My Affair

My Affair
BAB 70



Akhirnya setelah sekian menit Vian menangis dalam pelukan Jero, akhirnya Vian bisa kembali menentramkan hati dan pikirannya. Vian sudah kembali tenang. Jero benar benar berusaha membuat Vian tenang dan tidak menyalahkan dirinya sendiri.


"Sayang, apa kamu sudah tenang?" tanya Jero kepada Vian. Jero melihat Vian sudah tidak menangis lagi.


"sudah sayang, ada apa?" tanya Vian.


Vian tau Jero pasti ingin mengatakan sesuatu, makanya Jero bertanya apakah dia sudah tenang atau belum. Kalau jawaban dari Vian belum, maka Jero akan menunggu sampai Vian sudah siap menangis dan bersedih. Untung saja Vian mengatakan sudah, sehingga Jero bisa berbicara dengan dirinya.


" Sayang bisa kita bicara sebentar? ini sesuatu yang penting yang harus cepat kita diakusika sebelum semuanya terlambat" ujar Jero kepada Vian dengan nada serius. Jero sudah selesai menganalisis semua kejadian yang terjadi beberapa hari ini. Ternyata semua kejadian itu memiliki mata rantai yang saling berkaitan yang pada akhirnya akan merugikan kepada Vian. Jero tidak mau hal itu terjadi. Jero tidak mau Vian menjadi tumbal dari semua kesalahan yang diperbuat oleh Juan Aleksander.


Kesalahan Vian hanya satu, kenapa dia jatuh cinta dan menjalin sebuah hubungan dengan Jero Asander. Padahal Vian berstatus istri dari seorang Juan Aleksander.


Jero menatap Vian dengan tatapan yang mendalam. Dia harus membicarakan hal ini dengan Vian. Jero tidak ingin Vian menjadi tidak nyaman untuk berada di rumah sakit atau di negara ini lagi. Jero sudah bulat untuk mengambil keputusan itu. Keputusan yang sangat berat bagi Jero, tetapi sangat dibutuhkan oleh Vian. Bagi Jero apapun itu kalau terbaik buat Vian maka Jero akan mengambil keputusan itu. Jero tidak memperdulikan perasaannya, bagi Jero yang terpenting dan yang paling utama serta paling diperhatikan nya adalah Vian kekasih hatinya itu.


Vian mengangguk menyetujui untuk berbicara dengan Jero. Vian juga penasaran dengan perubahan sikap Jero semenjak melihat Vian menangis tadi.


"Boleh sayang, dimana?" tanya Vian kepada Jero.


Vian menatap wajah tampan kekasihnya yang sangat disayanginya itu. Wajah pria yang sampai sekarang selalu membela dirinya dalam keadaan apapun. Vian meraba wajah mulus berparas bule itu. Vian meresapi setiap belaiannya terhadap Jero. Vian menghafal setiap lekuk wajah tampan kekasihnya itu. Wajah yang akan selalu berada dalam pikiran Vian. Wajah yang selalu menemani Vian setiap hari.


"Kita bicara di ruangan aku aja ya. Jangan di ruangan kamu" ujar Jero.


"Emang kamu juga punya ruangan di rumah sakit ini sayang?" tanya Vian kepada Jero.


"Punyalah sayang. Ruangan aku terletak di lantai paling atas gedung rumah sakit ini. Ruangan yang jarang sekali aku datangi semenjak rumah sakit ini dibuat" ujar Jero menjawab pertanyaan Vian tentang ruangan Jero yang ada di rumah sakit itu.


Jero kemudian membawa Vian menuju ruangannya yang terletak di lantai paling atas rumah sakit. Ruangan yang suda lama tidak didatangi oleh Jero. Ruangan yang bisa melihat semua aktifitas yang ada di rumah sakit.


