My Affair

My Affair
Pra Pulang Ke Negara I



Pagi harinya Jero yang sudah bangun bertepatan dengan bunyi alarmnya langsung saja membuka mata dan mematikan alarm yang berbunyi dari ponselnya itu. Jero sudah merasa lebih segar lagi sekarang karena beristirahat yang nyaman tanpa beban pikiran semalam. Jero memang selalu seperti itu, saat dirinya harus melakukan suatu pekerjaan yang memerlukan analisis dan pencarian yang cukup menguras energi, akan membuat Jero semakin bersemangat dan merasakan kalau semangatnya sangat berlebih untuk bisa melakukan hal yang memang harus dilakukan oleh dirinya.


Jero adalah pria yang sangat menyukai tantangan, makanya saat ada sebuah masalah yang memiliki tantangan yang luar biasa, maka Jero akan dengan semangat menyelesaikan permasalahan itu. Itulah Jero, seorang pria yang benar benar diminati oleh setiap wanita yang ada di luaran sana. Tetapi sayangnya para wanita diluaran sana menganggap Jero hanyalah sopir dan sahabat dari dua orang pria pemilik perusahaan Asander gurb, kalau mereka semau tahu Jero pemilik utama perusahaan Asander grub, maka sudah tidak bisa dibayangkan lagi, berapa banyaknya anak pebisnis, artis dan publik figur lainnya berusaha untuk dekat dengan Jero Asander, makanya Jero sangat nyaman dengan dirinya saat ini. Dia tidak ingin diketahui oleh siapapun kalau dia adalah pemilik utama Asander Grub dan JFB Grub.


"Sekali sekali mencoba mandi pagi pasti nikmat" ujar Jero yang tiba tiba ntah setannya datang dari mana mendadak ingin menikmati mandi pagi. Suatu hal yang selama liburan ini tidak pernah dilakukan oleh Jero lagi. Tapi kalau sedang di negara I, Jero akan mandi pagi selalu karena dia harus bekerja.


Jero mengambil handuknya yang di letakkan di laci nakas. Jero masuk ke dalam kamar mandi. Sebelumnya dia sudah melucuti semua pakaiannya. Body Jero yang memang seperti body para atlit binaraga sangat membuat siapa saja merasa iri bagi kaum pria, tetapi bagi kaum wanita, mereka rela harus merangkak menuju Jero asal diizinkan untuk memegang tubuh Jero yang membuat kagum itu. Kali ini Jero akan mandi seperti bayi mandi. Dia sedang tidak berminat untuk mandi dalam waktu yang cepat. Jero berencana untuk menikmati mandi paginya kali ini. Jero berencana untuk megosok seluruh tubuhnya dan mengkramas rambutnya supaya kepalanya menjadi dingin kembali dan bisa bekerja kembali.


"Liburan telah selesai, saatnya muncul ke dunia bisnis. Mari kagetkan mereka semua" ujar Jero yang sudah memikirkan hal ini beberapa lama.


Semenjak Vian sah menjadi kekasihnya, Jero sudah memutuskan untuk tampil ke depan umum dan memperkenalkan dirinya sebagai Jero Asander. Pemilik utama perusahaan Asander Grub dan JFB Grub. Jero akan membicarakan hal ini dengan kedua adiknya dan Vian saat mereka sudah berada di mansion utama keluarga Asander yang di negara I.


......................................................................................................


Sedangkan di kamar depan kamar Jero, Vian yang juga sudah bangun merentangkan tubuhnya dengan serentang rentangnya. Vian benar benar menikmati tidur malamnya kali ini. Ntah karena sudah bahagia karena sudah menjalani liburan, atau karena akan kembali ke negara I dan melanjutkan pekerjaan menjadi seorang dokter. Vian tidak perduli dengan alasan apapun. Sekarang bagi Vian dia sudah bahagia, maka yang lainnya tidak diambil pusing lagi oleh Vian. Apapun itu bagi Vian tidak ada pengaruhnya. Vian akan tetap menjadi seorang Vian.


