My Affair

My Affair
BAB 69



Jero kemudian melangkahkan kakinya menuju ruangan direktur rumah sakit. Jero berjalan dengan sangat cepat dan dengan langkah kaki yang panjang panjang. Jero ingin cepat sampai di ruangan direktur rumah sakit itu. Jero sudah tidak sabar lagi ingin memaki maki setiap orang yang telah berani, menggosip kan hal yang tidak tidak tentang Vian. Kalau tentang Jero, Jero sama sekali tidak ambil peduli. Sekarang yang menjadi bulan bulanan mereka adalah Vian. Kekasih hatinya, apapun yang membuat Vian bersedih akan langsung berhadapan dengan Jero.


"Mereka bisa ngasih anak mereka makan dan uang sekolah, karena rumah sakit gue. Sekarang mereka memaki maki orang yang paling gue sayang. Gue nggak bisa nerima hal ini. Gue akan buat perhitungan dengan mereka" ujar Jero ngedumel sendirian sepanjang perjalanan menuju ruangan direktur.


Kali ini dia akan memperlihatkan siapa dia sebenarnya kepada semua dokter, perawat, suster maupun staff bagian lain di rumah sakit ini. Biasanya dia akan selalu berlindung dibalik Bram maupun Felix. Tetapi kali ini tidak lagi, dia akan muncul sebagai pemilik lima puluh persen saham rumah sakit harapan kita yang akan diserahkan kepada Vian. Saham terbesar yang dimiliki seseorang di rumah sakit ini. Jero memang membangun rumah sakit harapan kita dan rumah sakit lainnya adalah untuk Vian. Kekasih yang sudah sejak dari kecil di sayangi dan dicintainya itu.


"Kalian sudah terlalu berani menghina calon istri saya. Maka kalian semua akan menerima efeknya. Mata di bayar mata. Penghinaan dibayar penghinaan. Saya tidak takut kehilangan kalian, karena masih banyak diluaran sana orang yang mau bekerja di rumah sakit ini" ujar Jero berkata dengan nada tajam dan dingin. Aura kemarahan Jero sangat terasa.


Jero terus melangkahkan kakinya menuju ruangan direktur rumah sakit. Dia akan membuat perhitungan dengan mereka yang telah membuat Vian menangis dan bersedih.


Jero membuka pintu ruangan direktur. Direktur yang sedang berbincang dengan Felix dan Bram, menatap Jero dengan tatapan tidak suka. Direktur menatap tajam ke arah Jero yang main masuk saja tanpa mengetuk pintu atau meminta izin terlebih dahulu kepada yang punya ruangan.


"Hay, Anda bisa tidak masuk ke ruangan saya dengan mengetuk pintu terlebih dahulu. Anda tidak lihat saya sedang rapat dengan Tuan Felix dan Tuan Bram. Anda benar benar tidak punya etika. Masuk ke dalam ruangan orang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu" ujar direktur rumah sakit dengan marah dan emosi. Direktur rumah sakit memaki maki Jero.


"keluar Anda dari ruangan saya. Saya sedang rapat dengan dua pemilik rumah sakit ini. Anda kalau mau ada perlu silahkan ke bagian HRD saja. Saya tidak bisa melayani Anda" ujar Direktur semakin menjadi jadi mulutnya kepada Jero.


Felix dan Bram saling memandang. Mereka tidak tau apa yang harus mereka lakukan saat ini. Jero terlihat sangat marah sekali. Dia tidak menyangka akan dicaci maki oleh orang yang diberikan gaji oleh dirinya.


"Saya tau Anda sedang berbicara dengan siapa. Tapi kalau Anda mau tau saya lebih berkuasa dari pada kedua adik saya itu. Anda saya usir dari sini juga bisa. Saya tidak butuh seorang pemimpin yang arogan seperti Anda" ujar Jero sambil menatap tajam ke arah direktur rumah sakit yang telah berani mengancam dirinya itu.


"Hay Bang" sapa Felix dan Bram berbarengan.


Mereka berdua tidak ingin memperkeruh suasana hati Jero. Makanya sebelum hal itu terjadi lebih baik mereka mengajak Jero bercerita.


