
"Gimana Bang? Diangkat tidak?" ujar Felix bertanya sambil tetap konsentrasi dengan jalanan yang cukup ramai itu.
"Tidak Felix. Abang takutnya dia berada di luar. Nanti saat dia pulang terjadi sesuatu." ujar Jero mengungkapkan ketakutannya.
"Pengawal ada Bang. Lagian sebentar lagi kita sampai. Abang ulang lagi aja menghubungi Vian" ujar Felix meminta Jero untuk tenang dan kembali menghubungi Vian.
Felix berbelok dengan cepat masuk ke dalam area rumah sakit. Mobil di depannya juga sama. Felix tau itu mobil siapa. Kedua mobil itu parkir sembarangan di depan rumah sakit. Satpam yang sebenarnya akan marah kepada sopir yang mengemudikan mobil, membatalkan niatnya saat melihat siapa saja yang turun dari dua mobil itu.
"Tolong parkir kan" ujar Felix melemparkan kunci mobil miliknya kepada satpam.
"Punya saya satu lagi" ujar Bram yang juga memberikan kunci mobilnya kepada Satpam rumah sakit.
Keempat pria tampan itu berlari menuju ruangan Vian. Salah satu pengawal melihat keempat Tuan mereka datang bersamaan langsung menemui Jero dan yang lainnya itu.
"Mana Vian?" tanya Jero kepada pengawal.
"Nona Vian tadi dipanggil ke IGD Tuan." jawab Erik yang diminta Vian untuk menunggu saja di depan ruangannya.
"Kamu kenapa di sini?" tanya Jero yang heran kenapa Erik ada di depan ruangan Vian.
"Diminta Nona Vian Tuan. Kata Nona tadi, kalau Tuan datang, saya bisa menyampaikan Nona berada dimana" jawab Erik sambil menunduk takut melihat Jero.
"Kami akan ke sana. Kamu tetap berjaga jaga di sini" ujar Jero kepada pengawal tersebut.
Mereka berempat kemudian pergi menunu ruangn IGD tempat dimana Vian sedang berada sekarang.
Beberapa orang dokter yang melihat siapa yang datang, langsung menunduk saat melihat keempat pria tampan tersebut. Beberapa suster terlihat langsung tebar pesona kepada mereka berempat. Tetapi, Jero dan kedua adiknya serta sahabatnya itu sudah terbiasa dengan tatapan tatapan yang diberikan perawat. Jadi, bagi mereka sama sekali tidak ada pengaruhnya.
"dokter Vian dimana?" tanya Bram yang bertanya dimana keberadaan dokter Vian.
"Sedang melakukan tindakan kepada pasien yang terluka di dalam Tuan" jawab salah satu dokter.
Jero yang sudah tidak bisa menahan dirinya, langsung masuk ke dalam ruangan IGD. Siapa saja tidak akan bisa menahan Jero sekarang. Apalagi saat melihat wajah Jero yang sedang memendam amarahnya. Amarah yang tidak bisa disalurkan kepada orang yang telah membuat dia marah itu.
Jero melihat Hendri berdiri di depan salah satu pintu ruangan yang ada di dalam IGD.
"Nona di dalam Hendri?" tanya Jero dengan nada dingin kepada Hendri.
"Iya Tuan. Nona di dalam" jawab Hendri sambil menatap Jero.
Jero membuka pintu ruangan. Seorang dokter hendak menghardik Jero. Tetapi saat melihat siapa yang masuk secara mendadak itu membatalkan niatnya kembali. Malahan dokter menunduk kepada Jero.
Vian hanya bisa geleng geleng kepala saja melihat kelakuan Jero. Vian tetap melakukan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi itu. Semua perawat dan dokter yang ada di sana kembali bekerja saat mendapatkan tatapan mematikan dari Jero.
Jero sebenarnya malu melakukan hal itu. Tetapi karena rasa cintanya kepada Vian membuat dia kehilangan akal sehatnya sendiri. Jero kembali keluar dari dalam ruangan tindakan itu. Dia akan menunggu Vian di luar bersama dengan kedua adiknya dan Jeri.
