My Affair

My Affair
BAB 74



Jero yang badannya sakit sakit semua karena tidur di atas sofa, langsung mengambil handuk yang ada di tempatnya. Jero berencana mandi memakai air panas untuk merilekskan tubuhnya yang sakit sakit itu.


"Huft, mending tidur di kasur tipis dari pada sofa empuk. Rasa pengen copot semua badan gue. Sakit sakit semua"


"Mana tu sofa pendek lagi. Bener bener deh cobaan gue untuk tidur"


Jero ngedumel sendirian karena keinginannya tidur di atas sofa yang nggak cukup untuk ukuran badannya yang besar itu.


"Mending semalam tidur di karpet kali ya. Jadi, badan gue nggak remuk kayak gini" lanjut Jero berbicara sendirian.


Jero mengeluarkan semua yang dipikirkannya. Dia memang nggak habis pikir kenapa bisa memilih tidur di sofa dari pada di karpet yang tentunya akan lebih nyaman. Karpet di ruangan Jero bukan karpet tipis, melainkan karpet tebal yang akan merasa hangat saat tidur di atasnya.


Jero kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Dia menghidupkan shower. Jero berdiri di bawah shower dan menikmati mandi air panasnya. Dia benar benar lelah, badannya sakit sakit semua.


Vian yang berada di dalam kamarnya, juga melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Jero. Vian mandi memakai air panas, dia juga ingin merilekskan kembali badannya yang lumayan capek capek itu.


Setelah selesai mandi, Jero dan Vian memakai pakaian mereka. Mereka hari ini berencana untuk keluar. Tetapi Vian tidak tau mereka mau kemana. Jero sama sekali tidak mengatakan tempatnya kepada Vian.


Bram yang pertama keluar dari kamarnya mengetuk pintu kamar Felix. Felix yang memang sudah siap, langsung membuka pintu kamar. Dia terlihat tampan dengan pakaian kerja warna cream warna favorit seorang Felix.


"Bang, elo kalau agak sekali tukar warna bagaimana Bang? Pasti loe terlihat keren" ujar Bram yang akan selalu protes melihat pakaian yang selalu berwarna cream yang dipakai oleh Felix.


"Berisik. Sana panggil Bang Jero. Abang udah laper" ujar Felix yang siap untuk jalan ke bawah.


Bram menarik leher jas Felix.


"Enak aja, main pergi aja ke bawah Bang. Abang panggil Bang Jero, aku panggil Vian" ujar Bram sambil melepaskan leher jas Felix yang digenggamannya kuat kuat.


"Ya ya ya ya. Abang panggil Bang Jero. Kamu panggil Vian" kata Felix sambil berjalan menuju kamar Jero.


Kakak beradik itu mengetuk pintu kamar Jero dan Vian. Mereka sudah tidak sabar mau sarapan. Jero dan Vian yang pintu kamarnya di ketuk, membuka dengan bersamaan pintu kamar mereka.


"Apa?" tanya mereka dengan kompak.


"Sarapan" jawab Felix dan Bram nggak kalah kompaknya.


"Haha haha haha, kalian bertiga lucu" ujar Vian tertawa ngakak melihat ketiga kakak beradik yang aneh itu.


"Tahan kakak ipar, jangan terlalu puas tertawanya" ujar Bram mencegah Vian untuk tertawa puas puas.


"Baju Abang dengan kakak ipar serasi banget. Janjian ya" ujar Bram yang dapat membalas perkataan Vian tadi.


Vian dan Jero saling memandang, ternyata mereka sama sama memakai pakaian warna dongker. Mereka tidak sengaja melakukan hal itu. Hal itu terjadi begitu saja, tanpa mereka sadari.


"Itu namanya sehati" jawab Vian dengan percaya dirinya.


Bram dan Felix hanya bisa melongos saja. Mereka tidak percaya Vian akan menjawab seperti itu. Jawaban yang langsung menskak mat Bram dan Felix.


Mereka berempat kemudian turun ke lantai bawah, mereka langsung menuju meja makan.


"Yang masak siapa?" tanya Bram kepada seorang maid yang sedang menuang teh ke dalam cangkir milik Bram.


"Nona Vian, Tuan muda" jawab Maid.


"Yes" ujar Bram.


Bram mendahului Jero mengambil nasi goreng, dia takut menjadi yang terakhir karena usianya yang paling kecil diantara mereka bertiga.


