
Jero kemudian memutuskan panggilan telponnya dengan Vian. Vian kemudian pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Setelah itu nanti dia akan bersikap seperti menantu yang tidak tau apa apa.
"Vian mainkan peran kamu dengan baik" ujar Vian menyemangati dirinya sendiri.
Vian bersiap siap, dia memakai pakaian terbaik miliknya yang dibeli dari uang hasil kerja kerasnya sendiri. Vian merias wajahnya menjadi sangat cantik dari pada biasanya. Vian kemudian menatap tampilannya di kaca meja rias.
"Sempurna. Mari beraksi Vian." ujar Vian.
Vian kemudian memakai sandal rumahan miliknya. Dia kemudian berjalan ke arah pintu kamar, Vian membuka pintu kamar itu dan berjalan keluar. Vian melihat ke arah lantai satu rumah, ternyata di sofa ruang tamu memang sudah duduk Tuan dan Nyonya besar Aleksander. Tangan Vian mengepal menahan emosinya.
"Vian ingat kata Jero, jangan pernah melawan marah dengan kemarahan" Ujar Vian kembali berusaha menenangkan hatinya. Vian tidak boleh emosi. Vian harus tenang.
Vian kemudian turun dan menuju kedua mertuanya yang sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing masing.
"Papi, Mami, maaf Vian baru bangun." ujar Vian sambil bersalaman dengan Tuan dan Nyonya besar Alexsander.
"Tidak apa apa Nak." jawab Tuan Alexsander yang menyayangi Vian seperti anaknya sendiri.
"Papi sama Mami udah lama sampenya?" ujar Vian berbasa basi. Vian harus memainkan perannya dengan cantik dan tidak boleh cacat sedikitpun.
"Sudah sekitar tiga puluh menit Vian. Biasanya suami kamu pulang jam berapa? " Ujar Mami yang menjawab pertanyaan dari Vian.
"Jam lima sorean lah Mami. Tapi, kadang juga telat." jawab Vian yang sebenarnya mulai tidak perduli Juan mau pulang jam berapa. Kalau Vian boleh memilih, Vian lebih memilih untuk Juan tidak pulang ke mansion.
Bik Ina datang mengantarkan teh hijau untuk Vian. Bik Ina tersenyum penuh makna ke Vian. Vian membalas senyuman bik Ina.
"Makasi Bik Ina" Ujar Vian.
"Sama sama Nyonya muda" Jawab Bik Ina.
Vian meminum teh hijau yang dibuatkan oleh Bik Ina.
"Vian, kamu tau bukan kalau Juan hanya sendiri?" tanya Mami kepada Vian.
Vian mengangguk, Vian memang tau kalau Juan Alexsander adalah anak tunggal.
"Jadi, Mami dan Papi berharap kamu bisa melahirkan keturunan yang lebih untuk kami." ujar Mami mengucapkan kata kata yang keluar dari mulutnya dengan santai saja.
"Hah?" Vian sampai tercenang mendengar apa yang dikatakan oleh Mami.
Papi dan Mami menatap Vian yang kaget saat mendengar apa yang diminta oleh Papi dan Mami.
"Kenapa kaget Vian?" tanya Mami.
"Nggak Mami, Vian hanya kaget saja. Vian sama Juan belum ada membicarakan hal hal itu." ujar Vian.
'Gimana mau membicarakan hal itu, tidur seranjang saja tidak pernah.' ujar Vian berkata di dalam hatinya.
"Mami, obrolan lain saja. Lihat wajah menantu kita sudah memerah menahan malu. Jangan urus urusan kamar mereka Mami." ujar Papi menyelamatkan Vian dari cercaan pertanyaan dari Mami.
Mami akhirnya menuruti permintaan Papi. Mami tidak lagi membahas permasalahan keturunan atau yang lainnya.
Mereka kemudian berbincang bincang masalah yang lainnya. Vian terus menghindar kalau berbicara tentang Juan. Vian tidak ingin terlihat seperti istri yang tidak mengenal suaminya, walaupun sebenarnya adalah benar kalau Vian sebenarnya memang tidak mengenal sama sekali siapa suaminya itu.
Saat mereka mengobrol, Juan Alexsander datang dari perusahaan. Dia heran melihat Papi dan Mami nya ada di mansion miliknya.
"Papi, Mami, tumben datang?" tanya Juan.
Plak, sebuah tamparan hebat melekat ke pipi Juan Alexsander. Juan langsung memegang pipinya yang memerah hasil dari tamparan yang diberikan Papinya itu. Juan menatap Papi dengan tatapan tidak percaya kalau Papi tega menampar nya dengan begitu keras.
Vian yang tidak menyangka Papi menampar Juan juga ternganga tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Ada apa kamu katakan? Kamu tidak sadar masalah apa yang telah kamu perbuat?" Ujar Papi semakin murka karena Juan masih bertanya ada apa kepada Papi.
