
"Semuanya aman terkendali. Ini adik loe ngubungin gue untuk nyuruh ke sini. Makanya gue datang. Belum lagi tuh Tuan Besar yang ogeb itu menyuruh gue untuk ya tau lah loe ya. Sebenarnya pekerjaan ada yang harus gue urus di negara kita, tapi karena Bram juga mendesak gue undur aja dulu." ujar Jeri menggantung ucapannya. Jeri sengaja tidak menyelesaikan ucapannya.
"Berapa hari rencana loe di sini?"tanya Jero selanjutnya.
"Tiga hari. Susah kalau lama lama. Perusahaan tinggal, loe tau sendirilah gimana kalau lama lama ditinggal. Lagian ya Jer, kalau loe yang menjelaskan kepada Bram gimana cara cara memakai aplikasinya.
"Nanti lagi kita lanjutkan ceritanya, kita makan hidangan penutup dulu. Perut gue laper lagi" ujar Jero sambil memegang perutnya yang sudah kembali kelaperan itu. Padahal dia tadi makan sangat banyak saat mereka makan siang.
Felix menghubungi manager restoran. Dia meminta agar manager menghidangkan makanan penutup untuk mereka.
Tidak beberapa lama kemudian, para pelayan datang menghidangkan makanan penutup untuk mereka bertiga. Ada puding buah, buah potong, serta minuman kopi racikan bartender. Pelayan menghidangkan semuanya di atas meja.
Mereka kemudian menyantap hidangan penutup yang disajikan oleh para pelayan. Mereka bertiga makan sambil mengobrol ringan.
"Jadi, loe datang ke sini di suruh mereka?" tanya Jero kepada Jeri sahabat baiknya itu.
"Yup. Eee ternyata belum mereka mengatakan mengapa meminta gue datang ke sini, Tuan besar itu yang langsung menghubungi gue untuk melakukan sebuah pekerjaan" ujar Jeri memberitahukan kepada Jero kalau dia sudah di hubungi Tuan besar.
"Terus udah loe kerjain?" tanya Jero sambil memakan buah potong nya.
"Udah tadi di kantor Bram. Ternyata yang menyiarkan itu orang suruhan kita, udah di tukar menjadi dari permintaan Perusahaan Wijaya. Nanti akan gue laporkan ke Tuan besar. Rencana gue, gue menceritakan lewat telpon aja" ujar Jeri kepada Jero.
"Bisa gawat kalau dia tahu yang menyebarkan adalah orang orang dari kita, untung saja perusahaan Wijaya sudah melakukan hal itu terlebih dahulu. Jadi, kita bisa menumpang berteduh di mereka." lanjut Jeri memberikan informasi yang dibutuhkan oleh Jero.
"Dia nggak tau kalau loe ada di sini?" tanya Jero kembali.
"Nggak. Dia kira gue masih di negara E. Syukurlah dia tidak tau gue ada di sini. Kalau tau habis gue dipaksa paksa menemui dia. Gue malas nengok wajahnya" jawab Jeri yang memang kalau bisa tidak bertemu wajah dengan pria tua itu.
"Felix kenapa loe nyuruh dia ke sini?" tanya Jero beralih ke Felix.
"Bukan gue Bang, tapi Bram. Bram mau belajar beberapa aplikasi lagi, makanya dia menghubungi Jeri untuk datang ke sini" kata Felix memberitahukan kepada Jero kenapa Jeri bisa sampai di negara mereka.
"Oooo. Tu anak, apa nggak bisa dia aja yang ke negara E. Ngapain dia harus ngerepotin Jeri untuk pergi ke sini." ujar Jero yang nggak habis akal dengan tingkah adik bontot nya itu.
"Gimana lagi Bang. Dia kan memang gitu. Dia mana mau meninggalkan kita berdua. Bagi Bram, dia lebih butuh bertemu kita berdua dari pada yang lain. Makanya dia meminta Jeri untuk datang ke sini" kata Felix menanggapi perkataan Jero.
"Hem. Terus udah sampai mana dia belajar Jer?" tanya Jero kepada Jeri.