"kalian berdua ngapain ke sini?" tanya Jero yang heran melihat Felix dan Bram datang ke ruangan direktur itu.


"Kami sudah dapat beritanya Bang. Beberapa orang kepercayaan kita yang aku letakkan dibagian IGD dan ruangan lainnya menceritakan kepada kami berdua. Apa yang mereka katakan tentang kakak ipar" ujar Felix mengatakan kepada Jero kenapa mereka bisa sampai datang ke rumah sakit dan sudah berada di ruangan direktur.


"Kami juga tidak menyangka, kenapa mereka semua bisa berpikiran picik seperti itu kepada kakak ipar. Padahal kakak ipar tidak pernah mengganggu mereka" ujar Felix membawa Jero mengobrol.


"Terus apa yang kalian lakukan sekarang?" tanya Jero penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Felix dan Bram.


"Kami sudah meminta direktur untuk mengumpulkan semua dokter, suster dan semua karyawan lainnya ke aula pertemuan rumah sakit." jawab Felix memberitahukan kepada Jero tindakan apa yang telah mereka lakukan.


"Jam berapa mereka berkumpul?" Tanya Jero kepada Felix.


"Sekarang sedang berkumpul. Sebentar lagi kita akan pergi ke sana Bang. Tunggu berita dari manager HRD aja lagi" ujar Felix mengatakan kapan mereka akan masuk ke dalam aula.


Direktur yang dari tadi hanya diam saja menatap Jero yang berbicara dengan Felix dan Bram. Pas bertepatan dengan ketiga pemilik rumah sakit itu selesai berbincang bincang, barulah direktur rumah sakit membuka kembali mulutnya.


"Tuan Jero maafkan saya yang sama sekali tidak mengenali Anda tadi. Saya benar benar tidak kenal dengan Anda. Kalau saya kenal tidak mungkin saya akan bersikap kurang ajar seperti itu kepada Anda." ujar direktur kepada Jero pemilik sah rumah sakit harapan kita. Direktur sangat takut jabatannya akan ditarik oleh Jero.


"Saya sedang tidak ingin berbicara dengan Anda Tuan direktur. Fokus saya bukan Anda sekarang tetapi mereka yang telah berani bersikap kurang ajar kepada Vian. Anda urusan terakhir bagi saya" ujar Jero menjawab pernyataan permintaan maaf dari direktur rumah sakit.


"Tapi Tuan, tolong maafkan saya" ujar direktur meminta maaf kepada Jero.


"Felix, Bram, nanti kalian berdua urus dia. Saya capek." ujar Jero yang tidak suka melihat seseorang terlalu lebay meminta maaf.


"Siap Bang" jawab Felix dan Jero.


Suasana di ruangan presiden direktur mendadak menjadi tegang. Perasaan itu dirasakan oleh direktur rumah sakit. Sedangkan Felix dan Bram sama sekali tidak merasakan, tetapi mereka tau kalau Jero sedang menahan emosinya saat ini.


Tiba tiba saat mereka semua sama sama diam. Pintu ruangan direktur rumah sakit di ketuk dari luar.


"Masuk" jawab Direktur dengan nada lemah.


Seorang manager HRD nampak masuk ke dalam ruangan direktur. Dia berwajah tegang saat melihat ada Felix dan Bram serta satu orang lagi yang tidak mereka kenal tetapi berwajah bule mirip Tuan Felix dan Tuan Jero. Saat melihat Jero, perasaan manager HRD semakin tidak karuan.


"Semua dokter, suster dan karyawan bagian lain sudah ada di aula Tuan." ujar Manager memberitahukan kalau semua orang sudah berkumpul di aula rumah sakit.


Jero, Felix, Bram dan direktur rumah sakit berjalan menuju aula tempat semua orang berkumpul untuk rapat terbuka dengan pemilik rumah sakit. Suatu hal yang tidak pernah terjadi.


Vian berada di antara dokter yang sudah duduk di bagian depan. Vian duduk dengan seorang dokter yang terlihat berteman dengan Vian. Di belakang Vian duduk Hendri dan Erik. Mereka adalah orang orang yang tidak termasuk dalam karyawan.


