
"Sudah biarkan saja. Anggap saja kita tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di mansion besar ini. Saya takut nanti kita akan kena imbasnya"
"Saya tidak mau itu terjadi"
Kepala pelayan akhirnya memutuskan untuk tidak ikut campur dalam hal tersebut. Kalau anggota keluarga Alexsander tahu para pelayan sedang membicarakan permasalahan mereka, bisa bisa semua pelayan akan di pecat. Kepala pelayan yang tidak menginginkan hal itu terjadi. Bagi dirinya, lebih baik mereka pura pura tidak tahu ada masalah tersebut dari pada mereka mengetahui permasalahan tersebut.
"Mulai sekarang saya berpesan kepada kamu untuk tidak membicarakan permasalahan ini dengan siapapun."
"Tidak dengan saya ataupun dengan pelayan yang lain"
"walaupun ada yang bertanya, kamu bisa jawab tidak tahu atau diam saja."
"Itu lebih aman"
"Kita harus bermain aman, supaya tidak ada lagi masalah ke depannya. Saya takut kalau terjadi apa apa" kata Kepala pelayan berkata sambil melihat ke arah pelayan yang sangat tahu tentang kejadian yang terjadi di mansion besar milik keluarga Alexsander.
"Saya tidak mau kita semua terlibat dalam permasalahan ini. Saya takut sekali. Saya takut kalau nanti kita mendapatkan imbasnya" lanjut kepala pelayan sambil melihat ke arah pelayan.
"Saya sangat tahu bagaimana reaksi dari seorang Tuan besar Alexsander kalau dia dibicarakan. Saya tidak mau kita semua jadi tumbalnya."
"Kamu paham kan ya?"
Kepala pelayan menjelaskan dengan panjang lebar kepada pelayan tersebut. Kepala pelayan tidak mau bertaruh resiko dengan membiarkan semua orang membicarakan tentang hal itu. Bisa bisa nanti mereka kena pecat masal. Mencari pekerjaan seenak di mansion ini sangatlah susah. Apalagi orang di luar sana sangat tahu kalau Tuan Alexsander tidak suka memecat para pelayan mereka. tetapi kalau pelayan membuat kesalahan yang fatal, maka mereka dengan gampangnya akan memecat pelayan tersebut tanpa belas kasihan.
"Paham Bik. Saya tidak akan membahas atau membicarakan hal ini lagi" kata pelayan yang mendapatkan pesan keras dari kepala pelayan.
Pesan yang memang harus dilakukan oleh dirinya. Bukan pesan di bibir saja seperti yang sudah sudah.
"Kamu harus memegang ucapan kamu" kata kepala pelayan meyakinkan pelayan tersebut sekali lagi.
"Aku yakin dengan janji aku bik. Jangan meragukan hal itu. Tidak baik untuk seseorang seusia kamu" jawab pelayan sambil tersenyum jahil kepada Kepala pelayan yang dikerjai nya tersebut.
"Ya sudah sekarang kamu ke belakang. Ingat pesan saya tadi" ujar kepala pelayan memberikan perintah kepada pelayan tersebut untuk ke belakang mansion dan tidak lagi menceritakan apa yang didengarnya itu.
Pelayan berjalan meninggalkan dapur tersebut. Dia akan menuju bagian belakang dapur untuk melanjutkan pekerjaannya. Pelayan berjanji dalam hatinya untuk tidak mengatakan hal apapun kepada siapapun.
Walaupun orang itu memaksa dirinya untuk mengatakan apa yang diketahuinya, pelayan tetap dengan keteguhan hatinya untuk menyimpan semua permasalahan yang ada di dalam hatinya sendiri. Dia sudah berjanji kepada kepala pelayan dan juga dirinya untuk tidak mengatakan apapun.
"Aku pasti akan menjaga janji aku. Aku nggak akan mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya aku katakan. " kata pelayan sambil menatap ke arah luar mansion.