"Tu anak karena niat kali ya. Cuma beberapa jam aja tu hasilnya, dia yang menemukan bukti siapa yang menyuruh pihak televisi menyiarkan berita Juan Aleksander. Dan dia juga yang nukarnya sendiri. Kerenkan dia" ujar Jeri memuji kepintaran Bram di depan Jero dan Felix.
Jeri memang paling suka mengajarkan masalah lacak melacak kepada Bram dari pada Felix. Bram sangat ingin tahu segala hal, sedangkan Felix, dia bersikap biasa saja saat diberi tahu tentang masalah lacak melacak seperti ini. Keinginan Felix hanya membuat perusahaan menjadi maju dan bermain aman. Sedangkan Bram, dia suka hal hal yang menantang. Sebagai contoh, masalah dokter Heru, Bram lah yang diutus Jero untuk menyelesaikan masalah itu.
"Jeri, loe masih melacak keadaan perusahaan Aleksander?" tanya Jero kepada Jeri yang diberi tugas untuk melacak keadaan perusahaan Aleksander.
"Masih, sepertinya karena berita sensasional. Itu, saham perusahaan mereka turun tadi pagi" ujar Jeri memberitahukan efek akibat berita yang menyebar di media televisi nasional.
"Wow. Gue bisa membayangkan betapa paniknya manusia tua itu" ujar Jero yang sangat bahagia mendengar Jeri masih memantau perjalanan perusahaan Aleksander. Kebahagiaan Jero naik berkali kali lipat saat mengetahui perusahaan Aleksander sedang bermasalah dan harga saham mereka menjadi turun drastis.
"Felix kirimkan karangan bunga ucapan terimakasih kepada Perusahaan Wijaya. Kirim dengan nama anonim. Aku mengucapkan rasa syukur yang tinggi atas apa yang telah dikerjakan oleh perusahaan itu terhadap perusahaan Aleksander" kata Jero memberikan perintah kepada Felix.
"Siap Bang. Gue akan kirimkan secepatnya" Ujar Felix menjawab perintah Jero dengan semangat.
Mereka kemudian melanjutkan pembahasan tentang perusahaan perusahaan dan kontrak kerjasama dengan beberapa perusahaan yang menjalin kerjasama dengan perusahaan mereka.
Sedangkan di atas mobil, Bram mengemudikan mobil dengan Vian berada di belakang. Bram tidak mengizinkan Vian duduk di sampingnya.
"Bram, kenapa kamu bisa jadi adik angkatnya Jero?" tanya Vian memecahkan kesunyian antara dirinya dengan Bram yang terjadi di sepanjang perjalanan itu.
"Felix?" tanya Vian lagi.
"Kalau Bang Felix, dia membantu Mommy dari perampok. Mereka ingin merampok Mommy, saat itu Bang Felix lah yang membantu Mommy terlepas dari para perampok. Kebetulan pula saat itu Bang Felix tidak punya tempat tinggal, sehingga Felix semenjak itu tinggal dengan Mommy dan Bang Jero" ujar Bram menceritakan tentang bagaimana Felix bisa menjadi adik angkat Jero.
"Terus kalian sekolah dan akhirnya jadi seperti sekarang gimana ceritanya?" tanya Vian lagi.
Vian benar benar mengorek segala sesuatunya dari Bram. Bram sadar akan apa yang dilakukan oleh Vian. Dia tidak mau masuk dalam jebakan pertanyaan dari Vian.
"Kakak Ipar, jangan tanya hal aneh aneh. Kami sekolah dan kuliah itu dari uang beasiswa. Kalau Bang Jero dan Mommy dalam pikiran Kakak Ipar yang membiayai, Kakak Ipar salah. Dari mana Bang Jero dan Mommy mendapatkan uang untuk membiayai sekolah dan kuliah di negara kami yang terkenal mahal itu" ujar Bram menjawab pertanyaan Vian. Bram sudah bisa menebak kemana arah pertanyaan Vian.
Bram sama sekali tidak berbohong saat menjawab pertanyaan dari Vian. Dia, Jero dan Felix memang sekolah dan kuliah dari beasiswa. Malahan mereka harus bekerja paruh waktu untuk mencari uang belanja dan makan sehari hari mereka.