Vian terlihat tidak mengobrol dengan dokter yang ada di sana. Vian hanya diam saja. Sedangkan para dokter dan perawat yang tidak suka dengan Vian, mereka menatap ke arah Vian dan mulai menggosip kan Vian.


Suasana masih terdengar seperti lebah lewat. Masih ribut, setiap mulut yang ada di sana berusaha untuk mengobrol dengan teman temannya. Pertanyaan mereka sama, kenapa mereka dikumpulkan di aula itu tanpa ada yang berjaga di luar. Malahan yang semakin membuat semua dokter dan perawat heran adalah rumah sakit mereka kedatangan lima orang dokter dan sepuluh orang perawat, mereka menggantikan para dokter dan perawat yang akan rapat.


Jero, Felix dan Bram masuk ke dalam ruangan rapat. Mereka duduk di meja yang terletak di panggung paling depan. Lampu lampu sorot dihidupkan ke arah mereka. Saat itulah beberapa dokter dan perawat terkejut melihat Jero berada di atas panggung dan duduk di bangku paling tengah. Bangku yang selama ini dibiarkan kosong apabila para petinggi rumah sakit mengadakan rapat.


"Itu bukannya sopir pribadi dan juga pengawal dokter Vian?" ujar salah seorang dokter berkata yang bisa di dengar oleh Vian.


"Ooooo. Pantesan dokter Vian masih bisa bekerja di sini, ternyata selingkuhannya memiliki jabatan. Dasar wanita murahan dan ******. Ntah berapa kali dia tidur dengan Tuan Muda itu." ujar salah seorang perawat yang julid kepada Vian.


Anggi yang mendengar apa yang dikatan perawat itu langsung menarik perawat berdiri dari duduknya.


"Hay siapa Anda berani beraninya menarik saya. Anda tidak tau siapa saya? Saya menantu direktur rumah sakit" ujar Perawat berteriak keras, membuat semua yang berada di aula melihat ke arah suster yang berteriak.


"Saya tidak perduli siapa Anda. Siapa saja yang menghina Nona Vian, mereka akan berhadapan dengan kami" ujar Anggi dengan suara keras.


Jero yang mendengar apa yang dikatakan oleh Anggi menatap ke arah Anggi.


"Apa katanya Anggi?" tanya Jero kepada Anggi.


Anggi menyerahkan wanita itu kepada Angga yang berada di sebelahnya. Anggi kemudian naik ke atas panggung. Dia membisikkan apa yang dikatakan oleh wanita itu kepada Jero. Jero, Felix, dan Bram yang mendengar menjadi merah telinganya. Wanita itu tidak hanya menghina Vian, tetapi juga menghina Jero.


Jero yang tadinya tidak mau berbicara, akhirnya berdiri. Dia akan berbicara di forum itu.


"Ehm" ujar Jero batuk.


Semua orang yang tadi ribut mendadak menjadi diam. Pandangan mata mereka mengarah kepada Jero yang sedang berdiri di depan. Wajah Jero yang memerah terlihat sangat jelas.


"Maaf saya tidak bisa berbasa basi. Anda, Nona yang tadi sudah berani merendahkan saya dan calon istri saya. Saya tidak memandang Anda siapa, saya tidak perduli Anda menantu direktur rumah sakit ini." ujar Jero mengucapkan setiap kata katanya dengan nada dingin. Suasana berubah menjadi mencekam.


"Anda Nona saya pecat dari rumah sakit ini. Silahkan Anda temui bagian keuangan, minta uang pesangon Anda." ujar Jero dengan nada final.


Suasana dalam aula pertemuan itu menjadi semakin mencekam. Tak seorangpun bisa melawan apa yang telah dikatakan oleh Jero.


"Saya tidak butuh manusia manusia yang memandang seseorang dengan kaca mata hitam." lanjut Jero dengan nada kecewa.


"Kalian semua tidak boleh menjudge seseorang itu baik atau tidak baik, bukan berdasarkan yang kalian lihat. Kalian tidak tahu apa yang telah dilaluinya. Jadi, sekali lagi saya mendengar galian bergosip saat jam kerja. Maka saya tidak akan segan segan melakukan hal yang sama dengan yang saya lakukan kepada suster yang tadi" ujar Jero dengan nada dingin.