Jero membawa Vian menuju lift yang terletak di sebelah kanan lift untuk pasien. Jero masuk ke dalam lift khusus untuk petinggi rumah sakit. Dia memencet tombol khusus untuk menuju lantai ruangannya. Dalam lift mereka hanya diam saja. Tapi bahasa tubuh mereka menunjukkan kalau mereka saling melindungi satu dengan yang lainnya. Salah satu contoh bahasa tubuh yang diperlihatka oleh mereka adalah tangan Jero yang selalu menggenggam tangan Vian. Serta Jero meletakkan Vian di sisi tubuhnya sebelah kanan kalau tidak ada orang lain. Sedangkan kalau ada orang lain di antara mereka makan Jero akan meletakkan Vian tepat di belakang tubuhnya.


Jero menggenggam tangan Vian keluar dari dalam lift. Mereka berdua menuju ruangan Jero. Jero kemudian membuka pintu ruangan saat mereka sampai di sana.


"Masuk sayang" Ujar Jero meminta Vian untuk masuk ke dalam ruangannya.


Mereka berdua kemudian masuk ke dalam ruangan Jero. Vian duduk di sofa yang ada di sana. Ruangan kerja Jero di rumah sakit itu sangatlah luas. Semuanya berada di sana. Layar televisi super besar yang menampilkan semua CCTV rumah sakit semua ada di situ.


Jero kemudian mengeluarkan ponsel miliknya. Jero kemudian mencari nama Felix dalam ponsel miliknya itu. Jero kemudian menghubungi Felix.


Felix yang saat itu baru selesai rapat, mengambil ponselnya yang bergetar di dalam saku jas. Dia melihat siapa yang menghubunginya. Ternyata yang menghubungi Felix adalah Jero.


"Siapa Bang?" tanya Bram penasaran siapa yang menghubungi Felix saat ini.


"Bang Jero" jawab Felix sambil menggerakkan mulutnya.


"oh angkat aja Bang. Mana tau penting" uajr Bram memberikan usul kepada Felix untuk mengangkat panggilan dari Jero itu.


"Hallo Bang, ada apa?" ujar Felix menjawab panggilan dari Jero.


"Loe dengan Bram keruangan gue nya. Tapi tolong bawa minuman dan makanan. Di sini seperti di gurun pasir, sama seklai tidak ada apa apa di ruangan ini" ujar Jero meminta Felix membawa makanan dan minuman ke ruangannya.


"Sip Bang. Kami ke sana sekarang" ujar Felix menjawab perintah dari Jero.


Mereka berdua yang memang telah selesai meeting dengan direktur rumah sakit langsung menuju ruangan Jero yang berada di lantai paling atas rumah sakit. Mereka akan berbincang bincang tentang hal yang dirasa paling perlu dilakukan untuk saat ini, melihat tangis Vian yang menyayat hati itu.


"Sayang, kenapa bawa Felix dan Bram?" tanya Vian yang tidak mengerti kenapa Jero membawa serta Felix dan Bram untuk berbicara dengan mereka berdua. Vian berpikir tadi Jero hanya akan berbicara dengan dia saja. Ternyata Jero juga membawa Felix dan Bram.


"Harus sayang. Aku ingin kamu tau semuanya. Makanya aku membawa mereka berdua ke dalam pembicaraan kita nanti" ujar Jero yang memang akan membicarakan semuanya dengan kedua adiknya itu.


"Aku juga ingin mendengarkan pendapat dari mereka tentang permasalahan yang nanti akan aku ungkapkan kepada kamu dan mereka berdua" kata Jero memberikan alasan kepada Vian kenapa dia membawa Felix dan Bram dalam perbincangan kali ini.


Jero dan Vian kemudian berbincang bincang ringan sambil menunggu Felix dan Bram yang katanya sudah di dalam lift menuju ruangan Jero.


Tok tok tok. Terdengar bunyi pintu ruangan yang diketuk dari luar.


"Masuk" jawab Jero sambil tetap melihat ke arah Vian.


Jero sudah mengetahui siapa yang akan datang. Makanya dia tidak perlu melihat ke layar televisi untuk melihat siapa yang mengetuk pintu ruangannya itu.


Felix dan Bram kemudian masuk ke dalam ruangan Jero. Mereka sebenarnya penasaran kenapa Jero menghubungi mereka dan meminta untuk datang ke ruangannya yang berada di lantai paling atas rumah sakit. Ruangan yang sangat jarang di datangi.