"Wah tidur yang sangat berkualitas. Selamat tinggal liburan, selamat datang rumah sakit dan pasien pasien yang aku sayangi. Aku kangen rutinitas itu lagi, aku kangen ruangan operasi" ujar Vian berkata dengan suara keras yang hanya bisa di dengar loleh dirinya sendiri. Vian meluapkan kerinduannya terhadap pekerjaannya itu. Vian sudah tidak sabar lagi untuk bisa melakukannya dalam waktu dekat ini. Vian harus bisa melakukannya, Vian pasti akan meyakinkan Jero untuk mendapatkan izin agar bisa bekerja lagi.


Vian kemudan berdiri dari atas ranjang empuk itu. Vian mengambil handuk di nakas dan kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Semalam Vian tidak bisa mandi dengan sempurna karena dia harus mengepak semua pakaiannya. Jadi sekarang dia akan balas dendam untuk menikmati mandi paginya di negara F.


Setelah selesai mandi, Vian berencana untuk memasak menu sarapan untuk semua orang. Vian sangat alergi harus makan pagi atau sarapan di luar, kecuali kalau mereka memang menginap di hotel, maka Vian bisa menikmati sarapan yang dibuat oleh chef yang ada di hotel.


Vian yang selesai mandi dalam waktu lima belas menit dan juga sudah selesai memakai pakaian dan bersiap siap berjalan ke depan pintu untuk membuka pintu kamarnya. Dia melihat ke arah kamar yang ada di depan kamarnya itu.


"Yah dia masih tidur" ujar Vian saat melihat ke kamar Jero yang lampunya masih padam dan sama sekali belum ada tanda tanda kalau Jero sudah bangun.


Vian melanjutkan langkah kakinya menuju dapur yang terletak di lantai dasar villa mewah itu. Villa yang ternyata milik Jero. Vian baru tahu semalam saat dia tanpa sengaja mendengar obrolan antara Felix dengan Bram yang membahas akan merenovasi villa yang mereka tempati sekarang ini. Vian saat itu juga merinding membayangkan kekayaan dari kekasihnya itu.


Vian membuka almari pendingin. Vian mengeluarkan semua isinya. Dia akan mengolah semua bahan masakan itu untuk menjadi menu makan pagi mereka semua. Baik Jero dan keluarganya serta sahabatnya begitu juga dengan pengawal yang berjumlah tiga puluh orang itu. Vian sudah menanak nasi dengan memakai empat alat penanak nasi yang ada di dapur. Vian menggunakan semuanya untuk menghemat waktu dalam mengolah masakannya.


Vian juga sudah membumbui ayam yang akan dijadikan ayam goreng tepung. Tiga ekor ayam yang ada di dalam freazer akan langsung di eksekusi oleh Vian. Selain ayam goreng tepung, Vian juga sudah merebus iga sapi dengan tomat yang sudah di blender dengan sangat banyak serta dengan bumbu bumbu yang lainnya.


Vian melakukan pekerjaan dapur itu dengan hati yang sangat senang dan bahagia. Di satu sisi Vian memang bersedih karena sudah harus menghabiskan waktu liburannya dengan Jero. Tapi di sisi lain Vian sangat senang karena dia sudah bisa kembali bekerja. Vian akan mengatakannya kepada Jero nanti saat mereka sudah sampai di negara I. Kalau sekarang Vian mengatakan kepada Jero, maka bisa jadi Jero tidak mengizinkan. Vian akan mencari waktu yang tepat untuk mengatakan hal itu kepada kekasihnya yang overprotektif tersebut.


Setelah satu jam setengah berkutat di dapur dengan mengerahkan semua fasilitas yang ada di sana. Vian selesai juga membuat masakan yang akan dijadikan sebagai menu sarapan pagi mereka. Vian meletakkan semua menu sarapan pagi itu di atas meja makan panjang untuk semua anggota keluarganya termasuk sahabat sahabat Jero. Sedangkan untuk pengawal Vian sudah meminta Josua, Ryan dan Hendri untuk membawa sarapan yang telah di masaknya itu ke meja makan para pengawal yang terletak di dekat kolam renang.


