My Affair

My Affair
Kejadian di Bandara



Jero dan Vian serta semua keluarga dan sahabat mereka dan tak ketinggalan pula semua pengawal menuju terminal bandara kedatangan luar negeri untuk melakukan chek semua prosedur yang ada. Mereka melakukan secara bergiliran sesuai dengan antrian yang mereka dapatkan. Bahkan Jero, Vian, Felix, Bram, Jeri dan Greta juga ikut antri di antara pengawal. Mereka sangat tertib dalam melakukan hal itu. Keluarga Asander benar benar bisa dikatakan tidak pernah membuat kesalahan yang berarti. Mereka selalu melakukan semuanya dengan tertib dan tanpa kesalahan sedikitpun, mereka benar benar menjaga nama baik keluarga besarnya.


'Sayang, udah siap? ' bunyi pesan chat yang dikirimkan oleh Vian kepada Jero yang masih berada di depan petugas yang memeriksa semua perlengkapan administrasi Jero.


'Udah sayang, bentar lagi aku ke sana' Jero membalas pesan chat yang dikirimkan oleh Vian kepada dirinya.


'Aku di ruang tunggu bersama dengan yang lainnya' bunyi pesan chat berikutnya yang dikirimkan oleh Vian kepada Jero


'Oke tunggu aku di situ ya sayang' balas Jero sambil tersenyum membaca sendiri bunyi pesan balasan yang dikirmkan oleh Jero kepada Vian.


Jero yang sibuk dengan ponselnya, karena dari tadi sibuk membalas pesan chat yang dikirimkan oleh Vian kepada dirinya. Tiba tiba langsung saja berbalik arah karena telah selesai melakukan chek di bagian kedatangan. Jero menunduk saat berbalik arah tersebut, sehingga dia tidak melihat keadaan sekitar.


Seorang pria tua tanpa sengaka menubruk Jero. Pria tersebut untung saja tidak terjatuh saat dirinya tanpa sengaja menabrak Jero. Jero menatap ke arah pria yang tinggi itu. Felix dan Bram yang melihat kejadian itu, langsung berlari menuju Jero yang di tubruk oleh seorang pria.


Jero, Felix dan Bram kaget saat melihat siapa sosok pria yang telah menubruk Jero. Mereka tidak menyangka akan ada kejadian seperti itu serta bertemu dengan pria itu di sini. Jero, Felix dan Bram benar benar tidak habis pikir dengan semua kejadian yang terjadi. Mereka benar benar kaget saat Jero bertubrukan dengan pria itu.


"Maaf anak muda, saya tidak sengaja menabrak kamu" ujar Tuan besar Alexsander saat tubuhnya yang hampir rubuhdan langsung dipegang oleh Jero. Kalau tidak maka Tuan besar Alexsander sudah berada di ubin yang dingin pada saat ini.


Felix dan Bram langsung kaget saat mendengar apa yang dikatakan oleh Tuan besar Alexsander. Tuan besar itu sama sekali tidak mengenal anak kandungnya sendiri. Suatu hal yang pastinya sangat membuat terluka hati seorang Jero. Felix dan Bram menatap ke arah Jero, Jero menganggukkan kepala mereka tanda mengatakan bahwa mereka dalam kondisi yang aman, dia tidak akan memperlihatkan kesedihannya kepada Tuan besar Alexsander.


"Tidak apa apa Tuan. Saya baik baik saja. Tuan bagaimana?" ujar Jero yang meresapi wajah dari pria yang ada di depannya ini. Wajah pria yang sudah lama tidak ditemuinya, wajah pria yang sangat dirindui oleh Jero, tetapi juga wajah pria yang memberikan Jero rasa sakit. Karena apa yang telah dilakukan oleh pria yang di depannya berdiri sekarang ini terhadap dirinya dan mommy.


"Saya juga tidak apa apa Nak" jawab Tuan besar Alexsander sambil sedikit tersenyum tipis kepada Jero. Ntah kenapa perasaan Tuan besar Alexsander menjadi sangat nyaman saat melihat wajah pria yang ada di depannya sekarang ini. Wajah yang menurut Tuan besar Alexsander mirip seseorang yang memang sedang dirindukannya dalam beberapa hari ini semenjak tuan besar Alexsander berada di pulau kelapa


Para pengawal Tuan besar Alexsander melihat tuan besar mereka sedang dikerubuti oleh tiga pria berbadan besar langsung berjalan menuju Tuan besar Alexsander. Mereka merasa kalau Tuan besar mereka sedang dalam keadaan terancam.


