
"Kakak ipar, tenang saja mereka tidak akan berani melakukannya. sempat mereka goyang sedikit saja, maka boom mereka akan rasakan ledakannya" lanjut Bram yang memang paling suka mengadu adrenalin dengan orang lain.
"Tapi Bram" ujar Jero.
"Bang, aku tau kalau ini adalah peperangan abang, kakak ipar dengan keluarga itu. Tetapi saat mereka sudah mengganggu abang atau kakak ipar, maka mereka sudah mengganggu kita semua" jawab Bram.
"Mereka akan tahu siapa kita Bang. Aku akan pastikan, saat mereka mendengar nama keluarga kita, mereka akan langsung menjadi sangat pucat karena telah salah memilih lawan. Mereka benar benar akan menyesal karena telah berurusan dengan kita" lanjut Bram menyuarakan kemarahannya.
Jero melihat ke mata Bram, Jero tahu kalau Bram dan Felix sangat peduli kepda dirinya, tetapi ini adalah peperangan antara dia dengan Juan Aleksander dan juga tuan besar Aleksander. Peperangan antara dua saudara kandung. Bukan dalam memperebutkan harta, tetapi memperebutkan cinta seorang wanita.
"Bram dengar abang sebentar" panggil Jero dengan nada yang lain dari pada biasanya.
Bram yang mendengar gaya bicara Jero berbeda dengan biasanya, langsung menatap serius ke arah Jero. Begitu juga dengan Vian, Felix dan Jeri, mereka bertiga juga melihat ke arah Jero.
"Bram, Felix, abang tau kalian sangat mendukung abang dalam hal apapun. Tapi bolehkah abang minta suatu hal dari kalian berdua?" ujar Jero melihat bergantian ke arah Felix dan Bram.
Felix dan Bram saling memandang satu dengan yang lainnya. Mereka berdua sekarang tau kalau Jero dalam mode serius. Mereka berdua tidak bisa bercanda dalam menghadapi apa yang akan dikatakan dan diminta oleh Jero sebentar lagi.
"Apa abang bisa minta sesuatu ke kalian berdua?" ujar Jero meminta persetujuan dari kedua adiknya itu.
"Bisa Bang" jawab Felix dan Bram bersamaan.
Jero terdiam sesaat, dia harus menyusun kata kata untuk menyampaikan apa yang diinginkan olehnya kepada kedua adiknya itu dengan perlahan. Jero tidak boleh gegabah dalam mengatakan apa yang diinginkan oleh dirinya.
"Abang hanya minta dari kalian berdua untuk menahan diri dalam masalah yang sedang abang hadapi dengan Vian" kata Jero
Jero melihat Bram sudah akan memotong perkataannya.
"Bram, abang akan minta tolong sama kamu saat abang perlu bantuan kamu. Tapi abang mohon sama kamu saat abang belum meminta bantuan, biarkan abang berperang sendiri" kata Jero dengan nada memohon kepada Bram.
Bram terlihat berpikir saat mendengar apa yang dikatakan dan diminta Jero kepada dirinya. Jero memang mengatakan hal ini penuh untuk Bram, karena Felix akan langsung mengerti dengan apa yang diinginkan oleh Jero. Sedangkan Bram sama sekali tidak, apa lagi tadi Bram juga sudah emosi saat mengatakan hal yang disebutkan Bram tadi.
"Baiklah Bang, aku tidak akan ikut serta. Tapi yakinlah Bang, aku akan tetap membuat mereka menerima hadiah dari aku" jawab Bram
Bram sama sekali tidak ingin menerima secara penuh permintaan yang diajukan oleh Jero kepada dirinya. Bram akan tetap melakukan apa yang dikatakan oleh dirinya tadi.
"Merek telah berani mengusik Mommy dan kita, maka mereka akan menerima balasan itu. Aku tidak melupakan bagaimana sakitnya Mommy saat tidak menerima pengobatan. Hal yang tidak akan pernah aku lupakan Bang" ujar Bram yang memang sangat keras kepala
Antar mereka bertiga, Bram lah saksi mata waktu mommy meninggal. Bram lah yang melepas kepergian mommy. Saat itu usia Bram baru masuk tujuh tahun, usia anak anak sekali, tetapi saat usia itulah Bram harus melepas orang yang sangat menyayanginya, walaupun bukan ibu kandung tetapi mommy menganggap Bram sebagai anak kandungnya sendiri.
"Mereka harus menerima akibat dari perbuatan mereka yang telah membuat mommy seperti itu" kata Bram.
Jero ingin membantah apa yang dikatakab oleh Bram.
