My Affair

My Affair
Jero vs Vian



"Apa kamu masih ingin menjadi istri dia, sehingga kamu meminta sidangnya untuk diundur?" Jero langsung murka mendengar apa yang dikatakan oleh Vian saat ini. Jero sama sekali tidak menyangka kalau itu respon yang diberikan oleh Vian atas berita yang dibawa oleh Jeri dari pengadilan.


Vian menatap tajam ke arah Jero. Pandangan Vian sama sekali tidak bersahabat seperti biasanya. Vian benar benar marah dengan apa yang dikatakan oleh Jero.


"Hay, apa kamu meragukan cinta aku ke kamu?" ujar Vian balik bertanya kepada Jero. Vian tidak menyanhka reaksi yang diberikan oleh Jero seperti itu kepada Vian.


"Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan Vian" ujar Jero semakin emosi kepada Vian.


"Kamu yang mulai Jero" ujar Vian mulai terpancing emosinya karena Jero meninggikan suaranya.


"Kamu yang mulai Vian dengan kata kata kamu yang meminta sidang mediasi kamu untuk diundur" ujar Jero yang sudah di penuhi perasaan cemburu.


"Gara gara kamu sayang" ujar Greta menyalahkan Jeri atas pertikaian yang terjadi antara Vian dengan Jero.


"Sayang, aku hanya menyampaikan apa yang seharusnya aku sampaikan. Aku tidak mencarikan masalah untuk mereka berdua. Aku kan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi" ujar Jeri yang tidak ingin disalahkan oleh Greta.


"Tapi kan gara gara informasi yang kamu berikan membuat mereka berdua menjadi ribut" kali ini Greta tidak kalah emosinya menuduh Jeri yang menjadi penyebab permasalahan yang terjadi antara Jero dengan Vian.


Felix, Bram dan Hendri saling memandang, dua pasang anak manusia sedang ribut dihadapan mereka bertiga. Felix mengangkat bahunya tanda tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Hal yang sama juga dilakukan oleh Bram, Bram juga tidak mengerti dengan apa yang terjadi kali ini.


"Kita nikmati saja Bang apa yang terjadi di depan kita sekarang ini" ujar Bram yang tidak tahu harus berbuat apa untuk mendamaikan empat anak manusia yang sedang ribut tersebut.


"Okeh. Anggap hiburan saja." Felix setuju dengan apa yang dikatakan oleh Bram kepada dirinya.


Merek bertiga memang hanya bisa menikmati apa yang tersaji di depan mereka kali ini. Suatu hiburan yang benar benar menghibur, hiburan yang jarang mereka lihat selama ini.


Vian yang masih tidak mau mengalah dengan apa yang dikatakan oleh Jero masih terus mengeluarkan kata kata mutiara nya kepada Jero.


"Seharusnya kamu itu sadar Jero, kalau aku sangat mencintai kamu. Bukan malah meragukan cinta aku ke kamu" lanjut Vian yang masih belum puas dengan semuanya. Vian sangat sangat emosi dengan Jero saat ini. Ini adalah kali pertamanya Jero membuat dirinya emosi. Vian benar benar sangat marah sekarang.


"Aku sadar aku mencintai kamu. Tapi aku hari ini juga sadar kalau kamu tidak serius untuk bercerai dengan Juan" kata Jero dengan menekankan setiap kata katanya dengan penekanan yang luar biasa.


Vian menatap Jero sangat lama, setelah itu Vian menggeleng lemah dan tidak percaya kalau yang berbicara sekarang kepada dirinya adalah Jero kekasih hatinya. Seorang pria yang diperjuangkan nya dan selalu memperjuangkan dirinya.


"Kenapa kamu katakan kalau aku tidak serius untuk bercerai dengan dia yang telah menyakiti aku luar dan dalam" teriak Vian di telinga Jero.


"Ya kalau kamu niat, kamu tidak akan mengatakan kalau kamu ingin menunda perceraian" akhirnya Jero mengatakan apa yang dirasakan oleh dirinya saat ini.


Vian menatap ke arah Jero. Vian sekarang sangat mengerti kenapa Jero sampai emosi kepada dirinya. Vian sudah menemukan jawabannya.


Vian maju selamat, dia sekarang tepat berada di depan wajah Jero. Vian mengangkat kedua tangannya ke depan wajah Jero. Jero menunggu apa yang akan dilakukan oleh Juan terhadap dirinya. Vian memegang kedua sisi wajah Jero dengan tangannya.


"Aku mencintaimu dengan sangat tulus, luar biasa tulus. Melebihi cinta siapapun kepada kamu" ujar Vian mulai mengatakan semua yang ada di dalam hatinya di depan semua keluarga Jero yang sebentar lagi akan menjadi keluarganya juga.