"Tuan ada apa ini Tuan?" ujar pengawal utama Tuan besar Alexsander.


Kelima pengawal langsung mengerubungi Tuan besar Alexsander. Mereka saling menatap, kelima pengawal Tuan besar Alexsander dengan Jero, Felix dan Bram.


Kelima pengawal Tuan besar Alexsander memegang tangan Jero, Felix dan Bram dengan sangat kuat. Mereka melakukan semuanya dalam gerakan cepat sekali sehingga membuat Jero, Felix dan Bram tidak dapat mengantisipasinya.


"Apa apaan kalian, kalian tidak tahu siapa kami? Kalian ana menyesal karena telah melakukan perbuatan seperti ini kepada kami" ujar Bram yang akan mengatakan siapa mereka kepada semua yang ada di sana. Bram memang selalu seperti itu kalau sudah emosional, dia tidak akan berpikir jernih, bagi Bram yang terpenting permasalahan selesai, apapun caranya Bram pasti akan melakukannya.


Felix yang berada di dekat Bram mencubit pinggang adiknya itu sebelum Bram mengatakan kepada Tuan besar Alexsander siapa mereka bertiga sebenarnya. Kalau sempat itu terjadi maka sia sia semua yang telah mereka lakukan ebrtahun tahun. Felix tidak mau hal itu terjadi.


Bram menatap ke Felix hendak marah atas apa yang dilakukan oleh Felix kepada dirinya. Tetapi saat melihat wajah Felix yang sudah menahan amarah membuat Bram mengurungkan niatnya. Apa lagi Bram sempat berpikir tadi sesaat kalau dia akan melakukan kesalahan fatal tanpa disadari oleh dirinya.


"Maaf" ujar Bram dengan nada lemah.


Jero dan Felix mengangguk sekarang bukan saatnya menatar Bram dengan segala kekurangan yang telah dilakukan oleh Bram


Hawa panas semakin terasa dalam ruangan bandara itu. Ruangan kecil yang sebenarnya sejuk dan dingin karena pendingin rungan yang sudah memasang suhu terendah. Tetapi karena tensi yang sedang tinggi membuat siapapun menjadi merasakan hawa panas yang sangat luar biasa.


Para pengawal Jero yang melihat apa yang dilakukan oleh lima orang pemuda berbadan tegap itu hendak memberikan  perlawanan kepada mereka semua, tetapi Jero dan Felix menggeleng meminta mereka untuk tetap berada di tempat dan tidak melakukan tindakan apapun. Jero dan Felix tidak ingin Tuan besar Alexsander mengetahui siapa Jero sebenarnya. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk seorang Tuan besar Alexsander mengenal seorang Jero Asander.


Vian yang melihat apa yang terjadi kepada Jero hendak pergi ke sana. Tetapi Jero langsung menahan Vian.


"Lepas Jer" ujar Vian dengan nada tegas saat Jeri memegang tangannya dengan keras, saat Vian mau pergi ke tempat Jero yang sekarang sedang dikerumuni oleh orang asing yang Vian sama sekali tidak kenal satupun di antara mereka semua.


"Apa? Bukannya itu????" ujar Vian bertanya yang tidak sampai kepada Jeri.


Vian langsung menatap ke arah kerumunan para pria berjas berbadan tegap tersebut.


Vian benar benar tidak menyangka Jero akan bertemu dengan Ayahnya dalam keadaan seperti ini.


"Tapi itu mereka bisa ribut Jeri. Ini bandara tempat umum Jeri" ujar Vian yang takut kalau Jero akan ribut dengan Tuan besar Alexsander.


"Tenang saja Vi, Jero tidak akan mungkin ribut dengan Tuan besar Alexsander. Sebenci bencinya Jero kepada dia, Jero tidak akan mempermalukan Tuan hesar Alexsander di keramaian." ucap Jeri yang sangat tahu bagaimana watak dari sahabat baiknya itu.