Brug. Pintu utama mansion di buka dengan sangat kasar dari luar mansion. Juan yang sedang duduk menjadi sangat kaget saat mendengar bagaimana pintu tersebut di buka dari luar. Begitu juga dengan kepala pelayan yang sedang menyiapkan satu menu lagi untuk makan malam keluarga Alexsander. Juan yang sebenarnya ingin memarahi orang yang membuka pintu dengan cara kasar itu mengurungkan kemarahannya saat melihat siapa yang masuk ke dalam mansion.
Tuan besar Alexsander yang melihat orang yang akan dicarinya sekarang berdiri di depannya langsung tersenyum jahat.
"Kebetulan sekali anda ada di sini." ujar Tuan besar Alexsander saat melihat Juan Alexsander berdiri di hadapannya saat ini.
Buk, Juan Alexsander yang tidak siap menerima bogem mentah dari Tuan besar Alexsander langsng terhunyung ke belakang. Juan jatuh ke sofa yang tepat berada di bagian belakang dirinya.
"Kenapa Papi memukul Juan Papi. Apa salah Juan ke Papi?" ujar Juan bertanya ke Papinya itu saat dirinya menerima pukulan maut tersebut.
"anda masih bisa bertanya kepada saya, apa yang menyebabkan saya memukul wajah anda?" Kata Tuan besar Aleksander yang kaget karena Juan masih bisa bertanya kepada dirinya kenapa dirinya di pukul oleh Tuan besar itu.
"Maafkan aku Papi. Tapi jujur aku tidak tahu kenapa Papi memukul aku sebegitu kuatnya. Apa salah aku Papi?" ulang Juan kembali bertanya kepada Papi.
"Kamu masih bertanya apa salah kamu??? Apa perlu saya katakan dosa apa yang telah kamu perbuat?" ujar Papi yang sudah mulai murka dengan apa yang dikatakan oleh Juan kepada dirinya.
Juan menatap ke arah Mami. Dia sama sekali tidak mengerti kenapa Papi bisa mengamuk seperti itu. Dia merasa kalau dia sama sekali tidak ada membuat kesalahan sehingga tidak layak untuk dihancurkan seperti itu.
Mami menatap emosi dan marah kepada Juan. Dia benar benar tidak menyangka kalau Juan akan bertanya kepada dirinya tentang apa yang sedang terjadi pada saat ini.
"Kamu jangan pura pura tidak tahu dengan apa yang kami katakan Juan. Kami suda muak dengan gaya polos kamu" kata Mami yang sudah mulai sangat kesal dengan Juan Alexsander.
"Mami, aku benar tidak mengerti Mami dengan apa yang Mami katakan dan Papi lakukan kepada aku. Aku benar benar nggak paham" kata Juan berusaha menjelaskan kepada Papi dan Mami nya yang tiba tiba marah dengan nada yang sangat luar biasa tinggi itu.
Papi melihat ke arah Mami. Mami mengangkat pundak nya. Mami sama sekali tidak bisa memberikan jawaban kepada Papi.
"Kita duduk dulu" ujar Papi mengajak Mami dan Juan untuk duduk di sofa ruang tamu tersebut.
"Jadi Juan, kamu tadi mengatakan kalau kamu tidak tahu kenapa saya dan Mami bisa marah sekali. Sampai sampai kamu mendapatkan bogem mentah tersebut." kata Papi mulai membuka percakapan antara mereka bertiga. Papi akan mengatakan kepada Juan kenapa dirinya bisa semarah itu kepada Juan Alexsander.
"Benar Papi aku tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Papi dan Mami sebentar ini" kata Juan mengungkapkan kalau dia memang tidak tahu kenapa Papi dan Mami bisa seemosi itu.
Papi menghela nafasnya dengan lumayan berat. Dia tidak menyangka kalau Juan tidak paham dengan maksud pertanyaan yang diajukan oleh dirinya tadi.
"Vian di mana sekarang?" tanya Papi langsung ke inti permasalahan.
Juan Alexsander yang mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Papi langsung kaget tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Papi kepada dirinya. Dia tidak menyangka Papi akan bertanya tentang hal itu.