"Ketemu Bang?" tanya Bram yang sengaja bertanya hal itu kepada Jero.
Bram tau Jero pasti malu saat masuk dengan tergesa gesa dan terlihat sedang sangat cemas masuk ke dalam ruangan tindakan IGD.
"Ketemu, Vian sedang memberikan tindakan kepada pasien" ujar Jero sambil duduk di salah satu kursi. Dia mengusap wajahnya, dia benar benar telah kehilangan akal sehatnya.
"Sabar Bang. Kami juga akan melakukan hal yang sama dengan Abang. Saat mendengar berita fitnah seperti tadi" ujar Bram menenangkan Jero.
"Ini buktinya kami langsung ke sini walau tidak Abang minta. Kenapa kami ke mari, jawabannya sama, kami khawatir dengan kakak ipar" lanjut Bram sambil menepuk pundak Jero.
Jero tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Bram. Semuanya benar, Bram dan Jeri yang tadi tidak bersama mereka, juga langsung pergi menuju rumah sakit, saat mendengar siaran pers itu.
Keempat pria tampan dan berjas itu, berdiri dengan gagahnya di depan ruangan IGD. Beberapa keluarga pasien, menatap mereka lama dan menikmati ciptaan Tuhan yang sempurna itu. Bahkan ada diantara mereka yang tidak sadar kalau air liurnya sudah menetes.
"Mereka berempat tampan tampan sekali." ujar salah seorang dari keluarga pasien.
"Pasti orang yang sedang ditunggu mereka juga tampan kalau laki laki dan cantik kalau perempuan" ujar yang lainnya.
"Gue ke ruangan Vian dulu ya. Males dengar hal hal seperti itu. Nggak berubah juga dari dulu. Mereka nggak bisa mensyukuri nikmat yang sudah diberikan Tuhan" ujar Jeri melangkah pergi meninggalkan ruangan IGD.
"Dia juga sama. Nggak bisa menikmati orang yang mengagumi dirinya. Kebiasaan ngeramin laptop ya gitu" ujar Bram menjawab saat Jeri sudah tidak terlihat lagi.
"Gue bilangin Jeri bau tau rasa loe" ujar Felix kepada Bram.
"Janganlah. Nggak mau pula dia nanti ngajarin gue hal yang lain. Loe seneng banget kayaknya Bang, kalau gue sedikit terhempas" ujar Bram menjawab apa yang dikatakan oleh Felix.
Jero hanya bisa menjadi penonton saat kedua adiknya itu saling melemparkan kata kata.
"Kalian berdua juga sama, nggak berubah. Kalau ada kesempatan untuk bisa ribut, ya ambil kesempatan itu sayang kalau kalian buang" ujar Jero mengomentari kelakuan kedua adiknya yang masing masing sudah menjadi CEO itu.
Tak berapa lama setelah perdamaian antara Felix dan Bram terjadi, Vian keluar dari dalam ruangan IGD. Jero dan kedua adiknya yang melihat Vian sudah keluar dari dalam ruangan IGD langsung menemui Vian.
"Udah siap sayang?" tanya Jero saa melihat Vian sudah berdiri di pintu ruangan IGD.
"Apalagi kamu sayang. Kamu senang pastikan dikagumi wanita wanita itu" ujar Vian manyun ke arah Jero.
"Mana ada seneng. Sebel malahan sayang. Tapi gimana bisa aku melarang mereka untuk melihat wajah tampan kekasih kamu ini" ujar Jero menggoda Vian supaya tidak cemberut lagi.
"Serah" jawab Vian.
Vian langsung berjalan menuju ruangannya kembali. Jero, Felix dan Bram serta Hendri pengawal Vian, mengikuti Nona muda itu. Mereka hanya bisa berjalan di belakang Vian. Vian melarang siapa saja berjalan di sampingnya. Termasuk juga Jero.