"Woi Bram" panggil Felix saat melihat Bram lebih dahulu mengambil nasi goreng dibandingkan Jero.


"Sekali sekali Bang. Lagian Bang Jero aja nggak protes" ujar Bram sambil menatap Jero dan meminta persetujuan dari Jero.


"Yup, duluan aja Bram. Asal kamu tinggali aja kami udah itu" ujar Jero yang sudah maklum dengan adik bungsunya itu.


Bram mengambil seporsi penuh nasi goreng. Setelah itu dia menaruh irisan mentimun, tomat, acar dan terakhir kerupuk udang. Bram benar benar memenuhi piringnya dengan sarapan yang akan mereka makan.


Jero dan Felix hanya bisa geleng geleng kepala melihat tingkah Bram. Mereka semua kemudian menyantap sarapan yang dibuat oleh Vian. Mereka makan dengan sangat lahap. Setiap suapan demi suapan terasa sangat cepat habisnya oleh mereka semua.


"Jero, jam berapa kita akan ke rumah Bramantya?" ujar Jeri bertanya kepada Jero saat mereka sudah pindah ke ruang tamu.


Felix dan Bram sudah berangkat ke kantor mereka masing masing. Tinggallah di ruang tamu itu, Jero, Jeri dan Vian.


"Jadi kita mau ke rumah Tuan Bramantya sayang?" tanya Vian yang tidak memanggil dengan sebutan Ayah atau Ibu melainkan Tuan.


Vian benar benar kecewa dengan kedua orang tuanya yang rela menjual dirinya demi perusahaan. Mereka tidak membayangkan kalau kehidupan Vian akan hancur gara gara keegoisan mereka berdua.


"Iya rencananya. Kita akan meminta mereka menjadi saksi untuk perkara pernikahan kamu sayang" ujar Jero memberitahukan kepada Vian apa tujuan mereka untuk datang ke mansion Bramantya.


"Aku sangsi kalau mereka mau sayang. Dalam otak mereka hanya ada uang dan uang saja terus" ujar Vian kepada Jero dan Jeri.


"Kalau mereka minta uang ya kita kasih sayang. Terpenting mereka mau menjadi saksi di pengadilan. Kalau mereka berbohong dan mengelak, maka mereka akan berhadapan dengan aku sayang" ujar Jero dengan tatapan tajam dan dingin.


Jeri menatap sepasang kekasih itu. Cinta di antara mereka sangat kuat dan saling menutupi. Jeri pasti akan mewujudkan keinginan Jero untuk bisa menikah resmi dengan Vian. Jeri berjanji dalam hatinya, dengan melakukan hal ini, Jeri bisa sedikit membayar kebaikan yang selama ini Jero berikan kepada keluarganya.


"Maaf Vian, waktu kamu pergi dari mansion Juan Aleksander, apakah kamu ada membawa buku nikah kamu?" tanya Jeri yang membutuhkan dokumen itu untuk pengajuan cerai antara Vian dengan Juan.


"Ada kalau tidak salah Jeri. Boleh aku ambil ke atas dulu?" tanya Vian yang ragu ntah membawa surat nikah atau tidak saat dia pergi dari mansion Juan.


"Boleh kalau kamu mau ngambilnya" jawab Jeri sambil melihat ke arah Jero.


Jero mengangguk setuju dengan yang dikatakan oleh Jeri. Vian kemudian berjalan ke kamarnya, dia akan mengambil surat nikah yang ada di dalam tas tangannya. Vian selalu membawa surat nikahnya kemanapun dia pergi. Mana tau seketika butuh, Vian langsung bisa mempergunakannya.


"Semoga ada lah tu surat nikah. Gue nggak mungkin harus balik lagi ke mansion itu. Gue ogah harus ke sana kembali" ujar Vian sambil membuka tas tangan yang terakhir di pakainya itu.


"Kok nggak ada ya. Dimana surat itu. Aku yakin membawanya kemana mana" ujar Vian yang sangat yakin selalu membawa surat nikahnya kemana dia pergi.


Vian berusaha mengingat kembali, dimana terakhir kali dia memerlukan surat nikahnya itu. Vian terlihat berpikir keras sambil duduk di ranjangnya.


