
"Ada apa Tuan, sepertinya Tuan sangat terlihat kenal dengan nama Jero? Apa ada sesuatu dengan nama Jero yang mengingatkan Tuan besar kepada seseorang" ujar Jero penasaran dengan apa yang membuat Daddynya itu menjadi bermuram durja dan seperti teringat sesuatu yang memang sangat sensitif untuk dibahas dengan kata kata. Jero memang sengaja bertanya tentang hal itu karena dia sangat ingin mendengar jawaban yang pasti dari Tuan besar Alexsander.
"Oh iya memang, tetapi itu rasanya tidak layak dibagi dengan siapapun, Itu adalah sebuah rahasia yang akan saya bawa sampai meninggal. Itu adalah sebuah peristiwa yang membuat keluarga saya menjadi hancur, dan pada akhirnya menjadi penyesalan yang amat teramat dalam dalam diri saya" ucap Tuan besar Alexsander menjawab pertanyaan dari Jero. Tuan besar Alexsander terlihat tidak mau membagi hal itu dengan Jero dan kedua adiknya.
Jero tersenyum mendengar jawaban yang diberikan oleh Tuan besar Alexsander, begitu juga dengan Felix dan Bram, mereka tersenyum samar. Mereka bertiga sekarang semakin yakin kalau Tuan besar Alexsander masih mengingat Jero anak kandungnya dari istri pertamnya itu. Hal ini dibuktikan dengan Tuan besar Alexsander yang tidak mau berbagi dengan siapapun tentang cerita Jero anak laki laki pertamanya.
"Oh ya Jero, yang bersama dengan kamu siapa?" ujar Tuan besar Alexsander menanyakan dua orang pria yang berdiri di dekat Jero.
Tuan besar Alexsander menatap lurus ke wajah Felix dan Bayu. Dua pria tampan yang akan selalu berada di dekat Jero.
Tuan besar Alexsander sangat penasaran dengan mereka berdua dari tadi. Tetapi baru kali ini kesempatan untuk bertanya kepada Jero siapa dua pria tampan yang sekarang sedang berada di sebelah Jero.
"Oh mereka ini adalah adik adik saya Tuan Alexsander" ujar Jero memberitahukan kepada Tuan besar Alexsander siapa dua pria yang sekarang sedang berdiri di sebelah Jero.
"Felix" ujar Felix menyebutkan satu kata namanya saja kepada Tuan besar Alexsander.
"Saya adalah adik pertama dari Bang Jero" lanjut Felix memperkenalkan dirinya kepada Tuan besar Alexsander.
Tuan besar Alexsander berusaha mengingat nama Felix, tetapi dia kembali mengusir kenangan itu.
'Tidak mungkin dia' ujar Tuan besar Alexsander berkata dalam pikirannya sendiri.
"Kalau saya, nama saya adalah Bram. Saya adik terakhir dari Bang Jero dan Bang Felix" ujar Bram memperkenalkan dirinya kepada tuan besar Alexsander.
"Bram" Tuan besar mengulang nama Bram.
Sama seperti tadi, Tuan besar Alexsander rasa rasa pernah mengenal nama dua orang adik Jero. Tetapi kembali tetap sama seperti tadi, Tuan besar Alexsander tetap memungkirinya. Dia tetap tidak yakin kalau mereka bertiga ada kaitannya dengan kehidupannya di masa lalu.
"Oh ya Jero, bisa kita duduk di sana sebentar?" ujar Tuan besar Alexsander mengajak Jero untuk duduk di sebuah bangku yang ada di dalam ruangan VVIP tersebut. Ruangan yang orang orang tertentu yang bisa memakai ruangan tersebut.
"Tapi itu kalau kamu tidak sibuk dan tidak keberatan" lanjut Tuan besar Alexsander yang baru sadar kalau dia sudah meminta sesuatu dari Jero yang bisa jadi Jero sedang dalam keadaan sibuk dan tidak bisa mewujudkan apa yang diinginkan oleh Tuan besar Alexsander.
"Kamu tidak perlu pergi cepat dari bandara ini kan?" lanjut Tuan besar Alexsander yang ntah kenapa sangat ingin berbincang bincang dengan Jero dan kedua adiknya itu. Tuan Alexsander benar benar merasa kalau dia sangat sesuai dengan Jero. Tuan besar Alexsander merasa kenal dekat dengan Jero.
Tuan besar bergelut dengan pemikirannya sendiri sehingga membuat dirinya menjadi tidak mendengar jawaban yang diberikan oleh Jero sebentar ini. Tuan besar Alexsander tersadar kalau Jero sudah menjawab pertanyaan yang diajukan adalah pada saat pengawal memberitahukan kepada Tuan besar Alexsander kalau Jero sudah menjawab pertanyaan yang diajukan oleh tuan besar Alexsander.
"Tidak Tuan besar Alexsander, saya tidak sedang terburu buru, mari kita duduk di sana sebentar" ujar Jero yang tidak mungkin menolak keinginan dari Daddynya itu. Bagaimanapun juga bencinya seorang Jero kepada perbuatan yang telah dilakukan oleh Tuan besar Alexsander kepada dirinya dan Mommy, Tuan besar Alexsander akan tetap menajdi Daddynya. Maka mau tidak mau Jero harus menuruti keinginan dari pria yang tadi ditabrak oleh dirinya, sesaat setelah Jero selesai mengurus semua dokumen dokumen kedatangan Jero dari Negara E.