"Aku tadinya kaget saat mendengar apa yang dikatakan oleh Jeri kepada kita semua" ujar Vian.


Vian melihat Jero akan memotong ucapannya.


"Aku mohon jangan dipotong karena itu akan membuat kita ribut kembali. Aku mohon dengarkan aku saja" kata Vian meminta kepada Jero dengan sungguh sungguh.


"Aku meminta mundur karena aku sangat sangat ingin pergi ke negara A. Bukan karena aku tidak ingin cerai dengan pria itu. Sama sekali bukan" ujar Vian yang akhirnya mengatakan kepada Jero kenapa dirinya terkejut saat mendengar Vian minta perceraian mereka mundur.


"Bagi aku kalau bisa sekarang aku bercerai dengan dia, maka aku ingin sekarang menandatangani surat satu lembar itu. Tetapi apa daya aku sayang, aku tidak bisa memutuskannya sendiri" lanjut Vian.


"Kamu pasti tahu betapa sangat ingin bercerai nya aku dari dia. Tetapi apa daya aku sayang. Aku tidak bisa melakukan hal itu, aku hanya bisa menunggu sampai keputusan pengadilan datang" lanjut Vian berkata kepada Jero.


"Sekarang informasi dan berita itu datang, aku sangat bahagia, bahagia sekali. Tetapi sayangnya informasi itu datang bertepatan dengan kita yang akan melakukan perjalanan ke negara A" ujar Vian.


Jero kembali ingin ngomong. Tetapi Vian melakukan sesuatu yang di luar nalar untuk menutup mulut Jero. Cup sebuah kcupan mendarat di bibir Jero.


Semua orang yang berada di dalam ruangan itu kaget dengan apa yang dilakukan oleh Vian. Mereka tidak menyangka seorang Vian akan berani melakukan itu di depan mereka semua.


Jero tersenyum menerima perlakuan Vian. Dia sangat senang Vian melakukan hal itu di depan semua anggota keluarganya. Hal itu bagi Jero merupakan tanda kalau Vian sudah tidak memiliki batas lagi untuk mengungkapkan betapa cinta dan sayangnya tulus kepada Jero.


"Aku pingin ke negara A, tetapi lebih ingin lagi cepat bercerai. Sekarang aku tanya sama kamu, yang mana yang akan kamu wujudkan?" ujar Vian yang akhirnya melemparkan kepada Jero apa yang harus dilakukan oleh Jero.


"Piliha pertama aku adalah untuk membawa kamu keliling negara A." ujar Jero


Via ingin protes. Tetapi Jero langsung memeluk erat Vian. Vian menaruh tangannya di dafa Jero, dia tidak ingin berpelukan erat dengan Jero di depan semua orang. Vian malu.


"Lah di peluk aja malu. Tadi cium bibir aku di depan semua orang kamu santai saja" ujar Jero menyindir Vian.


"He lupa" jawab Vian.


"Jadi aku akan membawa kamu keliling negara A, tetapi setelah perceraian itu terjadi. Biar aku dikatakan orang tidak membawa istri orang lagi, tapi calon istri aku" ujar Jero dengan nada bangga mengatakan hal itu kepada Vian.


"Jadi.......?????" ujar Vian bertanya kepada Jero.


"Jadi.......... Cerai dulu baru raun" ujar Jero sambil tersenyum.


Felix, Bram, Jeri, Greta dan Hendri hanya bisa melanjutkan menonton adegan perkelahian yang berujung kemesraan tersebut. Mereka tidak bisa membayangkan pertikaian yang terjadi tadi ujungnya adalah kemesraan seperti sekarang ini. Mereka mengira kalau Jero dan Vian akan ribut sepanjang hari dan ada adegan ngambek serta kabur kuburan seperti cerita dalam film India.


"yah endingnya nggak asik Bang" ujar Bram yang memang paling berani mengganggu Jero.


"apanya?" uajr Jero tidak paham dengan maksud yang disampaikan oleh Bram kepada dirinya.


"Harusnya ada adegan kabur kabaran Bang. Jadikan ceritanya semakin menarik. Kalau kayak gini kurang menarik Bang" kata Bram mengomentari ending yang diberikan oleh Jero dan Vian kepada mereka.


"Kamu kira film atau sinetron Bram" kali ini Vian yang ngomong.


"lah emang tadi itu bukan drama kakak ipar? aku kira tadi itu syuting sinetron" ujar Bram menimpali apa yang dikatakan oleh Vian kepada dirinya.


"Haha haha haha. mana ada sinetron. ini adalah film live alias langsung sekali" lanjut Vian menjawab pertanyaan dari Bram.


Mereka kemudian melanjutkan obrolan seputar bisnis yang akan dilakukan oleh Jero dan yang lainnya. Sedangkan Vian dan Greta membahas tentang rumah sakit.