"Yah di rumah sakit. Waktu itu kan perawat Ranti meminta fotocopynya. Jadi aku fotocopy aja di ruangan. Yah palingan masih dalam printer itu" ujar Vian yang akhirnya bisa dengan pasti mengingat dimana dia menaruh surat nikahnya.


Vian kembali menuju ruang tamu tempat Jero dan Jeri sedang menunggunya. Vian berjalan dengan langkah gontai. Vian sangat malas untuk kembali ke rumah sakit itu. Vian merasa kalau tempat itu adalah tempat yang harus dihindari olehnya. Tempat yang banyak mengeluarkan hinaan hinaan bagi Vian.


"Kenapa lemes kali nampaknya sayang?" ujar Jero saat melihat Vian yang sangat lemas berjalan dari arah kamarnya.


"Surat nikah itu tinggal di dalam printer di ruang kerja rumah sakit" ujar Vian sambil duduk dengan lemahnya di sofa sebelah Jero.


"Kan tinggal ambil saja ke sana Vian. Ngapain harus lesu kayak orang kurang energi itu" ujar Jeri heran melihat Vian yang langsung lesu saat mengatakan kalau surat nikahnya tinggal di rumah sakit.


"Males ke sana Jeri. Walaupun kemaren Jero udah memberikan pengumuman. Namanya mulut manusia nggak akan bisa di sumbat, yang bisa itu mulut botol"


"Di depan kita, mereka memang tidak akan menggosip kan aku, tetapi di belakang aku sudah pasti iya."


Vian mengeluarkan semua isi hatinya. Dia benar benar malas untuk kembali ke rumah sakit itu. Bagi Vian rumah sakit itu adalah bagian dari masa lalunya. Dia sudah tidak ingin ke sana lagi.


"Jadi, mau kamu gimana sayang? Buku buku kuliah kamu bukannya ada di sana?" ujar Jero yang tidak akan memaksa Vian untuk kembali ke rumah sakit itu. Jero sangat tau bagaimana rasanya berada di tempat orang orang tidak menginginkan keberadaan kita ada di sana. Makanya Jero menanyakan kemauan Vian seperti apa sekarang.


"Aku nggak mau lagi, berada di rumah sakit itu. Aku ingin semua barang barang diambil dari situ. Lagian aku juga mau kuliah, sudah sewajarnya aku resign dari sana" ujar Vian mengemukakan keinginannya untuk keluar dari rumah sakit Harapan Kita.


"Sayang, kamu tidak akan bisa keluar dari rumah sakit itu" ujar Jero kepada Vian.


"Kenapa tidak bisa sayang. Bisalah, aku bukan pegawai tetap di sana." ujar Vian kepada Jero.


"Saat kamu dan aku menikah Rumah Sakit itu akan menjadi milik kamu" ujar Jero sambil menatap mata Vian.


"sayang, itu masih lama. Untuk sekarang aku nggak mau bekerja di sana dulu. Tolong mengerti posisi aku sekarang ini sayang" ujar Vian.


"Aku sebenarnya sangat berat meninggalkan profesi ini. Menjadi dokter adalah cita cita aku sejak dulu sayang. Aku sangat suka membantu dan menolong menyembuhkan orang lain"


"Tapi sepertinya saat ini aku harus menyelamatkan diri aku sendiri. Sehingga aku harus pergi meninggalkan semuanya untuk sementara waktu" lanjut Vian mengucapkan semua yang dirasakannya.


"Oke sayang aku paham dengan keinginan kamu. Aku berjanji selepas kamu kuliah, aku akan memberikan sesuatu yang bisa membuat kamu tersenyum bahagia sayang. Aku berjanji akan hal itu" ujar Jero menatap ke wajah Vian.


"Maafkan aku ya sayang, kalau aku telah memaksa kau untuk tetap ke rumah sakit itu. Maafkan aku juga, karena gara gara aku, kamu menjadi mengalah dan dipersalahkan seperti ini" ujar Jero menggenggam tangan Vian.


Jeri yang melihat semua itu, perlahan pergi dari kedua pasangan yang sedang berkeluh kesah itu. Dia tidak mau menjadi penghalang, bagian terpenting dia nggak mau jadi obat nyamuk antara sepasang kekasih itu.


"Sayang nggak ada yang perlu dimaafin. Aku yang memilih untuk hidup dengan kamu. Apapun itu Aku akan tanggung semua resikonya. Sayang semua tindakan yang kita ambil akan menerima resikonya masing masing. Aku siap dengan semua risiko itu" lanjut Vian sambil menggenggam tangan Jero dengan mesra.