"Aku mohon jangan larang untuk itu Bang. Kita memiliki pertempuran yang berbeda" Ujar Bram yang tidak ingin Jero melarangnya untuk hal yang satu itu.
"Baiklah, abang tidak akan melarang. Kamu silahkan bermain dengan mereka" jawab Jero yang sudah tidak bisa lagi melarang Bram. Percuma saja melarang Bram karena bagaimanapun Jero melarang Bram, Bram akan tetap melakukan hal itu
Vian dan Jeri hanya bisa melihat bagaimana kemarahan dan dendam telah memenuhi pikiran Bram. Tetapi mereka berdua juga sama dengan Jero, mereka tidak akan bisa melarang Bram.
"Tuan, nona, menu makan malamnya sudah siap. Apa Tuan dan Nona akan makan malam sekarang?" tanya kepala pelayab rumah tangga kepada Jero dan yang lainnya.
"Oke Bik, kami akan makan malam sebentar lagi. Kami akan bersih bersih dulu" jawab Jero.
"Maaf Jer, gue nggak bisa makan malam dengan kalian semua, gue ada janji makan malam dengan Greta di apartemennya" kata Jeri
"Oke, titip salam buat sahabat gue yang sudah terlalu lama tidak datang ke mansion gue" jawab Jero.
"Siap, nanti akan gue sampaikan sama dia" jawab Jeri.
Jeri kemudian berjalan meninggalkan ruang keluarga. Jeri akan pergi menuju apartemen Greta. Mereka berdua memang sudah berjanji untuk makan malam romantis berdua.
Jero dan yang lainnya berjalan menuju kamar mereka masing masing. Mereka akan bersih bersih terlebih dahulu sebelum menikmati menu makan malam yang telah dimasak oleh para maid.
"Bram, sini" ujar Felix memanggil adiknya itu.
"Apa Bang?" jawab Bram.
Felix dan Bram kembali duduk di sofa mereka masing masing.
"Aku akan ikut membalaskan dendam Mommy kepada keluarga itu." ujar Felix.
"Ternyata. Gue kira loe akan diam aja Bang" jawab Bram yang tidak menyangka kalau Felix juga memiliki pemikiran untuk balas dendam kepada keluarga itu.
"Gue hanya tidak ingin Bang Jero bertambah beban pikiran. Makanya gue tadi diam saja."
"Haha hahaha haha, bener juga Bang. Kalau loe ikut ikutan frontal kayak gue, maka sudah bisa dipastikan Bang Jero akan langsung panik" kata Bram
Bram senyum senyum sendiri. Dia membayangkan bagaimana paniknya Jero saat mengetahui kedua adiknya sudah sangat frontal dalam niat untuk memperumit dan membalaskan dendam mereka kepada keluarga Aleksander.
"Kita mulai dari mana Bram?"
"Gue sama sekali tidak ada pengalaman dalam hal seperti ini" ujar Felix dengan polosnya mengakui kekurangannya kepada Bram.
"Loe ikutin aturan main dari gue aja Bang."
" Untuk kapan dan dari mana kita mulai, kita harus bersabar Bang. Kita harus lihat apakah Bang Jero sudah memulai aksinya atau belum" jawab Bram.
"Ngapain harus lihat Bang Jero. Tapi tadi kamu mengatakan kalau urusan kita berbeda dengan Bang Jero" kata Felix yang kembali mengingatkan Bram apa yang dikatakan oleh dirinya tadi kepada Jero.
"Memang Bang. Tetapi kalau kita jalan duluan, mereka pasti akan fokus dengan menangani permasalahan yang kita buat." Bram menjelaskan kepada Felix, tentang maksud yang dikatakan oleh dirinya tadi kepada Felix.
"Nah kalau dia berpusat kepada kita, maka permasalahan yang dibuat Bang Jero tidak akan mereka gubris. Padahal titik sentralnya adalah masalah yang dibuat oleh Bang Jero" lanjut Bram menjelaskan kepada Felix.
"Jadi maksud kamu, kita akan menunggu pergerakan dari Bang Jero, setelah itu baru kita bergerak. Begitu maksudnya?" tanya Felix yang sudah mulai mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Bram.
"Pas bener" Bram memberikan dia jempolnya kepada Felix.
"Bang, kita beres beres dulu. Gue males ribut dengan Bang Jero gara gara kita telat datang makan malam"
"Sip. Mari kita bersiap siap"
Dua kakak beradik tersebut yang sedang memiliki satu rencana balas dendam bersama berjalan meninggalkan ruang keluarga, mereka menuju kamar masing masing.