Vian membuka pintu ruangannya yang memang tidak dikunci Vian dari tadi.
"Maling" teriak Vian dengan sangat kencang saat melihat ada seseorang di dalam ruangannya.
Jero yang mendengar teriakan Vian langsung masuk ke dalam ruangan. Jeri yang diteriaki maling oleh Vian, langsung berdiri dan menghadap Vian.
"Eee kamu Jeri. Aku kira maling tadi" ujar Vian yang beneran kaget saat ada laki laki di dalam ruangannya.
"Sorry Vian, tadi aku terpaksa memakai ruangan kamu. Aku malas menjadi pusat perhatian orang orang di IGD" ujar Jeri yang kembali duduk di sofa. Ternyata dirinya yang diteriaki Vian maling tadi. Jeri juga mengira kalau ada maling tadi, makanya dia langsung berdiri dari duduknya.
Jero yang sudah bergegas masuk, langsung duduk di sofa sebelah Jeri. Felix dan Bram juga melakukan hal yang sama. Mereka juga duduk di sofa.
"Sayang aku lapar. Kita makan siang ke tempat yang aku bilang tadi pagi yuk, saat kamu sebelum menemui Felix" ujar Vian kepada Jero.
Vian mengusap perutnya yang memang sudah sangat lapar dan juga berbunyi itu. Vian makan saat sarapan saja tadi, setelah itu dia sama sekali tidak makan apa apa lagi.
"Bener Bang, apa yang dikatakan oleh Kakak Ipar. Kita makan aja lagi. Gue juga udah lapar" ujar Bram mendukung apa yang dikatakan oleh Vian barusan. Bram juga sudah lapar. Nasi uduk buatan Vian tidak sampai untuk sore. Makanya, saat Vian mengajak Jero makan, dia juga setuju untuk pergi makan siang.
"Bentar" ujar Jero menatap Bram.
Bram kemudian diam. Bram tau Jero pasti akan menanyakan hal itu kepada Vian. Jero tidak bisa lagi mengulur ulur waktunya. Dia harus bertanya sekarang, atau tidak sama sekali.
"Sayang, apa kamu tadi melihat konferensi pers yang dilakukan oleh Tuan Aleksander dan Tuan Wijaya?" tanya Jero sambil menatap ke dalam mata Vian.
"Ya aku lihat sayang. Aku sudah tau kamu mau menanyakan hal apa, dan membuat kamu serta Felix, Bram dan Jeri datang ke rumah sakit dengan wajah panik dan membuat heboh para penunggu pasien." ujar Vian yang sudah bisa membayangkan hal apa yang terjadi saat Tuan Aleksander mengatakan hal yang tadi.
"Makanya saat aku dapat panggilan ke IGDIGD, aku meminta Erik untuk tinggal di sini. Karena aku yakin, kamu pasti menonton berita itu, dan kamu akan datang ke sini" ujar Vian yang sudah bisa menebak apa yang aka dilakukan oleh Jero saat mendengar berita tersebut.
"Kamu memang terbaik sayang" ujar Jero sambil membawa Vian ke dalam pelukannya.
"Sayang malu, ada tiga pria jomblo di depan kita" ujar Vian menatap ke arah ketiga pria yang berada di depannya sekarang ini.
"Ngapain malu sayang, biarin aja" ujar Jero masih memeluk Vian.
"Kasian sama mereka sayang" ujar Vian sambil melepaskan dirinya dari pelukan Jero.
"Abang sama kakak ipar mau makan tidak. Kalau tidak silahkan lanjutkan acara pelukan pelukannya. Aku dan Bang Felix serta Bang Jeri mau pergi makan siang" ujar Bram yang kesal, kalau Jero sudah bertemu dengan Vian maka Jero tidak perduli lingkungan lagi.