Setelah memastikan semuanya terhidang dengan baik dan sempurna, Vian kembali naik ke lantai dua. Vian menuju kamarnya untuk kembali membersihkan dirinya dan menukar pakaian rumah dengan pakaian untuk pulang ke negara I. Vian merasa kalau badannya sudah lengket lengket kembali, jadi dia memutuskan untuk kembali mandi saat sampai di kamar.


Vian melihat kalau lampu kamar Jero sudah menyala.


"Akhirnya tu kerbau kesayangan bangun juga" ujar Vian dengan suara yang agak terdengar.


Felix yang baru saja keluar dari kamarnya mendengar apa yang dikatakan oleh Vian.


"Kerbau kerbau kan sayang dan cinta juga kakak ipar" ujar Felix menggoda Vian.


Vian yang kaget langsung menatap ke arah Felix. Vian tidak menyangka kalau Felix mendengar apa yang dikatakan oleh dirinya saat mengomentari Jero.


"Kamu kayak hantu aja Felix, tiba tiba nongol" ujar Vian yang malu Felix mendengar apa yang dikatakannya tentang Jero.


"Santai aja kakak ipar, nggak akan aku kadukan ke Bang Jero juga. Lagian Bang Jero juga tidak akan percaya kalau aku kadukan juga" ujar Felix yang paham bagaimana Jero sangat mempercayai Vian.


Vian kemudian masuk ke dalam kamarnya saat melihat Felix yang sudah berjalan menuju lantai satu mansion utama. Felix sudah membawa dua koper besarnya turun.


Vian kembali membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket karena berkutat di dapur selama ini. Setelah selesai membersihkan badannya, Vian memakai mide dress berwarna baby pink. Vian memoles wajahnya dengan riasan natural seperti riasan yang memang di sukai oleh Jero, Jero sangat tidak suka melihat Vian yang berpenampilan menor. Hal yang berbeda dengan yang disukai oleh Juan Aelxsander. Saat Vian masih harus menemani dirinya makan malam, maka Vian wajib berpenampilan menor. Hal yang membuat Vian risih.


Setelah yakin dengan riasannya. Vian mengambil perhiasan yang kemaren dibelikan oleh Jero. Satu set perhiasan. Vian memasang gelang dan anting antingnya dengan gampang. Saat memasang kalung, Vian menjadi susah sendiri, saat itu lah sebuah tangan mengambil kalung milik Vian.


"Kapan masuk?" ujar Vian sambil memeluk pinggang Jero dengan pelukan sayang.


"Dari tadi saat kamu mandi. Untung saja kamu memakai gaun kamu ini di walkincloset kalau nggak, nggak tau apa yang akan terjadi" ujar Jero menggoda Vian dengan ucapan ucapannya yang terkadang membuat Vian menjadi meremang sendiri.


"Udah sayang jangan mulai lagi. Makanya cepat cepat halalin" ucap Vian.


"Makanya cepat cepat urus surat cerainya" ujar Jero menjawab tantangan dari Vian


"Selesai" ujar Jero sambil menaruh bandul kalung dengan hurus J kecil itu.


"Aku akan urus surat cerai saat kita sampai di negara I sayang. Kamu minta bantuan Jeri ya untuk menolong aku mengurus semuanya" ujar Vian sambil menatap ke wajah kekasihnya itu.


"Oke. Saat sampai di negara I kita akan langsung urus perceraian kamu dengan pria brengsot itu" ujar Jero yang sengaja memplesetkan caciannya untuk Juan Alexsander yang tak lain adalah adiknya.


"Caci caci aja sayang, kenapa harus diplesetkan" ujar Vian protes dengan cara Jero memplesetkan perkataannya tadi.