Semua yang ada di dalam aula hanya bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Jero. Mereka sama sekali tidak bisa membantah perkataan dari seorang Jero Asander.


"Satu lagi, saya tidak minta Anda semua harus menunduk saat Anda bertemu dengan calon istri saya. Anda cukup memperlakukan dia seperti Anda memperlakukan teman Anda." lanjut Jero sambil matanya tidak lepas dari menatap wajah Vian yang tersenyum kepada Jero.


"Apapun yang terjadi lagi, saya tidak mau mendengar kalian bergosip, atau mengatakan hal yang tidak tidak. Sekali lagi terdengar, tidak hanya kalian yang saya pecat, tetapi kalian juga akan saya tuntut dengan tuntutan pencemaran nama baik" ujar Jero sambil menatap wajah satu persatu orang orang yang menilai buruk Vian.


Vian tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Jero Jero benar benar mewujudkan semua perkataannya. Jero tidak membiarkan siapapun menghina Vian lagi.


Vian menatap wajah satu per satu orang orang yang tadi menghina dirinya. Sekarang mereka mereka itu terdiam. Tak satupun dari mereka yang berani menatao Vian dengan tatapan melecehkan.


"Terimakasih atas perhatiannya. Saya kembalikan kepada adik saya Felix Asander" ujar Jero mempersilahkan Felix untuk melanjutkan apa yang akan mereka sampaikan.


Felix kemudian maju ke mimbar. Dia akan menyampaikan beberapa hal yang akan dilakukan di rumah sakit mereka itu.


"Terimakasih saya ucapkan sebagai CEO dari rumah sakit Harapan Kita kepada Bapak Presiden Direktur dan pemilik saham terbanyak rumah sakit Harapan Kita" ujar Felix mengucapkan terimakasih kepada Jero.


"Satu lagi, Saya sangat berharap, acara menggosip di tengah tengah waktu bekerja tidak ada lagi. Saya tidak mau mendengar hal itu terjadi lagi di rumah sakit kita ini" kata Felix sambil menatap satu persatu karyawan rumah sakit mereka itu.


"Menggosip itu tidak diperbolehkan untuk semua tema, tidak. terbatas hanya tidak boleh menggosip kan calon kakak ipar kami. Tidak hanya sebatas itu, tetapi semua tema kami larang" lanjut Felix menekankan larangan tambahan di rumah sakit harapan kita.


"Tapi kalau Anda semua tidak tahan lagi untuk menggosip, saya persilahkan untuk menggosip, tapi syaratnya Anda harus keluar dari rumah sakit kami." ujar Felix menekankan kata keluar dari rumah sakit.


"Kami tidak butuh orang yang hobbynya mengurusi hidup orang lain, padahal hidup dia sendiri tidak selesai. Kami tidak membutuhkan orang seperti itu." lanjut Felix menekankan kembali setiap apa yang telah di sampaikan Felix di awal tadi.


"Sekali lagi, bagi Anda yang memang tidak tahan untuk tidak bergosip, silahkan mengundurkan diri dari sekarang. Tapi sebelumnya maaf, Anda tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan di rumah sakit harapan kita dan juga rumah sakit yang masih dalam kepemilikan Asander Grub." ujar Felix mengatakan kepada semua yang ada di sana, resiko kalau ketahuan masih menggosip di jam kerja.


"Baiklah saya rasa sudah cukup yang harus saya sampaikan. Akhir kata saya ucapkan terima kasih banyak atas kesediaan para dokter, suster dan karyawan yang sudah bersedia hadir menghadiri pertemuan mendadak ini." lanjut Felix menutup pidato singkatnya.


"Kepada seluruh dokter, suster dan karyawan lainnya, silahkan melanjutkan pekerjaan Anda masing masing. Sekali lagi kami dari pihak management rumah sakit, menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar besarnya untuk kita semua yang telah hadir. Akhir kata sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak untuk kita semua" ujar Felix menutup pembicaraan hari itu.


Mereka semua keluar dari dalam aula menuju tempat dan ruangan masing masing. Mereka hari ini akhirnya tau siapa pemilik rumah sakit tempat mereka bekerja.