Dua mobil bergerak meninggalkan parkiran rumah sakit. Pak Hans tadi sudah dipersilahkan pulang oleh Bram. Pak Hans juga perlu makan siang, apalagi Bik Ima pasti sudah masak banyak hari ini.
Mereka akhirnya meninggalkan rumah sakit. Mereka menuju restoran Asander seperti permintaan Vian. Vian ingin makan sup waktu Jero membawakannya untuk sarapan.
Setelah berkendara selama tiga puluh lima menit, tanpa ada bonus kejebak lampu merah. Dua mobil sudah masuk ke parkiran restoran. Felix dan Bram memberhentikan mobilnya di lobby restoran. Dua orang vallet berjalan mendekati mobil Felix dan Bram. Mereka akan memarkir mobil itu diparkiran khusus pemilik restoran Asander.
Jero dan yang lainnya masuk ke dalam ruangan khusu untuk mereka kalau makan di restoran itu. Para pelayan sudah tau harus memasan apa kepada koki yang berada di dapur. Semua koki bergerak cepat menyiapkan makanan untuk empat Tuan dan satu Nona mereka. Mereka tidak mau Tuan Jero marah karena lama menunggu.
Setelah setengah jam menunggu, semua masakan itu telah selesai di siapkan oleh Koki. Beberapa orang pelayan membawa semua makanan masuk ke dalam ruang makan khusus tersebut.
Vian terlihat cemberut saat semua makanan sudah terhidanh dimeja makan. Vian tidak melihat makanan yang sedang ingin dimakan oleh dirinya
"Kenapa sayang?" tanya Jero kepada Vian. Jero melihat Vian yang manyun saat menatap meja makan
"Nggak ada sup jamur sama sup jagung nya" ujar Vian menatap nanar ke meja makan.
"Kalian siapkan sup jamur dan sup jagung" ujar Jero memerintahkan pelayan untuk mengatakan kepada koki.
"Sabar ya sayang. Itu sedang disiapkan" ujar Jero membujuk Vian supaya tidak manyun lagi.
Para koki bergerak cepat menyiapkan kedua jenis sup yang dikehendaki oleh Nona muda. dalam waktu lima belas menit kedua masakan itu akhirnya selesai. Pelayan kembali membawa makanan pesanan Nona menuju ruang makan.
Vian tersenyum saat mencium aroma wangi dari kedua sup tersebut. Bram yang juga mencium aroma wangi sup, tersenyum kepada Vian.
"Maaf Bram, aku nggak akan bagi kepada siapapun" ujar Vian sambil mengambil kedua makuk sup yang terlihat sangat lezat itu.
"Pelit" ujar Bram kesal kepada Vian.
"Biarin" jawab Vian.
Mereka kemudian menyantap hidangan makan siang yang telah disiapkan oleh koki terbaik restoran Asander.
Setelah semua makanan itu habis. Mereka kemudian bergerak meninggalkan restoran.
"Sayang, kamu mau ke rumah sakit lagi atau mau kemana?" tanya Jero kepada Vian yang kekenyangan di kursi belakang.
"Balik ke rumah sakit sayang. Aku ada kerjaan di rumah sakit siang ini" ujar Vian menjawab tujuan dia setelah ini adalah ke rumah sakit.
"Oke. Felix, kita antarkan Vian ke rumah sakit." ujar Jero kepada Felix.
"Nanti pulang aku jemput" ujar Jero sambil menatap Vian di kursi belakang.
"Nggak jemput aku bunuh" ujar Vian sambil memperagakan orang menggorok leher.
Felix mengarahkan mobilnya menuju rumah sakit harapan kita.Dia akan mengantarkan Vian ke sana terlebih dahulu. Setelah mengantarkan Vian barulah mereka kembali menuju perusahaan.
...----------------...
Hal Buruk Menunggu Vian di Rumah Sakit. Apakah hal buruk itu?????
Stay cun ya kakak kakak**.
Baca juga
Kepahitan Sebuah Cinta
It's My Dream
Kesetiaan Seorang Istri
Suamiku Bukan Milikku