My Affair

My Affair
Percakapan Di Ayunan



Sayang, boleh aku bertanya sesuatu?" ujar Vian melihat ke arah Jero.


Mereka berdua sekarang sedang duduk berdampingan di atas sebuah ayunan yang terbuat dari papan kayu di taman belakang mansion.


aan. Ntah kenapa mereka bisa menyamakan ritme ayunan. Kalau Vian berayun ke depan maka Jero juga berayun ke depan. Hal yang sama juga terjadi kalau berayun ke belakang. Mereka berdua sama sama mempertahankan ritme yang ada.


"Sayang, apa yang mau kamu tanyakan tadi?" ujar Jero melirik ke arah Vian yang tadi mau bertanya tetapi pada akhirnya tetap diam saja seperti tidak akan bertanya apapun kepada Jero.


"Iya ya sayang kok aku jadi lupa. Padahal aku mau bertanya sesuatu ke kamu tadinya " kata Vian sambil melirik ke arah Jero.


Vian memang sempat lupa apa yang mau ditanyakan nya kepada Jero. Padahal tadi dia dengan semangat mau bertanya kepada Jero.


"Ada ada aja. Masa iya mau bertanya tetapi lupa." ujar Jero sambil menatap ke arah Vian sebentar.


"Mau gimana lagi sayang. Namanya lupa" ujar Vian yang berusaha mengingat kembali apa yang akan ditanyakan oleh Vian kepada Jero.


Jero hanya bisa geleng geleng kepala melihat kelakuan kekasihnya itu. Vian ternyata benar benar lupa dengan apa yang akan ditanyakan kepada Jero oleh dirinya saat ini.


"Oh ya sayang, aku baru ingat" ujar Vian sambil melihat ke arah Jero sekilas karena sekarang ayunan mereka sudah berbeda gerakannya.


"Sayang, kamu mendahului aku" teriak Vian saat melihat kalau Jero dan dia sudah tidak seirama lagi.


"Ntah mana yang mendahului, yang mana sayang" jawab Jero sambil menghentikan ayunan nya dan juga ayunan Vian.


"Jadi, apa yang mau dibicarakan?" tanya Jero kepada Vian yang sekarang terlihat sudah duduk sambil berayun ayun kecil di ayunan kayu miliknya.


"Jadi, kamu abang tirinya pria terkutuk itu?" ujar Vian bertanya kepada Jero sambil melirik ke arah Jero.


"Yup mau gimana lagi. Memang akulah kakak tiri pria malang itu" ujar Jero sambil melihat ke arah Vian.


"Terus kenapa dia tidak kenal kamu sayang?" ujar Vian yang mulai serius membahas tentang permasalahan yang sedang dibicarakan oleh Vian dan Jero.


"Karena kami tidak saling bertemu" jawab Jero sambil melihat ke arah Vian dan tersenyum.


"Kok bisa?" ujar Vian kaget dengan apa yang dikatakan oleh Jero.


"Apa semenjak kamu dan Mommy ke luar dari rumah sama sekali nggak pernah kembali ke mansion itu lagi?" tanya Vian sambil menatap ke arah Jero yang sekarang juga sudah mulai mengayun ayunannya dengan cukup kuat.


"Nggak pernah sayang. Sama sekali nggak pernah" jawab Jero sambil bermain ayunan.


"Sayang jangan main ayunan terus. Dengerin aku napa" ujar Vian yang kesal melihat Jero yang masih sibuk dengan ayunannya.


Jero tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Vian. Dia tetap saja bermain ayunan itu.


"Jero Asander. Bisa stop nggak mainnya." ujar Vian sambil menatap tajam ke arah Jero.


"Hahaha haha haha bisa bisa. Tapi jangan tolong di berhentikan" ujar Jero kepada Vian yang ayunannya masih tetap berayun seperti tadi.


"Kamu ada ada saja. Aku udah berenti kamu malah masih tetap mengayun ayunan itu" lanjut Vian sambil melihat ke


arah Jero yang ayunannya masih bergerak.


"Kalau nggak pengen ngobrol, nggak akan mau aku berentiin ayunan ini sayang" ujar Vian dengan nada setengah kesal kepada Jero.