Vian yang berjalan diikuti oleh Hendri dan Erik dari belakang, menatap jauh ke depan. Dia sebenarnya ingin memeluk Jero, tetapi karena satu dan lain hal, dia tidak bisa memeluk Jero.


"Nona, Tuan Jero mengirim pesan, Nona di minta untuk menunggu Tuan Jero di dalam ruangan. Tuan ada rapat sebentar dengan management rumah sakit." ujar Hendri menyampaikan pesan kepada Vian.


"Bilang sama Jero. Aku akan menunggu di ruangan sampai dia datang. Tolong juga katakan aku ingin memeluk dirinya sekarang juga" ujar Vian meminta Hendri mengetikkan kata kata itu untuk balasan pesan chat dari Jero tadi.


Hendri mengetikkan apa yang diinginkan oleh Vian. Hendri mengetik pesan chat itu sambil tersenyum geli. Dia tidak menyangka harus membalas pesan chat Tuan Jero dengan bahasa seperti itu.


"Apa sudah kamu kirim Hendri?" tanya Vian kepada Hendri.


"Siap sudah Nona" jawab Hendri.


Hendri melihat Vian mengusap air matanya. Dia tidak tau harus berbuat apa. Akhirnya Hendri mengirim sebuah pesan chat kepada Jero.


'Nona, menangis Tuan' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Hendri.


Jero yang sedang memimpin rapat management rumah sakit, membaca pesan yang dikirim oleh Hendri itu, Jero langsung berdiri dari duduk nya.


"Ada apa Bang?" tanya Bram yang kaget melihat Jero yang main langsung berdiri saja.


"Vian, Bram" ujar Jero yang langsung berlari keluar ruangan meeting.


Jero menuju lantai ruangan Vian berada. Saat dia keluar dari dalam lift. Jero melihat Vian yang duduk di salah satu kursi dan menekurkan kepalanya dalam dalam.


Hendri dan Erik yang berada tidak jauh dari Viaj, melihat kedatangan Jero. Mereka kemudian berlalu dari sana. Jero berdiri di depan Vian.


"Mau peluk?" tanya Jero kepada Vian.


Vian yang sudah tau siapa yang berdiri di depannya saat ini langsung berdiri dan memeluk Jero. Vian benar benar terlihat sangat rapuh sekarang. Jero menyadari akan hal itu.


"kenapa?" tanya Jero dengan lembut kepada Vian.


Jero mengusap usap punggung Vian. Jero berusaha menenangkan Vian kembali.


"Boleh aku menangis sebentar?" tanya Vian kepada Jero.


"Boleh, menangis lah kalau menangis itu bisa membuat kamu tenang. Aku akan menunggu sampai kamu puas menangis. Aku akan selalu menemani kamu menangis" ujar Jero dengan lembut kepada Vian.


Vian menangis sejadi jadinya di dada Jero. Dada Jero yang bidang, membuat tangis Vian tidak terdengar oleh siapapun. Hendri dan Erik, serta Anggi dan Angga melarang setiap orang yang mau datang ke tempat itu. Mereka berempat benar benar menjaga privasi Tuan dan Nona mereka. Mereka sangat sedih melihat tangis Vian yang sampai terisak isak itu. Mereka bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Vian saat ini.


Felix dan Bram serta tim management rumah sakit yang mengejar Jero, melihat Jero sedang memeluk Vian yang sedang menangis itu. Mereka kemudian memutuskan untuk kembali ke ruangan meeting. Hal ini bukanlah urusan mereka. Jadi, lebih baik mereka pergi meninggalkan sepasang kekasih itu. Sepasang kekasih yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya.


"sudah tenang sayang?" tanya Jero kepada Vian dengan lembut.


Vian mengangguk. Dia melepaskan pelukannya dari Jero. Terlihat kemeja Jero menjadi sangat basah kembali karena tangisan Vian.


"Bisa kita bicara sesuatu" tanya Jero kepada Vian dengan nada serius.


...****************...


***Apakah yang akan dibicarakan oleh Jero kepada Vian?


Stay Cun di sini terus ya kakak***