
Vian yang mendengar apa yang dikatakan oleh Jero langsung membuka sabuk pengamannya. Dia merasa tidak nyaman dengan apa yang dikatakan oleh Jero. Dia merangkak naik ke atas paha Jero. Vian duduk di sana sambil memegang wajah Jero. Wajah kekasih hatinya yang selalu ada di dalam hati dan pikiran dari seorang Vian. Laki laki yang mengajarkan Vian bagaimana mencintai seseorang, bagaimana berkorban untuk seseorang yang mencintai dengan tulus,
"Kamu benar benar menyayangi aku sayang. Kamu benar benar membuat aku menjadi sangat sangat bersyukur karena mendapatkan seseorang yang sangat mencintai aku dengan sebegininya. Bahkan lebih mencintai aku dari pada diri aku sendiri mencintai diri aku" ujar Vian sambil terus memegang pipi Jero dengan kedua tangannya.
Vian berkata dengan pilihan kata kata yang hanya dimengerti oleh Vian sendiri maksud dari apa yang dikatakan oleh Vian.. Vian benar benar memakai kosa kata yang absurd dan susah dimengerti oleh Jero. Tetapi Jero memilih untuk berusaha mengerti dan tidak mengganggu apa yang sedang dilakukan oleh Vian pada saat ini
Jero menatap Vian. Ntah keberanian dari mana Vian bisa duduk di atas pangkuan Jero di tengah keluarganya yang ramai itu. Biasanya Vian akan selalu jaim dan memperhitungkan semua tindakan yang akan dilakukan oleh dirinya.
"Kamu selalu saja begini sayang. Kamu selalu memikirkan aku. Kamu selalu mendahulukan keinginan aku dan keselamatan aku" ujar Vian masih dengan posisinya memegang wajah Jero dan menatap ke mata Jero.
"Aku yang terkadang tidak bisa mengendalikan diri aku sendiri. Aku tidak bisa mengendalikan keinginan aku. Aku selalu memaksakan kehendak aku sama kamu. Bahkan terkadang aku sampai sampai tidak mengerti dengan semua keinginan kamu. Aku bener bener bersikap tidak dewasa sayang. Maafkan aku" lanjut Vian mengucapkan dan mengeluarkan semua yang dia rasakan kepada Jero.
Jero diam saja, dia membiarkan Vian mengatakan semuanya. Jero ingin mendengar semua yang dikatakan oleh Vian, makanya Jero tidak ada menjawab atau memberikan reaksi apa apa kepada Vian. Jero benar benar memberikan waktu sebebas bebasnya kepada Vian untuk mengatakan apa yang dirasakan oleh Vian.
"Kamu bener bener bikin aku seperti ratu setiap harinya. Kamu selalu mengiyakan apa yang aku minta. Aku bener bener dibuat nggak bisa menolak bahkan hanya sekedar memiliki perasaan untuk menolak" lanjut Vian masih tetap mengatakan apa yang dirasakan oleh dirinya saat ini. Vian mengatakan semuanya, mengatakan semua yang ada di dalam pikirannya. Jero masih tetap dengan gayanya diam dan tidak membantah.
Jero mendengarkan apa yang dikatakan oleh Vian. Vian sangat jarang memiliki moment moment seperti ini. Moment moment dimana Vian bisa menceritakan semua yang dirasakan oleh dirinya kepada Jero. Biasanya Vian hanya akan mengatakan perasaannya kepada Jero pada saat dia menginginkan sesuatu. Tetapi kali ini sungguh berbeda.
Vian menatap Jero dengan tatapan yang sangat susah diartikan. Vian benar benar tidak tahu lagi bagaimana mengungkapkan apa yang sedang dirasakan oleh dirinya pada saat ini. Rasa yang tidak pernah ada selama ini dan tiba tiba datang dan membuat Vian menjadi luar biasa bahagianya.
"Kamu kenapa diam saja sayang?" ujar Vian yang melihat Jero hanya diam saja dari tadi. Jero sama sekali tidak memberikan pernyataan atau tanggapan apapun kepada dirinya. Jero hanya bersikap diam dan mendengar semua yang dikatakan oleh Vian. Jero benar benar menjadi pendengar yang baik.
"Nggak ada diam. Aku mendengar dan mencerna semua yang kamu katakan ke aku tadi." jawab Jero sambil tersenyum.