"Duduklah dimana kalian mau duduk" ujar Jero meminta kedua adiknya untuk duduk di tempat dimana mereka sukai.


Felix meletakan minuman dan makanan yang tadi dibeli oleh para pengawal. Setelah itu dia duduk di sebuah sofa yang tepat berada di depan Bram.


"Kalian berdua pasti kaget kenapa Abang meminta kalian untuk datang ke ruangan ini" ujar Jero membuka percakapan yang terlihat sangat serius itu.


"Bener bang, kami berdua dari tadi bertanya tanya, ada apa abang meminta kami untuk datang ke ruangan. Jarang jarangnya abang melakukan hal itu. Sepanjang jalan kami berdua memikirkan hal tersebut" ujar Bram menjawab pernyataan dari Jero.


Felix melihat ke arah Bram. Dia tidak menyangka kalau Bram akan menjawab seperti itu kepada Jero. Felix dan Bram sepanjang perjalanan menuju ruangan Jero asik bercerita tentang berbagai hal. Mereka berdua sama sekali tidak ada bertanya atau menanyakan kenapa mereka dipanggil keruangan oleh Jero. Sama sekali tidak ada pembicaraan ke arah sana. Felix hanya bisa mengurut dada saja melihat kelakuan adiknya yang satu itu.


"Abang memanggil kalian untuk datang ke sini, berkaitan dengan permasalahan Vian. Abang yakin, walaupun kita sudah mengumpulkan para karyawan, dokter dan suster, mereka pasti akan tetap menggunjingkan dan menggosipkan Vian." papar Jero tentang apa yang akan dibicarakan nya itu. Jero benar benar telah memikirkan persoalan ini dari tadi siang.


"Apalagi Tuan besar Aleksander sudah mengatakan saat konferensi pers kalau Juan Aleksander melakukan hal keji itu karena Vian tidak menurut sebagai seorang istri. Nah bukti Vian tidak baik sebagai istri adalah dengan diusirnya Vian dari mansion." lanjut Jero yang sudah menganalisa semua kejadian.


"Jadi sekarang ini yang salah bukanlah Juan Aleksander lagi, melainkan Vian. Kalian pahamkan maksud abang?" tanya Jero kepada kedua adiknya dan juga kepada Vian.


Mereka bertiga menganalisa dan memikirkan apa yang dikatakan oleh Jero. Mereka bertiga akhirnya paham dengan apa yang dikatakan oleh Jero tadi.


"Kami paham Bang, apa maksud abang tadi" ujar Felix mewakili Bram dan Vian menjawab pertanyaan Jero.


"Nah itu yang gue pikir sekarang. Kalau kita menunggu lama waktu untuk mengajukan gugatan cerai Vian, maka bisa dipastikan Vian akan kalah dan akan dikatakan sebagai seorang istri yang durhaka kepada suaminya." ujar Jero kemudian.


"Satu sisi lagi. Bisa jadi Juan Aleksander tidak mau menceraikan Vian. Dia akan membuat proses perceraian itu menjadi sangat rumit" lanjut Jero menjelaskan kepada kedua adiknya dan kekasihnya itu.


"Jadi menurut abang bagusnya seperti apa. Apakah kita langsung melakukan gugatan cerai atau bagaimana?" tanya Felix mewakili Vian.


"Kalau menurut abang, itupun kalau Vian mau, bagaimana kalau kepindahan Vian untuk kuliah ke negara E dipercepat saja. Tidak usah menunggu waktu mulai kuliah Vian pindah ke sana." ujar Jero memberikan solusi kepada Vian.


"Bagaimana kakak ipar?" tanya Bram kepada Vian yang terlihat hanya diam saja dari tadi.


Vian masih saja diam, dia sama sekali tidak menjawab apa yang dikatakan oleh Jero. Vian mencerna semuanya dalam pikirannya. Vian membolak balikkan semuanya dalam pikirannya. Dia memikirkan semuanya itu. Vian tidak boleh mengambil keputusan sebelah pihak saja. Dia harus memikirkan baik buruknya keputusan yang akan diambil oleh Vian.