Jero bukan tipe seseorang yang akan memilih ribut dengan orang lain di depan umum. Jero akan berpikir untuk melakukan hal rendahan seperti itu. Apalagi ini adalah ayahnya sendiri. Maka Jero tidak akan melakukan hal bodoh tersebut.


"Baiklah, gue yakin Jero tidak akan melakukan hal yang aneh aneh." ujar Vian yang pada akhirnya setuju dengan yang dikatakan oleh Jeri kepada dirinya.


"Lepaskan tangan kalian dari mereka bertiga" ujar Tuan besar Alexsander dengan nada dingin.


Suasana langsung berubah saat Tuan besar Alexsander mengeluarkan suaranya yang berat tersebut. Semua pengawal yang memegang Jero, Felix dan Bram langsung melepaskan pegangannya dari ketiga pemuda itu. Mereka bertiga langsung menatap ke Tuan besar Alexsander.


"Saya yang salah telah menabrak Tuan Muda ini saat berjalan tadi. Jadi, kalian tidak berhak marah kepada dirinya." ujar Tuan besar Alexsander sambil menundukkan kepalanya sedikit kepada Jero dan kedua adiknya itu.


Kelima pengawal Tuan besar Alexsander kemudian berjalan kembali menuju Tuan besar Alexsander, mereka berlima berdiri di belakang Tuan besar Alexsander.


Tuan besar Alexsander mengulurkan tangannya kepada Jero. Jero menjabat tangan dari pria yang ada di depannya ini. Pria yang sama sekali tidak mengenali dirinya. Ada terbersit rasa sedih dalam hati Jero tetapi berusaha di tahan Jero.


"Alexsander" kata Tuan besar Alexsander menyebutkan namanya.


Sebuah desiran terasa di dada Tuan besar Alexsander saat menjabat tangan Jero. Tetapi tuan besar Alexsander menepis dugaan itu. Dia membiarkan saja perasaan itu mengalir di dalam dadanya. Tetapi Tuan besar Alexsander beranggapan kalau itu hanyalah rasa sesaat saja.


"Jero" ujar Jero menyebutkan namanya kepada Tuan besar Alexsander.


"Jero?" ujar Tuan besar Alexsander menyebutkan nama Jero dengan begitu bermaknanya.


Tuan besar Alexsander mengulang ulang menyebut nama Jero dalam hatinya. Jero melihat kegusaran dari tatapan mata tuan besar Alexsander.


'Apakah masih ada aku dalam hatimu Daddy?' ujar Jero saat melihat tatapan dari Tuan besar Alexsander yang mengandung sebuah pertanyaan yang menggelayut di matanya itu. Tatapan yang sangat jelas mengandung sebuah tanda tanya besar dalam diri Tuan besar Alexsander.


"Ada apa Tuan, sepertinya Tuan sangat terlihat kenal dengan nama Jero?" ujar Jero penasaran dengan apa yang membuat Daddynya itu menjadi bermuram durja dan seperti teringat sesuatu yang memang sangat sensitif untuk dibahasan dengan kata kata.


"Oh iya memang, tetapi itu rasanya tidak layak dibagi dengan siapapun," ucap Tuan besar Alexsander menjawab pertanyaan dari Jero.


Jero tersenyum mendengar jawaban yang diberikan oleh Tuan besar Alexsander, begitu juga dengan Felix dan Bram, mereka tersenyum samar. Mereka bertiga sekarang semakin yakin kalau Tuan besar Alexsander masih mengingat Jero anak kandungnya dari istri pertamnya itu.


"Oh ya Jero, bisa kita duduk di sana sebentar?" ujar Tuan besar Alexsander mengajak Jero untuk duduk di sebuah bangku yang ada di dalam ruangan VVIP tersebut. Ruangan yang orang orang tertentu yang bisa memakai ruangan tersebut.


"Tapi itu kalau kamu tidak sibuk dan tidak keberatan" lanjut Tuan besar Alexsander yang baru sadar kalau dia sudah meminta sesuatu dari Jero yang bisa jadi Jero sedang dalam keadaan sibuk dan tidak bisa mewujudkan apa yang diinginkan oleh Tuan besar Alexsander.