
"Semoga dia tidak memutuskan sesuatu dengan mengedepankan emosinya saja"
"Gue sangat tau bagaimana kalau dia sudah emosi." kata Jeri yang sangat mengenal Jero dari kecil.
Bagaimana Jero bersikap saat dia sedang emosi hafal oleh Jer di luar kepala. Jeri sudah melihat itu beberapa kali. Satu kejadian yang paling diingat oleh Jeri adalah saat Jero memutuskan untuk keluar dari mansion saat nyonya besar Aleksander memfitnah mommy.
"Kita hanya sama sama berharap dia tidak emosi Bang. Bagaimanapun kalau dia sedang emosi, akan membuat semuanya menjadi luar biasa kejam. Kami juga takut sekali kalau dia emosi" kata Felix.
"Kita berharap saja kepada Kak Vian, semoga dia bisa menenangkan Bang Jero" lanjut Felix.
Jeri menatap kedua adik Jero. Mereka masih memakai pakaian kerja tetapi sudah tidak dalam kondisi rapi lagi. Dasi dan juga jas kerja mereka sudah disampirkan di kursi meja makan.
"Kalian tidak pergi kerja?" tanya Jeri yang akhirnya lebih memilih untuk menanyakan langsung kepada Felix dan Bram.
"Sepertinya tidak Bang. Kami berdua lebih memilih untuk tidak kemana mana hari ini. Kami akan melihat dan menemani kakak ipar. Kami takut kalau nanti Bang Jero memutuskan sesuatu tanpa berpikir panjang" jawab Felix.
Sedangkan Bram dari tadi hanya bermenung saja. Dia sama sekali tidak terlihat untuk ikut terlibat dalam pembicaraan antara Jeri dan Felix.
"Loe kenapa Bram?" tanya jeri saat melihat Bram sama sekali tidak membuka suaranya dari tadi, padahal selama ini yang selalu ribut adalah Bram.
"Sedang memikirkan apa yang harus kita lakukan Bang" jawab Bram.
Jeri terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Bram kepada mereka.
"Bram, kita memang harus menolong Jero. Tetapi untuk saat ini tidak ada yang bisa kita lakukan Bram. Semua keputusan ada di tangan Jero dan Vian. Kita hanya bisa mendukung mereka saja" kata Jeri menjelaskan kepada Bram dan Felix apa yang bisa mereka lakukan sekarang.
"Apa tidak bisa kita datang ke pengadilan dan meminta pihak pengadilan mencabut surat yang telah mereka kirimkan kepada kakak ipar?" kata Bram mencoba menawarkan salah satu solusi kepada Jeri.
"Tidak semudah itu Bram. Kalau menurut hukum di negara sini, posisi Vian memang salah karena tinggal satu rumah dengan seorang pria yang bukan saudaranya." kata Jeri menjelaskan kepada Felix dan Bram.
"Terus, apa mereka berdua tidak akan bisa bersatu?" tanya Felix yang menganalisa perkataan dari Jeri.
"Mereka bisa menikah setelah surat perceraian antara Vian dengan Juan dikeluarkan oleh pihak pengadilan" jawab Jeri
"Tapi sayangnya, setelah surat ini datang, pihak pengadilan pasti akan berpikir ulang untuk mengabulkan permohonan dari Vian" lanjut Jeri menjelaskan kepada Bram dan Felix.
"Jadi, apa yang bisa kita lakukan sekarang Bang?" kali ini Bram yang bertanya.
"Kita hanya berharap semoga proses perceraian ini sampai ke tahap persidangan."
"Setelah masuk tahap persidangan makan kita bisa memberikan semua bukti bukti yang ada kepada hakim"
"Bukti bukti yang memberatkan Juan. Bukti bukti KDRT dan perselingkuhan yang dilakukan oleh Juan di mansion tempat tinggal mereka dulu" lanjut Jeri.
Felix dan Bram saling memandang satu dengan yang lainnya. Mereka sama sekali tidak mengerti dengan proses persidangan perceraian yang sedang dihadapi oleh Vian dan Juan.
"Sekarang apa bisa sampai ke tahap proses pengadilan Bang?" tanya Bram selanjutnya.
"Kita akan usahakan. Sekarang antara kalian berdua siapa yang mau menemani gue ke pengadilan?" tanya Jeri kepada Felix dan Bram.
"Kamu aja Bram" kata Felix meminta Bram yang menemani Jeri ke pengadilan
"Kenapa Gue Bang? Abang ajalah" jawab Bram yang enggan pergi ke pengadilan meninggalkan Jero di sini hanya dengan Vian dan Felix saja.
"Kalau menurut gue Bram. memang lebih bagus elo yang pergi dengan gue ke pengadilan. Biarab Felix di sini menemani Jero" kata Jeri meyakinkan Bram kalau mereka memang lebih baik pergi berdua dari pada dirinya dengan Felix.