"Sayang mulutnya sayang" ujar Jero sambil tersenyum


Vian membalas senyuman Jero dengan memberikan Jero senyuman manis dari dirinya.


Jero langsung saja secepat kilat mengecup sekilas bibir pink Vian yang selalu menggemaskan itu. Jero ingin melakukan lebih, tetapi dia berusaha menahan hati dan pikirannya untuk tidak melakukan hal itu. Dia tidak mau melakukan hal itu sebelum Vian resmi menjadi istrinya.


"Ayuk turun. Aku udah buat sarapan favorit kamu" ujar Vian sambil menggandeng mesra tangan Jero


"Pantesan tadi nggak ada nengok kamu, ternyata kamu masak di bawah" ujar Jero yang tadi memang sempat melihat Vian ke dalam kamar, tetapi sama sekali tidak ada. Ternyata kekasihnya itu menyiapkan sarapan untuk mereka semua.


"Yupi sayang. Aku nggak mau makan di luar" jawab Vian


Mereka berdua kemudian turun ke lantai satu villa besar itu. Vian dan Jero melihat semua keluarga dan juga sahabat sahabat Jero sudah duduk di kursi meja makan. Hanya tinggal dua kursi yang masih kosong, yaitu kursi Jero dan Vian.


"Akhirnya kalian berdua datang juga. Gue udah laper banget. Semakin lapar saat melihat masakan yang dibuat oleh Vian" ujar Tama yang memang selalu makan pagi di jam segini, perut tama benar benar sudah di stel dengan baik.


"Ya udah mari kita sarapan, setelah itu langsung berangkat ke bandara" ujar Jero memberitahukan kepada mereka semua kapan mereka akan berangkat ke bandara.


"Juan mana?" ujar Jero saat tidak melihat sahabatnya yang satu itu


"Udah duluan ke bandara Bang. Katanya mau menyiapkan pesawat. Tadi bekal Juan sudah di siapkan oleh Kak Greta" ucap Felix menjawab pertanyaan dari Jero


"Oh baiklah, mari makan"


Mereka semua kemudian mengambil menu sarapan setelah Vian mengambilkan untuk Jero. Mereka semua makan dengan sangat lahap nasi goreng lengkap itu. Rasa masakan Vian luar biasa enaknya, makanya setiap yang di masak oleh Vian tidak akan pernah bersisa, apalagi bisa dibungkus. Semuanya habis tak bersisa sedikitpun.


"Rasa masakan yang nggak pernah berubah" ujar Tama yang sudah empat kali lebih merasakan masakan yang dimasak oleh Vian.


"Emang hafal?" ujar Jeri


"Hafallah" jawab Tama dengan yakin


"Gue yakin, bentar lagi Jero pasti akan gendut karena Vian selalu masak masakan yang enak enak saat mereka menikah nanti" kata Tama dengan percaya dirinya


"Sedangkan sekarang udah dimasakin, ngapain nunggu halal" ujar Jero berkata dengan bangganya


"Bang jangan cari cari pongahnya keluar lah Bang" ujar Bram yang sudah berada di tengah tengah Tama dan Felix.


Mereka semua melihat para pengawal memasukkan barang barang ke dalam bus yang sudah menunggu mereka. Mereka semua berangkat memakai tiga bus. Satu bus untuk Jero, Felix, Bram, Vian, Tama, Jeri dan Greta serta empat orang pengawal Jero. Sedangkan bus kedua dan ketiga berisi pengawal dan segala jenis koper koper milik mereka semua. Ketiga bus besar itu pergi meninggalkan villa yang ntah kapan akan dikunjungi sang pemiliknya lagi. Villa yang akan kembali disewakan untuk orang orang yang berlibur kesana, tetapi ada empat kamar yang tidak disewakan, semua kamar itu terletak di lantai dua mansion bagian anjungan sebelah kanan, sedangkan semua ruangan yang lain bisa dikontrakkan atau disewakan kepada pengunjung yang ingin menginap di sana.