"Aku bener bener bahagia mendengar semuanya. Aku tidak menyangka kalau kamu akan sebahagia ini saat bersama dengan aku" lanjut Jero sambil memandang wajah kekasihnya itu.
"Ini bener bener bahagia atau hanya di mulut saja?" ujar Jero yang sudah mulai menggoda Vian lagi. Tingkat ke usilan Jero langsung naik sekian tingkat saat melihat Vian yang sudah kembali diam dan menatap ke wajah Jero.
"Menurut kamu gimana?" kata Vian sambil sedikit menggerakkan badannya di atas pangkuan Jero.
"Sayang jangan lakukan itu kalau tidak ingin kenapa kenapa" ujar Jero memandang Vian.
Kelakuan Vian yang seperti ini membuat sesuatu di sana di bagian inti Jero menjerit sempurna meminta untuk dilepaskan. Tetapi Jero tidak akan mungkin melakukan hal itu. Bisa bisa Jero menjadi seorang pria pecundang kalau melakukannya sekarang. Jero tidak ingin hal itu terjadi. Dia tidak mau dicap sebagai pria pecundang.
"Emangnya aku ngapain sayang? Aku nggak ngapa ngapain" ujar Vian sambil menatap ke arah Jero dan tetap melakukan hal yang sama. Hal yang membuat sesuatu meronta ronta.
"Sayang, kamu" ujar Vian yang langsung turun dari atas paha Jero dan berpindah duduk ke tempat duduknya semula.
" Kenapa malu sayang biasa aja"
" padahal kamu dari tadi santai aja kenapa waktu aku memanggil Jerry kamu berubah dan takut terlihat kalau kamu seperti ini?" kata Jero saat melihat Vian yang langsung turun dari pangkuannya dan seperti hendak terjatuh.
"Kalau kita berdua aja nggak ngaruh sayang. Ini kamu manggil Jeri, malulah aku" kata Vian sambil melirik ke arah Jero yang sedang tersenyum jahil.
"Dasar kamu ya sayang. Seneng banget nengok aku kaget nggak jelas kayak tadi. Mana kesandung lagi. Usil kamu kebangetan" ujar Vian yang kesal dengan apa yang telah dilakukan oleh Jero kepada dirinya.
"Haha haha haha, maafkan aku sayang" kata Jero sambil mencubit hidung Vian dengan cubitan lembutnya.
"Yah aku maafkan walaupun aku nggak rela" jawab Vian yang merasa kalau kakinya sakit karena kelakuan Jero yang mendadak memanggil Jeri dengan suara lantangnya.
"Haha haha haha, mana ada orang maafin tapi nggak rela sayang. Kamu ada ada aja" ujar Jero sambil menatap ke arah Vian yang bersungut sungut karena kakinya yang masih terasa sangat sakit itu.
"Kenapa bersungut sungut sayang?" tanya Jero yang heran dengan apa yang dilakukan oleh Vian.
Jero melihat Vian mengusap kakinya dengan agak sedikit kencang. Jero yang melihat hal itu menatap ke arah kaki Vian.
"Kaki kamu kenapa sayang?" ujar Jero setengah panik saat mengetahui kenapa Vian menjadi bersungut sungut seperti itu.
"Kaki aku sakit sayang. Makanya sungut sungut nggak jelas aja dari tadi. Kamunya nggak peka sayang" kata Vian yang setengah kesal karena Jero tidak juga paham kenapa Vian merasa sedikit kesal dengan dirinya.
"Maafkan aku sayang. Maaf" ujar Jero.
Jero membungkukkan badannya yang tinggi menjulang itu. Dia kemudian mengusap kaki Vian yang terasa sakit. Jero memberikan pijitan ringan di sana untuk menghilangkan rasa sakit di kaki Vian.
Vian tersenyum senyum melihat Jero melakukan hal itu. Sebenarnya kaki Vian tidaklah terlalu sakit, cuma karena niat hati Vian ingin mengerjai Jero makanya dia terlihat pura pura sakit di kakinya itu.
Pesawat yang dipiloti oleh Juan dan Ivan terbang dengan sangat tenang. Penerbangan kali ini tidak ada turbelensi yang berarti. Cuaca sangat bersahabat dengan penerbangan mereka kali ini.