"Ya, loe bisa nolong gue saat tiba di pengadilan. Biarkan Felix di sini. Jero tidak akan melakukan apa apa. Gue jamin itu" lanjut Jeri yang tau kalau Bram pasti memikirkan Jero sekarang.
"Apa loe yakin Bang, kalau Bang Jero tidak akan berbuat yang aneh aneh?" tanya Bram sekali lagi untuk meyakinkan dirinya kalau Jero memang tidak akan melakukan hal yang aneh aneh saat dirinya tidak ada di mansion
"Yup. Jero tidak akan bertindak kalau belum berdiskusi kepada kita bertiga. Makanya lebih cepat kita pergi ke pengadilan, maka lebih cepat kita pulang ke mansion" kata Jeri meyakinkan Bran untuk pergi dengan dirinya ke pengadilan secepatnya.
"Baiklah gue ikut ke pengadilan" kata Bram yang akhirnya menyetujui apa yang dikatakan oleh Jeri dan Felix.
"Bang, jaga Bang Jero dan kakak ipar" kata Bram menitipkan Jero dan Vian kepad Felix.
"Serahkan ke gue. Kalian berdua harus berhasil di pengadilan" kata Felix.
"Sip. Serahkan ke kami" jawab Bram membalikkan jawaban yang diberikan oleh Felix kepada dirinya tadi.
Kalau tidak sedang dalam peristiwa yang tidak mengasikkan seperti sekarang ini, Felix pastinya akan membalas apa yang dikatakan oleh Bram kepada dirinya. Tetapi keadaan sekarang tidak mengizinkan Felix untuk mengatakan sesuatu ke Bram.
Bram membenarkan kembali pasang dasinya, setelah itu dia memasang jas kerjanya kembali. Bram sekarang sudah kembali tampan, dia juga sempat merapikan rambutnya dengan jari jari panjangnya sendiri.
Bram dan Jeri berjalan keluar dari dalam mansion. Empat orang pengawal mengikuti mereka berdua. Keamanan sudah kembali meningkat semenjak peristiwa surat pengadilan yang diterima Jero tadi pagi.
"Kita pakai mobil gue aja Bang" kata Bram.
"Sip"
Bram dan Jeri masuk ke dalam mobil Bram yang sudah terparkir di halaman mansion karena rencananya Bram akan memakai mobil itu ke perusahaannya. Tetapi karena tragedi surat, Bram dan Felix membatalkan niat mereka untuk ke perusahaan.
Satu mobil pengawal sudah berjalan di depan mobil Bram, setelah itu di belakang mobil Bram sudah ada pula satu mobil pengawal.
"Kenapa seperti ini sekarang Bram? Biasanya mereka tidak terlihat mengikuti kalian. Kenapa sekarang terlihat? " ujar Jeru menanyakan dua mobil yang mengikuti mereka di depan dan belakang.
"Kerjaan Felix Bang siapa lagi." jawab Bram yang terpaksa harus mengikuti apa yang dikatakan oleh Felix.
"Gue nggak mau membuat Felix menjadi kepikiran kalau gue menolak iring iringan pengawal. Lagian mereka juga tidak mengganggu gue Bang" lanjut Bram menjawab pertanyaan dari Jeri.
Ketiga mobil mewah milik perusahaan Asander Grub berjalan menuju pengadilan agama. Mereka akan menanyakan langsung kepada pihak pengadilan kenapa bisa mereka mengeluarkan surat seperti itu.
Tepat sebelum mobil pertama masuk ke dalam area pengadilan agama. Ponsel milik Bram berdering.
"Bentar Bang gue angkat telpon dulu" Bram berkata sambil menepikan mobilnya. Dia tidak mau menerima telpon sambil menyetir mobil, selain membahayakan keselamatan dirinya dan juga membahayakan keselamatan orang orang yang berada di jalan tersebut.
"Hallo" ujar Bram menyapa seseorang yang menghubungi nya itu.
Bram mendengar apa yang dikatakan oleh orang yang menelponnya. Bram sama sekali tidak ada memotong apa yang disampaikan oleh orang itu kepada dirinya. Bram mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan orang itu.
Jeri yang sama sekali tidak mendengar apa yang dikatakan oleh orang yang menelpon Bram, hanya bisa menebak nebak isi telpon tersebut.
Hal ini di perpara karena Bram sama sekali tidak ada berkata apa apa saat menerima telpon tersebut.
"Oke terimakasih atas bantuannya" kata Bram saat sipenelpon sudah selesai memberikan informasi yang harus diterima oleh Bram.
"Kalau ada apa apa akan saya hubungi lagi" lanjut Bram.