"Aku beneran tidak paham Papi. Ada apa ini?" ujar Juan masih kembali bertanya kepada Papi.
Papi melempar amplop yang berisi semua fhoto fhoto kelakuan Juan malam itu.
"Buka" teriak Tuan besar Alexsander dengan murka.
Juan membuka amplop coklat tersebut. Juan menatap tidak percaya kepada isi amplop itu yang ternyata fhoto fhoto dirinya dengan dua wanita yang malam itu menemani dirinya tidur.
"Juan permasalahan kapal kita yang ditahan pihak imigrasi negara H, belum selesai sudah kamu tambah dengan masalah yang lainnya. Ada apa ini Juan?" ujar Tuan Alexsander semakin murka.
"Apa kamu beneran pengen membuat perusahaan kita hancur lebur?" tanya Tuan Alexsander kembali.
Vian melihat fhoto fhoto yang diberikan oleh Papi kepada Juan. Vian kemudian terduduk sambil memegang fhoto fhoto itu. Vian kemudian menangis dan menutup wajahnya.
"Lihat istri kamu, dia terpukul melihat kelakuan suaminya. Apa kamu tidak malu Juan sudah melakukan hal seh Ina itu?" tanya Tuan Alexsander lagi.
Vian yang sudah tidak tahan langsung pergi dari hadapan ketiga orang yang sedang ribut itu. Vian tidak ingin berada di antara urusan keluarga Alexsander.
Plak. Sebuah tamparan kembali di Terima Juan. Suara tamparan yang sangat keras itu sampai ke telinga Vian. Vian mengusap pipinya mencemooh Juan Alexsander yang sekarang seperti anak kucing dipukul pakai lidi.
Vian masuk ke dalam kamar. Dia masih bisa mendengar sayup sayup pertengkaran antara Mertuanya dengan suaminya itu. Pertengkaran yang tidak tau akan kapan selesainya.
Vian kemudian meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Dia kemudian menghubungi Jero. Jero yang kebetulan memang sedang santai, langsung mengangkat panggilan dari Vian.
"Hallo sayang, apa kangen! " Sapa Jero saat dia baru mengangkat panggilan telpon dari Vian.
"Mana ada kangen. Aku mau cerita sama kamu" ujar Vian yang berusaha menahan tawanya.
"Sepertinya penting sekali. Ada apa, apa berita ini cukup bikin hangat atau bikin dingin?" tanya Jero.
"Hangat" jawab Vian dengan semangat.
"Apa?" ujar Jero yang penasaran.
"Ternyata kedatangan Tuan dan Nyonya Alexsander hanya untuk memberikan tamparan tamparan kepada Juan. Sekarang masih terjadi perang adu mulut yang lumayan wow." kata Vian mulai bercerita.
"Kamu tau karena apa?" tanya Jero yang sebenarnya sudah tau.
"Gara gara fhoto Juan dengan dua wanita saat malam itu. Ntah kenapa Tuan dan Nyonya Alexsander bisa mendapatkan fhoto fhoto itu." kata Vian bercerita kapada Jero.
"Satu lagi, denger bunyinya tadi, kapal milik perusahaan Alexsander ditahan oleh pihak imigrasi negara H. Tapi jangan tanya aku kenapa nya. Aku juga nggak tahu." ujar Vian menceritakan apa yang didengarnya kepada Jero.
"Sekarang kamu dimana?" tanya Jero lagi.
"Kamar, aku pura pura berlari karena sakit hati melihat fhoto itu. Padahal sebenarnya karena aku nggak tahan mau menghubungi kamu. Mau dia ber fhoto dengan seribu wanita terserah aja. Aku nggak perduli." ujar Vian dengan nada santai.
"Kamu terus aja di kamar. Nanti palingan Nyonya Alexsander akan mengetuk pintu kamar. Kamu jawab aja, aku pusing Mami pengen istirahat." ujar Jero mengajarkan sesuatu lepada Vian.
"Oke sip kamu kapan pulang?" ujar Vian bertanya kapan Jero akan pulang ke rumah.
"Sepertinya malam. Kalau ada yang menanyakan ke aku, kamu jawab aja aku kemana gitu ya." ujar Jero kepada Vian.
"Oke sip. Kamu hati hati di luar. Nanti kalau udah jalan pulang telpon ya." ujar Vian yang merasa kesepian saat tidak ada Jero di mansion besar itu.
"Iya nanti saat pulang aku telpon. Kamu hati hati di mansion. Jangan katakan hal hal yang tidak penting." Ujar Jero memberikan pesan kepada Vian.
Vian kemudian memutuskan panggilan telponnya dengan Jero. Vian kemudian berbaring di ranjangnya, dia mengeluarkan ponsel miliknya dan langsung bermain game online untuk menghilangkan kejenuhan yang menderanya saat ini.