"Apa kamu yakin sayang, sanggup menerima semua risikonya?" tanya Jero sambil menatap mata Vian.


"Siap sayang. Aku siap dengan semua risikonya. Walaupun akhirnya aku tidak bisa kembali ke negara ini, aku siap. Asalkan aku terus bersama kamu, asalkan aku bisa menatap wajah kamu." lanjut Vian berkata sambil mengecup tangan Jero dengan sangat mesra.


"Tapi kamu sadar kan sayang, kalau ini adalah perbuatan yang salah?" ujar Jero kepada Vian.


Jero tidak ingin Vian menyesal dengan semua yang telah mereka jalani berdua. Semua perjalanan yang semakin jauh mereka lalui. Perjuangan yang tidak sia sia mereka lakukan berdua.


"Tidak sayang, aku tidak pernah menyesal dengan semua yang aku lakukan. Aku sudah memikirkannya."


"aku tau ini salah, tapi apa aku salah, saat aku tau semua yang aku terima selama ini adalah akibat keegoisan orang lain?"


"Aku juga berhak untuk bahagia sayang. Apapun rintangan yang akan menghambat aku untuk meraih kebahagiaan itu, semuanya akan aku hadang. Aku berhak untuk bahagia" ujar Vian dengan wajah yang tegas. Vian tidak bisa di tawar tawar lagi. Keinginan untuk dia mengambil kebahagiaannya sudah bulat. Vian tidak akan mundur lagi.


"Apa kamu mau sayang, membantu aku untuk meraih kebahahiaan aku yang sempat tertunda itu?"


Vian bertanya kepada Jero sambil menatap wajah tampan Jero. Wajah yang selama ini selalu membuat dia tersenyum. Wajah yang selalu membuat Vian merasakan kebahagiaan.


"Sayang, aku berjanji akan membantu kamu meraih semua kebahagiaan kamu. Satu hal yang harus kamu tahu sayang, kebahagiaan kamu, keceriaan kamu, adalah tujuan dan prioritas utama aku sayang. Barulah semua tentang kamu bisa aku wujudkan, baru aku akan mewujudkan yang lainnya" ujar Jero menjawab pertanyaan dari Vian.


Sebuah pertanyaan yang tidak seharusnya ditanyakan oleh Vian kepada Jero. Karena apapun itu Vian sudah tau jawabannya. Vian sudah merasakan semuanya. Vian tidak meragukan bagaimana Jero kepada dirinya.


Jero memeluk Vian.


"Jangan ragukan cinta aku sama kamu sayang" ujar Jero di telinga Vian.


"Makasi sayang, sudah memberikan cinta yang tulus itu kepada aku. Aku wanita yang tidak sempurna. Aku bahagia mendapatkan kamu" jawab Vian.


"ketidak sempurnaan aku, kamu sempurnakan sayang. Ketidak sempurnaan kamu, aku sempurnakan." jawab Jero dengan mesra.


"teruslah tersenyum dan bahagia sayang. Semua ini adalah milik mu. Tunjukkan kepada dunia kalau kamu berhak untuk bahagia" kata Jero meyakinkan Vian.


"makasi sayang. Aku bahagia" jawab Vian.


Mereka berdua akhirnya melerai pelukan masing masing.


"Jeri, Hendri, Erik keluar. Kita berangkat ke rumah sakit sekarang" teriak. Jero memanggil ke tiga orang yang tadi sempat menghilang saat mereka menyaksikan kemesraan antara Jero dan Vian.


Ketiga pria kekar dan tampan berwajah bule, keluar dari dalam arah dapur. Mereka kemudian menunu Jero dan Vian yang berada di ruang tamu.


"Udah selesai bos mesra mesraannya. Nggak ingat kami bertiga ini jomblo" ujar Jeri dengan nada mengejek Jero dan Vian.


"karena tau kalian jomblo makanya gue menunjukkan enaknya punya kekasih" jawab Jero yang tidak akan pernah mau disalahkan siapapun, kecuali Vian dan Mommy waktu semasa hidup mommy.


"ye lah. Hendri, Erik, mari kita jalan" ujar Jeri memberikan instruksi kepada kedua pengawal Vian.