"Sedangkan untuk biaya makan sehari hari saja, kami harus bekerja setelah pulang dari sekolah dan kuliah. Bagi kami saat itu, tiada waktu untuk beristirahat." ujar Bram menceritakan bagaimana kehidupan mereka di negara mereka.
"Malahan Mommy harus membuat kue kue kecil untuk menyambung hidup kami." lanjut Bram bercerita kepada Vian.
" Tapi, saat Mommy jatuh sakit, kami sama sekali tidak punya uang, membuat kami menjadi luar biasa bersedih." kata Bram mengingat masa masa sulit mereka.
"Bang Jero pergi mencari pinjaman uang ntah kemana. Bang Felix juga sama, mereka berdua mengusahakan uang untuk Mommy. Aku yang menunggui Mommy saat ajal menjemputnya. Saat itulah Mommy meminta Aku untuk menemani dan menunggui serta menjaga Jero dan Felix." lanjut Bram mengenang semua kejadian dengan Mommy.
"Saat Mommy sudah meninggal Bang Jero dan Bang Felix datang membawa obat untuk Mommy. Tapi, kenyataan yang diterima oleh Bang Jero dan Bang Felix luar biasa menyedihkan. Mereka berdua sangat hancur." ujar Bram.
"Bang Jero sejak saat itu berubah menjadi luar biasa pendiam. Dalam pikirannya yang ada hanya kerja dan kerja saja. Tiada hari tanpa bekerja. Semua peluang diambil oleh Bang Jero."
"Saat itu Aku dan Bang Felix ingin membantu dia. Tapi Bang Jero dengan tegas meminta kami hanya kuliah saja. Dia sama sekali tidak memperbolehkan kami bolos saat ada kuliah untuk mencari uang. Tapi kalau tidak ada jam kuliah, Bang Jero memperbolehkan kami untuk mengikuti dia bekerja" ujar Bram menjelaskan bagaimana kehidupan mereka selepas Mommy meninggal.
"Apa Jero menyelesaikan kuliahnya?" tanya Vian meyakinkan dirinya kalau Jero menyelesaikan kuliahnya.
"Yup kakak ipar. Itulah hebatnya abang kami itu, walaupun dia bekerja keras, tetapi dia masih bisa menamatkan kuliahnya. Kami berdua benar benar salut dengan dia" ujar Bram memberikan pujian yang luar biasa kepada Jero.
"Jadi, kenapa dia tidak bekerja di perusahaan tetapi lebih memilih menjadi sopir?" tanya Vian selanjutnya.
"Kalau itu, Gue nggak tau kakak ipar. Lebih baik kakak ipar tanyakan saja kepada Bang Jero" ujar Bram menjawab pertanyaan yang memang tidak tau dirinya apa yang harus di jawabnya.
Tak terasa mereka telah sampai di lobby rumah sakit. Bram memberhentikan mobilnya di depan lobby.
"Makasih Bram atas pengantarannya." ujar Vian mengucapkan terimakasih kepada Bram.
"Emang paket, pakai pengantaran segala." ujar Bram sambil tersenyum.
"Gue parkir dulu, nanti akan langsung menuju ruangan dokter Heru. Kakak ipar langsung ke ruangan atau langsung ke ruang operasi?" tanya Bram kepada Vian sebelum Vian turun dari dalam mobil.
"Ruangan.Jas tinggal" ujar Vian yang lupa membawa jas kebesarannya itu.
"Oke sip. Nanti akan gue tunggu di depan ruangan operasi" jawab Bram lagi.
Vian kemudian turun dari dalam mobil. Dia berjalan menuju ruangannya untuk mengambil jas, setelah itu barulah Vian menuju ruangan operasi.
Sedangkan Bram, setelah dia memarkir mobilnya di parkiran khusus miliknya, Bram langsung menuju ruangan direktur rumah sakit yang terletak di lantai paling atas rumah sakit. Sebelumnya Bram sudah menghubungi direktur untuk tidak pulang sebelum Bram berbicara dengan dirinya empat mata. Pembicaraan serius yang akan disampaikan oleh Bram.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Apa yang akan disampaikan oleh Bram kepada direktur rumah sakit??
Nantikan episode berikutnya kakak.