Vian kemudian membantu menghentikan ayunan Jero.Dia memberhentikan ayunan itu dengan sekuat tenaga untuk menghentikannya.


"Haha haha haha. Kamu baru tau sayang, kalau aku berat" ujar Jero berkata kepada Vian sambil melirik Vian yang terlihat memang sangat susah untuk menghentikan laju ayunan yang ditumpangi oleh Jero.


"Maaf ya sayang" ujar Jero sambil mengusap tangan Vian dengan lembut.


Vian tersenyum kepada Jero. Dia tidak menyangka kalau Jero akan meminta maaf dengan begitu tulus kepada dirinya, saat dia mengeluh kalau Jero berat.


"Kita duduk di situ yuk" ujar Jero mengajak Vian untuk duduk ke bawah pohon pear yang sedang berbuah lebat itu.


"Sayang, ini pohon pear kan ya?" ujar Vian saat melihat pohon pear yang sedang berbuah lebat itu.


"Yup.ini pohon pear. Kapan kapan aku ajak ke kebun belakang. Ada banyak pohon buah di sana. " ujar Jero berkata kepada Vian sambil melirik ke arah Vian.


"Serius sayang?" tanya Vian yang kaget mendengar ada begitu banyak pohon buah yang ada di kebun belakang.


"Serius" jawab Jero.


Jero menggandeng tangan Vian berjalan menuju ke bawah pohon pear. Mereka berdua kemudian duduk. Lesehan di sana.


"Jadi, aku sama sekali tidak pernah bertemu dengan Juan Aleksander selama hidup aku. Tetapi aku selalu tahu perkembangan dia selama ini" ujar Jero memberitahukan kepada Vian tentang semua cerita Juan Aleksander.


"Terus?" lanjut Vian yang tidak sabaran itu.


"Terus apa?" tanya Jero meminta Vian menjelaskan lebih spesifik lagi.


"Terus, kamu tau tentang perkembangan dia dari mana?" ujar Vian bertanya selanjutnya.


"Dari Bik Ima dan Pak Hans" ujar Jero menjawab dari mana dia bisa tahu tentang keadaan Juan Aleksander.


"Kok bisa?" ulang Vian bertanya kepada Jero.


"Ya bisa lah sayang. Aku minta mereka untuk tetap bekerja dengan keluarga itu. Tetapi mereka melaporkan tidak kepada aku tetapi kepada Bram dan Felix." ujar Jero menjelaskan kepada Vian tentang cara Jero bisa mengetahui keadaan dan perkembangan Juan Aleksander.


"Oh baiklah. Jadi, karena itu mereka tidak tahu siapa kamu sebenarnya?" ujar Vian.


"Mereka tahu, tapi lebih tepatnya pura pura tidak tahu." jawab Jero sambil tersenyum.


"Merekalah yang mengasuh dan menjaga aku selama ini. Mana mungkin mereka tidak akan tahu keadaan aku bagaimana" jawab Jero sambil melihat ke arah Vian.


Vian menjadi paham kenapa selama ini Bik Ima sangat hormat dan menyayangi Jero. Apapun itu.


"Pantesan ya sayang. Bik Ima waktu kita di mansion tersebut, terlihat sangat sayang sama kamu. Tapi aku nggak perhatian juga" kata Vian akhirnya mengeluarkan apa yang dirasakannya terhadap sikap dan perhatian Bik Ima dan Pak Hans kepada Jero.


"Hahaha hahaha. Iya sayang. Malahan saat aku pertama sampai di mansion itu, dia ingin memeluk aku. Aku memberikan kode untuk tidak terlihat mengenal aku" jawab Jero sambil melihat ke arah Vian


"Jadi, apa motivasi kamu sayang" ujar Vian sambil melihat ke arah Jero.


"Mau Tau?" tanya Jero.


Vian mengangguk.


"Kamu" jawab Jero sambil menatap Vian


Via tersenyum bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh Jero kepada dirinya. Dia tidak menyangka akan dijadikan oleh Jero sebagai motivasi untuk masuk ke dalam mansion besar itu