"Terimakasih Jero, saya sangat terharu kamu mau mengabulkan permintaan saya untuk berbincang bincang dengan saya di ruangan ini" ujar Tuan besar Alexsander yang sudah terhinoptis dengan sikap ramah dari seorang Jero Asander.
Felix dan Bram yang sebenarnya tidak mau duduk dengan pria tua yang sombong waktu mudanya itu ingin pergi dari tempat tersebut, tetapi mereka berdua juga tidak mungkin meninggalkan Jero kakak tertua mereka di ruangan itu sendirian dan ditemani oleh orang orang yang terlihat sangat beringas sekali. Akhirnya Felix dan Bram mengikuti keinginan dari Jero. Felix dan Bram mengingat pesan Mommy kalau tidak boleh meninggalkan Jero sendirian saat bertemu dengan orang lain. Mereka harus tetap bertiga selama lamanya, walaupun sudah menikah mereka harus tinggal berdekatan. Itu pesan Mommy yang selalu mereka ingat bertiga saat mereka ingin terpisah pisah.
Tuan besar Alexsander, Jero, Felix dan Bram kemudian duduk di sofa yang ada di dalam ruangan VVIP tersebut. Vian, Jeri, Tama dan Greta serta para pengawal melihat ke arah Jero, Felix dan Bram yang sekarang sedang duduk dengan Tuan besar Alexsander di sebuah ruangan yang berbeda dengan ruangan tempat Vian dan sahabat sahabat Jero duduk menunggu kedatangan Jero, felix dan Bram.
"Kenapa mereka bertiga pakai duduk di sana Bang Jeri?" ujar Vian bertanya kepada Jeri. Vian menatap ke arah kamar VVIP itu. Dia melihat Jero, Felix dan Bram duduk di dalam ruangan yang ke sekeliling ruangan berdiri para pengawal yang akan mengamankan Tuan besar Alexsander.
Vian benar benar cemas dengan kondisi di ruangan itu, sehingga matanya tidak lepas dari sesosok pria yang sekarang sudah berstatus sebagai kekasihnya padahal sebelumnya pria itu adalah supir sekaligus asisten dari Vian Alexsander. Vian tidak ingin sesuatu terjadi kepada Jero. Vian tidak ingin Jero kenapa kenapa.
"Ais dia kok ogeb banget coba, ngapain pake masuk ke sana" ujar Vian yang sudah sangat kesal dengan Jero yang sebenarnya bisa menolak keinginan dari penumpang. Tidak semua keinginan penumpang harus dikabulkan, apalagi permintaan yang aneh aneh.
"Kamu tenang aja Vian. Jero tidak akan melakukan sesuatu yang membahayakan kedua adiknya." jawab Jeri menjelaskan kepada Vian bagaimana seorang Jero sangat cermat dalam mengambil sebuah keputusan. Begitu juga dengan keadaan sekarang ini. Jero benar benar sudah memperhitungkan semuanya dengan sangat baik.
"Kamu yakin Bang?" tanya Vian sambil menatap Jeri dengan tatapan aneh yang sangat luar biasa.
"Kamu tahukan bagaimana Tuan besar Alexsander itu dulu bersikap kepada Jero dan Mommy?" lanjut Vian bertanya dan mengingatkan Jeri bagaimana keadaan dan apa yang telah dilakukan oleh Tuan besar Alexsander kepada Jero dan Mommy.
Jeri tersentak kaget saat Vian mengatakan hal itu. Itu adalah sebuah kebenaran, sehingga membuat Jeri mau tidak mau harus mengerti dan juga paham ketakutan yang mendasari Vian untuk mengatakan hal seperti itu kepada Jeri.
"Vian tenang aja, Jero berhitung dengan sangat cemar. Dia akan baik baik saja. Kamu tenang saja. Saksikan aja apa yang terjadi di sana. Reuni Anak dan Daddy serta dua orang anak angkat yang sekarang bagi Jero adalah adik kandungnya" kali ini yang berkata dan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Vian adalah giliran Tama.
"Baiklah Bang, karena abang berdua sudah sangat yakin, maka aku ikutan yakin dengan semuanya" ujar Vian yang sudah tidak bisa membantah lagi ucapan dari Felix dan Bram.
Sekarang Vian harus percaya dengan semuanya. Vian tidak boleh ceroboh dalam mengambil sikap. Vian harus bisa seperti Jero yang melakukan semuanya dengan perhitungan yang sangat cermat sekali. Vian, Jeri, Tama, Greta dan semua pengawal melihat dan menatap ke arah ruangan VVIP yang berada di depan mereka.
Jero sengaja duduk menghadap ke arah ruangan VVIP sebelah, dia ingin melihat Vian yang sekarang sedang dududk di ruangan VVIP sebelah ruangan tempat Jero akan mengobrol sebentar dengan Tuan besar Alexsander. Sesaat mata Vian dan Jero bertemu, Jero mengangguk memberitahukan kepada Vian kalau dirinya dalam keadaan baik baik saja saat ini, Vian tidak perlu cemas berlebihan seperti yang dilakukan oleh Vian pada saat ini.